Pegawai Istana: Iman vs Rasio, Emosi dan Kehendak
Yoh 4:46-54
Pdt. Agus Surjanto
Injil Yohanes adalah Injil yang sangat berbeda dengan ketiga Injil yang lain. Banyak cerita dalam Injil Yohanes yang tidak dicatat dalam ketiga Injil yang lain dan sebaliknya banyak cerita dalam ketiga Injil yang lain yang tidak dicatat dalam Injil Yohanes. Ada beberapa cerita yang dicatat oleh Yohanes yang mirip dengan yang diceritakan dalam Injil lain, akan tetapi sebenarnya menceritakan peristiwa yang sama sekali lain. Peristiwa penyembuhan anak pegawai istana dalam Yoh 4:46-54 kalau dibaca sepintas kelihatannya agak sama dengan cerita penyembuhan hamba perwira dalam Matius 8 atau Lukas 7. Tetapi kedua cerita itu sebenarnya tidak sama. Bukan hanya detailnya yang berbeda, tetapi tekanan dan berita utamanya juga sangat berbeda.
Di dalam Matius 8 dan Lukas 7 diceritakan bahwa yang sakit adalah pegawai seorang perwira (hekatontarkhos), sedangkan dalam Yohanes 4 yang sakit adalah anak pegawai istana (basilikos). Yang satu militer yang satu lagi orang sipil. Yang sakit dalam Matius 8 dan Lukas 7 adalah pegawai si militer, yang sakit dalam Yohanes 4 adalah anak si pegawai istana. Demikian juga di dalam Matius 8 dan Lukas 7 sejak semula perwira itu diceritakan telah memiliki iman yang begitu besar, sehingga Tuhan Yesus sendiri digambarkan sangat heran bahwa ada orang non-Israel punya iman sebesar itu (Mat 8:10; Luk 7:9). Tetapi dalam Yoh 4 dikatakan bahwa kalau pegawai istana itu tidak melihat tanda dan mujizat, maka dia tidak akan percaya (Yoh 4:48). Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Matius 8 dan Lukas 7 menceritakan tentang iman perwira yang sudah “jadi,” sedangkan Yohanes 4 menceritakan bagaimana proses terbentuknya atau munculnya iman pegawai istana itu. Dari tidak percaya sampai benar-benar percaya sehingga akhirnya seluruh anggota keluarganya percaya.
Peristiwa dalam Yoh 4:46-54 merupakan peristiwa awal pelayanan Tuhan Yesus. Dikatakan dalam Yoh 4:46 bahwa Dia kembali lagi ke Kana yang di Galilea setelah perjalanan-Nya ke Yudea dengan melewati Samaria. Demikian juga dalam Yohanes 4:54 dikatakan bahwa peristiwa ini merupakan tanda-Nya yang kedua. Berarti sebenarnya nama Tuhan Yesus baru mulai terkenal. Rupanya peristiwa mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di Kana juga telah terdengar sampai ke Kapernaum di mana pegawai istana itu tinggal (Yoh 4:46). Jarak Kana dengan Kapernaum cukup dekat, kurang lebih 20 km. Yohanes menggambarkan dengan begitu indah dan begitu lengkap tentang proses terbentuknya iman yang benar dalam diri seseorang yang dulunya belum percaya. Dan yang lebih penting lagi adalah Yohanes menceritakan iman seperti apa yang benar itu. Sebab akhir-akhir ini ada kecenderungan orang-orang mengajarkan iman yang sebenarnya tidak pernah diajarkan oleh alkitab.
Perkataan Tuhan Yesus dalam Mat 9:29 kepada dua orang buta “jadilah kepadamu menurut imanmu” telah disalah mengerti sehingga muncul pengajaran yang mengatakan “diimani saja.” Seakan-akan dengan mengimani sesuatu seperti yang diharapkan, maka pasti akan “jadi menurut imannya itu.” Bukankah Tuhan Yesus sendiri yang mengajarkan itu? Ibrani 11:1 juga dikutip untuk mendukung pandangan ini. Tetapi apakah Alkitab mengajarkan model iman seperti itu? Nampaknya tidak. Alkitab mengajarkan bahwa iman sejati muncul ketika kita mendengar Firman Tuhan atau janji Tuhan atau perbuatan Tuhan, bukan berasal dari keinginan hati kita atau harapan kita. Iman yang benar tidak pernah muncul dari keinginan diri kita, kecuali keingingan itu dimunculkan oleh Allah di dalam hati kita. Harapan atau keinginan pribadi kita tidak pernah menghasilkan iman yang benar. Pengajaran “diimani saja” mengajarkan bahwa dasar kita beriman adalah harapan kita. Jelas ini adalah pengajaran yang salah. Terbalik. Ibrani 11:1 mengajarkan bahwa imanlah yang harus menjadi dasar harapan kita, bukan sebaliknya. Paulus mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran dan pendengaran akan Firman Kristus (Rom 10:17).
