Menjadi Penjala Manusia (Matius 4:18-22)
oleh: Jenny Wongka †
Pekabaran Injil adalah perhatian besar Allah bagi keselamatan umat manusia. Pekabaran Injil disebut sebagai kebijaksanaan Allah yang tinggi. Perhatian akan jiwa yang tersesat telah mengakibatkan Yesus meratapi Yerusalem yang tidak percaya: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Matius 23:37).
Allah Bapa mengutus Anak-Nya ke bumi ini, untuk memberitakan kabar keselamatan, mati, dan bangkit, hanya dengan satu tujuan, yaitu menyelamatkan manusia dari dosa. Yohanes 3:16 mengungkapkan kasih Allah Bapa yang dinyatakan melalui Anak-Nya, Lukas 19:10 menyatakan bahwa Kristus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang sesat. Roh Kudus mengaruniakan kelahiran kembali yang dinyatakan melalui baptisan serta pembaharuan hidup kepada mereka yang percaya. Jadi Allah Tritunggal berkarya bersama di dalam pelayanan untuk keselamatan umat manusia dari dosa. Pekabaran Injil adalah perhatian besar dari Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus.
Pekabaran Injil diteruskan Allah kepada orang-orang percaya, bahkan menjadi perhatian besar jemaat pada masa Perjanjian Baru. Segera setelah peristiwa Pentakosta, orang-orang percaya baru mengabdikan diri mereka kepada Allah dan memenangkan banyak jiwa bagi Dia. Mereka mempersembahkan segala milik mereka dan membawanya di hadapan para rasul. Mereka pun saling berbagi dalam berkat materi dan rohani. Mereka disukai banyak orang dan Allah menambahkan jumlah orang yang bertobat di dalam jemaat. Dan walaupun setelah itu terjadi penganiayaan besar-besaran atas orang percaya, tetapi berita keselamatan justru semakin tersebar luas.
Dalam beberapa hal, kehidupan Pekabaran Injil memerlukan pengorbanan besar. Sejarah Pekabaran Injil sudah membuktikan hal ini, bahwa tidak sedikit penjala manusia yang diutus untuk memenangkan jiwa manusia bagi Tuhan, yang kemudian membayar harga yang termahal, yaitu dengan kehilangan nyawa mereka demi Tuhan. Mengkotbahkan injil keselamatan adalah hal yang penting, demikian pula dengan kesaksian pribadi.
Bentuk-bentuk kata Pekabaran Injil dipakai lebih dari 50 kali di dalam Perjanjian Baru. Pekabaran Injil adalah tujuan utama dari Amanat Agung (Matius 28:19). Memuridkan adalah menginjili, mengantarkan orang-orang kepada Yesus. Pada abad pertama Yesus memanggil para murid untuk datang kepada-Nya dan mengikut Dia. Dia juga memanggil mereka untuk membawa orang lain mengikut Dia.
Dengan membandingkan catatan Injil kita dapat menemukan bahwa paling sedikit ada 5 tahapan yang berbeda dalam panggilan Yesus kepada kedua belas murid-Nya. Setiap penulis Injil menekankan tahapan yang sesuai dengan tujuan khususnya. Misalnya Yohanes: panggilan pertama adalah kepada keselamatan, beriman kepada Mesias (Yohanes 1:35-51; 2:11). Panggilan Matius yang disinggung dalam perikop kita di sini adalah panggilan kedua, yaitu suatu panggilan untuk bersaksi. Setelah panggilan pertama dan panggilan kedua, ternyata para murid belum secara tuntas meninggalkan profesi lama mereka secara permanen. Pada panggilan ketiga (Lukas 5:1-11), Petrus, Yakobus, dan Yohanes sekali lagi kembali untuk menangkap ikan. Yesus mengulangi panggilan atas mereka untuk menjadi penjala manusia, dan kemudian para murid menyadari panggilan itu adalah panggilan yang sifatnya permanen dan “mereka meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Dia” (ayat 11).
