Site icon

Mawar Berduri

Mawar Berduri (Kidung Agung 1:15 – 2:2)

oleh Andy Kirana

 

1:5 Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma. 1:6 Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga. 1:7Ceriterakanlah kepadaku, jantung hatiku, di mana kakanda menggembalakan domba, di mana kakanda membiarkan domba-domba berbaring pada petang hari. Karena mengapa aku akan jadi serupa pengembaradekat kawanan-kawanan domba teman-temanmu? 1:8 –Jika engkau tak tahu, hai jelita di antara wanita, ikutilah jejak-jejak domba, dan gembalakanlah anak-anak kambingmu dekat perkemahan para gembala. 1:9 –Dengan kuda betina dari pada kereta-kereta Firaun kuumpamakan engkau, manisku. 1:10 Moleklah pipimu di tengah perhiasan-perhiasan dan lehermu di tengah kalung-kalung. 1:11 Kami akan membuat bagimu perhiasan-perhiasan emas dengan manik-manik perak. 1:12 –Sementara sang raja duduk pada mejanya, semerbak bau narwastuku. 1:13 Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur, tersisip di antara buah dadaku. 1:14 Bagiku kekasihku setangkai bunga pacar di kebun-kebun anggur En-Gedi. 1:15 –Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. 1:16 –Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita. 1:17 Dari kayu aras balok-balok rumah kita, dari kayu eru papan dinding-dinding kita.

 

Shalom! Puji Tuhan saat ini saya boleh bersama-sama dengan Saudara-saudara semua menikmati berkat anugerah Tuhan Yesus Kristus.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Hari ini saya ingin membagikan satu tema yang unik. Firman Tuhan yang akan kita renungkan bersama ini saya beri tema Mawar Berduri. Ya, betul… Mawar Berduri. Nanti kita akan belajar bagaimana kasih Allah yang seimbang secara sempurna itu ada di dalam kehidupan kita. Saya undang Saudara untuk membuka Kitab Kidung Agung pasal 1 ayat 15 sampai pasal 2 ayat 2.

Kitab Kidung Agung merupakan simbolisme yang indah tentang anugerah penebusan Allah kepada umat manusia.

Suatu kidung cinta, kisah romantis yang indah dalam bentuk puisi. Ini merupakan suatu percakapan cinta, percakapan yang mesra antara mempelai laki-laki dan mempelai perempuan. Mari kita baca seakan kita berhadapan dengan sang kekasih kita. Laki-laki akan membaca bagian laki-laki sedangkan perempuan akan membaca bagian perempuan. Baik, mari kita akan mulai dari yang laki-laki.

Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu.

Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita. Dari kayu aras balok-balok rumah kita, dari kayu eru papan dinding-dinding kita.

Bunga mawar dari Saron aku, bunga bakung di lembah-lembah.

Seperti bunga bakung di antara duri-duri, demikianlah manisku di antara gadis-gadis.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, mari sekali lagi kita baca ayat 2a bersama-sama. Tiga, dua.

Bunga mawar dari Saron aku.

Pada saat ini kita akan belajar dari bunga mawar. Bunga mawar yang dari Saron, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Pertama-tama marilah kita coba memahami, apakah bunga mawar ini. Saya percaya Saudara pasti tahu bunga mawar karena bunga mawar merupakan bunga yang tidak asing bagi Saudara-saudara semuanya. Sudah siap? (Sambil menunjukkan setangkai bunga mawar). Mari kita akan melihat satu per satu ciri-ciri dari bunga mawar.

Apakah Saudara setuju bahwa bunga mawar ini ciptaan Tuhan? Setuju ya? Bunga mawar ini adalah ciptaan Tuhan yang indah. Betul? Ya, bunga mawar ini adalah bunga ciptaan Tuhan. Yang berikutnya, Saudara, bunga mawar ini semerbak baunya. Betul? Ya. Bahkan, bukan hanya semerbak tapi juga wangi tiada tara. Bukan hanya para wanita yang menyukai bunga mawar, bukan hanya kumbang-kumbang yang ingin mengisap madunya, tapi laki-laki juga senang melihatnya.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus… Di samping memang indah dan harum baunya, ada ciri istimewa dari bunga mawar. Nah, sekarang, mari kita akan coba lihat. Biasanya kita hanya memandang bunganya yang berwarna merah atau warna lainnya. Padahal, kita tahu ada kekhususan, hal yang spesial dari bunga mawar ini. Apa, Saudara? Ya, durinya! Ternyata bunga mawar ini bukan hanya spesial indahnya dan semerbak baunya, tapi juga mempunyai duri-duri yang tajam. Nanti kita akan melihat bagaimana duri-duri yang tajam ini ternyata juga merupakan hal indah di dalam kehidupan kita ini.

