Site icon

Perencanaan Orang Percaya

Perencanaan Orang Percaya (Yakobus 4:13-17)

oleh : Vincent Tanzil

 

4:13 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, 4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. 4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” 4:16 Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. 4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

 

Merencanakan kehidupan adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari dalam hidup ini. Seluruh umat manusia pasti melakukan perencanaan, baik mereka yang bertemperamen sangat plegma atau sanguine sekalipun! Misalnya, saat kita bangun di pagi hari; tentu kita tidak kaget dan mengatakan “loh, kok saya bisa ada di SAAT?” Sebelum masuk ke SAAT, kita pasti merencanakan terlebih dahulu.

Perencanaan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan umat manusia. Dari hal yang paling remeh: pakaian, makanan, kuliah, sampai tabungan untuk membeli rumah; semuanya membutuhkan perencanaan dalam taraf tertentu. Maka tidaklah berlebihan bahwa ada kata-kata bijak yang mengatakan “gagal merencanakan adalah merencanakan untuk gagal.”

Saudara, berencana merupakan hal yang niscaya bagi semua orang. Lagipula, tujuan kita berencana, tentu adalah supaya apa yang kita rencanakan dapat berjalan dengan baik, seturut dengan perencanaan kita. Tetapi bukankah kita adalah orang percaya? Lantas, apakah mungkin ada perbedaan antara perencanaan orang percaya dengan mereka yang tidak percaya dalam hal perencanaan? Yakobus menyatakan bahwa perbedaan tersebut ada, bahkan sangat nyata! Mereka yang tidak percaya cenderung bergantung kepada diri sendiri dalam perencanaan mereka, namun Yakobus menyatakan “Perencanaan orang percaya adalah perencanaan yang bergantung kepada Tuhan.”

Tetapi pertama-tama, mengapa orang percaya perlu mengandalkan Tuhan?

Karena manusia merupakan makhluk yang terbatas, maka bergantung kepada diri sendiri adalah mustahil (ay. 13-14).

Saudara, berdagang dan melakukan bisnis bukanlah sesuatu yang asing bagi kita pada zaman ini. Demikian pula pada zaman Yakobus berdagang dan berbisnis bukanlah hal yang asing. Khususnya bagian yang kita baca pada hari ini berbicara mengenai para pedagang dan kaitannya dengan perencanaan bisnis mereka.

Saudara, Yakobus sedang menulis surat untuk orang-orang Kristen Yahudi yang tinggal di luar tanah Israel. Kalau kita perhatikan pedagang yang membaca surat ini mengatakan “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung.” Tentu tidak ada kota yang bernama “anu” saudara! Yang dikutip Yakobus di sini adalah pernyataan yang umum dijumpai oleh para pedagang pada zaman itu. Tetapi coba perhatikan bahwa  pedagang tersebut berkata “hari ini atau besok,” “berangkat kemana,” “tinggal setahun,” “berdagang, mendapat untung.” Seakan-akan ia bisa mengatur kapan dia akan pergi, kemana ia akan pergi, berapa lama ia akan tinggal, dan apa yang dia lakukan, bahkan ia yakin akan mendapat untung! Tetapi apakah ada yang salah dari perencanaan mereka?

Bagi Yakobus sikap ini bukanlah sikap yang biasa saja. Ia mengemukakan alasannya pada ayat 14, “…kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Maksudnya apa saudara? Hidup manusia itu amatlah singkat dan hari esok bukanlah sesuatu yang pasti bagi manusia. Masalah pada para pedagang tersebut bukanlah pada perencanaan mereka, namun karena mereka tidak mempertimbangkan bahwa hidup mereka bukan sepenuhnya dalam kendali mereka sendiri.

Saudara, di majalah Globe Asia diiklankan sebuah buku yang berjudul Chance. Buku yang berbicara mengenai bisnis tersebut ingin menyatakan bahwa sebagai seorang pebisnis yang baik, kita hendaknya menyadari bahwa ada banyak hal yang terjadi di luar kontrol kita. Telah banyak sekali kehancuran dan kebangkrutan para pebisnis yang terjadi karena mereka tidak mempertimbangkan bahwa ada berbagai macam hal yang tidak bisa diprediksi dengan akurat di dalam bisnis. Kegagalan mereka, sebenarnya, adalah tidak memprediksi bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diprediksi! Saudara, di ranah perencanaan bisnis pun mereka juga menyadari bahwa manusia tidak bisa mengendalikan seluruh aspek hidupnya. Bagaimana dengan kita?

