Site icon

Penyembuhan Luka Batin

Penyembuhan Luka Batin (Hakim-hakim 11:1-10,30-35)

oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

  

Saya mempunyai pengalaman tak terlupakan ketika beranjak remaja. Ketika orangtua melarang saya terlalu banyak bermain ke luar karena menjelang ujian, saya nekat bermain ke rumah teman. Malangnya, seekor anjing mencakar badan saya sampai berdarah-darah. Dengan ketakutan saya membersihkan darah yang mengalir tersebut. Saya memasang plester pada luka itu agar darah tidak keluar. Saya berusaha supaya orangtua tidak tahu luka di tubuh saya. Saya membiarkannya. Akibatnya, beberapa hari kemudian mulailah tercium bau tidak enak dari luka itu. Dan saya melihat mulai ada nanah yang keluar. Badan saya mulai demam. Saya takut terkena rabies. Luka yang tidak disembuhkan itu memengaruhi seluruh tubuh saya.

 Luka batin mempunyai kesamaan dengan luka fisik, yakni luka itu memengaruhi hidup kita. Perbedaannya, luka batin itu tidak terlihat, sedangkan luka fisik terlihat. Jika tidak disembuhkan, maka luka itu makin lama makin parah. Luka batin adalah istilah yang menunjuk pada keadaan jiwa seseorang yang tidak sehat karena penderitaan yang terjadi di dalam hidup. Di dalam Alkitab digunakan istilah-istilah lainnya, seperti: robek jiwa (Amsal 27:9), remuk hati (Yesaya 61:1), atau luka hati (Mazmur 147:3).

 Kita akan mempelajari lebih jauh tentang luka batin ini melalui seorang tokoh Alkitab bernama Yefta. Yefta adalah salah seorang hakim (penguasa) Israel setelah era kepemimpinan Yosua berakhir.

 

Luka Batin Bersumber pada Perilaku Orang Terdekat

Di dalam Hakim-hakim 11:1-2 kita akan membaca asal usul Yefta. Yefta dipandang sebagai seorang pahlawan yang gagah berani, tetapi ia adalah anak seorang perempuan sundal. Ayah Yefta yang bernama Gilead mempunyai anak laki-laki lainnya dari istri resminya. Akibatnya, anak-anak itu akhirnya mengusir Yefta. Yefta mengalami penolakan dari lingkungan yang seharusnya memberikan kehangatan. Penerimaan yang diharapkan oleh Yefta ternyata tidak menjadi kenyataan. Yefta ditolak oleh orang-orang yang seharusnya mengasihinya. Tidak dicatat bagaiman respons ayah Yefta. Namun, yang jelas akhirnya Yefta harus pergi meninggalkan saudara-saudaranya.

 Menarik untuk diamati bahwa Yefta pergi dan kemudian bergabung dengan para perampok. Mengapa demikian? Hal ini menjadi indikasi adanya luka di dalam batin Yefta akibat penolakan yang ia alami oleh keluarganya sendiri. Luka yang bersumber pada perilaku orang lain yang tidak sesuai dengan harapannya. Perilaku orang lain, lewat perbuatan dan perkataan, yang tidak sesuai dengan harapan kita dapat melukai jiwa kita. Bahkan hal itu bisa terjadi pada tahap yang paling awal di dalam kehidupan kita, yakni semasa kecil.

Suatu kali saya melihat seorang anak berusia enam tahun tengah berkeliling dan menyebut satu nama. Saya bertanya kepada anak itu, “Siapa yang kamu cari?” Anak itu menyebut satu nama. Saya pikir itu nama sopirnya, ternyata itu nama ayahnya. Beberapa saat kemudian mama si anak mengeluh, “Kenapa ya anak saya tidak bisa dekat dengan saya? Tidak betah di rumah, dan lebih senang dengan tantenya. Suka berontak kepada saya.” Lewat banyak percakapan, akhirnya Tuhan menuntun saya untuk menanyakan satu pertanyaan, “Apakah Ibu pernah berupaya menggugurkan si anak ketika ia masih berada dalam kandungan?” Ibu itu tertunduk dan menjawab, “Pernah, Pak. Beberapa kali. Tapi gagal, dan akhirnya anak ini tetap lahir.”

Bayi dalam kandungan tentu mengharapkan penerimaan orangtuanya. Penolakan yang dialami si anak bahkan ketika masih dalam kandungan telah menyebabkan luka batin di hatinya, yang termanifestasi dalam bentuk ketidakbiasaan untuk dekat, rasa tidak hormat, dan pemberontakan. Kita selalu mengharapkan sesuatu yang baik dari orang lain. Ketika harapan itu tidak menjadi kenyataan dan malah berbalik sedemikian rupa, maka batin kita terluka walau luka itu tak terlihat. Luka batin biasanya bersumber dari perilaku orang lain di sekitar kita yang tidak sesuai dengan harapan kita. Siapakah orang lain itu? Sering kali anggota keluarga.