Untuk memahami lebih dalam tentang bunga mawar ini, saya mengajak Saudara mendengarkan sebuah lagu. Lagu yang kiranya tidak asing bagi Saudara, terutama yang sudah seumur saya. Bila Saudara tahu lagunya, silakan bersama-sama bernyanyi. Jangan lupa disimak syairnya ya…

MAWAR BERDURI

Ciptaan: A. Riyanto

 

Tertulislah kisah

tentang bunga mawar.

Di tengah belukar

yang penuh dengan duri.

 

Semerbak harumnya

yang tiada tara.

Siapa pun ingin

memetik bunga itu.

 

Banyak kumbang yang datang

ingin menghisap madunya.

Aduh sayang…

Banyak kumbang yang mati

karena tertusuk duri.

Aduh sayang…

Kau memberi hati

kepada diriku.

Seluruh hidupku

kudambakan padamu.

 

Tak kusangka-sangka

bukan hanya daku.

Mendapat kasihmu

membuat hati luka.

 

Reff:

Mawar berduri, kini kupergi

dengan membawa luka di hati.

Mawar berduri, cukup sekali

kau melukai hatiku… hatiku.

 

Saudara yang dikasihi Tuhan, mengapa saya meminta Saudara mendengarkan dan menyimak syair lagu ini? Karena dari syair lagu ini ada beberapa hal yang bisa kita pelajari. Lagu ini mengungkapkan isi dunia ini. Kalau boleh saya katakan ini adalah “Mawar Berduri” versi dunia. Benarkah mawar berduri ini sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Tuhan Yesus sendiri? Nanti kita akan lihat perbedaannya.

Selain indah, semerbak baunya, dan berduri, mawar sering kali juga dijadikan suatu simbol… mawar bisa dijadikan sebuah perlambang.

Yang pertama, mawar sering kali dijadikan perlambang cinta yang sangat mendalam dari seseorang kepada yang dikasihinya.

Maka sering kita lihat, saat seseorang sedang mengalami kesedihan karena ditinggal kekasihnya, dia mengungkapkan kesedihan dan cintanya itu melalui bunga mawar. Kita juga bisa mengungkapkan isi hati kita kepada orang yang sedang berduka dengan memberikan bunga mawar. Dengan bunga mawar yang kita berikan, kita ingin mengatakan, “Aku pun ikut berduka, bersedih bersamamu.”

Bunga mawar juga bisa menjadi ungkapan cinta yang mendalam dari seseorang yang sedang jatuh cinta. Maka, sering kali saat seorang pemuda mau mengungkapkan cintanya, ia mengungkapkannya melalui bunga mawar. Dan, saya sering melihat begini… mawarnya diumpetke di belakang. Kemudian begitu di hadapan si cewek, cowoknya bilang: “I love you”. Wihhh…mesrane rek. Ini katanya cinta yang mendalam dari seseorang yang sedang jatuh cinta. Mawar melambangkan cinta yang mendalam.

Yang kedua, Saudara, ini yang barangkali berbeda dengan apa yang sering kali kita pikirkan. Ternyata mawar adalah simbol keperkasaan.

Mawar adalah simbol maskulinitas. Mawar adalah simbol kelaki-lakian. “Apa iya to, Pak Andy?” Mungkin Saudara bertanya-tanya begitu. Saya diberi tahu sahabat saya, Ps. Daniel Simamora, bahwa dari dulu orang sudah menganggap bahwa bunga mawar adalah simbol keperkasaan. Bahkan, Shakespeare pernah mengungkapkan bahwa mawar merupakan simbol kesempurnaan seorang pria. Nah, karena mawar ini adalah simbol keperkasaan seorang laki-laki, wajar kalau seorang wanita, seorang perempuan menyukai bunga mawar. Saudara bisa bayangkan bila mawar merupakan simbol feminitas, simbol kewanitaan lalu disukai oleh seorang wanita… jangan-jangan si wanita ini termasuk golongan LGBT, yang masih hangat didiskusikan oleh banyak orang saat ini. Betul begitu, ya, Saudara? Mawar adalah simbol keperkasaan.

