Oleh: Maria Natalia
Kejadian 50:15-21
Mazmur 103:1-13
Roma 14:1-12
Matius 18:21-35
BISS, mungkin BISS mengenal sosok yang ada di layar ini. Ya, dia adalah Zinedine Zidane yang merupakan pemain sepakbola berdarah Perancis. Berkat kepiawaiannya memainkan bola, Zidane dianugerahi gelar sebagai pemain terbaik dunia sebanyak 3 kali pada tahun 1998, 2000 dan 2003. Ia adalah pemain yang sangat disegani. Namun, pada saat timnas (tim nasional) Perancis melawan timnas Italia pada sebuah laga di Piala Dunia 2006, Zidane menanduk seorang pemain Italia bernama Marco Materazzi, sehingga Zidane diganjar dengan kartu merah. Kepada pers, Zidane berkata: “Maafkan saya. Tidak ada yang berubah, saya telah memaafkan semua orang tapi saya tidak memaafkan dia (Materazzi). Tidak akan pernah…tidak akan pernah. Jika saya memaafkan dia, maka itu berarti saya tidak menghargai diri saya sendiri. Saya lebih baik mati ketimbang memaafkan dia.” Apa yang dikatakan oleh Materazzi sehingga mengakibatkan Zidane begitu marah sampai melakukan tindakan penandukan terhadapnya? Tidak jelas memang apa yang dikatakan oleh Materazzi tetapi apa yang dikatakan oleh Materazzi itu menyakiti hati seorang Zidane sehingga sangat sulit baginya untuk mengampuni Materazzi.
Saudara, melalui kisah ini, saya melihat betapa sulitnya bagi seseorang untuk mengampuni orang yang bersalah terhadapnya, termasuk juga kita, anak-anak Tuhan. Di dalam kehidupan ini bukankah kita hidup dengan beragam orang dengan aneka ragam latar belakang yang berbeda. Tidak jarang ada perkataan, cara berpikir sampai kepada sikap dari orang-orang itu menyakiti hati kita, entah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak. Saat dilukai dan disakiti, hubungan kita retak, kita merasa sulit bahkan tidak dapat mengampuni orang itu. Saking sakitanya hati kita oleh apa yang dilakukan oleh orang tersebut, mungkin pula banyak dari antara kita yang berkata di dalam hati, “Lebih baik aku mati daripada memaafkan dia.”
Sdr, memang untuk dapat mengampuni bukanlah suatu hal yang dapat dengan mudah kita lakukan. Apalagi jika ada seorang menyakiti kita bukan hanya sekali namun berkali-kali. Perkataan “Aku mengampunimu” pasti akan sangat sulit untuk kita lontarkan. Namun, sulit bukan berarti mustahil. Apalagi bila pengampunan itu menjadi sesuatu yang baik sebetulnya untuk kita. Pengampunan itu membawa kebebasan. Baik? Mengapa? Bagaimana bisa? Hari ini kita akan belajar dua hal:
Lewat pengampunan, Tuhan membebaskan kita dari hutang yang besar
BISS, sejatinya kita semua adalah orang-orang yang berhutang terhadap Tuhan. seperti yang nampak dalam perumpamaan yang Tuhan Yesus berikan kepada murid-murid-Nya, mengenai seorang hamba yang berhutang 10.000 talenta. Ini adalah sebuah jumlah yang besar, sangat besar. Angka 10.000 adalah angka tertinggi yang digunakan dalam perhitungan. Sementara itu, talenta adalah mata uang yang paling bernilai pada masa itu. Jadi, 10.000 talenta adalah jumlah yang tak terbayangkan. Untuk dapat mengerti berapakah 10.000 talenta itu, kita mencoba mengkonversinya dengan mata uang Rupiah, dan dengan konteks zaman ini.
