Nafsu Membutakan, Rasa Cukup Mencelikkan (Bilangan 11: 4-23 & 31-35)
oleh : Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya
11:4 Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging? 11:5 Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. 11:6 Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” 11:7 Adapun manna itu seperti ketumbar dan kelihatannya seperti damar bedolah. 11:8 Bangsa itu berlari kian ke mari untuk memungutnya, lalu menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dalam lumpang. Mereka memasaknya dalam periuk dan membuatnya menjadi roti bundar; rasanya seperti rasa panganan yang digoreng. 11:9 Dan apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ. 11:10 Ketika Musa mendengar bangsa itu, yaitu orang-orang dari setiap kaum, menangis di depan pintu kemahnya, bangkitlah murka TUHAN dengan sangat, dan hal itu dipandang jahat oleh Musa. 11:11 Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: “Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini? 11:12 Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata kepadaku: Pangkulah dia seperti pak pengasuh memangku anak yang menyusu, berjalan ke tanah yang Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyangnya? 11:13 Dari manakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada seluruh bangsa ini? Sebab mereka menangis kepadaku dengan berkata: Berilah kami daging untuk dimakan. 11:14 Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku. 11:15 Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, supaya aku tidak harus melihat celakaku.” 11:16Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Kumpulkanlah di hadapan-Ku dari antara para tua-tua Israel tujuh puluh orang, yang kauketahui menjadi tua-tua bangsa dan pengatur pasukannya, kemudian bawalah mereka ke Kemah Pertemuan, supaya mereka berdiri di sana bersama-sama dengan engkau. 11:17 Maka Aku akan turun dan berbicara dengan engkau di sana, lalu sebagian dari Roh yang hinggap padamu itu akan Kuambil dan Kutaruh atas mereka, maka mereka bersama-sama dengan engkau akan memikul tanggung jawab atas bangsa itu, jadi tidak usah lagi engkau seorang diri memikulnya. 11:18 Tetapi kepada bangsa itu haruslah kaukatakan: Kuduskanlah dirimu untuk besok, maka kamu akan makan daging; sebab kamu telah menangis di hadapan TUHAN dengan berkata: Siapakah yang akan memberi kami makan daging? Begitu baik keadaan kita di Mesir, bukan? –TUHAN akan memberi kamu daging untuk dimakan. 11:19Bukan hanya satu hari kamu akan memakannya, bukan dua hari, bukan lima hari, bukan sepuluh hari, bukan dua puluh hari, 11:20 tetapi genap sebulan lamanya, sampai keluar dari dalam hidungmu dan sampai kamu muak–karena kamu telah menolak TUHAN yang ada di tengah-tengah kamu dan menangis di hadapan-Nya dengan berkata: Untuk apakah kita keluar dari Mesir?”11:21 Tetapi kata Musa: “Bangsa yang ada bersama aku ini berjumlah enam ratus ribu orang berjalan kaki, namun Engkau berfirman: Daging akan Kuberikan kepada mereka, dan genap sebulan lamanya mereka akan memakannya! 11:22 Dapatkah sekian banyak kambing domba dan lembu sapi disembelih bagi mereka, sehingga mereka mendapat cukup? Atau dapatkah ditangkap segala ikan di laut bagi mereka, sehingga mereka mendapat cukup?” 11:23 Tetapi TUHAN menjawab Musa: “Masakan kuasa TUHAN akan kurang untuk melakukan itu? Sekarang engkau akan melihat apakah firman-Ku terjadi kepadamu atau tidak!”
Pernahkah Anda mendengar tentang legenda Midas? Legenda ini bertutur tentang Midas yang mendapatkan tawaran dari Bacchus bahwa apa saja yang menjadi keinginan Midas akan menjadi kenyataan. Dengan bersukacita Midas menerima tawaran itu. Silau oleh keinginan untuk mendapatkan kekayaan sebesar dan secepat-cepatnya, Midas memilih untuk meminta agar apa pun yang disentuh tangannya menjadi emas. Bacchus mengabulkan permintaan Midas ini, sambil menyesalkan pilihan yang diambil oleh Midas. Hati Midas bersorak ketika Bacchus mengabulkan permintaannya. Dengan segera Midas mengambil sepotong kayu, dan betul begitu disentuh oleh jari-jarinya, kayu itu berubah menjadi emas. Midas menjadi kaget sekaligus bersukacita luar biasa. Dengan segera ia menyentuh semua benda di selilingnya: batu, buah apel, ranting pohon, dan semuanya dalam sekejap mata menjadi emas. Midas begitu terkagum-kagum dengan kemampuan barunya itu dan segera ia membayangkan kekayaan yang akan datang begitu cepatnya di dalam kehidupannya.