Yang berikutnya, ketiga, inilah hal yang sangat penting mengenai mawar. Mawar adalah simbol keseimbangan cinta.

Mawar adalah simbol keseimbangan kasih. Seimbang karena ada bunganya—ini yang namanya sisi yang lembut, dan ada durinya—ini yang namanya sisi yang tajam. Inilah lambang keseimbangan cinta, ada sisi lembutnya, ada sisi tajamnya. Itulah bunga mawar.

Saya berikan satu contoh keseimbangan cinta, Saudara. Bagaimana kita sebagai orang tua mengasihi anak-anak kita? Kalau kita mengasihi anak-anak kita dengan memberikan apa saja yang menjadi keinginannya, jelas ini adalah sisi lembut dari kasih kita sebagai orang tua. Sama halnya ketika seorang bapak bermain-main dengan anak laki-lakinya, kita memandang inilah sisi yang lembut dari cinta. Namun, Saudara yang dikasihi Tuhan, apabila kita mendidik anak kita hanya dengan sisi yang lembut saja—segala yang menjadi keinginannya akan senantiasa kita berikan dengan alasan karena kita mengasihi anak kita; kira-kira apa yang terjadi, Saudara? Pasti anak ini akan menjadi anak yang manja. Secara psikologis kepribadian anak ini pasti tidak akan beres nantinya. Atau kalau boleh saya katakan, anak ini akan mengalami kepribadian yang rusak. Oleh karena itu, sisi yang lembut ini harus diimbangi oleh sisi yang tajam. Misalnya, apabila apa yang menjadi keinginannya justru akan menghancurkan anak ini, kita pun juga harus tegas memberi batasan. Kita harus menasihati anak kita. Kita harus merebut anak kita ini supaya tidak mengalami kehancuran di dalam hidupnya. Saudara, inilah keseimbangan cinta.

Nah, sekarang mari kita lihat bagaimana keseimbangan kasih itu ternyata ada di dalam pribadi yang kita sembah. Keseimbangan kasih itu ada di dalam diri Allah sendiri. Nanti kita akan coba melihat dari berbagai hal… dari berbagai kasus kita akan melihat bagaimana sisi yang lembut dan sisi yang tajam dari Allah kita itu senantiasa ada dalam kehidupan Saudara dan saya.

Mari kita membaca Yesaya pasal 40 ayat yang ke 10. Mari kita akan baca bersama-sama ayat ini. Tiga, dua.

Lihat, itu Tuhan Allah, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa.

Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya.

Saudara melihat ayat ini menyatakan sisi yang lembut atau sisi yang tajam? Allah kita ini Allah yang lembut atau Allah yang keras, Allah yang tajam? Perhatikan, Tuhan Allah datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Ini merupakan sisi tajam Allah kita. Namun, ayat yang ke 11 mengungkapkan, “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya, anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati”.

Saudara melihat sisi yang lembut dari Allah kita? Nah, inilah sisi yang lembut itu. Perhatikan: anak domba dipangku, induk-induk domba dengan hati-hati dituntun-Nya! Ini kasih yang lembut dari Tuhan Allah kita. Saya ingin memberi contoh lagi dalam kitab Mazmur. Terutama Mazmur 103 ayat 17. Di sana kita mendapati sisi yang lembut dari Allah kita, saat Allah kita mengungkapkan kasih setia-Nya yang kekal itu kepada setiap orang yang takut akan Dia. Kepada setiap Saudara yang takut akan Dia, Tuhan sangat mengasihi dan kasih-Nya itu kekal.

Di sini kita seakan melihat bunga mawar itu indah sekali. Dia mengasihi kita tanpa batas. Kasih-Nya kekal. Namun, di ayat 19, di sana kita melihat seakan-akan Allah menunjukkan duri-duri yang tajam. Allah menunjukkan bagaimana Dia juga penuh dengan kuasa. Di mana Dia menegakkan tahta-Nya dan Dia berkuasa atas segala sesuatu yang ada di bumi ini. Di sinilah kita bisa memahami keberadaan Allah kita. Allah yang menunjukkan sisi lembut-Nya, namun juga Allah yang menunjukkan sisi tajam-Nya. Ini merupakan kasih yang seimbang, Saudara!

