Kejadian 3:1-7
Oleh: Pdt. Paulus Surya
Suatu kali saya berada di sebuah pesawat terbang dalam perjalanan kembali ke Perth. Pada saat makanan mulai dibagikan oleh para pramugari, tiba-tiba pesawat bergoyang kencang. Pesawat bergoyang kencang sampai-sampai minuman yang terletak didepan saya tumpah mengenai celana saya. Saat itu saya sadar bahwa pesawat yang saya tumpangi dalam keadaan bahaya. Tidak lama kemudian saya mendengar orang berteriak-teriak ketakutan. Saya juga melihat para pramugari berjongkok sambil berpegangan pada tempat duduk disampingnya.
Anehnya, di tengah suasana mencekam tersebut, saya mendengar dari tempat duduk dibelakang saya, ada beberapa anak kecil yang berteriak-teriak kegirangan. Mereka berteriak, “It’s cool…..it’s fun” (asyik….seru…). Mereka pikir mungkin seperti naik mainan roller-coaster.
Saat pesawat mulai tenang dan penumpang boleh melepaskan sabuk pengamannya, saya sengaja berdiri untuk melihat tempat duduk dibelakang saya. Saya melihat ada tiga anak kecil yang duduk bersama-sama, yang sempat berteriak-teriak senang saat pesawat dalam bahaya. Dalam hati saya berkata, “Mereka tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam…jadi pikirnya malah seperti mainan yang menyenangkan”.
Dalam kehidupan rohani banyak orang yang berlaku seperti anak-anak kecil tersebut. Banyak orang berada dalam bahaya serangan iblis namun mereka berpikir itu hal yang menyenangkan. Banyak orang yang hidup dalam berbagai-bagai dosa dan hidup tanpa Allah, namun berpikir hal itu seru, asyik dan menyenangkan.
Kejadian 3:1-7 ini pada intinya mengajarkan bahwa Tuhan menghendaki agar kita selalu berwaspada terhadap tipu muslihat iblis yang telah dan sedang terus bekerja untuk menjatuhkan kita dalam berbagai-bagai dosa. Apa saja tipu muslihat iblis untuk menjatuhkan manusia ke dalam berbagai-bagai dosa/hidup tanpa pimpinan Allah? Menyeret dalam dosa step by step.
Iblis melalui ular mula-mula mengajak dialog Hawa dengan memunculkan pertanyaan yang memancing respon Hawa. Iblis berkata, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (ayat 1b). Hawa menjawab, ”Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati” (ayat 2-3). Saat Hawa memberi respon dengan mengoreksi perkataan iblis tersebut, sebenarnya ia sudah masuk dalam jebakan iblis. Yaitu Hawa mau berdialog dengan iblis.
Step berikutnya, iblis memutarbalikkan kebenaran lagi. “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (ayat 4-5). Mendengar penjelasan iblis ini, maka Hawa mulai tertarik untuk mengambil buah yang dilarang Allah itu. “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian” (ayat 6a). Bukan hanya tertarik, tapi step berikutnya Hawa mengambil buah itu. Lalu step berikutnya lagi ia memakannya. Dan step berikutnya lagi ia memberikan kepada Adam (ayat 6b). Iblis telah berhasil dengan tipu muslihatnya untuk membawa Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Iblis menyeret manusia untuk jatuh dalam dosa step by step.
Strategi seperti ini masih terus dipakai oleh iblis untuk menjatuhkan manusia ke dalam berbagai-bagai dosa. Lot, keponakan Abraham, hidup berkompromi dengan dosa bersama masyarakat Sodom dan Gomora. Hal itu dimulai dengan Lot tertarik dengan daerah kota Sodom dan Gomora. Lalu karena tertarik, Lot dan keluarganya memilih untuk tinggal dekat dengan kota itu. Lalu Alkitab selanjutnya mencatat bahwa Lot dan keluarganya tinggal dalam kota Sodom. Bahkan kemudian Lot memiliki dua calon menantu orang Sodom yang sama sekali tidak beriman
kepada Allah. Iblis menyeret Lot dan keluarganya untuk hidup berkompromi dengan dosa step by step.
