Site icon

Nehemia: Peka akan Kehendak Allah

Nehemia

Peka akan Kehendak Allah

Nehemia 1 sd 6

 Nehemia adalah sosok yang luar biasa dalam alkitab, khususnya dalam memahami kehendak Allah dalam kehidupannya secara pribadi. Orang yang hebat ini sangat peka terhadap pimpinan Allah untuk melaksanakan tugas yang dibebankan oleh Allah kepadanya. Kita akan belajar mengenai Nehemia dengan melihat dan meneladani kehidupan spiritualnya sehingga dia bisa mempunyai kepekaan yang begitu tinggi akan kehendak Allah bagi kehidupannya secara pribadi. Dalam istilah teologi, kehendak Allah yang seperti ini biasa disebut sebagai Kehendak Individu Allah. Artinya kehendak Allah secara khusus pada seseorang untuk melakukan suatu tugas tertentu dari Allah pada waktu tertentu.

Kehendak Individu ini tidak sama dengan Kehendak Moral (Perintah Allah dalam alkitab) yang berlaku umum (untuk semua orang), tetapi tetap bersangkut paut dengan seluruh rencana Allah bagi seluruh manusia. Beberapa contoh dari Kehendak Individu yang tercatat dalam alkitab, misalnya Allah berkehendak Simson untuk menjadi Hakim Israel, tetapi untuk masalah istri, Simson boleh memilih sendiri, walaupun memang Allah memakai hal ini untuk melaksanakan rencana-Nya bagi penyelamatan Israel. Atau misalnya Allah mempunyai Kehendak Individu bagi Ishak tentang dengan siapa dia seharusnya menikah, yaitu Ribka, tetapi Allah memberi kebebasan penuh pada Ishak untuk memilih pekerjaannya. Tetapi Kehendak Individu Allah ini bukan membuat manusia menjadi robot, karena Allah tetap menghormati kebebasan manusia untuk memilih taat atau tidak. Kalau taat, maka berarti orang itu menjadi salah satu orang yang diikut sertakan dalam rencana Allah dan dia akan menerima upahnya. Tetapi kalau dia tidak mau taat dan menolak, maka Allah akan mencari orang lain atau pihak lain yang mau ikut dan taat pada rencana-Nya (Est 4:13-14).

Kepekaan akan Kehendak Individu Allah dimulai dengan persekutuan dengan Allah yang erat dan rutin. Walaupun Nehemia saat itu sedang dalam pengasingan (Puri Susan), tetapi hatinya melekat kepada Allah dan negara dan bangsanya. Ketika dia mendengar ada orang datang dari Yehuda, maka dia menanyakan bagaimana keadaan orang-orang Yahudi di sana dan juga tentang Yerusalem (Neh 1:2-3). Dan ketika dia mendengar bahwa bangsa dan negaranya dalam keadaan yang memprihatinkan, maka Nehemia menangis, berkabung, berpuasa dan berdoa kepada Allah Semesta Langit (Neh 1:4). Istilah Allah Semesta Langit hanya muncul kira-kira 20 kali dalam alkitab dan empat di antaranya dicatat dalam kitab Nehemia. Istilah ini merupakan gelar atau pujian teragung sehubungan dengan Allah yang Mahakuasa. Dialah Tuan atau Tuhan dari seluruh langit, mengatasi semua ilah atau dewa pada zaman itu. Kepada Allah yang seperti inilah Nehemia berdoa. Dan dia menaikkan doa yang luar biasa, karena Nehemia sangat sadar bahwa semua malapetaka ini adalah karena orang Israel telah berubah setia kepada TUHAN.

Doa Nehemia ini menunjukkan bahwa Firman Tuhan benar-benar menjadi bagian yang menguasai seluruh hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa Nehemia adalah orang yang terus menjaga persekutuan pribadinya dengan Allah setiap saat, walaupun dia di pembuangan. Hidup dalam pembuangan berarti sebenarnya dia tidak dapat beribadah (menurut kacamata orang Yahudi) sebagaimana seharusnya, karena ibadah yang seharusnya harus disertai dengan korban-korban dan dilakukan di Yerusalem, di Bait Allah. Tetapi ternyata Nehemia tidak pernah kehilangan persekutuannya dengan Tuhan. Dan persekutuan dengan Allah yang terjaga dengan baik membuat Nehemia dapat mengambil sikap yang benar terhadap Tuhan, yaitu dengan memohon belas kasihan dan kekuatan dari Tuhan (Neh 1:11). Hal yang sama yang juga kita jumpai dalam cerita Daniel. Sama-sama dalam pembuangan, tetapi Nehemia dan Daniel tidak pernah kehilangan persekutuan mereka dengan Allah.