Dua orang buta itu bukan memiliki iman berdasarkan keinginan hati mereka untuk sembuh. Mereka percaya perkataan Kirstus yang bertanya kepada mereka “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Kedua orang buta itu memang pasti ingin sembuh, tetapi mereka sembuh bukan karena mempunyai harapan untuk sembuh dan kemudian “mengimani” harapan itu. Mereka bisa sembuh karena mereka percaya perkataan Tuhan. Karena mereka “mengimani” perkataan Tuhan Yesus. Cerita Pegawai istana dalam InjilYohanes menggambarkan pergumulan pegawai istana itu dengan cukup rinci untuk mengajarkan iman seperti apa yang seharusnya ada pada diri orang percaya. Kalau kita melihat cerita Yohanes ternyata ada tiga pergumulan iman yang digambarkan oleh Yohanes yang harus dilalui oleh pegawai istana itu supaya imannya berkenan kepada Allah.
Pergumulan pertama adalah iman yang menaklukkan rasio. Dari cerita dalam Yoh 4 kita tahu bahwa rasio pegawai istana ini telah ditaklukkan oleh iman, sehingga ketika anaknya hampir mati (Yoh 4:47), dia datang dari Kapernaum ke Kana khusus minta Tuhan Yesus datang ke rumahnya untuk menyembuhkan anaknya. Rupanya rasio pegawai istana ini telah ditaklukan oleh iman akibat mendengar mujizat air berubah menjadi anggur yang telah dilakukan Tuhan Yesus di Kana (Yoh 2:1-11). Pegawai istana ini mendengar berita tentang Tuhan Yesus yang mengubah air menjadi anggur dan berita itu menimbulkan iman yang menaklukkan rasionya. Berita tentang Tuhan Yesus (baca Injil) memang akan selalu mendesak seseorang untuk mengambil sebuah keputusan. Entah orang tersebut mau menerima atau menolak, percaya atau tidak. Kalau Tuhan Yesus mampu mengubah air menjadi anggur, mungkin Tuhan Yesus juga mampu menyembuhkan anaknya yang hampir mati. Maka walaupun pegawai istana itu orang yang cukup berada, dia tidak mau mengutus hamba-hambanya (Yoh 4:51) untuk menemui Tuhan Yesus. Dia datang sendiri untuk memohon Tuhan Yesus datang. Iman yang telah menaklukkan rasio ini adalah iman yang umum dimiliki oleh semua orang yang mengaku dirinya orang Kristen.
Kalau kepada semua orang Kristen ditanya apakah mereka percaya (beriman/mengimani) bahwa Tuhan Yesus mampu menyembuhkan kanker atau sakit terminal yang dideritanya, atau apakah Tuhan mampu membangkitkan orang yang dikasihinya yang telah mati, maka hampir dapat dipastikan semua orang Kristen akan menjawab ya tanpa keraguan sedikitpun. Tetapi apakah iman yang seperti ini (yang baru menaklukkan rasio) sudah cukup di mata Allah? Ternyata tidak. Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan bahwa iman yang baru menaklukkan rasio (yang dimiliki pegawai istana saat itu) sebenarnya belum merupakan iman yang dimaksudkan oleh Allah. Alkitab mengatakan bahwa iman akan memimpin kepada iman yang lain (Rm 1:17). Perumpamaan benih yang jatuh di tempat yang berbeda-beda adalah gambaran yang jelas bahwa benih itu harus tumbuh dengan seharusnya (Mat 13:1-23). Oleh sebab itu Tuhan Yesus mengecam pegawai istana itu sebagai orang yang tidak percaya (Yoh 4:48). Dengan sangat tegas Tuhan Yesus mengatakan bahwa kalau pegawai itu tidak melihat mujizat, maka dia tidak percaya. Apa maksud Tuhan Yesus? Perkataan ini sangat menarik karena seringkali orang Kristen berpikir bahwa kalau dia percaya dengan rasionya maka itu berarti dia sudah beriman, sudah tergolong orang percaya. Ternyata tidak demikian. Allah menuntut lebih dari sekedar penaklukan rasio dari orang percaya sehingga layak disebut orang beriman, karena rasio baru merupakan salah satu komponen dari orang tersebut.