Dalam catatan Lukas, Simon dan yang lainnya tetap sebagai nelayan, dan Yesus sedang mengajar orang banyak di tepi pantai dari perahu Simon (ayat 3). Setelah mengajar, Dia menyuruh para murid untuk melaut ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jala mereka. Simon protes dengan mengatakan bahwa sudah semalam-malaman mereka berjerih lelah tanpa hasil apa pun, tetapi akhirnya ia tetap menaati instruksi Yesus. Tatkala ikan-ikan yang terjaring itu nyaris mengoyakkan jala dan kedua perahu mereka hampir tenggelam karena penuhnya ikan, seketika itu pula Simon mengenal siapa Yesus itu: kehadiran Allah yang kudus. Inilah reaksinya: “Oh, Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa” (ayat 8). Orang berdosa di hadapan Allah hanya melihat dosanya, dan segera mengundurkan diri sebab takut akan penghukuman-Nya. Petrus menerima satu panggilan untuk menjadi murid dan sekaligus pengabar Injil. Tatkala panggilan itu datang, bersama tiga orang lain ia merespons dalam komitmen total untuk mengikut Tuhan.
Markus menyampaikan kepada kita level atau tingkatan keempat tentang panggilan itu. “Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil, dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan” (Markus 3:13-15). Tingkatan kelima, antisipasi terhadap yang keempat, yang tercantum dalam Matius 10:1: “Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.”
Allah memanggil semua orang percaya dengan cara yang sama. Pertama Dia memanggil kita kepada keselamatan, terlepas dari ini tidak ada panggilan lain yang lebih efektif. Kemudian Dia memanggil kita secara progresif untuk menjalani suatu pelayanan yang spesifik di dalam lingkup yang luas. Dari perikop yang kita baca, kita akan belajar bersama tentang panggilan Tuhan atas empat murid-Nya (tidak lain adalah dua pasang kakak-beradik).
Panggilan atas Petrus dan Andreas (Matius 4:18-20)
Danau Galilea berbentuk oval yang kira-kira 8 mil lebarnya (± 12 km) dan 13 mil panjangnya (± 19,5 km), serta berada hampir 700 kaki (± 210 m) di bawah permukaan laut. Lukas yang selalu bepergian menyebutnya sebagai sebuah danau (LAI). Yosephus, seorang sejarahwan Yahudi melaporkan bahwa pada abad pertama diperkirakan sejumlah 240 perahu biasanya menangkap ikan di danau itu. Banyak pula orang menangkap ikan di sepanjang tepi danau itu, seperti dalam ayat 18: “dan ketika Yesus sedang berjalan menyusuri danau Galilea, Ia melihat Simon yang disebut Petrus dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau.”
Pada zaman itu, ada tiga metode penangkapan ikan yang dipakai. Pertama dengan kait dan tali pancing, yang kedua dengan jala kecil di tempat yang agak dangkal atau di sepanjang tepi danau, dan yang ketiga dengan memakai jala besar yang ditebarkan di antara dua perahu yang dilakukan di tempat yang dalam. Petrus dan Andreas sedang memakai metode yang kedua. Jalanya diperkirakan berdiamater 9 kaki (± 2,7 m), dan dua bersaudara ini sangat terampil memakainya, sebab mereka adalah penjala ikan. Istilah Yunani untuk jala khusus ini adalah amphiblestron (kata ini berkaitan dengan istilah dalam bahasa Inggris amphibious, suatu kata sifat yang melukiskan sesuatu yang berhubungan dengan tanah dan air). Dengan kata lain, jala ini dipakai oleh seseorang yang berdiri atas atau dekat tepi danau dan melemparkan jalanya ke air di mana ikan-ikan itu berada.