Pengenalan Nehemia akan Allah ternyata telah membuat Nehemia menjadi orang yang tidak sembarangan bergerak. Dia menjadi orang yang belajar untuk menunggu Allah berfirman atau bertindak. Justru karena mengenal Allah dengan intim, maka Nehemia menjadi orang yang sabar menunggu waktu Allah. Dari sejak doanya (Neh 1:1-4) sampai dia dapat berbicara kepada raja Artahsasta (Neh 2:1) ternyata ada selang waktu 4 bulan. Bayangkan betapa gelisah hati Nehemia yang harus menunggu selama 4 bulan untuk dapat ditegur oleh raja. Kesabaran seperti ini hanya bisa dimiliki oleh orang yang mempunyai persekutuan yang erat dengan Allah. Dia tahu bahwa Allah Israel tidak akan membiarkan bangsa dan negaranya hancur, maka dia menahan diri, sampai Allah yang bertindak membuka kesempatan. Dan penantiannya tidak sia-sia. Raja berkenan menanyakan kegelisahannya (Neh 2:2). Kesempatan yang dibukakan oleh Allah ini dipakai dengan sangat bijaksana oleh Nehemia.

Rupanya memang selama 4 bulan itu Nehemia terus memikirkan dan menggumulkan dengan Allah, apa yang akan dia katakan kepada raja Artahsasta. Permintaannya menunjukkan bahwa Nehemia betul-betul dipimpin oleh hikmat Allah, sehingga dia tahu persis hal-hal apa saja yang dia butuhkan untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Allah Israel kepadanya. Dan karena Tuhan menyertai dia, maka semua yang dia minta dikabulkan oleh raja (Neh 2:4-8). Bahkan ketika raja bertanya kapan dia kembali, Nehemia mampu menyebut suatu jangka waktu tertentu. Dikatakan raja berkenan mengutus Nehemia, setelah Nehemia menyebut suatu jangka waktu tertentu (Neh 2:6). Bayangkan betapa dahsyatnya kepekaan orang ini terhadap kehendak Allah, sehingga dia bisa tahu kapan proyek Allah ini akan selesai. Perlu kita pahami bahwa Nehemia sedang berjanji kepada seorang raja yang berkuasa. Resiko bersalah kepada raja akan berakibat fatal. Salah janji bisa mati. Tetapi Nehemia berani menyebut jangka waktu tertentu. Padahal dia belum melihat medan tempat tugasnya. Dia hanya tahu apa yang Allah telah taruh dalam hatinya (Neh 2:12), yaitu membangun kembali tembok Yerusalem.

Kata yang dipakai untuk hati (leb) di sini artinya adalah seluruh keberadaan diri, baik intelek/rasio, emosi maupun kehendak. Pada masa sekarang hal ini biasa dikenal sebagai visi, artinya suatu gambaran tugas dari Allah yang diberikan kepada seseorang atau sekelompok orang berkenaan dengan rencana Allah bagi umat manusia. Visi ini berbeda dengan panggilan umum, atau tugas umum. Panggilan umum berlaku bagi semua orang dan terus berlaku sepanjang zaman, misalnya panggilan gereja untuk menginjili berlaku untuk semua orang percaya dan berlaku sepanjang zaman. Panggilan untuk memuridkan berlaku sepanjang zaman dan ditujukan kepada semua orang percaya. Hal ini sering disalah mengerti oleh gereja pada masa kini. Banyak gereja menganggap pemuridan atau penginjilan sebagai visi. Tetapi bukan itu yang dimaksudkan oleh Alkitab. Visi adalah panggilan khusus kepada seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan suatu tugas khusus dari Allah dengan sasaran khusus dan untuk jangka waktu tertentu. Jadi ada jangka waktu tertentu di mana visi itu akan berakhir dengan ditandai selesainya tugas khusus itu. Nehemia, dipimpin oleh Allah, berani memperkirakan kapan tugas itu akan selesai. Tidak mungkin hal ini keluar dari kemampuan Nehemia.