Tuhan Yesus menghendaki bukan hanya rasio, tetapi juga kehendak dan emosi harus takluk kepada iman. Berarti penyerahan sepenuhnya dari seluruh diri orang tersebut. Barulah kalau itu terjadi maka Tuhan akan melihat orang itu sebagai orang beriman. Dan penaklukan emosi dan kehendak tidak terjadi secara otomatis ketika rasio takluk kepada iman. Perlu suatu proses lebih lanjut untuk menaklukkan kehendak dan emosikepada iman. Kadang-kadang proses itu adalah proses yang panjang, akan tetapi bisa juga suatu proses yang singkat. Paulus pernah mengalami pergumulan penaklukan rasio, emosi dan kehendak kepada iman itu ketika belum percaya. Selama 3 hari dalam kebutaan dia bergumul untuk mengambil keputusan mau percaya atau tidak. Bahkan sampai ketika Ananias datang dan menyembuhkan matanya yang buta Paulus masih ragu-ragu, padahal dia baru saja mengalami mujizat Allah melalui orang Kristen, yaitu Ananias (Kis 22:13-16). Pegawai istana dalam perikop ini mengalami suatu proses penaklukan rasio, emosi dan kehendak yang relatif sangat singkat, tetapi bukan berarti tanpa pergumulan yang berat, karena situasi yang dihadapi adalah situasi yang kritis dan genting. Anaknya hampir mati dan ternyata Tuhan Yesus menolak untuk datang menyembuhkan anaknya itu. Bayangkan betapa gelisah dan susahnya hati pegawai istana itu.
Pergumulan kedua adalah ketika Tuhan Yesus menolak datang ke Kapernaum memenuhi permintaannya untuk menyembuhkan anaknya. Tuhan Yesus malahan mengecam bahwa dia tidak punya iman lalu menyuruh dia pulang dan hanya menjanjikan anaknya hidup (Yoh 4:50). Kehendak yang belum takluk kepada iman memang seringkali membuat orang percaya ingin mengatur Tuhan. Artinya walaupun dia percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah (tetapi baru rasio yang takluk), namun bagaimana hal yang mustahil itu terjadi, harus sesuai dengan skenarionya. Banyak orang percaya penderita kanker yang ketika berdoa mohon kesembuhan dari Tuhan, meminta Tuhan memberi hikmat dokter mana atau rumah sakit mana yang harus dia kunjungi supaya sembuh. Obat apa saja yang harus diminumnya. Padahal belum tentu Tuhan mau menyembuhkan dia dengan cara itu. Bahkan mungkin saja Tuhan tidak mau menyembuhkan dia sama sekali. Ini merupakan suatu tanda bahwa kehendak kita masih dominan dan belum takluk kepada iman. Percaya bahwa Tuhan mampu menyembuhkan tetapi Dia harus menyembuhkan seperti yangsaya kehendaki, bukan iman yang benar di mata Allah. Kehendak yang sudah takluk kepada iman adalah kehendak yang berserah penuh kepada Allah dan Firman-Nya.
Pegawai istana ini ingin supaya Tuhan Yesus datang ke rumahnya (Yoh 4:49) untuk menjamah, memegang atau melakukan sesuatu di sana supaya anaknya bisa sembuh. Sikap yang sangat kontras dengan apa yang digambarkan dalam Mat 8 dan Luk 7 ketika perwira itu berkata bahwa cukup Tuhan berfirman maka pasti akan jadi. Kehendak pegawai istana ini adalah bahwa kalau memang Tuhan Yesus mau menyembuhkan, maka Dia harus datang ke rumahnya. Bahkan dia juga beranggapan bahwa kalau Tuhan tidak datang dan anaknya mati maka habislah harapannya. Tuhan harus datang ke rumahnya supaya anaknya sembuh. Kesembuhan seharusnya terjadi menurut skenarionya. Kehendaknya belum takluk. Tetapi ketika Tuhan Yesus berkata: “Pergilah, anakmu hidup” (Yoh 4:50), maka alkitab mencatat sebuah kalimat yang sangat indah, yaitu “orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya lalu dia pergi.” Inilah yang dimaksud Paulus bahwa iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus (Rm 10:17). Ketika Kristus berfirman “pergilah anakmu hidup,” maka Firman Kristus ini menimbulkann iman yang menaklukkan kehendaknya, lalu dia pergi. Kalau pegawai istana ini belum ditaklukan kehendaknya oleh iman, maka mungkin sekali dia akan merengek terus, menarik tangan Tuhan Yesus, bahkan mungkin menyembah Dia mohon supaya datang ke rumahnya. Karena itulah yang menjadi imannya (tetapi iman yang salah), yaitu dia percaya bahwa Tuhan Yesus akan menyembuhkan akan tetapi harus datang ke rumahnya.