Nah, sekarang saya ingin menunjukkan contoh lagi, peristiwa yang pernah dialami oleh Simon Petrus. Mari kita memerhatikan Matius pasal 16 ayat 13 sampai ayat 17. Pada saat itu Tuhan Yesus ingin mengetahui apakah para murid tahu siapa Dia. Tuhan Yesus bertanya, “Menurut kamu, siapa Aku?” Ada yang menjawab Yohanes Pembaptis. Ada yang menjawab Elia. Ada yang menjawab Yeremia atau salah seorang dari para nabi. Tapi, sekali lagi Ia bertanya, “Menurut kamu siapa Aku?” Dan Simon Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Jawaban inilah yang membuat Tuhan Yesus memuji Petrus. Engkau akan berbahagia, Simon Petrus karena sesungguhnya apa yang menjadi jawabanmu itu, itu disediakan Bapa untuk kamu. Saudara, ini sisi yang lembut atau sisi yang tajam dari Yesus? Sisi yang lembut. Simon Petrus dipuji karena jawabannya. Seakan-akan Simon Petrus mendapat bunga mawar yang indah dari Tuhan Yesus.

Tapi, Saudara perhatikan Matius 16 ayat 21 sampai ayat 23. Belum beberapa lama, setelah itu Tuhan Yesus mengungkapkan kepada para murid, “Aku akan ke Yerusalem, Aku akan dianiaya oleh pemimpin-pemimpin di Yerusalem, Aku akan menderita, Aku akan dibunuh, tapi Aku akan bangkit pada hari yang ketiga.” Pada waktu itu bagaimana reaksi Simon Petrus, Saudara? Simon Petrus menarik-Nya ke samping dan menegor-Nya, ‘tidak mungkin Tuhan, Engkau tidak akan mungkin mengalami penderitaan ini.’ Dan, apa Saudara… apa yang dikatakan Tuhan Yesus atas perlakuan Simon Petrus ini? Tidak tanggung-tanggung apa yang keluar dari mulut Tuhan Yesus. “Enyahlah Iblis!” Saudara, ini seakan-akan duri yang tajam yang menusuk hati Simon Petrus. Saudara bisa membayangkan kalau misalnya Saudara dikatakan oleh orang lain iblis, iblis kamu! Ini pasti menusuk hati kita. Kita bisa membayangkan betapa sakitnya duri yang tajam itu menusuk hati Simon Petrus. Itulah satu kenyataan yang terjadi. Itulah Tuhan kita Yesus Kristus. Ada sisi lembut, tapi juga ada sisi tajam. Mengapa Saudara? Mengapa demikian? Itu yang menjadi pertanyaan yang utama. Itu yang menjadi permenungan saya pribadi, Saudara. Allah kita ingin menunjukkan kasih-Nya… supaya seimbang harus ada sisi yang lembut dan harus ada sisi yang tajam, sisi yang keras itu.

Di sinilah saya baru bisa mengerti, bukan hanya Simon Petrus yang mengalami sisi yang lembut dan sisi yang tajam dalam hidupnya. Namun, Paulus pun mengalami hal yang sama. Mari kita lihat dalam 2 Korintus pasal 12 ayat 7 sampai ayat 10. Apa yang dialami oleh Paulus? Ada duri di dalam dagingnya… Ada duri di dalam dagingnya. Saya percaya duri dalam daging adalah sesuatu hal yang sangat, sangat, sangat sakit. Tuhan perkenankan itu dialami oleh Paulus. Mengapa, Saudara? Supaya Paulus tidak sombong. Ini adalah tindakan preventif Tuhan, supaya Paulus tidak meninggikan diri di dalam hidupnya, di dalam pelayanannya. Sehingga ia tidak bisa mengatakan, “Aku rasul yang sudah menerima banyak sekali wahyu dari Allah.” Tuhan mengizinkan duri di dalam daging itu supaya Paulus tidak jatuh di dalam dosa kesombongan.

Namun demikian, kita juga melihat bahwa ternyata bukan hanya duri di dalam daging Paulus yang Tuhan perkenankan, melainkan Paulus pun diberi kesempatan menikmati kelembutan kasih Tuhan Yesus. Saat Paulus ungkapkan, ‘Aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan’, apa yang jadi jawaban Tuhan? “Cukuplah kasih karunia-Ku, Paulus… Justru di dalam kelemahanmulah, kuasa-Ku menjadi sempurna.”