Hal ini hanya mungkin bisa terjadi karena Allah yang memberitahukan kepada Nehemia kapan visi itu dapat diselesaikan. Alkitab mencatat bahwa setelah tiba di Yerusalem, baru Nehemia melakukan pendalaman akan tugas yang diberikan oleh Allah, itupun dilakukan sendirian (Neh 2:11-16). Setelah melakukan pendalaman itu, barulah Nehemia mengajak orang-orang untuk melakukan pembangunan tembok Yerusalem. Suatu cara kerja yang sama sekali terbalik dengan yang biasa dilakukan oleh manusia. Kalau menurut cara manusia, maka seharusnya Nehemia melakukan penyelidikan dan pendalaman lebih dahulu. Melihat situasi, melihat kenyataan, melihat apakah ada orang-orang yang bisa diajak ikut serta, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan.

Baru kemudian menetapkan tindakan apa yang akan dilakukan untuk menyelesaikan tugas itu. Tetapi karena Nehemia peka akan Kehendak Individu Allah, maka dia dapat menetapkan lebih dahulu kapan proyek itu dapat diselesaikan, baru kemudian melakukan pendalaman dan penyelidikan. Sambutan dan tekad orang-orang untuk ikut bekerja sama dalam melakukan proyek itu juga baru diperoleh Nehemia ketika tiba di Yerusalem. Alkitab mengatakan, ketika mereka mendengar bagaimana murahnya tangan Allah menyertai Nehemia,maka rakyat dengan segenap hati menyatakan siap untuk membangun (Neh 2:18). Jelas ini adalah gerakan yang dilakukan oleh Allah sendiri.

Nehemia telah berhasil menggerakkan hati orang-orang untuk mulai melakukan pembangunan tembok Yerusalem, tetapi bukan berarti bahwa hal itu akan berjalan dengan lancar. Semua rencana Allah bagi keselamatan manusia pasti akan memperoleh halangan dari kuasa-kuasa jahat. Dan biasanya kuasa-kuasa jahat ini akan memakai orang-orang berdosa (tidak percaya) di dalam kebencian mereka untuk menggagalkan rencana Allah ini. Proyek Allah untuk Nehemia juga tidak luput dari halangan ini. Ada segolongan orang dipimpin oleh Sanbalat dan Tobia berusaha untuk terus menggagalkan pembangunan itu. Mereka menggunakan bermacam-macam cara untuk menggagalkan tugas Nehemia (Neh 2:9; 4:1-3). Tetapi semua usaha itu berhasil di atasi oleh Nehemia, karena hikmat Tuhan memimpin dia. Proyek ilahi tidak akan bisa digagalkan oleh kuasa-kuasa jahat, tetapi bukan berarti bahwa kita yang dipercaya oleh Tuhan terus mengharapkan mujizat atau campur tangan Allah secara langsung, sehingga semua halangan akan lenyap dengan sendirinya. Penugasan Allah bukan seperti berjalan di jalan tol.

Aman tanpa hambatan. Biasanya ada bagian yang memang akan dikerjakan oleh Allah, tetapi tetap ada bagian yang harus dikerjakan oleh manusia. Justru inilah sebenarnya yang membuat kita dikenan oleh Allah. Karena Allah akan melihat ketaatan kita, kesetiaan kita, kerelaan untuk bergantung penuh pada Allah. Nehemia pasal tiga menceritakan bagaimana Nehemia, dipimpin hikmat Allah, dengan begitu luar biasa mengatur orang-orang yang telah digerakkan Allah untuk bekerja bersama-sama membangun kembali tembok Yerusalem yang rusak. Gambar di bawah ini menunjukkan bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang luar biasa besar.

Gambar ini menunjukkan betapa dahsyat pekerjaan yang dilakukan oleh Nehemia ketika membangun kembali tembok Yerusalem. Dalam pasal 2 disebutkan Gerbang Lebak (Valley Gate = A) dan Gerbang Sampah (Dung Gate/Ashpot = B). Menurut penggalian arkeologi, jarak antara kedua Gerbang itu, A-B kira-kira sekitar 500 meter. Jadi bisa kita bayangkan berapa besar renovasi tembok Yerusalem yang dilakukan oleh Nehemia waktu itu. Dan yang diperbaiki bukan hanya temboknya tetapi juga pintu-pintu gerbangnya dan menara-menaranya 

           

Tembok Yerusalem bukan tembok seperti tembok rumah zaman sekarang. Tembok itu adalah tembok kota, tembok benteng. Jadi tebal tembok itu bisa lebih dari 1 meter. Kalau kita melihat film-film perang zaman dulu, maka kita melihat di atas tembok benteng itu bisa berdiri para prajurit yang siapa melepaskan anak panahnya kepada setiap musuh yang menyerang kota tersebut. Jadi kalau mereka membangun tembok sepanjang 10 meter saja, maka itu berarti sama dengan pekerjaan membangun tembok zaman sekarang kira-kira sepanjang 100 meter. Berarti suatu pekerjaan yang sangat besar.