 

Tuhan Memakai Orang dengan Luka Batin

Luka batin ternyata tidak menghalangi Tuhan untuk memakai seseorang dalam melaksanakan pekerjaan-Nya. Yefta yang hidup sebagai perampok mengalami perubahan hidup. Para tua-tua Israel yang dulu mengusirnya, kini memintanya untuk menjadi pemimpin orang Israel guna mengalahkan bani Amon. Alkitab memaparkan bahwa Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan Tuhan. Tuhan memakai Yefta, dan Yefta mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Bahkan firman Tuhan menyatakan, “Roh Tuhan menghinggapi Yefta (Hakim-hakim 11:29). Luar biasa, bukan?

 Akan tetapi, meski dipakai oleh Tuhan, bahkan dipenuhi oleh Roh Tuhan, hal itu tidak menyebabkan luka batin tersebut lenyap dengan sendirinya. Dalam kondisi penuh dengan Roh Tuhan, Yefta yang memiliki luka batin akibat penolakan itu mengucapkan nazar yang sembarangan, “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan Tuhan, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.” Mengucapkan nazar bukanlah sebuah keharusan, melainkan kerelaan hati. Namun, memenuhi nazar adalah keharusan. Ternyata yang pertama kali keluar dari pintu rumahnya adalah putri tunggalnya. Akibatnya, Yefta harus memenuhi nazarnya dengan mempersembahkan anaknya sebagai korban bakaran.

Lalu mengapa Yefta mengucapkan nazar yang sembarangan ini? Karena ia sangat ingin menang! Mengapa? Karena ia sangat ingin membuktikan betapa dirinya layak diterima oleh orang Israel yang dahulu menolaknya. Luka batin itu ingin ditutupi dengan kemenangan yang besar. Tuhan, dalam anugerah-Nya yang besar, dapat memakai orang yang mempunyai luka batin. Namun, itu tidak berarti luka batin itu dapat sembuh dengan sendirinya.

 Ada seorang suami yang kerap kali bertindak kasar kepada istrinya. Istrinya tidak tahan dan melaporkan hal itu kepada pendeta karena suaminya adalah aktivis di sebuah gereja. Pak Pendeta memanggil sang suami. Ternyata sang suami mempunyai kisah hidup yang memprihatinkan: semasa kecil ia kerap dipukuli oleh ayahnya tanpa alasan yang jelas. Ia membenci ayahnya dan perlakuannya tersebut. Ia tidak hanya terluka secara fisik, tetapi juga batin. Sejak itu ia berjanji bahwa bila kelak ia menjadi seorang ayah, ia akan menjadi seorang ayah yang lembut. Namun, pada kenyataannya ia melakukan hal yang sama seperti ayahnya? Mengapa? Karena luka batin itu menimbulkan lubang di hati orang yang mengalaminya. Dan lubang itu menuntut untuk diisi sesuatu. Jika lubang itu adalah ketidakberdayaan, maka seseorang akan sangat haus dengan kuasa. Jika lubang itu adalah penolakan, maka orang itu akan sangat haus dengan kasih dan penerimaan. Cermatilah perilaku kita. Adakah perilaku yang merupakan ekspresi dari adanya lubang akibat luka batin? Tuhan dapat memakai orang dengan luka batin, tetapi hal ini tidak berarti luka itu sembuh dengan sendirinya.

  

Penyembuhan Luka Batin

Lalu, apa yang harus saya lakukan dengan luka batin itu? Inilah kabar baiknya: Luka batin dapat disembuhkan melalui kesediaan untuk mengakui luka itu dan melepaskan pengampunan.

Sama seperti luka di tubuh jasmani, luka batin itu bukanlah sesuatu yang membanggakan. Kita cenderung menutupinya dan bahkan ingin melupakannya. Padahal yang terjadi adalah semua luka itu hanya akan bertambah buruk dan memengaruhi seluruh kehidupan kita. Langkah pertama untuk kesembuhan adalah pengakuan, mengakui luka batin kita itu. Mengakui berarti tidak menyangkalinya. Mengakui berarti bersedia mengekspresikan perasaan yang muncul akibat luka hati itu.

Mengampuni berarti bersedia untuk menyerahkan hak kita untuk membalas kepada Tuhan. Kita tidak melakukan apa pun untuk membalas dendam atau terus menyimpan dendam itu di dalam diri kita. Yang terutama adalah kita mengampuni untuk kesehatan jiwa kita sendiri, bukan untuk keuntungan orang lain. Dendam itu seperti sampah di dalam hidup kita, akan menimbulkan bau busuk dan mengundang pelbagai binatang mengerikan. Apa yang terjadi ketika kita gagal untuk mengakui dan melepaskan pengampunan? Kisah Yefta menunjukkan betapa orang yang mengalami luka batin akan menimbulkan luka bagi orang-orang terdekatnya, termasuk keluarga. Orang yang terluka akan melukai orang lain.

Kita adalah orang-orang yang tidak sempurna yang tinggal di antara orang-orang yang tidak sempurna. Kita adalah orang-orang yang terluka. Keluarga kita tidak sempurna karena di dalamnya terdiri dari anggota yang terluka. Apa yang bisa kita lakukan dengan luka itu? Mengingkarinya? Mencoba melupakannya? Kita tahu bahwa mengingkari dan mencoba melupakan tidaklah menyelesaikan masalah. Pengakuan dan pengampunanlah yang menyembuhkan luka batin itu. Mari kita bawa luka hati itu kepada Yesus yang tersalib. Firman Tuhan berkata, “Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24).

Maukah Anda sembuh?

 

 

Exit mobile version