Site icon

Prinsip-Prinsip Kehidupan yang Penuh Kuasa

Prinsip‑prinsip Kehidupan yang Penuh Kuasa (1 Korintus 16:13-14)

oleh: Jenny Wongka†

 

Bagian terbesar dari isi 1 Korintus disajikan dalam bentuk teguran dan koreksi. 14 pasal pertama berkaitan dengan perilaku yang keliru; pasal 15 berkaitan dengan teologi yang keliru. Kendatipun pasal 13 sering dianggap sebagai sebuah tulisan yang indah mengenai kasih, tetapi sebenarnya tulisan ini bertujuan untuk mengoreksi perilaku kasih yang begitu istimewa dalam kehidupan jemaat Korintus. Walaupun demikian, teguran dan korek­si itu diberikan dengan penuh kasih. Sebagai seorang hamba Allah yang selalu dilim­pahi oleh kasih Allah, Paulus tahu bahwa ia harus menegur dalam kasih, sebagaimana Allah menegur umat-Nya, seperti ada tertulis: “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak” (Ibrani 12:6).

Dalam 1 Korintus 16:13‑14, Paulus memberikan 5 perintah terakhirnya kepada jemaat Korintus. Mereka harus berjaga‑jaga, berdiri dengan teguh dalam iman, bersikap sebagai laki‑laki, tetap kuat, serta melakukan segala sesuatu di dalam kasih. Perintah‑perintah ini dalam berbagai segi, merupakan hal positif dari semua larangan yang disampaikannya pada pasal‑pasal terdahulu. Setiap perintah merupakan inti dari keseluruhan surat pertama Paulus kepada jemaat di Korintus.

 

Perintah Pertama: Berjaga‑jagalah

Perintah Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus adalah supaya mereka berjaga-jaga. Dalam bahasa aslinya, kata berjaga-jaga adalah gregoreo, yang dapat berarti “berhati‑hati, bangun, waspada. (Seperti di dalam 1 Tesalonika 5:10; kata “tidur” menunjukkan kematian.) Istilah ini dipakai sebanyak 32 kali di dalam Perjanjian Baru, dan sering juga dipakai sebagai referensi kesadaran rohani orang Kristen, serta sebagai kebalikan dari keacuhan rohani.

Tampaknya pada saat itu, jemaat di Korintus berada dalam kondisi rohani dan moral yang tidak baik, bahkan juga keadaan jasmani mereka. Hal itu tampak manakala mereka menjadi mabuk pada Meja perjamuan Tuhan (1 Korintus 11:21). Mereka tidak berjaga‑jaga di dalam hal‑hal tertentu. Mereka memerbo­lehkan ide dan kebiasaan penyembahan berhala yang dulu pernah mereka lakukan untuk kembali memasuki kehidupan mereka serta melenyapkan kesetiaan mereka kepada Allah dan persekutuan di antara mereka. Mereka menggantikan Firman Allah dengan hikmat manusia (1:18‑2:16); mereka terpecah ke dalam beberapa golongan (1:10‑17, 3:9), melakukan tindakan asusila (5:1‑13), bertengkar dan saling menggugat (6:1‑8), berselisih mengenai berbagai pendapat mengenai perkawinan, perceraian, dan hidup melajang (7:1‑40), menganggap diri mereka ramah (10:1‑13), tidak memedulikan kepentingan orang lain (10:23‑33), salah dalam memahami dan mempergunakan karunia rohani (12‑14), dan di atas semuanya itu, mereka tidak mengasihi, serta melaku­kan segala sesuatunya tanpa kasih (13:1‑6).

Di dalam Perjanjian Baru, terdapat paling sedikit empat hal penting yang membuat kita harus berjaga‑jaga. Yang pertama adalah berjaga‑jaga terhadap si Jahat. “Sadarlah dan berjaga‑jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum‑aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawan­lah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama” (1 Petrus 5:8,9). Kita harus dapat memahami strategi Setan yang, walaupun secara halus dan perlahan tetapi pasti, pada dasarnya menyerang kita dalam tiga hal berikut: “keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup” (1 Yohanes 2:16).

Hal kedua adalah berjaga‑jaga terhadap pencobaan. Yesus berkata, “Berjaga‑jaga dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan …” (Markus. 14:38). Apabila kita tidak berjaga‑jaga serta mencari pertolongan Allah di dalam doa kita kepada-Nya, seringkali kita terlambat untuk menyadari bahwa pencobaan itu telah menimpa kita. Tatkala mata rohani kita tertutup atau tertidur, kita dapat dengan mudah sekali jatuh ke dalam dosa.