Saudara, seperti pebisnis, demikian pula halnya dengan pembalap. Di Makassar ada tiga orang sekawan yang sudah akrab sekali satu sama lainnya. Mereka terkenal sebagai pembalap motor yang handal di kota mereka, minimal di kampung mereka. Nah, saudara, seperti halnya seorang pembalap, tentulah hobi mereka sehari-hari adalah berbalap-balapan ria. Seperti anak muda lainnya, ada gairah ketika mereka berhasil melakukan aksi salip-menyalip yang menegangkan dan berbahaya, namun bagi mereka membanggakan! Mereka mungkin berpikir bahwa mereka akan bisa menjadi pembalap profesional suatu hari nanti. Tetapi suatu hari salah satu di antara mereka, yang bernama Belok—saya serius saudara, namanya Belok! Sesuai dengan namanya dia memang sangat jago dalam hal belokan. Nah, kembali lagi, si Belok tersebut sedang mengitari belokan yang memang merupakan kebanggaannya. Dia melaju dengan kecepatan tinggi seperti biasanya, namun tidak disangka ada gundukan pasir yang mengenai rodanya pada saat belokan tersebut. Ban yang melaju dengan kecepatan tinggi tersebut harus melesat keluar dari jalur yang seharusnya. Tubuhnya terhentak dengan keras di tanah, namun yang lebih mengejutkan adalah suara klakson sebuah truk raksasa yang berada di hadapannya, kepalanya berhadapan pas dengan ban truk raksasa tersebut—kandaslah hidup orang yang masih muda itu, dengan kondisi yang mengenaskan. Saudara, dengan segala kehebatannya, siapa yang pernah menyangka?

Kawan-kawannya, seperti pemuda pada umumnya, tidak lekas bertobat. Mereka masih asik menjalani kehidupan balapan mereka. Tetapi, suatu hari salah seorang dari mereka masuk rumah sakit untuk sebuah penyakit yang cukup parah. Akhirnya pemuda tersebut meninggal dengan tubuh yang menggelembung dengan mengerikan. Kawannya yang satu diberitahukan bahwa itu adalah akibat berkendara menggunakan motor dalam kecepatan tinggi tanpa mengenakan jaket sama sekali. Hikmat apa yang diambil oleh kawannya tersebut saudara? Dia memutuskan untuk berhenti berbalap-balapan lagi—sebab siapa tahu dia korban berikutnya! Dengan segala kemampuannya, kehidupannya tetap bukanlah dalam kendalinya sendiri. Ia tidak tahu hari esok dan ia melihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa hidup manusia tidak lebih daripada uap yang mudah lenyap.

Saudara, saya kira ada cukup banyak hal lain yang terjadi dalam kehidupan kita menunjukkan pula bahwa merencanakan hidup dengan bergantung kepada diri kita sendiri merupakan hal yang mustahil. Ada kala kita merasa mampu mengerjakan dan menyelesaikan pelayanan kita, tetapi kita tiba-tiba jatuh terjerembab sakit. Ada yang sudah memperhitungkan keuangannya untuk dikelola selama sebulan, ternyata dirampok atau kehilangan uang pada awal atau pertengahan bulan. Ada yang berencana agar gerejanya bertumbuh sedemikian pada tahun kesekian, ternyata malah terjadi perpecahan gereja. Saudara, kita tidak dapat bergantung kepada diri kita sendiri. Kita tidak lain adalah makhluk yang fana seperti uap yang sebentar muncul lalu menghilang begitu saja tanpa meninggalkan bekas. Apalagi merencanakan hari esok?

Kalau begitu, bagaimanakah harusnya seorang Kristen merencanakan?

Kita harus bergantung kepada Tuhan dalam perencanaan kita sebab Dia berdaulat atas segala sesuatu (ay. 15-17).

“Insya Allah” adalah kata-kata yang sering dikatakan oleh saudara kita dari agama lain. Maksudnya adalah menyerahkan harapan-harapannya ke dalam ridho Allah, atau kehendak Allah. Saudara, kalimat yang sama pula lah yang dinasehatkan Yakobus kepada penerima suratnya.