Tatkala Yesus memanggil murid-murid pertama, Ia mengumpulkan para penjala ikan sebagai staf jemaat-Nya. Mereka adalah barisan penginjil pertama yang dipanggil untuk menggenapi Amanat Agung. Mereka adalah rekan pertama Yesus di dalam pelayanan-Nya. Sebenarnya Yesus memiliki kuasa dan hak mutlak untuk menyelesaikan pekerjaan pemberitaan Injil oleh diri-Nya sendiri. Teteapi bukan itu rencana-Nya. Dia dapat menyelesaikan tugas itu sendirian, namun ia tidak pernah berniat untuk melakukannya seorang diri. Dari permulaan pelayanan-Nya, rencana-Nya adalah untuk memakai para murid-Nya agar mereka memuridkan orang banyak. Panggilan Yesus yang pertama atas mereka adalah: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”
Kepada kita diberikan rincian panggilan spesifik hanya kepada 7 orang dari 12 murid Yesus. Namun Yesus secara pribadi memilih mereka yang akan mengambil bagian dalam memenangkan jiwa untuk Dia. “Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, dan memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebutnya rasul” (Lukas 6:13). Allah selalu memilih rekan kerja-Nya. Dia memilih Nuh dan Abraham, Musa dan Daud. Dia memilih para nabi. Dia memilih segenap umat Israel sebagai rekan kerja, “kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Keluaran 19:6). Yesus berkata kepada para murid-Nya “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yohanes 15:16, 6:70, 13:18). Paulus menyebut Epenetus sebagai “buah pertama (aparche) dari daerah Asia untuk Kristus” (Roma 16:5).
Panggilan untuk menghasilkan buah dalam Pekabaran Injil diteruskan kepada setiap milik Yesus Kristus. Orang-orang yang terpanggil itu sendiri menjadi para pemanggil. Kepada setiap orang Kristen, Petrus pernah menulis: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9). Kristus menyatakan bahwa semua pengikut-Nya adalah penjala manusia. Perintah “mari, ikutlah Aku!” dalam bahasa Yunani berbentuk kata keterangan yang dipakai untuk suatu perintah, yang secara harfiah berarti: “mari ke sini.” Versi terjemahan Inggris lain memakai “come after Me!” Unik sekali bahwa kata “after” dipakai untuk menunjukkan tempat asal orang yang dipanggil itu. “Your place is following after Me!”
Setelah mendengarkan panggilan itu, para nelayan itu segera meresponinya: “Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikut Dia;” Kedaulatan serta otoritas Tuhan telah dinyatakan. Kata “ikut” berasal dari kata akoloutheo, yang memiliki makna mengikuti sebagai seorang murid yang berserah sepenuhnya untuk meneladani orang yang ia ikuti itu.
Puluhan tahun yang lalu, seorang pertapa Italia ditemukan meninggal di dalam rumahnya. Ia telah hidup sederhana atau lebih tepatnya “sangat berhemat” di sepanjang hidupnya. Tetapi manakala sahabat-sahabatnya memeriksa setiap ruangan di dalam rumahnya dan memerhatikan harta miliknya, mereka menemukan 246 biola mahal berjejal tersusun di loteng rumahnya. Bahkan beberapa biola lain yang lebih mahal diletakkan di dalam laci kamar tidurnya. Ternyata ia memakai semua uangnya untuk membeli biola. Tetapi karena ia hanya menyimpan biola-biola itu tanpa pernah memainkannya, maka biola-biola itu tak ubahnya benda mati yang tidak memiliki apa pun yang indah. Dunia tidak pernah mendengar musik yang dialunkan melalui gesekan biola-biola terbaik itu. Bahkan menurut laporan, biola pertama Stradivarius yang dibuatnya itu baru dimainkan 147 tahun setelah kematiannya.
Kisah ini menggambarkan bagaimana banyak orang Kristen memperlakukan imannya. Mereka menyembunyikan terang mereka, mereka memendam harta karun mereka. Dengan tidak sudi membagikan terang dan kepunyaan mereka, banyak orang yang seharusnya dimenangkan melalui kesaksian mereka, justru dibiarkan tetap hidup dalam kegelapan serta kemiskinan rohani.