Berjaga‑jaga tentang apatis dan sikap acuh adalah hal penting ketiga. Sifat alami dari dosa menyebabkan manusia sulit untuk menyadari keberadaannya. Seseorang yang apatis dan acuh dapat didefinisikan sebagai orang yang tidak peka dengan keadaan sekelilingnya, itulah sebabnya ia tidak berjaga‑jaga. Jemaat di Sardis berasumsi bahwa mereka memiliki hidup rohani yang baik sebab mereka memiliki “sebuah nama” yang menunjukkan bahwa mereka hidup. Tetapi mereka tidak mengindahkan kehendak Allah, dan oleh sebab itu mereka tidak menyadari bahwa mereka sesungguhnya telah “mati”. “Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati,” demikian firman Tuhan kepada mereka, “sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. Karena itu, ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga‑jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba‑tiba datang kepadamu” (Wahyu 3:1‑3).

Orang Kristen tidak boleh meremehkan Firman Tuhan dengan melalaikannya. Melalaikan Kitab Suci berarti meremehkan­nya dan memperlakukannya sebagai sesuatu yang tidak berarti apa‑apa. Sebelum kita melangkah terlalu jauh dari firman Allah dan semakin kekurangan gizi rohani, maka kita perlu mulai “berjaga‑jaga dan bertobat”, bila tidak, Tuhan akan menghajar kita dengan kasih-Nya, dan bisa jadi dengan cara yang tidak kita harapkan sama sekali.

Tindakan berjaga-jaga yang keempat adalah berjaga‑jaga terhadap guru‑guru palsu. Perjanjian Baru dengan sangat jelas memberikan banyak peringa­tan tentang hal ini kepada kita, salah satunya terdapat di dalam 2 Petrus 2:1: “Demikianlah pula di antara kamu ada guru‑guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran‑pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.” Sesungguhnya banyak orang, termasuk anggota tubuh Kristus, akan mengun­dang para guru palsu ke tengah‑tengah mereka. “Mereka akan mengumpulkan guru‑guru menurut kehendaknya untuk memuaskan kein­ginan telinganya,” karena mereka tidak puas dengan “kebenaran, dan akan berbalik kepada dongeng.” Oleh sebab itu, kita harus “menguasai diri dalam segala hal.” Itulah peringatan yang disampaikan oleh Paulus, yaitu agar kita waspada terhadap segala bentuk pengajaran dan menunaikan tugas pelayanan sesuai dengan Kitab Suci (2 Timotius 4:3‑5).

Keempat hal yang harus kita waspadai itu, dari segi negatif, memberikan indikasi bahwa hendaknya kita secara terus‑menerus waspada untuk menghindarinya, sebab jika tidak akan membahayakan keselamatan kita. Tetapi Perjanjian Baru juga memberikan kita sejumlah hal positif yang juga perlu kita waspa­dai, yaitu hal‑hal yang dapat menguatkan dan menolong kita. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, Yesus berpesan kepada kita untuk berjaga‑jaga dan berdoa, supaya kita tidak jatuh ke dalam pencobaan (Markus 14:38). Doa menguatkan kita di dalam jalan Allah dengan cara yang sama seperti Dia melindungi kita dari serangan Setan. Doa bukan sekadar kegiatan ritual yang harus dilaksanakan orang Kristen hanya sebagai suatu kewajiban belaka. Doa adalah makanan bagi kehidupan rohani. Paulus mengingatkan, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga‑jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tidak putus‑putusnya untuk segala orang kudus” (Efesus 6:18).

Orang Kristen juga harus berjaga‑jaga untuk menantikan kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Ada dua tindakan penting yang dapat membuat kita tetap setia menjalani hidup bagi Kristus, yaitu mengingat segala yang telah diperbuat-Nya bagi kita di atas kayu salib dan menanti kedatangan-Nya yang kedua kali. Yesus berkata, “Sebab itu, berja­ga‑jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang” (Matius 24:42; bandingkan dengan Matius 25:13). “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri,” Petrus berkata, “jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup, yaitu kamu yang menantikan dan memercepat kedatangan hari Allah” (2 Petrus 3:10‑12).

