Paradoks Kehormatan
Matius 20:20-28
oleh: Jenny Wongka †
Kesaksian Alkitab jelas dan konsisten. Sifat congkak itulah yang membuat Adam dan Hawa mulai meragukan Allah, percaya kepada Setan, dan mengandalkan penilaian diri mereka sendiri. Kecongkakan diteruskan dari generasi ke generasi sebagai unsur utama kejatuhan serta keberdosaan umat manusia. Amsal memeringatkan kita, “mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa” (21:4), dan “setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi Tuhan, sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman” (16:5).
Sejak pemberontakan pertama manusia di Taman Eden, Allah dengan sangat keras menentang kecongkakan (Yakobus 4:6, Mazmur 138:6). Kecongkakan selalu mendatangkan murka dan penghukuman Allah. Sebaliknya, Allah selalu menghargai kerendahan hati dan kelemahlembutan (Mazmur 138:6, Amsal 15:33). Bahkan Rasul Paulus mengatakan, “karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kolose 3:12).
Apakah “menjadi terhormat” itu sama dengan congkak? Sebagai jawabannya kita melihat beberapa tokoh yang menjadi terhormat namun justru tidak congkak. Abraham, seorang sahabat Allah pernah dengan rendah hati berkata, “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu” (Kejadian 18:27). Yusuf diperlakukan dengan kasar bahkan dijual sebagai budak ke Mesir oleh saudara-saudaranya; namun justru tidak menghukum mereka pada saat kesempatan emas untuk membalas dendam itu terbentang di depan matanya. Sebaliknya, ia justru mengungkapkan kalimat yang agung: “Jangan takut, karena aku inikah pengganti Allah? Memang kamulah mereka-reka yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekanya untuk kebaikan…” (Kejadian 50:19-21).
Dalam kebudayaan modern dewasa ini, “menjadi terhormat” telah menjadi suatu sasaran yang ingin diraih oleh banyak orang. Hal ini bukan hanya terjadi pada lapisan masyarakat elit, atau para pejabat atau abdi negara, tetapi juga pada setiap lapisan masyarakat lainnya, tentu saja termasuk hamba-hamba Tuhan, abdi Allah yang hidup pada masa kini. Salahkah kita bila kita berkeinginan untuk “menjadi terhormat”? Bagaimana agar kita dapat “menjadi terhormat” di antara kita? Saya ingin mengajak Anda untuk merenungkan bagaimana untuk “menjadi terhormat” menurut Guru Agung kita sendiri, Tuhan Yesus.
Jangan Berusaha “Menjadi Terhormat” Dengan Permainan Kekuasaan Secara Politis (Matius 20:20-21)
Prinsip duniawi yang pertama untuk menjadi terhormat, Dapat disebut permainan kekuasaan secara politis. Perhatikanlah, ibu dari anak-anak Zebedeus datang untuk membujuk Yesus, agar kepada kedua anaknya diberikan tempat terkemuka di dalam Kerajaan-Nya. Sepanjang sejarah, salah satu dari taktik yang paling umum dipakai orang untuk meraih apa yang diinginkan adalah koneksi keluarga atau sahabat. (istilah populernya: backing). Orang-orang ini, dengan cara yang menyimpang, telah direkayasauntuk mendapatkan posisi penting.
Sungguh mengherankan. Yakobus, Yohanes, dan ibu mereka berani meminta posisi tersebut justru segera sesudah pemberitahuan Yesus yang ketiga tentang penderitaan dan kematian-Nya yang akan terjadi di kota Yerusalem. Tidak ada indikasi, baik di dalam teks ini atau catatan Markus tentang adanya murid Yesus yang memberikan respons atas pemberitahuan ini. Dapat jadi mereka menafsirkan perkataan Yesus ini dalam makna figuratif atau simbolik saja, atau sesungguhnya hati mereka telah dipenuhi dengan segala rencana dan impian mengenai apa yang akan mereka terima sebagai pengikut Tuhan Yesus, sehingga pernyataan Yesus ini berlalu begitu saja dari pendengaran dan ingatan mereka. Hal ini terbukti dengan tuntutan mereka untuk mendapatkan posisi terkemuka.
Di dalam catatan Markus, anak-anak Zebedeus memohon Yesus agar Dia memberi mereka posisi yang tinggi. Istri Zebedeus sama sekali tidak disebutkan. Tampaknya mereka bertiga datang dengan hasil diskusi akhir untuk tujuan dan rencana yang sama ini. Mungkin sang ibu terlebih dahulu mendatangi Yesus, kemudian baru kedua anaknya mengkonfirmasikan permohonan itu kembali pada Yesus.