Sejumlah pengamat memperkirakan bahwa sebanyak 95% dari semua orang Kristen tidak pernah memimpin orang lain kepada Yesus Kristus. Apabila prakiraan ini benar, berarti 95% dari biola rohani dunia ini tidak pernah digesekkan! Kekayaan kasih sejati di dalam Kristus menuntun kita untuk bercahaya dan berbagi, bukan untuk disembunyikan dan ditimbun.
Ketika D.L. Moody sedang mengunjungi galeri seni di kota Chicago, ia sangat terkesan dengan sebuah lukisan yang berjudul “The Rock of Ages.” Lukisan itu memperlihatkan seseorang dengan kedua tangan merangkul sebuah salib yang dengan kokoh tertancapkan pada sebuah batu karang. Sementara lautan dengan gelombang menerpa batu itu, orang itu tetap dengan erat memeluk salib itu. Beberapa tahun kemudian, ia melihat sebuah lukisan yang mirip dengan lukisan yang dilihatnya itu. Lukisan ini menggambarkan seseorang yang berada dalam serangan angin taufan dengan satu tangan memegang sebuah salib, tangan yang satu meraih seseorang yang sudah nyaris tenggelam. Penginjil besar ini memberi komentarnya bahwa, walaupun lukisan pertama itu indah, namun yang kedua pun lebih bagus.
Panggilan Atas Yakobus dan Yohanes (Matius 4:21-22)
Ketika Yesus memanggil Yakobus dan Yohanes, mereka seumpama batu permata yang keras, kasar dan belum terasah. Mereka berada di dalam perahu bersama dengan Zebedeus, ayah mereka. Mereka sudah beriman kepada Juruselamat (lihat Yohanes 1:35-51; 2:11). Lalu di situlah Yesus memanggil mereka untuk pekerjaan Pekabaran Injil mendampingi Dia, dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikut Dia.
Murid-murid ini berpendidikan minim dan memiliki sedikit pengetahuan tentang hal yang rohani. Setiap kali sang Guru mulai mengajar mereka, bahkan ketika Dia mengajar mereka dengan memakai perumpamaan, kita mengetahui dengan jelas bahwa mereka tetap kurang dapat memahami makna pengajaran Yesus. Mereka sering menunjukkan sifat egois dan tidak ramah. Tatkala khalayak ramai yang berjalan menelusuri sepanjang Danau Galilea datang mendengarkan Yesus, lalu mereka menjadi letih dan lapar, murid-murid ini justru berpikir untuk menyuruh mereka pergi untuk membeli makanan di desa-desa” (Matius 14:15). Tatkala sejumlah anak-anak dibawa ke hadapan Yesus supaya Dia meletakkan tangan-Nya dan mendoakan mereka, para murid menghardik mereka (Matius 19:13). Mereka berpikir bahwa mereka cukup murah hati dengan mengampuni seseorang “sampai tujuh kali” (18:21). Tetapi pada malam tatkala Yesus dikhianati, pada saat Dia sedang bergumul di Taman Getsemani, Petrus, Yakobus, dan Yohanes tidak sanggup berjaga-jaga bersama dengan Dia (26:40,45). Para murid begitu egois, lemah, dan takut. Namun Yesus memilih mereka untuk menjadi murid-murid-Nya, bahkan menjadikan mereka sebagai “tim inti” dari ketiga murid terdekat-Nya. Mereka adalah “bahan” mentah yang akan Dia ubah menjadi alat yang berguna.
Di antara kedua belas murid Yesus, tiga murid Yesus ini boleh dikatakan sebagai murid terpilih. Yang unik dari para anggota tim inti ini adalah bahwa tidak ada satu pun dari mereka memiliki latar belakang ahli taurat, orang Farisi, Saduki, imam, atau bahkan rabi. Jadi inilah sebagian dari alasan mengapa para pemimpin agama Yahudi ini menolak Yesus sebagai Mesias, karena bagi mereka seorang pemimpin yang tidak resmi tidak pernah memilih pemimpin-pemimpin resmi sebagai murid dan rekan kerjanya.