Ditambah lagi munculnya orang-orang yang terus menghalangi pembangunan tembok Yerusalem itu. Tidak begitu jelas mengapa Sanbalat dan Tobia terus menghalangi pembangunan tembok Yerusalem. Kedua orang itu diperkirakan adalah juga pejabat tinggi di daerah tersebut (Samaria dan Amon), mungkin setingkat bupati seperti juga Nehemia adalah seorang bupati (kepala daerah; Neh 5:14). Mungkin mereka iri hati karena ada “penguasa” baru di daerah mereka yang didukung oleh raja Persia. Inilah mungkin salah satu bibit permusuhan yang terus berlanjut antara orang Samaria dan orang Yahudi, karena pada zaman Ezra orang Yahudi juga menolak bantuan orang Samaria ketika orang Yahudi mau membangun Bait Allah yang telah dihancurkan oleh Nebukadnezar. Gangguan ini dilakukan oleh Sanbalat dan Tobia berulang kali. Tetapi ternyata semua usaha mereka digagalkan oleh Nehemia dan kawan-kawan, karena semua rencana mereka dengan cara yang ajaib dapat diketahui oleh Nehemia. Jelas sekali bahwa ini adalah hikmat yang diberikan oleh Tuhan sehingga Nehemia berhasil melakukan persiapan-persiapan yang tepat untuk menggagalkan usaha Sanbalat dan Tobia.

Pertama-tama mereka mengejek untuk melemahkan semangat para pekerja dengan menghina kekuatan tembok yang akan dibangun. Tembok itu akan runtuh hanya karena diloncati oleh anjing hutan (Neh 4:3), tetapi ketika orang-orang itu melihat bahwa akhirnya semua tembok yang berlubang telah tertutup, maka mereka menjadi marah (Neh 4:7) dan merencanakan untuk menyerang orang Yahudi. Tetapi secara ajaib rencana itu dapat diketahui sehingga orang Yahudi melakukan hal yang luar biasa, yaitu mereka tetap membangun tembok, tetapi pada saat yang sama, membawa senjata untuk berjaga-jaga. Bahkan Nehemia berhasil membuat strategi informasi yang hebat sehingga kalau ada serangan, dengan sangat cepat, mereka akan dapat melawan (Neh 4:7-23). Dan semua itu bisa terjadi karena Nehemia peka akan pimpinan Allah.

Semua rencana jahat musuh sudah diketahui sebelum sempat dilaksanakan. Tetapi bukan berarti bahwa kemudian pembangunan tembok Yerusalem itu berjalan dengan mulus. Akibat kerja keras yang ekstrim, maka mereka tidak sempat mengerjakan ladang mereka untuk menghasilkan bahan makanan dan membayar pajak. Rakyat mengalami penderitaan. Hal ini diperparah dengan sikap sebagian kecil para pemuka dan penguasa yang mengambil keuntungan dalam situasi terjepit. Seringkali ketika kita sedang mengerjakan proyek Allah, muncul masalah internal yang mengganggu tugas-tugas kita itu. Dan seringkali masalah internal ini menjadi lebih rumit karena melibatkan “orang-orang dalam.” Kedekatan menjadi hal yang rumit, karena menyangkut relasi. Kalau musuh, kerusakan relasi bukan masalah, tetapi kalau terjadi “perselisihan” dengan orang dekat, dan tidak terselesaikan dengan baik, maka ini akan menjadi gangguan permanen dalam proyek ini. Nehemia sadar sekali akan hal ini, karena itu walaupun merasa marah, dia memikirkan masalah ini dengan sangat serius (Neh 5:6-7). Di sinilah kepekaan mengerti Kehendak Individu Allah itu mulai memegang peranan. 