SS, saya mencoba mencari data mengenai UMR (Upah Minimum Regional) yang diterima oleh seorang pekerja, yang ditetapkan oleh pemerintah, dan UMR untuk kota Surabaya di tahun 2011 adalah Rp. 1.115.000/bulan. Sekarang mari kita mengkonversi satuan dinar menjadi rupiah. 1 dinar adalah upah pekerja pada waktu itu. 1 bulan berarti seorang pekerja mendapat 30 dinar. Bila 30 dinar = Rp. 1.115.000 maka 6.000 dinar = 200 x Rp. 1.115.000 = Rp. 223.000.000 (Dua ratus dua puluh tiga juta rupiah). Saudara, itu baru 1 talenta. Hamba ini berhutang bukan 1 talenta tetapi 10.000 talenta. Jadi, 10.000 x Rp 224 juta = Rp. 2.223.000.000.000 (2,22 triliun Rupiah). Jumlah yang sangat besar. Sekarang kita bicara dari sisi waktu. Saudara, 1 dinar itu upah kerja 1 hari. Hamba pertama berhutang 10.000 talenta, di mana 1 talenta itu 6.000 dinar = 6.000 hari. 6.000 hari itu setara dengan 16,438 tahun. Jika orang berhutang 1 talenta, ia baru bisa melunaskannya dengan bekerja 16,5 tahun tanpa gaji. Jika sekarang kita hitung 10.000 talenta. 16,5 tahun x 10.000 = 165.000 tahun!
BISS, kalaupun hamba itu minta waktu untuk melunaskan hutangnya (ay. 26) kita tahu pasti ia tidak mungkin sanggup. Ia tidak mungkin bekerja 165.000 tahun untuk melunaskan hutangnya. Jika usia hidup manusia tertinggi seratus tahun, maka butuh 1650 generasi untuk membayar hutang ini. Itu pun kalau setiap generasi mampu hidup dan bekerja selama seratus tahun! BISS, bagaimana sang hamba dapat berhutang sebesar itu, kita tidak tahu. Mungkin saja Tuhan Yesus yang agak “lebai” dengan menggunakan jumlah yang besar tersebut. Namun, dari kisah ini saya percaya Yesus memang sengaja menggunakan jumlah yang fantastis ini untuk menegaskan inti perumpamaan-Nya, yaitu tentang kemurahan hati Allah terhadap manusia.
SS, ayat 26 mencatat bahwa si hamba memohonkan dengan sangat kesabaran raja, agar ia diberi kesempatan menunda pembayaran, sesuatu yang sebenarnya tidak mungkin dapat ia penuhi. Karena itulah, ayat 27 mengungkapkan: “Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.” Kata “tergerak hati” di sini cukup sering diterapkan pada Yesus, yang tidak tahan menyaksikan penderitaan hebat sejumlah orang. Di sini sang raja pun bersikap demikian, sehingga ia membebaskan dan menghapuskan hutang hambanya itu. Raja memberikan melebihi apa yang diminta oleh sang hamba. Ia bukan hanya membebaskan hamba dari hukuman karena tidak membayar hutangnya, tetapi juga membebaskan hutang-hutang itu sendiri, semua sudah dianggap lunas.
SS, sampai di sini, saya mengajak kita untuk menempatkan diri pada posisi hamba yang pertama ini. Seperti hamba ini, kita semua sebenarnya adalah orang-orang yang berhutang 10.000 talenta di hadapan Tuhan. Hutang 10.000 talenta bukan bicara soal hutang waktu yang harus dibayar. Sebab kita tidak akan pernah bisa membayar 165 ribu tahun. Kita sedang berhutang nyawa dengan Tuhan, yaitu hutang dosa atau maut. Kita semua adalah orang berdosa di hadapan Tuhan, tidak ada seorang pun yang benar, seorang pun tidak, semua kita berdosa. Kita semua layak untuk menerima kematian kekal, yang tidak seorang pun dapat membebaskan dan menyelamatkan kita. Kita semua orang terkutuk di hadapan Tuhan, yang layak mendapatkan murka Allah Yang Besar itu. Tetapi karena Allah tahu, dirimu dan diriku tidak dapat membayarnya, Ia mengampuni kita. Yesus yang membayarnya untukmu, untukku dan untuk kita. Ia membayar-Nya dengan nyawa-Nya. Hanya supaya kita dikatakan bukan orang yang berhutang. Kita menjadi orang yang dibebaskan dari dosa, orang yang lega karena diampuni.