Tersirat dalam catatan Matius, tetapi secara explisit dalam Markus, bahwa permintaan ini dilakukan dengan penekanan yang sungguh-sungguh, seolah-olah mereka berkata, “Guru, kami ingin Engkau melakukan seperti apa yang kami minta.” Pendekatan ini mirip dengan sikap seorang anak kecil yang mencoba merayu ayahnya untuk mendapatkan sesuatu sebelum permintaan itu disebutkan.
Dengan membandingkan catatan kitab Injil lainnya tentang para wanita yang berdiri di dekat salib Yesus, kita mengetahui bahwa salah seorang wanita yaitu Salome adalah ibu dari Yakobus dan Yohanes, dan Salome ini adalah saudara Maria. Berbekal statusnya itulah mereka mengajukan pemohonan ini. Mereka sedang memanfaatkan koneksi berdasarkan relasi keluarga dekat untuk meraih posisi yang lebih tinggi.
Bersujud adalah tindakan hormat yang diperagakan pada zaman monarkhi purba, dan ibu Zebedeus melakukannya untuk menyatakan pengakuannya akan kuasa Yesus sebagai seorang Raja. Ia berharap sikap sujud ini dapat memengaruhi-Nya untuk mengabulkan permohonannya.
Sama seperti para ahli Taurat dan orang Farisi yang “suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat” (Matius 23:6), demikian pula Yakobus dan Yohanes mendambakan prestise dan keutamaan untuk ditinggikan lebih dari para murid lain. Mereka ingin menjadi yang terutama. Namun sayang sekali, ini bukan cara untuk menjadi terhormat di dalam Kerajaan Allah.
Jangan Berusaha “Menjadi Terhormat” Dengan Ambisi Pemuasan Diri Sendiri (Matius 20:22-24)
Bacaan ini menujukkan kesombongan rohani yang tidak diperkenan Allah, yaitu ambisi pelayanan diri sendiri. Permintaan ibu Zebedeus dan kedua anaknya tergolong permintaan yang tidak tahu diri. Dengan tegas Yesus menjawab secara langsung kepada kedua bersaudara itu, “kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum?” Baik ibu maupun anak-anak ini tidak tahu sama sekali implikasi dari permintaan mereka.
Cawan yang harus diminum Yesus adalah cawan penderitaan dan kematian, yang baru saja dilukiskan kepada mereka (ayat 18-19). Maksud perkataan Yesus adalah, “Tidak sadarkah kamu bahwa cara untuk meraih kemuliaan kekal bukan melalui kesuksesan dan penghormatan duniawi tetapi melalui penderitaan? Tidak pernahkah kamu mendengarkan pengajaranku tentang betapa bahagianya orang yang dianiaya karena-Ku, dan tentang memikul salibmu sendiri dan mengikut Aku?”
“Meminum cawan” berarti meminum setuntasnya tanpa tersisa sedikit pun. Ungkapan ini sangat umum dipakai pada saat itu untuk menandakan perjuangan seseorang yang dilakukan sampai titik akhir, berapa pun harga yang harus ia bayar. Cawan yang harus diminum Yesus adalah penderitaan jasmani yang luar biasa menyakitkan yang harus ditanggung-Nya di atas salib, juga kesengsaraan emosional yang hebat manakala Dia harus ditinggalkan oleh teman-teman-Nya. Puncak kesengsaraan dari meminum cawan itu adalah dengan ditanggung-Nya seluruh dosa umat manusia atas diri-Nya. Konsekuensinya dari semua itu adalah: Dia harus ditinggalkan oleh Allah Bapa. Suatu klimaks penderitaan yang mengakibatkan ia berseru, “Ya, Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan yang seperti Engkau kehendaki” (Matius 26:39).
Saya tidak yakin apakah mereka benar-benar tidak mengerti apa yang Yesus maksudkan atau mungkin keadaan mereka seperti Petrus, yang berjanji untuk tidak pernah akan meninggalkan Kristus, dengan sangat yakin mereka berpikir bahwa mereka mampu untuk memenuhi tuntutan apa pun yang diminta dari mereka. Yakobus dan Yohanes dengan spontan menjawab, “kami dapat.” Kemudian sebagaimana Petrus menyangkal Tuhan 3 kali sebelum ayam berkokok, kedua bersaudara ini bersama murid-murid lainnya melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa mereka pada saat Yesus ditangkap (Matius 26:56).