Satu-satunya rasul yang berperan sebagai seorang pemimpin agama Yahudi, dan yang tidak termasuk dari kedua belas rasul Yesus itu, menyebut dirinya sebagai “seorang yang lahir sebelum waktunya.” Ia adalah Rasul Paulus, karena ia tahu bahwa panggilan atas dirinya adalah sebuah pengecualian dan menyatakan hal ini sebagai kasih karunia Allah (1 Korintus 15:8-10). Kepada orang Kristen Korintus ia berkata: “Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil; menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah” (1 Korintus1:26-29).
Yesus tidak hanya mengamanatkan para murid-Nya untuk menjadi penjala manusia, tetapi Dia pun berjanji akan menjadikan mereka penjala bagi jiwa-jiwa orang. Lebih dari satu kali hal ini dinyatakan dengan jelas, bahwa janji itu juga berupa satu tanda awas. Tugas ini tidak mungkin efektif bila tidak didampingi oleh kuasa Tuhan. Hal ini terungkap jelas di dalam ungkapan Yesus: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5).
Sejumlah kualitas diperlukan untuk menghasilkan seorang nelayan yang baik, dan itu berlaku juga untuk menghasilkan seorang penginjil yang baik. Pertama, seorang nelayan harus memiliki kesabaran yang cukup besar, sebab ia tahu bahwa ia memerlukan waktu tertentu yang tidak sebentar untuk menemukan lokasi berkumpulnya ikan. Nelayan perlu bersabar dalam pelajaran menanti. Kedua, nelayan harus mempunyai ketekunan. Bukan sekadar menantikan dengan sabar di satu tempat, dan mengharapkan ikan-ikan itu akhirnya muncul; tetapi juga dalam masa penantian itu ia sering harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan sering kali harus kembali lagi ke tempat semula sampai ia berhasil menangkap ikan-ikan itu. Ketiga, nelayan harus mempunyai naluri yang baik untuk sampai ke tempat yang tepat dan menebarkan jalanya pada momen tepat pula. Timing yang keliru berarti penebaran jala yang sia-sia, baik untuk ikan maupun nelayan itu. Kualitas yang keempat ialah berani. Nelayan komersial, khususnya mereka yang beroperasi di Danau Galilea, sering kali diperhadapkan dengan berbagai bahaya angin ribut dan berbagai kecelakaan kapal.
Tatkala Yesus memanggil para murid-Nya untuk menyerahkan diri mereka untuk mengabarkan Injil, Dia juga melatih mereka serta melengkapi mereka dengan kuasa-Nya. Menuruti teladan Tuhan, gereja tidak hanya mengajak anggota jemaat untuk mengabarkan Injil, tetapi juga terus menerus melatih dan mendorong mereka untuk memuridkan orang lain untuk bersaksi. Dengan kata lain, Dia memerlengkapi para murid-Nya untuk melakukan pemuridan, tepat seperti perintah-Nya dalam Amanat Agung, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:18,19).
Pertama-tama Yesus mengutus murid-Nya berdua-dua orang pada pelayanan misi, menginstruksikan mereka tentang apa yang harus atau yang tidak harus mereka katakan dan lakukan (Markus 6:7-11). Setelah tiga tahun pengajaran dan pengkaderan untuk tugas-tugas jangka pendek, akhirnya Dia meninggalkan mereka untuk melakukan tugas ini secara permanen. Walaupun demikian tidak berarti Tuhan lepas tangan sama sekali, sebaliknya, Dia bekerja sama dengan dan di dalam mereka (Matius 28:20, Yohanes 16:13-15).