Contoh lain adalah Petrus. Petrus pernah jatuh dalam dosa yang memilukan hati, yaitu menyangkali Tuhan Yesus sebanyak tiga kali. Kalau kita melihat kisahnya, maka kejatuhan Petrus juga terjadi step by step. Dimulai dengan ia tidak berjaga-jaga dalam doa. Lalu ia mau mengatasi hal rohani dengan kekuatan jasmani (yaitu dengan mengayunkan pedangnya memotong telinga seorang yang bernama Malkus). Lalu Petrus mengikuti Tuhan Yesus, tapi mengikuti-Nya dari jauh. Maka step berikutnya lagi, jatuhlah ia dalam penyangkalan akan Tuhannya sebanyak tiga kali.
Ada peribahasa yang berbunyi demikian, “Karena satu paku terlepas, maka terlepaslah satu tapal kuda. Karena terlepasnya satu tapal kuda, maka jatuhlah seekor kuda. Karena jatuhnya seekor kuda, maka jatuhlah seorang prajurit dalam pertempuran. Karena jatuhnya seorang prajurit, maka kalahlah sebuah pasukan. Karena kalahnya sebuah pasukan, maka jatuhlah sebuah negara.”
Jadi runtuhnya sebuah negara dimulai dengan lepasnya sebuah paku dari
sebuah tapal kuda. Ini bisa menjadi suatu gambaran bahwa kejatuhan kita dalam dosa seringkali dimulai dari step yang kecil. Dan salah satu tipu muslihat iblis adalah memang menyeret kita manusia untuk jatuh dalam dosa step by step. Dari yang kelihatannya sederhana perlahan-lahan, tanpa kita sadari ataupun sadari, tahu-tahu kita sudah masuk perangkapnya. Kita sudah jatuh dan hidup dalam dosa. Membuat kita meragukan kasih Allah.
Salah satu tipu muslihat iblis adalah membuat kita meragukan dan tidak mengenali kasih Allah kepada kita.
Iblis bertanya kepada Hawa, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya bukan?” (ayat 1b). Dengan memutarbalikkan fakta yang sesungguhnya, iblis mau supaya Hawa berpikir bahwa Allah tidak suka manusia enjoy life. Padahal fakta kebenarannya adalah bahwa Allah membolehkan semua buah dalam taman itu dimakan/dinikmati, kecuali buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Saat Hawa menjawab dengan mengatakan kebenaran yang sesungguhnya (ayat 3), kembali iblis menjawab agar Hawa meragukan kasih Allah. “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu
akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (ayat 4-5). Dengan jawaban iblis ini, maka ia mau membuat Hawa berpikir bahwa Allah menyembunyikan sesuatu yang baik/menyenangkan terhadap manusia. Allah tidak suka manusia menjadi seperti diri-Nya. Iblis mau membuat kita manusia meragukan atau tidak mengenali kasih Allah.
Pada umumnya manusia menjadi meragukan kasih Allah tatkala menhadapi berbagai-bagai tantangan, penderitaan dan kesulitan hidup. Isteri Ayub contohnya. Pada saat Ayub kehilangan kekayaannya; lalu kehilangan ke sepuluh anak-anaknya; kemudian Ayub kehilangan kesehatannya, maka isteri Ayub menjadi meragukan kasih dan kebaikan Allah kepada mereka. Ia kemudian berkata kepada Ayub, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ayub 2:9). Dalam hal ini iblis telah berhasil membuat isteri Ayub meragukan kasih Allah kepadanya. Orang-orang yang terkena tipu muslihat iblis sehingga meragukan kasih dan kebaikan Allah juga mereka yang Tuhan Yesus sebutkan di perumpamaan tentang seorang penabur. “Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah” (Matius 13:20-22).
