Site icon

Pandanglah Aku

Pandanglah Aku

oleh: Pdt. Nathanael Channing

Ibrani 12:1-17

Apa artinya sebuah “Pandangan Mata”? Tentunya banyak sekali. Ada seseorang mengendarai mobil, dan kemudian mobil itu melintasi kubangan berair sehingga air itu mengenai seorang yang mengendarai sepeda motor. Apa yang terjadi? Pertama, bisa jadi mobil itu berjalan terus, dan orang yang kebasahan itu tidak terima, lalu terjadilah adegan kejar-mengejar. Pada saat kedua mata mereka saling bertemu dapat dipastikan mata mereka saling melotot, yang berarti sama-sama mau mengajak “berantem.” Sikap yang kedua, orang yang naik mobil tadi langsung berhenti, dan memandang dengan mata penuh belas kasihan kepada orang yang kebasahan itu, lalu meminta maaf. Tindakan itu akan mengakibatkan terjalinnya hubungan yang baik, sama-sama mau menerima apa yang baru saja terjadi. Berbeda lagi jika kita melihat anak-anak remaja yang baru jatuh cinta. Orang mengatakan bahwa saat itu mereka saling mengembangkan cinta monyetnya. Pandangan mata mereka terhadap lawan jenis sangat berbeda. Seoalah-olah ada daya tarik yang kuat untuk saling mengenal sekalipun sorot mata mereka adalah sorot mata yang penuh dengan nafsu keremajaannya. Hal yang sama juga terjadi pada orang yang berpacaran. Sorot mata mereka bersinar-sinar, memancarkan sukacita dan kebahagiaan mereka berdua. Lain halnya dengan sorot mata orang yang mau di-PHK. Tatapan mata mereka sayu, putus asa, dan tidak ada gairah hidup karena mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat. Tatapan itu juga terjadi pada sorot mata dari orang yang bersalah dan kemudian ketahuan apa yang dilakukannya. Kebanyakan orang yang tertangkap melakukan kesalahan tidak mau menatap orang-orang yang berada di sekitarnya. Berbeda lagi dengan orang yang mengalami kemenangan dalam pertandingan atau lulus cumlaude. Mata mereka bersinar-sinar dan berbinar-binar, menyatakan sukacita yang besar. Dari kisah-kisah itu kita dapat melihat bahwa banyak nilai dan arti dari sebuah pandangan mata.

Guru kita, Tuhan Yesus Kristus mengajarkan agar kita terus memandang kepada Dia. Penulis surat Ibrani berkata, “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman” (Ibrani 12:2). Suasana pada waktu itu memang diwarnai penderitaan. Umat Allah sedang menghadapi tantangan yang berat, yaitu mereka diminta untuk menyangkali iman mereka dalam Kristus jika mereka tidak ingin mati dalam penganiayaan. Tuhan datang kepada orang-orang Kristen pada masa itu, dengan seruan agar mereka “menjalani hidup ini dengan mata yang tertuju kepada Yesus”. Memandang Yesus! Jelas itu merupakan sorot mata yang menatap Yesus di tengah suasana mereka yang sudah tidak sanggup menjalani hidup ini, hanya bisa bergantung dan memohon belas kasihan serta perlindungan-Nya karena tidak mampu melawan orang-orang dengan hati yang masih dalam kegelapan. Orang-orang yang akan memusnahkan umat Tuhan, yang memaksa mereka untuk murtad dan menyangkal Tuhan. Di tengah situasi demikian, penulis Ibrani mengingatkan untuk terus “memandang kepada Yesus”. Dia adalah Tuhan yang pernah menderita sengsara, bahkan sampai mati di atas kayu salib. Tuhan pasti akan menguatkan siapa pun yang terus memandang Dia dalam hidupnya. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, tolonglah aku supaya dalam menghadapi segala pencobaan dan tantangan hidup tidak mengandalkan kekuatan atau pengalaman sendiri, sebaliknya, ajarlah aku untuk terus memandang kepada Tuhan Yesus.
  2. Tuhan, sadarkanlah mereka yang “menganiaya” kehidupan anak-anak Tuhan, gereja-gereja yang ada di negara komunis, supaya mereka bertobat dan mengenal Engkau, Tuhan yang adalah Juru Selamat dunia. Juga kuatkanlah anak-anak Tuhan yang mengalami derita penganiayaan karena iman kepada Tuhan Yesus.
Exit mobile version