Dari pengajaran Yesus dan teladan-Nya, kita dapat melihat prinsip-prinsip yang harus kita miliki untuk memenangkan jiwa. Pertama: Yesus selalu siap sedia. Tampaknya luar biasa bahwa Anak Allah, yang mempunyai waktu sedikit untuk mengajar dan melatih para murid-Nya, justru selalu siap sedia dan terbuka bagi mereka yang datang kepada Dia untuk mendapatkan penghiburan dan penyembuhan. Dia tidak pernah membiarkan orang yang datang pada-Nya pergi tanpa mendapat apa yang diperlukan.
Kedua, Yesus tidak pernah pilih kasih. Orang miskin dan orang buangan masyarakat boleh mendekati Dia sama mudahnya dengan orang kaya dan orang yang berkuasa. Orang berpengaruh dan berkuasa seperti Yairus, seorang perwira Romawi tidak diperlakukan lebih dari wanita Samaria di kota Sikhar ataupun dari wanita yang kedapatan berzina dan ditangkap serta dibawa ke hadapan Yesus.
Ketiga, Yesus sangat peka akan kebutuhan mereka yang berada di sekeliling-Nya. Dia selalu mengetahui manakala seorang berdosa membuka hatinya dan siap bertobat. Bahkan tatkala orang banyak berdesak-desakan di sekitar-Nya, Dia merasakan dan memperhatikan bahwa ada tangan yang menyentuh jubah-Nya. “Seketika itu Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, ‘Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.’ Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu” (Matius 9:20-22). Ketika kita peka terhadap Roh Kristus, Dia akan membuat kita peka terhadap orang lain, dan akan menuntun kita kepada mereka atau menuntun mereka kepada kita.
Keempat, Yesus biasanya mengamankan pengakuan atau kesaksian publik. Ada kalanya Dia memberi instruksi spesifik, sebagaimana yang dilakukan-Nya terhadap orang yang Dia bebaskan dari kerasukan setan (Markus 5:19), sedangkan pada kesempatan lain dengan spontan ia bersaksi, seperti kisah percakapannya dengan wanita dari Sikhar (Yohanes 4:28,29).
Kelima, Yesus mempertunjukan kasih dan kelembutan-Nya kepada mereka yang akan dimenangkan bagi Dia. Ini dapat ditunjukkan sekali lagi oleh pengalaman Pekabaran Injil yang dilakukan Yesus terhadap wanita Samaria di Sikhar. Wanita itu bukan saja dinilai sebagai orang buangan masyarakat di mata orang Yahudi yang saleh, tetapi juga sebagai wanita yang diremehkan oleh warga kotanya sebab ia wanita yang suka berzina. Ia sudah mempunyai lima orang suami dan kini tinggal serumah dengan pria yang bukan suaminya pula. Namun Yesus dengan tegas sekaligus lembut menuntun wanita ini kepada iman. Melalui wanita ini, banyak orang Samaria dituntun kepada keselamatan (Yohanes 4:7-42).
Yang terakhir, Yesus selalu meluangkan waktu. Walaupun pengikut-Nya semakin lama semakin bertambah, tetapi Yesus selalu menyediakan waktu untuk orang lain. Sejumlah pekerja Kristen begitu sibuk dengan “pekerjaan Tuhan” sehingga mereka tidak mempunyai waktu untuk orang lain, padahal itu adalah satu karakteristik utama dari pelayanan Yesus sendiri. Bahkan tatkala Yesus berada dalam perjalanan untuk menyembuhkan anak perempuan Yairus, ia menyempatkan diri untuk menyembuhkan seorang wanita yang sudah menderita perdarahan selama 12 tahun lamanya (Markus. 5:21-34).
Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes memiliki respons yang sama terhadap panggilan Yesus. Mereka segera meninggalkan apa yang sedang mereka lakukan dan mengikut Dia. Ketaatan mereka adalah ketaatan yang tidak ditunda-tunda dan tanpa keraguan. Pada waktu itu mereka mempunyai pengenalan yang minim terhadap pengajaran Yesus atau harga yang harus mereka bayar apabila mengikut Dia. Tetapi bagi mereka semua itu cukup untuk mengetahui siapa Dia yang memanggil mereka dan bahwa panggilan-Nya kepada mereka itu adalah sebuah panggilan Ilahi.
Respons para murid lainnya terhadap orang-orang yang tidak percaya adalah meminta pembinasaan ilahi yang bersifat instan (Lukas 9:51-56). Menghadapi orang yang tidak percaya akan Tuhan, mereka berharap agar Tuhan menurunkan api untuk membinasakan mereka. Kasih akan jiwa yang tersesat hanya akan datang setelah adanya pemahaman dan ketaatan. Murid Tuhan mengembangkan rasa belas kasihan, kerendahan, pengertian, kesabaran, dan kasih sewaktu mereka belajar untuk menaati Yesus. Ketaatan adalah percikan api semangat untuk mengasihi jiwa-jiwa yang tersesat. Ketaatan merupakan jalan untuk mengembangkan kasih terhadap jiwa-jiwa yang belum percaya, serta memenuhi panggilan Tuhan untuk memenangkan jiwa-jiwa itu. Sekarang adalah zaman yang sangat baik untuk mengabarkan Injil, dalam konteks kita di negara tercinta ini; walaupun ada hambatan yang menghadang, Pekabaran Injil tetap berjalan. Persoalannya ialah, apakah saya dan Anda yang telah dipanggil Tuhan untuk menjadi penjala manusia tetap memiliki semangat juang yang tinggi untuk memenangkan jiwa?
kesimpulan
Saya ingin membagikan latar belakang sebuah nyanyian rohani yang berjudul “Let the Lower Lights be Burning” yang dikarang berdasarkan sebuah kisah nyata yang disampaikan oleh D.L. Moody, seorang pengkhotbah terkenal. Pada suatu malam yang penuh badai, sebuah kapal sedang menuju ke Cleveland Harbor di Lake Erie. Pelabuhan itu dilengkapi dengan dua set lampu untuk menuntun kapal agar masuk dengan selamat ke pelabuhan. Satu set lampu ditempatkan tinggi di atas sebuah bangunan sehingga dapat dilihat oleh kapal dari jarak puluhan kilometer. Set lampu yang lain berada di bagian dekat dengan garis pantai, dan berfungsi untuk menuntun kapal secara berhati-hati melalui batu-batu karang besar dan agar selamat bersandar di tepi pelabuhan. Malam itu hujan turun dengan derasnya. Set lampu yang berada di bagian bawah padam, sehingga seorang kapten kapal yang ingin berlabuh mempertimbangkan untuk menanti keesokan pagi baru ia dapat merapatkan kapalnya. Namun di tengah derasnya hujan dan badai, seluruh kelasi dan kapten kapal berunding, dan mereka mengambil keputusan untuk nekad merapat tanpa bantuan lampu di pantai itu. Ternyata keputusan itu berakibat fatal, kapal mereka menabrak batu karang besar dan karam sehingga banyak dari mereka mati tenggelam.
Dengan mengaitkan kisah ini dengan kesaksian orang Kristen. D.L. Moody berkata, “The Upper Lights atau lampu yang di atas adalah terang surgawi yang terus memancarkan terangnya dengan setia untuk menyinari jalan ke arah yang benar dan selamat, tetapi bagaimana dengan the Lower Lights atau lampu di bagian bawah?” Saya berdoa semoga kita yang terpanggil untuk memperlengkapi diri dengan kesaksian surgawi itu, mengarahkan orang kepada jalan keselamatan, juga menyelaraskannya dengan kesaksian pribadi yang memantapkan langkah orang ke arah Juruselamat kita. Semoga kita berperan sebagai penjala manusia yang efektif dan terampil bagi kerajaan Allah.