Ini yang disadari oleh Pemazmur yaitu Daud di Mazmur 103. Ia mengalami sebuah pengalaman konkret, yaitu mengalami perasaan lega sebagai orang yang diampuni oleh Allah. Daud sadar bahwa ketika ia mengakui dosa, dan menyadari serta berbalik kepada Allah, Ia akan mengampuni. Allah memandang kita sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya. Allah bukanlah sosok yan menakutkan, yang selalu mengamat-amati atau menanti-nanti untuk mencari kesalahan, agar Ia bisa mendakwa dan menghukum kita. Sebaliknya, Ia hadir sebagai Bapa yang penuh kasih, mengenali kelemahan anak-anak-Nya dan mengampuni setiap dosa dan pelanggaran yang diakui di hadapan-Nya. Allah bahkan melupakan sama sekali dosa dan pelanggaran kita. Keyakinan ini diungkapkan Daud melalui kalimat puitis: “Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan dia, sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” (103:11, 12).
Lewat pengampunan, kita “membebaskan” diri kita sendiri dan orang lain
SS, pengampunan yang membukakan jalan kepada kebebasan yang diberikan oleh Allah kepada kita, bukan diberikan tanpa suatu maksud, melainkan diberikan untuk menjadi teladan, contoh bagi kita, terkhusus dalam relasi dengan sesama yang memburuk akibat kesalahan yang dibuat oleh orang lain terhadap kita. Allah tidak menghendaki kita yang telah dibebaskan ini masih terbelenggu oleh rasa benci dan dendam sehingga tidak mau untuk mengampuni orang lain, namun Ia ingin kita membebaskan diri kita sendiri dan diri orang lain dari sakit hati, dendam dan luka batin. Kuncinya satu: pengampunan. Yusuf menyadari betul akan hal ini.
SS, ketika ayah Yusuf yaitu Yakub mati, saudara-saudara Yusuf dilanda ketakutan yang amat sangat terhadap Yusuf karena mereka sadar bahwa selama itu mereka telah berbuat sangat jahat terhadap Yusuf. Yusuf mereka jual, dan harus mengalami peristiwa-peristiwa tidak enak, dan pernah mencicipi penjara selama bertahun-tahun. Saudara-saudara Yusuf begitu takut Yusuf akan membalas dendam kepada mereka setelah ayah mereka meninggal. Karena itu, mereka meminta ampun kepada Yusuf mengatasnamakan ayah mereka. Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: 17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Mereka tahu Yusuf sangat mengasihi Yakub sehingga akan menaati perkataan ayahnya. Namun, ketakutan saudara-saudara Yusuf itu sirna manakala Yusuf menangis dan berkata: “Aku inikah pengganti Allah?” Yusuf memang telah menderita akibat perbuatan kakak-kakaknya, namun ia melihat semua itu dari sudut pandang Allah. Ia sangat meyakini bahwa penghakiman dan penghukuman adalah hak Allah. Yusuf memilih untuk memberikan pengampunan kepada saudara-saudaranya. Ia mungkin pernah benci, pernah sakit hati, tapi ia tidak membiarkan semua itu menguasainya, melainkan membebaskan dirinya dengan mengampuni saudara-saudaranya dan membebaskan pula saudara-saudaranya dari rasa takut. Yusuf bukan hanya mengampuni, ia menerima saudara-saudaranya, dan menjadi pemelihara hidup mereka.
SS, Allah memang menghendaki tiap anak-anak-Nya yang telah beroleh pengampunan bisa mengampuni orang lain. Bukan seperti yang ditunjukkan oleh hamba pertama dalam perumpamaan tadi. Menghadapi temannya yang berhutang padanya 100 dinar, bila dikonversikan ke Rupiah menjadi Rp. 3.716.666,66, dan dapat dilunasi dalam waktu 3 bulan 10 hari saja, hamba yang pertama tadi tidak mau untuk memberi kemurahan. Ketika temannya penundaan waktu untuk melunasi hutangnya, hamba ini menolak permohonan temannya, dan menyerahkan sang teman ke dalam penjara, sampai ia mampu melunasi hutangnya. Inilah yang membuat raja sangat marah. Padahal, jika dibandingkan dengan hutang si hamba kepada raja sebesar 10.000 talenta, hutang temannya ini sangat kecil artinya. Bedanya, si hamba tidak memiliki belas kasihan kepada temannya, seperti raja berbelas kasihan kepada dirinya. Tidak mengherankan jika dalam ayat 33 dicatat bahwa sang raja marah dan menuntut belas kasihan juga kepada hamba yang telah menerima belas kasihan raja.