Yakobus memberikan saran mengenai perencanaan pada ayat ke 15 bahwa “Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Apakah artinya saudara? Saran yang diberikan oleh Yakobus di sini bukanlah suatu hal yang baru ataupun brilian bagi orang Kristen yang membacanya pada masa tersebut. Karena bahkan orang tidak percaya sekalipun mengenal kalimat tersebut. Kalimat singkat tersebut mudah ditemukan dalam banyak tulisan kuno. Namun berbeda dengan penggunaan modern yang cenderung menjadi kalimat acuh tak acuh, bagi agama Romawi kuno yang mana tidak ada yang dilakukan tanpa pertama-tama meminta nasehat para dewa, kalimat ini sungguh memiliki arti yang nyata! Karena itu, yang dimaksudkan oleh Yakobus bukanlah sekedar mengucapkan kata-kata tersebut, namun bahwa mereka tidak akan melakukan apapun tanpa izin dari Allah. Pernyataan ini bukan sekedar retoris belaka, namun merupakan pengakuan bahwa Allah adalah yang berdaulat penuh atas dunia ini. Dan karenanya kita, sebagai pengucap, juga berharap untuk menerima kehendak Allah yang berdaulat tersebut. Sebaliknya saudara, para pedagang tersebut malah memegahkan diri mereka sendiri!

Bagi Yakobus di ayat 16, “segala kemegahan yang demikian adalah salah.” Kata “salah” di sini sebenarnya lebih tepat diartikan sebagai “jahat.” Yang mengejutkan adalah, kata ini seringkali dipakai untuk mengacu kepada “si jahat” yang tidak lain adalah si iblis itu sendiri. Ada banyak kata lain yang bisa digunakan oleh Yakobus, tetapi baginya masalah ini bukanlah masalah kecil. Mereka yang sudah tahu akan kebenaran namun masih memegahkan diri melawannya, seakan-akan mereka dapat mengatasi seluruh kehidupannya sendiri, tidak lain dan tidak bukan, telah melakukan dosa seserius dosa iblis.

Saudara, hal ini menjadi semakin ironis dikarenakan para pedagang tersebut bukanlah orang yang baru bertobat atau bayi rohani, mereka adalah orang-orang yang sudah terdidik di dalam iman Kristen yang benar. Mereka tahu dan mengerti arti kalimat tersebut! Karena itulah Yakobus mengecam pada ayat ke-17 bahwa, “jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Tidak cukup mengetahui kedaulatan Allah, kita perlu merencanakan hidup kita dengan memperhitungkan kehendak Allah di dalamnya.

Saudara, bergantung kepada kehendak Allah dalam merencanakan berarti mempercayakan seluruh perencanaan hidup kita ke dalam tangan-Nya. Ada dua tipe orang, yang satu yang mengatakan “kehendak-Mu jadilah,” yang lainnya yang mengatakan “okelah Tuhan, kehendak-Mu jadilah.” Tentu pilihan kedua adalah pilihan yang tidak diperkenan oleh Yakobus di sini. Yang diharapkan Allah adalah kemauan kita untuk menerima kehendak Allah dalam perencanaan kita.

Saudara, Kristus adalah Teladan paling utama di dalam hidup kita. Berbeda dengan kita yang memang tidak mampu mengendalikan hari esok, Ia sebenarnya sanggup untuk melaksanakan misi-Nya dengan kekuatan-Nya sendiri. Ia bahkan telah dicobai untuk menjalankan misi-Nya dengan cara iblis, namun Ia tetap berjalan di dalam kehendak Allah. Yang paling besar adalah ketika Ia berada di taman Getsemani itu. Semua hal yang mungkin untuk dilakukan agar Dia terhindar dari salib pasti melintasi kepala-Nya. Namun, apakah doa-Nya? “Jadilah kehendak-Mu!” Ia berjalan dalam ketaatan penuh terhadap kehendak Allah yang berdaulat. Kehendak Allah adalah opsi tertinggi dalam perencanaan orang percaya.

Seorang bernama Ravi Zacharias mengisahkan tentang seorang penerjemah yang setia menolongnya selama melayani di Vietnam. Selang berpuluh-puluh tahun kemudian, ternyata penerjemah tersebut—Hien namanya—berhasil mengkontak Ravi. Ravi menanyakan apa yang terjadi setelah dia pulang. Hien mulai bercerita dengan bersemangat bahwa setelah Ravi pergi, dia tertangkap oleh tentara komunis. Singkat cerita, Hien akhirnya dilepaskan dari penjara. Dia berencana untuk melarikan diri dari Vietnam dengan membangun rakit bersama dengan lima puluh dua orang lainnya. Mereka sudah berusaha dua kali, namun gagal.