Saudara, inilah sisi lembut dari Tuhan Yesus. Justru di sinilah kita bisa melihat, inilah kekuatan… inilah power yang besar. Duri dalam daging itu justru tidak menghancurkan Paulus, melainkan membuat Paulus semakin powerfull di dalam Tuhan. Bukan lagi kuasa Paulus… bukan lagi kepintaran Paulus… kecerdikan Paulus…, melainkan semata-mata karena kuasa Allah yang sempurna di dalam kehidupan Paulus. Saudara… inilah mawar berduri di dalam hidup Paulus.

Kalau memang begitulah prinsip kasih Allah yang seimbang… keseimbangan yang sempurna itu ada sisi lembutnya, ada sisi tajamnya, bagaimana prinsip ini bisa kita terapkan di dalam kehidupan kita?

Saudara, yang pertama, banyak orang pasti mengingingkan, “Yah… kalau saya ingin bunga mawar sih pingin bunganya saja. Saya ndak pingin duri-durinya.”

Betul, Saudara? Kita kan pinginnya begitu, ya? Pasti semua orang menginginkan begitu. Pinginnya, ya… keindahan bunganya bukan duri-durinya. Saudara yang dikasihi Tuhan… kalau memang itu yang menjadi prinsip Saudara, hati-hati! Karena apa? Karena kalau dalam hidup kita hanya fokus pada berkat secara jasmani… kita hanya memandang berkat-berkat secara jasmani… ini pun menjadi prinsip dari dunia ini. Bahkan dunia tahu persis… seperti apa yang tadi kita dengar dalam lagu Mawar Berduri. Ya… kalau seandainya yang ditawarkan hanya bunganya saja… di mana bunga itu ada madunya… pasti banyaklah kumbang datang ingin menghisap madunya. Coba, perhatikan kelanjutan lagu itu! Habis ‘banyaklah kumbang yang datang, ingin menghisap madunya…’ lalu apa, Saudara? Ya, ‘Aduh sayang….

Aduh sayang… kalau di dalam hidup ini Saudara hanya ingin mengisap madu dari mawar. Menikmati keindahan mawar saja dan tidak mau durinya berarti hanya ingin menikmati sisi lembut yang Tuhan tawarkan. Ini berbahaya. Mengapa? Kita akan menjadi mudah putus asa menjalani hidup ini. Kita akan dengan mudah memprotes Tuhan. “Mana Tuhan, bunganya? Mana Tuhan, berkatnya? Aku kok mengalami penderitaan….” Kita menjadi kecewa, Saudara. Kita ndak siap menghadapi hidup ini. Kalau seandainya gereja juga menawarkan hanya berkat-berkat jasmani saja… pasti juga akan membahayakan kehidupan jemaat. Aduh sayang…

Yang kedua, Saudara. Ada juga orang yang dalam hidup ini memiliki prinsip ingin “durinya” saja, tanpa mawarnya.

Ada, lho, Saudara… orang yang menginginkan duri saja tanpa bunganya. Fokus hidupnya cuma penderitaan saja. Kesana-kemari hanya mengeluh, “Aku mengalami banyak pesoalan… Aku bangkrut… Aku sakit… Aku mengalami situasi yang ndak enak… Aku baru dimarahi… Aku menyesal karena hidup ini hanya duri saja, tanpa pernah ada bunganya.” Saudara… ini pun ndak sehat. Karena apa? Lagu Mawar Berduri yang dinyanyikan Broery, yang sama-sama kita dengar tadi sudah mengingatkan; kalau hidup ini terdiri dari duri saja… banyak kumbang yang apa, Saudara? Iya…. mati karena tertusuk duri. Aduh sayang. Sayang banget, Saudara kalau dalam hidup ini kita hanya menikmati duri-duri saja yang menancap di dalam hidup kita tanpa pernah menikmati bunganya. Hidup yang seperti ini jelas tidak seimbang. Ya, aduh sayang…