Harus diingat bahwa situasi waktu itu adalah situasi yang kritis, situasi antara hidup dan mati. Seringkali orang Kristen yang belum ditaklukkan kehendaknya oleh iman mengambil langkah dan bertindak lebih dahulu menurut kehendak sendiri tanpa konsultasi dengan Tuhan. Baru ketika mengalami kesulitan akibat tindakannya itu, dia datang kepada Tuhan lalu mohon (baca memaksa) supaya Tuhan melepaskan dia dari kesulitan tersebut. Dan yang sangat menyedihkan, permohonan (baca pemaksaan) itu pun bukan menyerahkan peristiwa itu kepada kehendak Allah, akan tetapi tetap menurut kehendaknya menurut maunya, menurut caranya, dan menurut konsepnya. Waktu mau operasi tidak merasa perlu konsultasi dengan Tuhan, tetapi pilih sendiri dokter yang terbaik, rumah sakit yang terbaik. Doa hanya sekedar minta persetujuan (dan Tuhan selalu harus setuju dengan rencananya), lalu ketika operasi tidak berjalan seperti yang diharapkan baru datang mohon (sekali lagi baca memaksa) Allah untuk menolong, tetapi seringkali juga dengan ikut mengatur Tuhan. Kalau Engkau berkenan menolong, maka tunjukkan kepada saya dokter dan rumah sakit yang lebih baik lagi Tuhan.
Sikap seperti ini menunjukkan bahwa sebenarnya kehendak belum takluk kepada iman. Egonya masih memimpin, bukan imannya. Beriman bahwa Allah sanggup melakukan tetapi dengan cara saya, menunjukkan bahwa baru rasio yang takluk. Kehendak belum takluk karena masih memohon (memaksa) Allah menuruti kehendaknya. Kehendak yang benar-benar sudah takluk kepada iman seharusnya menyerahkan secara penuh baik cara, baik waktu, maupun hasil kepada Tuhan. Pasrah total pada kehendak Allah. Tuhan Yesus menyuruh pegawai istana itu pergi dan ketika kehendaknya takluk kepada iman (yang timbul karena mendengar Firman) maka dia pergi. Tetapi kehendak dan rasio belum cukup bagi Tuhan. Inilah yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus ketika Dia berkata kepada pegawai istana itu “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat kamu tidak percaya.” Tuhan menghendaki supaya emosi pegawai ini juga takluk.
Pergumulan iman ketiga yang dialami oleh pegawai istana ini adalah ketika dia sedang dalam perjalanan pulang. Alkitab memang tidak secara eksplisit mengungkapkan pergumulan pegawai istana ini, akan tetapi bahwa emosinya belum takluk terlihat ketika dia menanyakan pukul berapa anaknya sembuh (Yoh 4:52). Rupanya selama dalam perjalanan terjadi pergumulan emosi yang hebat. Dia belum percaya sungguh-sungguh bahwa anaknya sudah disembuhkan Tuhan Yesus. Emosinya belum takluk. Bukankah cukup banyak orang Kristen ketika melangkah dengan iman yang sudah menaklukkan rasionya dan kehendaknya kadang-kadang masih gelisah dan bertanya dalam hati apakah langkah iman saya sudah benar? Apakah Tuhan benar-benar mau menolong saya? Mengapa begitu? Karena hasil akhir seperti yang dijanjikan Allah belum terlihat, belum terbukti. Ya kalau terjadi, kalau tidak terjadi bagaimana? Ada kekuatiran bahwa hasil akhir itu tidak seperti yang Allah janjikan. Pegawai istana itu belum melihat tanda dan mujizat, maka emosinya terus bergejolak luar biasa. Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal belum ada pada dirinya. Memang, ketika emosi belum takluk kepada iman, maka kebimbangan dan keraguan terus muncul.