Dengan dipimpin hikmat Allah, Nehemia kemudian menyuruh para penguasa itu menghapus semua hutang rakyat dan akhirnya rakyat dapat kembali bekerja membangun tembok Yerusalem dengan segenap hati mereka (Neh 5:8-13). Para penguasa dengan segenap hati membebaskan rakyat dari beban pajak yang berat. Hal ini sedikit banyak juga dipengaruhi oleh tindakan Nehemia yang memberikan contoh bagaimana dia sebagai bupati, malahan ikut menyumbang dan tidak mengambil haknya sebagai bupati (Neh 5:14-18). Dan ini semua dilakukan Nehemia karena dia dikatakan “takut akan Allah” (Neh 5:15). Kata “takut” di sini bukan berarti memandang Allah sebagai suatu monster yang mengerikan, akan tetapi bermakna takut secara moral, spiritual. Mungkin kata gentar lebih cocok untuk bagian ini. Ada perasaan hormat, segan, tidak ingin membuat Allah berduka.

Tetapi musuh-musuh Israel belum menyerah. Mereka, yaitu Sanbalat dan Tobia mulai melontarkan fitnah kepada Nehemia dengan membuat desas-desus bahwa Nehemia sedang membangun tembok Yerusalem dan berniat untuk memberontak setelah pembangunan itu selesai. Tetapi usaha inipun gagal, bahkan Nehemia justru berusaha sekuat tenaga (Neh 6:9). Akhirnya mereka berhasil menyuap salah seorang nabi Yahudi, Semaya bin Delaya, untuk membujuk Nahemia masuk ke Bait Allah dengan alasan ada orang yang mau membunuh Nehemia (Neh 6:10). Tetapi Nehemia dengan hikmat yang dari Tuhan tahu jebakan ini. Untuk dapat memahami sikap Nehemia yang luar biasa kita harus mengerti peran nabi pada zaman itu. Nabi adalah wakil Allah kepada umat. Allah seringkali berfirman melalui mereka, walaupun bukan semua yang mereka katakan pasti Firman Allah. Perkataan mereka baru benar-benar adalah 100 % Firman Allah ketika mereka berperan sebagai nabi Allah yang memang diutus Allah untuk menyampaikan sesuatu kepada umat-Nya. Tetapi tentu saja yang tahu apakah yang dikatakan itu adalah Firman Allah adalah nabi itu sendiri. Dia bisa saja berbohong dan mengatakan bahwa Allah telah berfirman kepadanya ini dan itu, tetapi sebenarnya Allah tidak berkata apa-apa kepadanya. Yang disampaikan adalah karangannya sendiri. Alkitab mencatat “pertempuran” antara Mikha dengan para nabi palsu (1Raj 22:5-28). Jadi bisa dibayangkan tekanan yang dialami Nehemia, ketika “seorang nabi” menyuruh dia mengunci diri di Bait Allah.

Itulah tekanan yang juga dialami oleh Mikha, sehingga alkitab mencatat bahwa Mikha dipenjara, karena tetap “ngotot” bahwa dialah nabi yang benar. Nehemia, dipimpin oleh kepekaan akan kehendak Allah, tahu persis bahwa sebagai orang awam, dia tidak boleh masuk ke dalam Bait Allah. Hanya imam yang boleh masuk ke dalam Bait Allah. Hukumannnya bisa hukuman mati. Karena itu walaupun yang menasihati dia adalah “seorang nabi,” dia tidak mau masuk ke Bait Allah (Neh 6:11). Sekali lagi Nehemia menunjuikkan kepekaan akan kehendak Allah sehingga dia tahu kepalsuan “nabi” itu. Bahkan Nehemia juga tahu bahwa Sambalat dan Tobia bukan hanya memakai Semaya bin Delaya, tetapi juga banyak nabi-nabi lain untuk menakut-nakutkan Nehemia (Neh 6:14).

Tetapi semua itu berhasil diatasi oleh Nehemia. Dan tembok Yerusalem akhirnya selesai dalam jangka waktu lima 52 hari. Sekali lagi, selesai dalam jangka waktu 52 hari. Bayangkan. Proyek raksasa itu selesai dalam waktu 52 hari. Dan mereka bekerja sambil membawa senjata untuk siap berperang. Tidak heran, para musuh mereka menjadi gentar, sebab ini membuktikan bahwa proyek ini adalah proyek Allah sendiri dan (Neh 6:15-16) Nehemia, melalui proyek pembangunan tembok Yerusalem, berhasil menunjukkan betapa dahsyat Allah Israel. Segala kemuliaan dikembalikann Nehemia kepada Allah yang menyertai dia dan semua orang Israel.

Exit mobile version