Dengan penuh kesungguhan dan belas kasihan, Tuhan meyakinkan mereka dengan mengatakan, “cawan-Ku memang akan kamu minum.” Tetapi kemampuan mereka untuk meminumnya bukanlah berdasarkan pada kuasa yang di dalam diri mereka sendiri, tetapi hanya oleh kuasa Roh Kudus saja mereka sanggup bertahan di dalam penderitaan demi Tuan mereka. Yakobus kemudian menjadi martir pertama (Kisah Para Rasul 12:2), dan Yohanes meninggal di pulau Patmos, tempat ia dibuang karena imannya.
“Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya.” Jawaban Yesus atas permintaan ini bukan hanya ditujukan kepada Yakobus dan Yohanes, tetapi juga bagi siapa saja yang bakal mengajukan permintaan yang sama. Tuhan Yesus menegaskan bahwa hak istimewa itu akan diberikan bagi siapapun yang diperkenan oleh Bapa. Di sini jelas bahwa posisi terhormat itu akan diberikan bukan atas dasar favorisme atau ambisi pribadi, melainkan atas dasar kedaulatan pemilihan Bapa semata. Ambisi pribadi bukanlah suatu faktor dalam rencana kekal Allah.
Jangan Berusaha “Menjadi Terhormat” Dengan Menjadi Diktator (Matius 20:25)
Pada saat itu kesepuluh murid Yesus lainnya turut berdiri di dekat dengan Yesus. Jadi mereka pasti mendengarkan diskusi antara kedua bersaudara itu dengan ibu mereka. Ayat 25 mengatakan bahwa Yesus memanggil mereka dengan memberi penekanan serius bahwa salah satu usaha untuk menjadi terhormat yang tidak diperkenan Allah adalah sifat dominan yang cenderung pada kediktatoran.
Pada ayat ini terdapat dua kata kerja yang menarik untuk Anda perhatikan. Kata yang pertama adalah katakurieuw, yang berasal dari awalan kata dan kata kerja kurieuw, suatu istilah keras yang mengandung gagasan lord over atau menindas dengan kejam. Di dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai tindakan memerintah dengan tangan besi. Kata kerja yang kedua adalah kataexousiazo, yang terdiri dari awalan kata- dan –exousiazo, memberikan pengertian tindakan mempergunakan kuasa semena-mena.
Jadi, apabila kita ingin menjadi terhormat, hendaknya memerhatikan hal-hal berikut: jangan mempergunakan kekuasaan secara politis, jangan berdasarkan ambisi untuk pelayanan diri sendiri dan bersikap seperti diktator. Kita patut bersyukur kepada Tuhan Yesus yang melanjutkan pengajaran-Nya dengan cara menjadi terhormat secara tepat.
Mari kita pelajari bersama cara-cara untuk dapat menjadi terhormat dengan tepat (Matius 20:26-28).
Persepsi yang Tepat Mengenai Posisi yang Terhormat (Matius 20:26-27)
Yesus membalikkan persepsi besar dunia ini. Dunia berusaha meraih posisi terhormat dengan kebanggaan diri, ambisi, dan mencari posisi terhormat untuk kepentingan diri sendiri. Kesemuanya ini adalah antithesis dari kehormatan secara rohani. Praktik dunia seperti ini sama sekali tidak berlaku di dalam Kerajaan Allah, dan Yesus pun menegaskan kepada kedua belas murid-Nya: “Tidaklah demikian di antara kamu.” Demikian pula pada saat Dia dihadapkan kepada Pilatus, Dia berkata bahwa: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini” (Yohanes 18:36).
Menjadi terhormat dengan cara duniawi bagaikan sebuah piramida. Kekuasaan dan prestise kita dibangun di bagian teratas. Namun di dalam Kerajaan Allah, piramida tersebut justru terbalik. Saya tertarik dengan ungkapan penafsir besar R.C.H. Lenski yang berkata demikian, “God’s great men are not sitting on the top of lesser men, but bearing lesser men on their backs.” Terjemahan bebasnya demikian: “Orang-orang besar Allah tidak duduk di atas orang-orang yang lebih kurang, mereka justru memikul orang-orang yang lebih kurang itu di atas punggung mereka.”