Beberapa hari sebelum mencoba untuk ketiga kalinya, datanglah dua orang tentara komunis yang bertanya dengan kasar kepada Hien, “kau berencana lari ya!?” “Tidak.” “Bicara jujur.” “Aku bicara jujur.” “Kau bohong kepada kami?” “Tidak.” Ajaibnya prajurit itu lantas pergi begitu saja. Namun Hien tertunduk malu dan menangis sedih karena telah berbohong. Ia berkata “beginilah diriku lagi, bergantung kepada hikmatku sendiri. Kalau Engkau menghendaki aku bicara jujur kepada orang-orang itu, kirimkanlah mereka kembali kepadaku. Aku berjanji akan bicara jujur.” Seperti doanya, ternyata pasukan tersebut kembali! Bahkan mereka menjadi empat orang. Mereka mencengkram Hien dan berkata “Kami tahu kau mau pergi.” Lalu Hien langsung menjawab, “ya, memang, dengan lima puluh dua orang lain. Apakah kalian akan mengembalikan kami ke penjara?” Tiba-tiba prajurit komunis tersebut berkata, “tidak, kami ingin pergi bersamamu.”

Akhirnya mereka melarikan diri. Pada saat di laut lepas mereka terkena badai, namun ternyata para pasukan komunis tersebut sangat ahli mengendalikan kapal sehingga mereka terbebas dari badai tersebut. Saudara, ketika kehendak Allah didahulukan dalam merencanakan masa depan, yakinlah bahwa itu adalah yang terbaik.

Saudara, di dalam menerima kehendak Allah dalam hidup kita, maka kita pun terbuka terhadap koreksi dari Allah akan perencanaan kita, yang memang rentan dengan kekeliruan. Mungkin kita memiliki banyak rencana pelayanan dan keluarga setelah kita lulus dari tempat ini. Mungkin kita berpikir bahwa dengan kemampuan kita yang baik maka kita akan dapat meraih sukses dalam pelayanan kita. Kemampuan berkhotbah kita yang baik akan memberikan nama besar dan jaminan dalam pelayanan kita. Kemampuan berorganisasi atau akademis kita akan mengamankan jabatan-jabatan tertentu pada masa depan kita. Pengalaman dan asam garam yang telah kita dapatkan selama hidup kita dapat menuntun hidup kita menjadi lebih baik. Tetapi bagaimanakah sikap kita ketika Allah mengatakan untuk “berhenti, cukup sampai di situ saja pelayananmu.” Bagaimanakah sikap kita apabila Allah mengizinkan organisasi yang kita impikan mengalami kegagalan? Masihkah kita mengatakan bahwa apabila itu adalah kehendak Allah, maka kehendak Allah jadilah? Marilah semenjak sekarang ketika kita merencanakan hidup ini, kita mengingat akan Allah. Kita merencanakan kehidupan kita bukan dengan kemampuan-kemampuan atau potensi, bahkan jaringan yang kita miliki. Namun kita merencanakannya dengan bergantung akan kedaulatan Allah yang akan membawa kita ke tempat yang paling diinginkan-Nya kita berada; bukan tempat yang paling kita ingin kita berada. Bukankah kita ini hamba yang bertugas melaksanakan kehendak-Nya?

Saudara, ingatlah bahwa kita adalah seperti uap. Siapakah yang tahu apa yang terjadi esok? Apakah artinya semua kemampuan kita bila hari esok tidak kita ketahui? Siapakah yang dapat menjamin semuanya dapat berjalan sesuai rencana? Tidak ada. Karena itu Ia menghendaki kita menyerahkan semua perencanaan kita ke dalam kehendak-Nya yang sempurna itu. Meletakkan optimisme kosong kita akan masa depan ke dalam kehendak Tuhan. Tidak bergantung akan kemampuan kita, namun kepada kedaulatan Tuhan atas hidup kita.

Saudara, marilah kita berhenti mengandalkan kemampuan diri kita dalam perencanaan hidup kita. Tidak habis dan tidak kurang kekuatan dan kedaulatan Allah untuk kita andalkan. Janganlah kita mengandalkan kekuatan kita sendiri yang sia-sia dalam merencanakan kehidupan ini.

Allah sesungguhnya ingin berkata kepada kita melalui Yakobus bahwa kita tidak perlu mengandalkan diri kita sendiri dalam merencanakan kehidupan ini. Ialah satu-satunya andalan kita, Allah yang berdaulat. Amin.

Exit mobile version