Perintah Kedua: Teguhlah di Dalam Iman

Prinsip lain untuk dapat menjalani kehidupan yang penuh kuasa adalah teguh di dalam iman. Seorang teolog besar Charles Hodge mengingatkan kepada kita untuk tidak memikirkan setiap butir doktrin dengan sebuah pertanyaan terbuka. Jemaat di Korintus, sama seperti jemaat di Efesus, “diombang‑ambingkan oleh rupa‑rupa angin pengajaran” (Efesus 4:14). Mereka tidak akan berdiri teguh dalam banyak hal. Ada perkataan bijak yang berbunyi, “Little was certain and absolute, much was relative and tentative.” Artinya: sedikit berarti pasti dan absolut, banyak berarti relatif dan tentatif.

“Iman” yang dibicarakan Paulus di sini bukanlah iman percaya kepada Allah, melainkan iman kebenaran atau isi dari Injil itu. Iman yang dimaksud adalah “iman [yang sekali untuk selamanya] diberikan kepada orang‑orang kudus” (Yudas 3), yang merupakan “Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang juga kamu terima, dan yang di dalamnya juga kamu teguh berdiri” (1 Korintus 15:1). Di dalam iman ini pula “kita bertanding dalam pertandingan iman yang benar” (1 Timotius 6:12). Paulus berkata kepada jemaat di Filipi bahwa ia berharap untuk mendengar bahwa mereka “teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil” (Filipi 1:27). Jadi, yang dimaksud dengan berteguh dalam “iman” dalam konteks ini adalah doktrin Kristen.

Setan tidak dapat merebut iman keselamatan kita, namun ia dapat, dan acap kali membuat kita ragu akan kualitas iman kita dengan hal‑hal yang tampak doktrinal tentang Firman Allah. Apabila kita tidak memegang teguh pemahaman yang benar akan Kitab Suci, kita tentu akan sangat mudah tergelincir pada pola pikir yang tidak benar, memercayai hal yang tidak benar dan berperilaku tidak benar pula. Dalam konteks jemaat Korintus pada masa itu, mereka berada dalam sebuah kondisi yang membuat mereka menganggap bahwa kebena­ran Allah adalah sebuah kebodohan, sebagai akibat pengaruh dari orang-orang di sekeliling mereka yang bukan anggota tubuh Kristus (1 Korintus 1:18‑21). Hal utama yang menjadi pegangan hidup mereka adalah filsafat manusia dan kebijaksanaan, dan bukan Firman Allah. Dengan daya dan upaya untuk menyatukan hikmat manusia dan hikmat Allah, mereka telah meremehkan keunikan dan otoritas kebenaran Allah. Paulus memeringatkan jemaat Korintus, “janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat. Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah” (1 Korintus 3:18,19). Seperti banyak juga orang yang menyebut diri Kristen dewasa ini, mereka menganggap bahwa Kitab Suci tidak lain merupakan komentar manusia tentang Allah yang selanjutnya diwujudkan dalam bentuk tulisan. Apabila ternyata kemudian kebenaran tentang Allah itu terbukti benar menurut logika berpikir mereka, maka mereka mau memercayainya sebagai sebuah kebenaran. Jadi, mereka menyaring segala kebenaran tentang Allah dengan dasar pengetahuan dan hikmat manusia untuk selanjutnya diterima atau ditolak sebagai sebuah bentuk ilmu atau teori baru.

Orang Korintus tidak hanya bersalah akibat tidak berdiri teguh dalam memegang teguh kebenaran mutlak Kitab Suci, tetapi mereka juga sangat jauh menyimpang dalam pandangan mereka akan Yesus Kristus. Paganisme atau penyembahan berhala merasuk begitu kuat ke dalam alam pikir sejumlah jemaat Korintus. Di satu sisi mereka mengklaim bahwa mereka “berkata‑kata oleh Roh Allah,” tetapi mereka pun dapat berkata, “terkutuk­lah Yesus!” (1 Korintus 12:3). Oleh karena mereka tidak berdiri teguh di dalam Firman Allah, maka mereka kemudian terarah untuk menolak Injil di dalam hati mereka serta mulai mengutuki Yesus. Mereka “menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka” (2 Petrus 2:1).

Oleh karena keadaan itulah, Rasul Paulus memberikan perintahnya agar mereka berdiri teguh di dalam iman. Paulus berseru kepada mereka, sebagaimana perintahnya kepada jemaat di Tesalonika, “berdirilah teguh dan berpeganglah pada aja­ran‑ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis” (2 Tesalonika 2:15). Apabila kita ingin dapat berdiri teguh di dalam iman, kita harus mendapatkan ajaran yang baik dan bertekun di dalam Firman. Kita wajib melihat dan menilai segala sesuatu dengan dasar kebenaran dan standar Allah. Kita harus berdoa bagi diri kita sendiri dan bagi gereja kita dewasa ini, seperti Epafras berdoa bagi jemaat Kolose, “supaya mereka berdiri teguh, sebagai orang‑orang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah” (Kolose 4:12).