Setelah menyentuh sebanyak-banyaknya barang yang kemudian langsung berubah menjadi emas, Midas segera pulang ke rumahnya untuk menikmati makannya. Ia memerintahkan pengawainya untuk membuat masakan yang paling enak dan lezat. Betapa terkejutnya Midas, ketika ia mengambil sepotong roti, tiba-tiba roti itu menjadi emas. Ketika tangannya menyentuh buah anggur di depannya, tiba-tiba anggur itu menjadi emas dan tentu saja tidak dapat dimakan. Semua makanan yang tersedia, yang disentuh oleh Midas langsung berubah menjadi emas. Dalam keadaan lapar inilah, Midas menyesali pilihannya dan meminta Bachhus memulihkan kembali keadaannya. Di akhir legenda ini, dikisahkan bahwa Midas akhirnya kembali pada kondisi biasa dan sentuhannya bukanlah sentuhan emas lagi. Midas menikmati kesederhanaan hidupnya kembali.
Kisah legenda Midas di atas, menurut pengamatan saya, adalah sebagian potret yang pas tentang manusia dan kemanusiaan. Manusia senantiasa berkeinginan untuk menjadi lebih kaya dan sejahtera. Kalau perlu dalam tempo secepat-cepatnya dan sesingkat-singkatnya. Lihat saja toko buku yang penuh dengan buku-buku bertema tips-tips untuk menjadi kaya dan sejahtera dalam waktu sesingkat-singkatnya. Investasi-investasi keuangan yang memberikan keuntungan yang tidak masuk akal pun laris diminati. Perjudian, mulai dari tingkat kampung dengan judi buntut sampai dengan judi dengan omzet ratusan juta rupiah tampaknya sangat dinikmati. Mungkin semboyan orang pada masa kini adalah: “Lebih banyak lagi dan lebih cepat lagi”. Manusia tidak lagi memandang berharga rasa puas apalagi mengucap syukur. Rasa puas dan ucapan syukur dipandang sebagai penghambat semangat untuk memperoleh lebih banyak. Lagi, lagi, dan lagi.
Nafsu untuk mendapatkan lebih banyak lagi dengan lebih cepat lagi tampaknya adalah kecenderungan laten manusia.
Dalam sejarah perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir pun kita akan menemukan hal seperti ini berulang kali. Ambillah salah satu episode dalam perjalanan mereka, seperti tertulis dalam Bilangan 11. Pasal tersebut menceritakan tentang sebuah peristiwa dalam perjalanan bangsa Israel menuju tanah perjanjian. Di dalam perjalanan tersebut, bangsa Israel mendapatkan naungan tiang awan dan tiang api pada siang dan malam hari. Lebih dari sekadar naungan, mereka mendapatkan makanan sehari-hari yang berupa manna. Kata manna secara harfiah mempunyai arti: “apakah ini?”. Pemakaian kata ini menunjukkan bahwa sesungguhnya jenis makanan yang diberikan Allah tersebut benar-benar baru dan belum mereka kenal sebelumnya. Benar-benar sebuah pemeliharaan yang luar biasa di tengah padang gurun yang gersang.
Di dalam rombongan bangsa Israel itu terdapat juga sekolompok orang-orang dari bangsa lain yang bergabung dan ikut berjalan bersama. Orang-orang inilah yang disebut—secara tidak tepat—Alkitab terjemahan Indonesia sebagai “orang-orang bajingan”. “Orang-orang bajingan” ini kemasukan nafsu rakus dan berhasil memprovokasi orang Israel untuk meminta Musa menyediakan daging bagi mereka. Begitu nafsu memengaruhi diri mereka, maka manna yang dahulu dianggap sebagai berkat yang besar bagi kehidupan mereka, kini menjadi tidak berarti. Inilah salah satu karakteristik dari nafsu. Nafsu membutakan mata kita untuk memandang dan menilai berkat Tuhan sebagai berkat. Nafsu memperoleh lebih dan lebih lagi bisa menyebabkan seseorang meremehkan dan bahkan melecehkan berkat Tuhan yang ada selama ini.
Tidak ada yang lebih mengesalkan saya selain mendengar seorang, suami yang sedang berbuat serong dengan wanita lain, membeberkan kekurangan dan kelemahan istrinya. Ketika ditegur, bukannya malah menyesali kesalahannya, tetapi pria itu justru bercerita banyak dan bahkan cenderung menyalahkan istrinya. “Istri saya kurang begini dan begitu,” kata pria itu. Pria ini telah terbutakan oleh nafsunya sendiri. Istri yang dahulu diyakini sebagai berkat Tuhan, kini diremehkan dan bahkan dilecehkan karena nafsu untuk berhubungan dengan wanita lain. Demikian juga yang sering terjadi dengan berkat-berkat Tuhan yang lain: anak, rumah, dan pekerjaan. Begitu nafsu untuk memperoleh lebih dan lebih lagi menguasai, maka orang biasanya mencaci dan melecehkan berkat Tuhan yang selama ini mereka telah hidup di dalamnya.
Nafsu ternyata bukan hanya membutakan mata kita untuk melihat dan menghargai berkat Tuhan yang telah kita terima. Nafsu juga membutakan mata kita untuk melihat seberapa besar kebutuhan kita yang sebenarnya.