Keadaan hati yang seperti ini digambarkan dengan begitu luar biasa dalam Matius 14:28-31. Ketika rasio dan kehendak Petrus sudah takluk kepada iman karena Kristus sudah berfirman menyuruh Petrus berjalan di atas air, maka dia dapat berjalan di atas air. Tetapi karena emosinya belum takluk, ketika datang angin, dia menjadi takut dan mulai tenggelam. Perhatikan bahwa Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa Petrus tidak percaya, tetapi kurang percaya. Hardikan Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa Petrus kurang percaya dan bimbang menjelaskan bahwa di mata Tuhan Yesus Petrus tetap orang yang belum punya iman sejati. Kebimbangan dan kecemasan yang muncul dalam diri kita ketika menempuh perjalanan iman dan tidak adanya damai sejahtera dalam hati kita (Flp 4:9) sesungguhnya menunjukkan bahwa emosi kita belum takluk dan di mata Tuhan kita masih tergolong orang yang kurang percaya. Pegawai istana itu baru benar-benar memiliki iman yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus ketika emosinya takluk dan itu dinyatakan dengan tindakan yang nyata ketika seluruh keluarganya menjadi percaya.
Alkitab mengatakan “lalu dia pun percaya, dia dan seluruh keluarganya.” (Yoh 4:53). Tuhan Yesus melihat kebimbangan dan juga kegelisahan emosional pegawai istana itu ketika dia berjalan pulang. Tetapi Tuhan Yesus tidak menghendaki model iman yang seperti itu. Tuhan menghendaki adanya penyerahan total seluruh diri kita, baik rasio, emosi maupun kehendak. Bagi Tuhan inilah iman yang sejati, karena itulah dalam Matius 17:20 Tuhan Yesus mengatakan bahwa kalau seseorang sungguh-sungguh beriman tidak ada hal yang mustahil bagi dia. Bagaimana bisa demikian? Karena seluruh diri orang itu sudah takluk pada kehendak Allah dan Firman Allah, maka seluruh rasio, emosi dan kehendaknya secara harmonis pasti sesuai dengan kehendak Allah. Dan kalau Allah yang berkehendak pasti tidak ada hal yang mustahil.
Tuhan Yesus mengasihi pegawai istana, anaknya dan juga seluruh keluarganya, sebab itulah Tuhan Yesus mau menolong pegawai istana itu sehingga imannya akhirnya mampu menaklukkan emosinya, yaitu dengan memberikan kesembuhan kepada anaknya. Melalui kesembuhan anaknya Pegawai Istana itu akhirnya percaya kepada Tuhan Yesus. Apa yang dinubuatkan oleh Tuhan pada saat pegawai istana itu datang bahwa dia baru akan percaya setelah melihat mujizat, benar-benar terjadi. Itulah iman sejati yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus. Iman yang sejati adalah karunia Allah sepenuhnya (Luk 17:5; Rm 12:3; 1Kor 12:9), bukan hasil pikiran kita, bukan hasil analisa kita, bukan karena kemampuan kita, dan juga bukan karena pengalaman kita, apalagi keinginan kita. Ketika seseorang dikaruniai iman yang sejati, maka bukan masalah berapa besar atau berapa kecil iman itu, akan tetapi apakah iman itu sungguh-sungguh ada atau tidak ada.
Iman sebesar biji sesawi (biji yang paling kecil yang diketahui pada zaman itu) sudah lebih dari cukup untuk melakukan segala perkara (bandingkan dengan Luk 17:1-6). Tuhan tidak mau ada satu bagian dalam diri kita, sekecil apa pun, yang ragu-ragu atau bimbang. Dengan demikian iman yang sejati adalah penyerahan total seluruh rasio kita, emosi kita dan kehendak kita, yaitu seluruh diri kita, kepada Allah dan FirmanNya. Itulah iman yang sejati yang diharapkan oleh Tuhan Yesus. Iman yang sejati juga tidak melihat hasil akhir sebagai hal yang menentukan. Apa pun hasilnya, termasuk yang mungkin tidak sesuai dengan harapan kita, kalau memang itu adalah kehendak Allah, maka harus diterima dengan ucapan syukur