Untuk mengatasi hal ini, maka kita perlu terus-menerus membina relasi kita dengan Tuhan. Berdoa dan belajar firman Tuhan merupakan alat-alat anugerah Allah agar kita dapat bertumbuh dalam iman dan tidak mudah diombang-ambingkan tipu muslihat iblis. Apalagi sampai meragukan kasih dan kebaikan Allah bagi kita. Membuat kita berpandangan bahwa hidup dalam dosa itu menyenangkan Hawa menegaskan bahwa semua buah dari pohon-pohon yang ada di taman boleh dimakan buahnya, kecuali buah dari pohon yang ada ditengah-tengah taman. “Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati” (ayat 3). Tetapi iblis menjawab Hawa dengan menekankan bahwa melakukan hal yang dilarang Allah itu tidak akan membawa kepada kematian, sebaliknya justru menyenangkan. Iblis mengatakan, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu
akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan jahat” (ayat 4-5).
Manusia jatuh dalam tipu muslihat iblis dengan melihat bahwa melakukan pelanggaran itu kelihatannya menyenangkan. Hawa melihat bahwa buah pohon yang dilarang Allah itu “baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya” (ayat 6). Dosa yang kelihatannya menyenangkan dalam 1 Yohanes 2:16 dihubungkan dengan “keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup”. Banyak orang yang menghubungkan dosa yang keliahatannya menyenangkan ini dengan 3-TA (harta, tahta dan
wanita / dosa percabulan). Banyak orang tidak menyadari bahwa dosa yang kelihatannya menyenangkan ini, ujungnya adalah maut. “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 16:25).
Orang-orang Eskimo yang hidup di Kutub Utara, memiliki cara unik menangkap beruang liar. Mereka membuat pisau tajam panjang yang bermata dua, lalu melumuri bagian atasnya dengan darah binatang segar. Darah itu membeku menjadi seperti es krim darah. Lalu diletakkan di beberapa tempat dimana beruang-beruang liar suka melewatinya. Saat beruang-beruang liar melihat es krim darah itu mereka akan menjilatinya. Pada waktu darah yang dijilati itu habis, maka darah segar yang berasal dari lidahnya sendiri akan disangkanya darah segar yang enak. Maka beruang-beruang itu akan lebih semangat lagi menjilatinya. Mereka tidak sadar bahwa darah segar itu adalah darahnya sendiri. Lambat laun beruang-beruang itu akan kehabisan darah, menjadi lemas dan pingsan ataupun mati.
Ini merupakan gambaran dari manusia yang terperangkap oleh tipu muslihat iblis untuk melakukan berbagai-bagai dosa. Mereka tidak menyadari bahwa dosa yang kelihatannya menyenangkan itu ternyata lambat laun membawa kematian bahkan maut. Betapa dahsyatnya tipu muslihat iblis yang menjatuhkan manusia ke dalam dosa. Karena Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, maka seluruh manusia keturunannya hidup dalam dosa. Tetapi syukur kepada Tuhan, karena ada kebenaran yang jauh lebih dahsyat daripada dosa dan akibatnya. Yaitu keselamatan dalam Yesus. Dalam Yesus setiap manusia yang berdosa mendapatkan keselamatan. “Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang
beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang
benar” (Roma 5:18-19).
Pada saat manusia menyadari bahwa mereka telah jatuh dalam dosa, mereka mau mengatasi dosa mereka dengan usaha melakukan suatu perbuatan. “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang, lalu mereka menyemat daun pohon ara dan
membuat cawat” (ayat 7). Namun usaha ini adalah sia-sia. Usaha ini seperti yang dilakukan orang-orang beragama di dunia ini. Mau mengatasi dosa dengan perbuatan “baiknya”. Dosa hanya dapat diatasi dengan cara Allah. Dalam Kejadian 3:21 Alkitab mencatat, “Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya, lalu mengenakannya kepada mereka.” Ini merupakan gambaran bahwa untuk mengatasi dosa harus ada yang dikorbankan. Dan pengorbanan sejati yang menyelamatkan adalah pengorbanan dari sang Anak Domba, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Ia mati dikayu salib untuk menanggung hukuman atas dosa-dosa orang percaya. Ia membebaskan kita dari perbudakan dosa.