Selanjutnya Yesus menjelaskan bahwa memang tidak salah apabila kita ingin menjadi terhormat. Kalaupun memang ada orang yang ingin menjadi terhormat, maka ia harus berjuang untuk meraihnya berdasarkan standar Allah, yaitu dengan melayani orang lain. Apakah Anda terkejut dengan pernyataan ini? Bagaimana mungkin seorang pelayan dapat memeroleh posisi yang terhormat? Saudaraku, ini bukanlah hal yang tidak mungkin. Posisi terhormat yang Yesus tawarkan kepada kita tidaklah sama dengan yang dipromosikan dunia. Orang yang terhormat tidak duduk untuk menerima pelayanan orang lain. Sebaliknya, ia melayani orang lain demi nama Tuhan. Orang yang menjadi terhormat dalam pandangan Tuhan adalah orang yang dengan rela menjadi seorang pelayan. Dan cara inilah yang berkenan di hati Tuhan.
Kata servant atau pelayan yang dipakai di sini berasal dari kata diakonos, yang dari kata ini kita mendapatkan kata “diaken”. Dalam pemakaian bahasa Yunani, kata ini dipakai untuk menggambarkan seseorang yang melakukan pekerjaan membersihkan rumah atau melayani di meja makan. Sebutan ini tidak menggambarkan seseorang yang tidak terhormat, melainkan hanya melukiskan suatu level terendah dari orang upahan lainnya. Orang-orang yang termasuk dalam golongan orang yang melakukan pekerjaan tanpa harus memiliki keterampilan.
Kristus memakai kata diskonos karena kata ini adalah refleksi terbaik untuk hidup yang tidak memegahkan diri serta rendah hati yang dihargai-Nya. Manifestasi hidup Yesus sebagai seorang pelayan telah diberikan sebagai teladan bagi kita. Itulah sebabnya di dalam ayat 28 Dia menegaskan, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Tanda lain yang dimiliki seorang pelayan sejati adalah kerelaan untuk berkorban bagi orang lain demi Kristus.
Rasul Paulus memiliki hati tulus dan murni sebagai seorang pelayan. Ia yang dikenal sebagai rasul yang penuh kuasa, berani, berpendidikan tinggi secara formal, berhasil dalam khotbah, pelayanan pastoral dan pemuridan, serta berhasil mendirikan gereja-gereja lebih banyak dari para rasul lainnya. Tetapi di atas segalanya itu, dengan rendah hati ia berkata kepada jemaat Korintus, “Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya” (1 Korintus 3:5).
Samuel Brengle, seorang kudus yang terkenal pernah menulis demikian, “Jikalau saya tampak besar di mata orang lain, Tuhanlah dengan penuh rahmat menolong saya untuk melihat bahwa sebenarnya saya tidak memiliki apa pun tanpa Dia, dan Dia pulalah yang menjaga agar saya tetap melihat diri saya kecil di mata-Nya. Yang penting bagi saya adalah kenyataan bahwa Tuhan memakai saya untuk melaksanakan pekerjaan-Nya, tetapi keberhasilan dari pekerjaan itu bukanlah karena jasa saya. Sama seperti sebuah kapak tidak mampu berfungsi apa-apa tanpa orang yang memakainya, setajam apa pun mata kapak itu, tanpa pemakainya, maka ia akan tergeletak begitu saja, ia tidak lebih dari sepotong besi belaka.”
“Dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” Posisi dan pekerjaan seorang hamba jauh lebih rendah dari pelayan. Karena acap kali pelayan masih memiliki sesuatu yang dapat dianggap sebagai harta milik, walaupun itu hanya beberapa helai pakaian. Harta yang termahal baginya adalah dirinya sendiri, ia adalah seseorang yang bebas. Ia berhak mengambil keputusan untuk tinggal atau meninggalkan pekerjaannya. Tetapi itu tidak berlaku bagi seorang hamba atau doulos (bahasa Yunani), atau slave (bahasa Inggris). Hamba tidak berhak atas dirinya sendiri, tuannyalah yang memiliki dirinya. Ia hanya Dapat pergi ke tempat yang dikehendaki oleh tuannya. Ia tidak memiliki harta apa pun, tetapi dirinya sendiri menjadi milik tuannya.
Dalam beberapa suratnya, Paulus menggambarkan dirinya sebagai doulos Kristus sebelum menyebut dirinya sebagai rasul. Ia tidak sekadar asal menyebut dirinya sebagai doulos, tetapi ia sungguh-sungguh menaklukkan dirinya sebagai hamba Tuhan, sebagaimana yang ia nyatakan: “Karena jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Roma 14:8).