SS, hal yang dilakukan oleh hamba pertama tadi sebenarnya sering dilakukan oleh orang percaya yang telah diampuni, bahkan oleh kita: orang yang sudah diampuni tidak mau memberi pengampunan kepada orang lain. Oleh sebab itu, Yesus ingin mengajarkan kepada Petrus serta kita semua bahwa hal itu tidak boleh demikian. Malah sebaliknya, setiap orang yang sudah mendapatakan pengampunan vertikal (hubungan antara seorang pribadi dengan Allah), harus siap untuk memberikan pengampunan horizontal (hubungan antara manusia dengan sesamanya). Setiap orang yang sudah diampuni Allah, harus siap untuk memberikan pengampunan kepada orang lain. Setiap orang yang sudah mendapatkan kasih karunia dari Allah, harus siap untuk memberi pengampunan. Inilah yang menjadi alasan Tuhan Yesus mengapa ia meminta Petrus untuk memberikan pengampunan tanpa batas, 70 x 7 kali atau 490 kali, yang bukan merupakan jumlah namun ketidakterbatasan pengampunan yang harus diberikan. Sikap manakah yang sering kita tunjukkan kepada sesama yang bersalah kepada kita Bapak Ibu? Sikap seperti Yusufkah, yang bersedia mengampuni, ataukah sikap seperti sang hamba pertama dalam perumpamaan ini?
BISS, ada seorang bapak yang tinggal di sebuah rumah. Bapak ini memiliki kebiasaan aneh, yaitu suka menyimpan sampah di kamarnya. Ia membuang sampah sisa pekerjaannya di kamar. Sampah basah sisa memasak di dapur dibuangnya di kamar. Perlahan-lahan, hari demi hari berlalu dan kamar bapak itu pun mulai tertimbuni sampah. Namun sang bapak tetap cuek. Ia tetap melanjutkan aktivitasnya di dalam kamar itu seperti biasa. Ia mengetik, tidur dan lain sebagainya tanpa menghiraukan tumpukan sampah yang telah menggunung di kamarnya. Lama-kelamaan, lalat mulai masuk dan mengerubuti sampah basah. Bau busuk nan menyengat pun mulai bertebaran di kamar itu diakibatkan sampah-sampah yang mulai membusuk. Namun, sekali lagi, seolah tak ada apa-apa, si bapak tak jua mengacuhkan keadaan yang mulai tidak menyenangkan itu. Ia tetap tidur dan berkegiatan seperti biasa di kamar itu. Sudah dapat diduga bahwa di suatu saat, bapak itu jatuh sakit, karena lingkungan kamar yang tidak sehat dan memengaruhi kondisi fisiknya. BISS, mungkin kita mencibir dan mencela bapak itu: “Salah sendiri, kenapa nyimpen sampah di kamar, sampah ya tempatnya di tempat sampah, bukan di kamar; dibiarkan sampai busuk pula.” BISS, mungkin ada juga di antara kita dengan keheranan berkata: “Kok bisa ya bapak itu tahan, kok bisa dia nyaman dengan sampah-sampah itu, tinggal dibuang di tempatnya apa sulitnya?” BISS, mungkin kita menertawakan dan heran luar biasa dengan tindak-tanduk sang bapak. Tetapi, sadarkah Bapak Ibu, bahwa jika kita memendam rasa benci, kemarahan luar biasa kepada orang lain, tanpa mau mengampuni orang tersebut, sebetulnya kitalah sang bapak unik tadi? Kesalahan, kekhilafan, dan perilaku tidak menyenangkan dari orang lain kita simpan di dalam hati. Makin lama makin menumpuk dan menimbuni hati kita sehingga terus menerus ada dendam, benci dan sakit hati. Kita timbuni hati kita dengan kemarahan kepada orang lain, atau bahkan kepada Tuhan yang seringkali kita anggap salah dalam memperlakukan kita. Itu akhirnya memengaruhi kita, secara psikis dan secara fisik. Kita enggan melepaskan “sampah-sampah” itu dan membiarkannya membuat luka yang ada menjadi terus menganga. Kita sakit. Kita kehilangan damai sejahtera. Jalan menuju kelepasan dan kebebasan dari itu, tidak lain dan tidak bukan adalah kemauan untuk memberikan pengampunan. Jika ada orang mengatakan bahwa ia tidak bisa atau tidak mampu mengampuni, patut dipertanyakan: benarkah ia tidak mampu, atau justru tidak mau? Karena jika ia tidak mampu, Allah sumber segala kasih dan pengampunan pasti akan memberikan kepadanya kemampuan untuk mengampuni. Tetapi, jika ia tidak mau, pengampunan itu akan sulit terwujud. Padahal, pengampunan yang kita berikan sesungguhnya akan memberikan kebebasan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