Lihatlah orang-orang Israel dalam Bilangan 11 tadi. Begitu Tuhan memberikan burung-burung puyuh dan terbang rendah di tengah-tengah mereka, maka sepanjang siang hari, malam dan pagi hari esoknya, mereka tanpa mengenal lelah menangkapi burung-burung itu. Bilangan 11:32 menegaskan bahwa setiap orang mengumpulkan setidak-tidaknya 10 homer. Tidak terlalu sulit untuk mengetahui berapa kira-kira 10 homer tersebut. Kamus kecil di belakang Alkitab kita menjelaskan bahwa 1 homer kira-kira setara dengan 360 liter. Dengan demikian, berarti 10 homer sama dengan 3.600 liter. Bayangkan saja 3.600 liter! Ini jumlah minimum, yang lebih banyak tentu ada! Nyaris setara dengan sebuah mobil tangki minyak yang kecil, yang biasanya memuat 5.000 liter. Silakan hitung sendiri, berapa ribu burung puyuh—yang besarnya sekepalan tangan orang dewasa—diperlukan untuk memenuhi sebuah mobil tangki minyak kecil. Untuk apa jumlah sebanyak itu? Apakah mereka sanggup untuk memakannya dan bahkan menjaganya untuk tetap hidup sepanjang perjalanan? Tentu tidak!
Nafsu memang membutakan mata kita untuk melihat seberapa besar kebutuhan kita sebenarnya. Nafsu mengarahkan kita untuk tidak pernah bisa merasa cukup. Nafsu untuk kekayaan, telah membutakan orang untuk melihat seberapa besar yang sebenarnya dibutuhkan untuk hidup. Nafsu untuk hubungan seksual secara tidak sehat telah mendorong orang untuk terus-menerus berganti-ganti pasangan. Nafsu untuk kedudukan telah membuat orang tidak akan pernah bisa menghargai apa yang diterimanya saat ini. Nafsu memang membutakan!
Nafsu memang membutakan, tetapi rasa cukup itu mencelikkan.
Paulus, seorang hamba Allah, pernah menuliskan, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan…. Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:12-13). Paulus tidak menuliskan bagian tersebut dalam kondisi yang menyenangkan. Ia menuliskan bagian tersebut ketika ia berada di dalam sebuah ruang yang sempit dan pengap, ketika ia berada di penjara. Di dalam penjara itulah, ia menuliskan rahasia kekuatannya di dalam menanggung segala sesuatu. Ia menulis, “I have learned to be content whatever circumstances” (Filipi 4:11; NIV). Kata autarkes (content; merasa cukup) dalam bahasa Yunani digunakan untuk menunjuk pada situasi di mana seseorang bebas dari pengaruh-pengaruh di luar dirinya. Dengan kata lain, bukan berarti pengaruh-pengaruh di luar tersebut menjadi berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali, tetapi hal-hal tersebut dapat disikapi dengan bijaksana. Bukankah nafsu yang ada di dalam diri manusia akan semakin membesar apabila ditambahi dengan situasi lingkungan yang mendukung? Sama seperti bara api yang terkena kipas, makin lama makin membesar, demikian pula apabila nafsu di tengah embusan situasi-situasi yang mendukung. Kunci untuk meredam nafsu dan hembusan situasi yang mendukung adalah rasa cukup (contentment). Jeremy Taylor dalam Holy Living pernah menulis, “No chance is evil to him that is content.”
Bahkan, lebih dari sekadar menghindarkan kita dari kejahatan, rasa cukup sebenarnya mencelikkan mata. Rasa cukup mencelikkan mata untuk melihat dan memandang berkat-berkat Tuhan yang senantiasa menyertai kehidupan kita. Saya tidak pernah melupakan undangan seorang ibu untuk santap siang dalam rangka ucapan syukur pascakerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Ibu dan seluruh anggota keluarganya menyambut gembira kedatangan kami. Anda keliru kalau berpikir bahwa ibu tersebut mengadakan ucapan syukur karena rumah dan usahanya terbebas dari malapetaka itu. Rumah dan usahanya ludes ditelan api, demikian juga dengan mobil-mobilnya. Keluarga ibu itu terpaksa pindah di sebuah rumah yang jauh lebih kecil dan terpencil dibandingkan dengan tempat tinggal sebelumnya. Di rumah kecil itulah, dengan uang yang tersisa, keluarga ini membuka satu warung kecil. Di tengah santap siang itu, ibu itu berkata, “Sesungguhnya Tuhan itu baik kepada keluarga kami. Meski kami kehilangan rumah dan usaha kami, kami tidak kehilangan relasi yang akrab dan hangat di antara seluruh anggota keluarga. Keakraban dan kasih di antara kami justru bertambah lebih dekat dan akrab setelah segala harta benda kami musnah.” Lanjut ibu itu, “Itu adalah berkat yang paling berharga diberikan Tuhan kepada keluarga kami, yang selama ini tidak kami sadari.” Saya terdiam dengan hati yang tergetar. Sungguh, rasa cukup itu mencelikkan!