Namun, saat ini kita diingatkan bahwa bunganya memang penting, tapi durinya juga penting. Mengapa demikian, Saudara? Saya ingin menunjukkan keajaiban ciptaan Tuhan yang satu ini. Saat saya merenungkan bunga mawar ini, ada satu pertanyaan yang saya ungkapkan kepada Tuhan… saat itu yang jelas saya ndak tahu jawabannya, Saudara. Saya bertanya begini, “Tuhan, mengapa mawar ciptaan-Mu yang indah ini harus ada duri-durinya?” Saudara… ternyata Allah kita itu Maha-bijaksana. Allah tahu menempatkan duri-duri mawar persis di batang-batang bunga mawar. Karena apa? Karena Tuhan tahu kelopak bunga ini mudah rontok. Sehingga, duri-duri ini mempunyai fungsi untuk melindungi bunganya. Supaya apa? Supaya jangan ada binatang yang akan mengganggu keindahan bunga ini, Saudara. Dan, ini yang luar biasa. Justru keindahan bunga mawar ini sangat ditentukan oleh duri-duri itu. Duri-duri itulah yang membuat bunga ini mekar dan indah. Duri-duri itulah yang di dalam prosesnya… di dalam pertumbuhannya… menghasilkan bunga mawar yang wangi. Mungkin Saudara tidak percaya. Tapi, itulah yang Tuhan ciptakan dengan ciptaan yang luar biasa ini…mawar berduri.

Nah, sekarang kita diajak menyadari… berkat-berkat memang penting… sisi yang lembut itu penting. Namun, penderitaan, persoalan, sakit-penyakit… itu pun juga penting. Karena apa? Karena semuanya itu menyatu dipakai untuk memuliakan Allah. Agar supaya kita semakin kuat di dalam Kristus. Seperti halnya Paulus… kalau seandainya Paulus hanya menikmati bunga mawar saja di dalam hidupnya, ia akan menjadi sombong. Ia akan meninggikan dirinya. Tapi, justru karena ada duri di dalam dagingnya… itulah yang akan menjaga dia supaya tidak jatuh ke dalam dosa. Saudara… inilah keseimbangan kasih Allah kita.

Oleh karena itulah seharusnya lagu tadi kita nyanyikan dengan syair yang berbeda. Coba Saudara bisa ndak nyanyi reffrein-nya… yuk, kalau bisa! Tapi, syairnya kita ganti menjadi “Mawar berduri… daku hampiri… dengan membawa… suka di hati.’ Saudara… duri itu bukannya kita jauhi. Duri justru kita hampiri, kita peluk. Kerena apa? Karena di sanalah kita melihat sekalipun ada duri di dalam hidup Saudara… tetapi Tuhan akan membuat suka di hati Saudara. Amin. Demikian juga… “mawar berduri… banyak sekali… kau memberkati… hatiku, hatiku.” (bernyanyi). Inilah berkat yang luar biasa!

Inilah bunga mawar dari Saron. Inilah bagian yang indah pada bunga mawar ini… sekalipun berduri tapi duri-duri itu menguatkan, mengukuhkan, menyelamatkan kehidupan kita. Mari, Saudara… kita jalani hidup ini seperti bunga mawar. Karena Tuhan Yesus pun sudah menjalani kehidupan ini seperti bunga mawar saat hidup di dunia ini. Itu ditunjukkan oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib. Karena disanalah kasih (bunga) dan keadilan (duri) Allah terjadi dalam keseimbangan yang sempurna. Dan, kini saat Tuhan Yesus sudah ada di dalam surga, bunga mawar itu tidak lagi berduri, karena bunga mawar dari Saron adalah bunga mawar yang tidak berduri. Itulah “Sang Mawar Saron” kita yang menghiasi Kerajaan Surga. Karena di surga tidak ada lagi duri, hanya semerbak dan keindahan Sang Mawar Saron yang memenuhi surga. Bukankah itu yang digambarkan-Nya melalui Wahyu 21:4, “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Tidak ada lagi ‘duri’ di surga. Puji Tuhan.

Pada saat masuk tadi Saudara sudah mendapatkan bunga mawar. Sekarang ambil bunga itu. Saya undang Saudara untuk bangkit berdiri, dan pegang bunga mawar di tangan kanan. Mari kita ungkapkan kasih kita di hadapan Tuhan melalui bunga mawar. Mari kita naikkan dengan kesungguhan hati pujian ini, Bahasa Cinta.

Cinta itu lemah lembut,

serta sederhana.

Cinta itu murah hati,

tahan menderita.

 

Ajarilah kami bahasa cinta-Mu

agar kami dekat pada-Mu ya Tuhanku.

Ajarilah kami bahasa cinta-Mu

agar kami dekat pada-Mu.

Exit mobile version