BISS. ada yang kenal orang ini? Itu bukan mama saya. Ibu ini bernama Kim Phuc. Dia lahir di Trang Brang, Vietnam Selatan. SS, ibu ini adalah orang yang sama dalam foto ini. Foto ini diambil pada tahun 1972 dan memenangkan hadiah Pulitzer, sebuah penghargaan yang diberikan Amerika Serikat kepada koran, junalisme, sastra atau musik. Sdr, apa yang terjadi pada saat itu? Ketika ia berumur 9 tahun, ia hidup dalam kondisi peperangan di Vietnam dan pada saat itu, pasukan Vietnam Utara berhasil menduduki desa Trang Brang, yang merupakan wilayah selatan itu. Pada 8 Juni 1972 terjadi tragedi. Pasukan Vietnam Selatan mengira para penduduk desa Trang Brang sudah dievakuasi dari desa tersebut. Mereka mengira desa tersebut hanya dihuni oleh pasukan Vietnam Utara, sehingga mereka menjatuhkan bom di desa tersebut untuk menyerang pasukan Vietnam Utara. Tetapi ternyata tanpa diketahui ada warga sipil yang bersembunyi di desa itu, salah satunya adalah ibu Kim Puch ini. Mereka terkena serangan bom. Sdr, di tengah kekacauan itu Kim Puch berlari telanjang, dan berteriak: “Terlalu panas, terlalu panas.” Rupanya Sdr, ia terkena luka bakar yang mengerikan di punggungnya, sehingga ia harus dirawat di Rumah sakit selama 14 bulan dan harus mengalami operasi sebanyak 17 kali.
SS, ternyata di balik tragedi menyedihkan ini, ada orang yang sangat merasa bersalah, dia adalah Pdt. John Plummer. Pada saat serangan ke desa tempat Kim Puch bersembunyi itu dilakukan, John Plummer adalah salah seorang yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada rakyat sipil lagi di daerah itu. Plummer berkata bahwa dia telah benar-benar memastikan bahwa tidak ada rakyat sipil di daerah itu. Namun terjadi kesalahan yang besar. Dia tidak tahu bahwa masih ada rakyat sipil yang bersembunyi di kuil. Serangan itu menyebabkan luka bakar yang mengerikan pada punggung ibu Kim Puch tadi dan dia juga harus kehilangan dua orang saudaranya yang meninggal akibat serangan bom itu. SS, Plummer sangat merasa bersalah dan sangat ingin meminta maaf kepada Kim Puch, namun tidak memiliki kesempatan.
25 tahun kemudian, dalam pertemuan Vietnam Veterans Memorial di Washington D. C., ternyata Plummer bertemu dengan Kim Phuc, yang dipertemukan juga dengan pilot yang menjatuhkan bom di desa tempat tinggal Phuc. SS, tidak disangka pada saat pertemuan itu, Kim Puch memberikan pernyataan pengampunan secara publik atas tragedi yang menimpanya di Vietnam. Pada saat itu ia berkata: “Jika saya bertemu dengan pilot pesawat yang menyerang desa saya serta orang-orang yang bertanggung jawab terhadap peristiwa itu, saya akan berkata kepadanya: ‘Saya memaafkannya.’ Kita memang tidak dapat mengubah masa lalu, namun saya berharap kita bisa bekerja sama untuk masa depan.” SS, kisah ini sangat menyentuh hati Plummer, dia menulis artikel dalam sebuah majalah tentang kisah ini, dia mengatakan: “Ia melihat dukaku, kesusahanku, ia merentangkan lengannya padaku dan merangkulku. Aku hanya dapat berkata berulang-ulang: ‘Maafkan aku, maafkan aku.’ Saat itu ia hanya berkata: “Tidak apa-apa. Aku mengampunimu, aku mengampunimu.”