Kerendahan hati, penyangkalan diri, dan pelayanan yang dilakukan dengan penuh pengorbanan merupakan harga yang harus dibayar oleh seseorang yang ingin menjadi terhormat. Orang yang layak menduduki posisi terhormat dan terkemuka di dalam Kerajaan Allah adalah orang yang dengan penuh kerelaan hati melayani di tempat yang sulit, tempat yang tidak nyaman, tempat yang tersisih, tempat yang sama sekali tidak diharapkan, tempat di mana ia tidak dihargai. Yang jelas ia tahu dengan pasti bahwa Allah mengutusnya ke tempat itu. Dengan kesadaran bahwa hidup manusia itu singkat, dan pekerjaan itu bernilai kekal, maka ia rela untuk memakai hidupnya yang singkat itu demi melakukan perkerjaan kekal ini. Kesadaran ini mendorongnya untuk melakukan yang terbaik tanpa merasa congkak, bertahan terhadap kritikan tanpa merasa pahit; menderita dengan tidak mengasihani diri sendiri.
Hanya orang-orang yang melayani Tuhan dengan menyadari keterbatasan diri mereka sajalah yang sanggup berkata, “kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan” (Lukas 17:10). Dan hanya kepada orang-orang inilah Allah akan berkata, “Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia! Masuklah dan turutlah dalam kebahagian tuanmu” (Matius 25:21).
Teladan yang Tepat Bagi Orang yang Ingin Menjadi Terhormat (Matius 20:28)
Penekanan dalam ayat ini terletak pada kalimat “sama seperti Anak Manusia”. Apa yang Yesus katakan tentang diri-Nya sendiri harus menjadi karakter para pengikut-Nya. Dengan kata lain, Yesus adalah pola yang sempurna bagi para pengikut-Nya. Perilaku-Nya harus menjadi perilaku kita; tutur bahasa dan cara hidup-Nya harus menjadi tutur bahasa dan hidup kita.
Semasa hidup-Nya di dunia, Yesus sebagai Anak Manusia, tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Contoh konkret pelayanan Yesus sebagai hamba dapat kita baca di dalam Yohanes 13:4-5,12-17. Sebagai Guru, Dia telah merendahkan diri-Nya, bertindak sebagai hamba, serta berinisiatif untuk membasuh kaki murid-murid-Nya. Tindakan puncak kerendahan hati sebagai hamba ditunjukkan-Nya dengan penuh ketaatan pada Bapa sampai mati, bahkan mati di atas kayu salib (Filipi 2:6-9).
Selanjutnya, Yesus memberikan pengajaran eksplisit yang pertama dalam Perjanjian Baru: karya penebusan Mesias. Dia akan menderita demi menebus orang-orang yang percaya pada-Nya. Dia tidak sekadar hidup atau mati bagi orang lain, tetapi Dia mati untuk menebus semua orang.
Mari kita perhatikan kata lutron atau ransom (tebusan). Kata ini umumnya dipakai untuk menjelaskan harga tebusan seorang hamba, harga yang dituntut untuk membeli kebebasan hamba itu. Menariknya, kata ini hanya 2 kali dipakai di dalam Perjanjian Baru (Markus 10:45), dan kedua pemakaian ini dipakai sebagai referensi pemberian diri Kristus sendiri untuk menebus orang lain. Dalam ayat ini, kata lutron didahului dengan awalan anti atau instead of, yang jelas menunjukkan suatu pertukaran. Yesus memberikan nyawa-Nya sebagai ganti orang-orang berdosa. Peebusan yang dilakukan oleh Yesus ini telah memenuhi tuntutan keadilan Bapa atas dosa.
Yesus Kristus menjadi teladan bagi semua orang yang mengikuti-Nya dan yang bersedia untuk menjadi para pemimpin yang melayani (servant leaders). Dengan menyerahkan nyawa-Nya Dia mendapatkan kemuliaan kekal dan posisi yang ditinggikan oleh Allah Bapa dan manusia. Inilah cara untuk menjadi terhormat.
Kesimpulan
Kerinduan untuk menjadi terhormat di mata Tuhan adalah sasaran yang ingin diraih oleh semua orang. Tetapi satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah: cara apakah yang kita pakai agar kita meraih kehormatan itu?
Sebagai penutup renungan ini, saya ingin membacakan sebuah ungkapan indah yang sangat berkesan secara pribadi untuk saya.
“Greatness is not found in possession, power, position or prestige. It is discovered in goodness, humility, service and character.”
(Terjemahan bebas: kebesaran tidak didapati di dalam harta pemilikan, kuasa, posisi atau martabat seseorang. Ia ditemukan dalam kebaikan, kerendahan, pelayanan dan karakternya.