Bagi kita yang dimerdekakan dari dosa, sudah seharusnya kita hidup bagi kemuliaan Allah. Memiliki hati untuk hidup bagi kemuliaan Allah hanya bisa kita miliki jikalau kita betul-betul menyadari betapa mulianya penebusan Allah dlm Kristus yg telah membebas kan kita dari perbudakan dosa.
Beberapa tahun yang lalu ada seorang pria tinggal di Jakarta yang hidup berkanjang dalam dosa. Bukan hanya dia suka mabuk-mabukan, berjudi, berjinah, tapi juga menjadi pengedar obat-obat terlarang. Karena pekerjaannya menjadi penjual obat-obat terlarang ini, dia sering menjadi kejaran polisi. Beberapa kali saat pria ini menjual obat-obat terlarang di suatu hotel dan polisi mau menangkapnya, dia selalu lolos. Hal ini membuat dirinya berpikir bahwa Tuhan “melindungi” bisnis ilegalnya. Suatu kali bersama teman-temannya pria ini diajak menghadiri pesta pemakaian obat-obat terlarang di pulau Bali selama seminggu lebih. Pada hari kedua dia mengikuti pesta ini, pria ini mengalami kejadian yang aneh. Saat dia masuk ke suatu toilet dan melihat wajahnya di cermin dengan beberapa rambutnya yang mulai memutih, tiba-tiba dia merasa hidupnya tidak berarti. Dia tiba-tiba ingat cerita-cerita Alkitab yang dia dapatkan di Sekolah Minggu bertahun-tahun yang lampau.
Karena kejadian tersebut, hari itu juga ia memaksa diri untuk terbang kembali ke Jakarta. Sampai di Jakarta ia tidak kembali ke rumahnya, melainkan ia pergi ke rumah mamanya. Ternyata di rumah mamanya sedang ada persekutuan yang diadakan oleh suatu gereja. Pria itu diam-diam duduk di barisan paling belakang dan mengikuti persekutuan tersebut. Di persekutuan itu tidak ada khotbah. Acaranya hanya membaca Alkitab, berdoa dan menyanyi memuji Tuhan. Tapi Tuhan bekerja menyentuh hatinya. Pria itu merasa telah menyia-nyiakan
hidupnya selama ini. Ia diam-diam mengambil keputusan untuk bertobat dan menyerahkan kepada Tuhan sisa hidupnya untuk hidup bagi Tuhan.
Sejak pertobatannya, pria itu kemudian giat mengunjungi dan mengajak teman-temannya yang masih hidup berkanjang dalam dosa untuk bertobat. Suatu kali ia mengajak temannya yang sudah menikah namun berselingkuh untuk bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Temannya menjawab, “Aku sudah mencoba nya berkali-kali untuk keluar dari dosa
perselingkuhan ini, tapi tidak bisa. Aku telah terikat dosa ini terlalu dalam”. Lalu pria itu menjawab temannya, “Kamu kenal aku kan. Waktu aku dulu hidup rusak, yaitu hidup dalam dosa, dibandingkan dengan keadaanmu saat ini, rusak siapa? Lebih rusak aku bukan?” Lalu pria itu melanjutkan perkataannya dengan serius, “Yesus sanggup mengubahku, dan telah mengubahku. Yesus juga pasti sanggup untuk mengubahmu”. Dengan perkataan nya ini, Tuhan membuat teman pria tersebut bertobat dan percaya kepada Yesus. Dengan pertobatannya ia dimampukan Tuhan untuk mengatasi dan terlepas dari dosa yang mengikatnya.
Meskipun tipu muslihat iblis yang membawa manusia jatuh dalam berbagai-bagai dosa merupakan sesuatu yang dahsyat, tetapi kuasa Yesus jauh lebih dahsyat.
Dalam Yesus kita dapat hidup berkemenangan atas tipu muslihat iblis. Dalam Yesus kita dimampukan untuk hidup berkemenangan atas belenggu dosa. Apa pun bentuk dosa yang menjadi pergumulan kita, dalam Yesus kita akan dimampukan untuk hidup berkemenangan. Datanglah dan bersandarlah kepada-Nya senantiasa.