SS, hati saya tersentuh ketika membaca kisah ini, dan hal itu membuat saya bertanya-tanya, dengan penderitaan begitu hebat akibat tragedi itu, bagaimana seorang manusia dapat mengampuni? Apa yang menjadi faktor utama seorang Kim Phuc dapat mengampuni orang yang bersalah kepadanya? Dalam sebuah wawancara di sebuah radio, Kim Phuc bersaksi:
“Ini adalah waktu yang sangat sulit bagi saya ketika saya pulang dari rumah sakit. Rumah kami hancur, kami kehilangan segalanya dan kami hanya bertahan dari hari ke hari. Kemarahan di dalam diriku seperti kebencian setinggi gunung. Aku membenci hidupku. Aku benar-benar ingin mati berkali-kali. Kemudian aku menghabiskan siang hariku di perpustakaan untuk membaca banyak buku-buku agama untuk menemukan tujuan hidupku. Salah satu buku yang kubaca adalah Alkitab. Pada Natal 1982, aku menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi. Itu adalah titik balik luar biasa dalam hiduku. Allah membantuku untuk belajar mengampuni – pelajaran yang paling sulit dari semua pelajaran. Ini tidaklah terjadi dalam sehari dan itu tidak mudah. Tetapi akhirnya aku berhasil. Pengampunan membuatku bebas dari kebencian. Aku memang masih memiliki bekas luka yang banyak di tubuh ini dan menyisakan hari-hari yang menyedihkan, tetapi paling tidak hatiku telah dibersihkan. Bom kimia itu memang sangat kuat tetapi iman, pengampunan dan kasih jauh lebih kuat. Kita tidak akan ada perang sama sekali jika semua orang bisa belajar bagaimana hidup dengan cinta sejati, pengharapan, dan pengampunan.”
SS, hanya orang yang sudah mendapatkan anugerah pengampunan yang dapat memberikan pengampunan bagi orang lain. Kim Puch telah memberikan kita contoh. Ia yang tadinya bukan orang percaya, namun setelah menjadi pengikut Kristus, ia telah meresponi kasih karunia yang ia dapatkan dengan tepat. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mau mengampuni orang yang bersalah kepada kita? SS, mengampuni bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Kita berhadapan dengan yang namanya, kepedihan, kepahitan dan rasa sakit hati yang mendalam akibat perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan orang lain. Sulit sungguh sangat sulit. Rasa sakit hati, benci dan dendam yang bercampur itu membuat kita berada dalam suasana hati yang terbelenggu dengan keburukan. Namun SS, pertanyaannya adalah sampai kapan, sampai kapan kita akan terus menyimpan gumpalan kepahitan itu dan membangun tembok-tembok ego, dendam dan kebencian yang membentengi kita dari cahaya pembebasan batin? Saudara, kita butuh pemulihan, kita butuh kebebasan. Mari kita pandang takhta kasih karunia Allah yang telah dicurahkan bagi kita. Mari kita ambil keputusan untuk mengakhiri setiap rantai kebencian, sakit hati dengan berani untuk mengambil keputusan mengampuni. Memang perlu proses, perlu waktu. Tapi mari awali dengan kesediaan hati, untuk suatu saat berani berkata kepada orang yang bersalah pada kita: “Aku mengampunimu.”
P
BISS, sebagai anak Tuhan, menghadapi orang-orang yang melukai hati kita, mari kita ambil pilihan untuk mengampuni. Jika kita mengampuni, itu karena dua alasan. Pertama, karena sebenarnya kita sendiri punya hutang dosa yang jauh lebih besar kepada Allah, yang bahkan tidak mungkin terbayarkan meski kita melakukan dengan segala cara. Kedua, pengampunan membebaskan kita dari keadaan yang lebih buruk. Banyak penderitaan yang dialami seseorang secara langsung maupun tidak dipengaruhi oleh ketidaksediaan memberikan pengampunan. Dengan demikian, jalan pengampunan adalah jalan yang Tuhan berikan kepada kita untuk membebaskan kita untuk mengalami semua kebaikan Allah, yang telah disediakan bagi setiap orang yang dikasihi-Nya. Kiranya kasih yang mengalir dari salib memampukan kita untuk belajar mengampuni. Amin.
Saat teduh: lagu “Ampunilah” by Jason feat. Maria Shandi
Ketika hatiku t’lah disakiti, ajarku memberi hati mengampuni
Ketika hidupku t’lah dihakimi, ajarku memberi hati mengasihi
Ampuni bila kami tak mampu mengampuni yang bersalah kepada kami
Seperti hati Bapa mengampuni, mengasihi tiada pamrih