Perintah Ketiga: Bersikaplah Sebagai Laki‑laki (terjemahan lain: jadilah dewasa)

Prinsip ketiga untuk menjalani kehidupan Kristiani yang penuh kuasa adalah bertindak sebagai seorang dewasa, yang diterjemahkan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) “ber­tindak sebagai seorang laki‑laki”. Tujuan dari perintah Paulus yang ketiga ini adalah supaya setiap jemaat berperilaku sebagai orang dewasa. Seseorang yang dewasa memiliki penguasaan diri, keyakinan, dan dorongan yang tidak dimiliki oleh seorang anak kecil atau bayi. Dalam perikop ini tampak bahwa Paulus menyatakan bahwa mereka memiliki segala kelebihan kecuali kedewasaan.

Sebelumnya Paulus telah menyatakan, “saudara‑saudara, janganlah sama seperti anak‑anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak‑anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!” (1 Korintus 14:20). Orang Korintus perlu bertumbuh. Bahkan tatkala ia masih menggembalakan mereka, ia tidak dapat berbicara kepada mereka “sebagai obyek manusia rohani, tetapi sebagai manusia kedagingan (man of flesh), sebagai seorang bayi dalam Kristus. Ia memberi mereka susu untuk diminum, bukan makanan keras, sebab mereka tidak mampu menerimanya.” Tetapi sepeninggal Paulus dari Korintus, mereka masih saja belum dapat bersikap dewasa. “Dan sekarang pun juga,” demikian Paulus meneruskan, “kamu belum dapat menerimanya” (1 Korintus 3:1,2). Ia harus memperlakukan mereka dengan disiplin, tepat seperti apa yang dilakukan orang tua kepada anaknya yang keras kepala. Ia berkata, “Apa yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut?” (1 Korintus 4:21).

Kedewasaan adalah salah satu tanda dari kasih (1 Korintus 13:11), suatu karakter indah yang kurang tampak di dalam kehidupan jemaat Korintus. Kasih mengarahkan kita menuju kedewasaan di dalam segala hal yang membangun, baik di dalam pengajaran doktrin, ketajaman nilai rohani, kestabilan emosi dan penguasaan diri, hubungan dengan sesama, kemurnian moral, mapun di dalam keseluruhan buah Roh Kudus (Galatia 5:22,23). Di atas semuanya itu, kita harus “bertumbuh di dalam anugerah dan pengetahuan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Petrus 3:18), “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbu­han yang sesuai dengan kepenuhan Kristus …. dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Efesus 4:13,15).

Bagaimana seorang percaya dapat bertumbuh dan menjadi dewasa? Dengan senantiasa haus akan “susu yang murni dan yang rohani, yang olehnya kita bertumbuh di dalam serta terarah pada keselamatan” (1 Petrus 2:2). Alkitab menyediakan segala yang kita perlukan untuk memenuhi kebutuhan rohani dan moral. Oleh sebab itu, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap‑tiap manu­sia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:16,17).

 

Perintah Keempat: Tetaplah Kuat

Perintah ini merupakan kunci keempat bagi kehidupan Kristiani yang penuh kuasa. Perintah ini dalam bahasa Yunani memakai kata krataioo, yang acap dipakai di dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk­kan pertumbuhan batiniah dan rohani. Kata kerja ini berbentuk pasif dan secara harfiah berarti “dikuatkan”. Kita tidak dapat menguatkan diri kita sendiri, itu adalah pekerjaan Allah. Bagian kita adalah menyerahkan diri kita kepada-Nya supaya Dia berkenan menguatkan kita. Kita hanya dapat “menjadi kuat di dalam Tuhan, dan di dalam kekuatan kuasa‑Nya” (Efesus 6:10), dan “menjadi kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus” (2 Timotius 2:1).

Hanya dengan berbekal kondisi rohani yang kuat kita mampu memenangkan peperangan rohani dan mengalahkan kedagingan atau hawa nafsu kita. Sekali lagi Paulus menunjukkan titik lemah jemaat Korintus dengan teguran ini: “… kamu masih manusia duniawi, sebab jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?” (1 Korintus 3:3). Mereka telah menipu diri mereka sen­diri dengan menganggap diri bijak dan kuat secara rohani. “Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat” (1 Korintus 3:18). Selanjutnya, Rasul Paulus dengan penuh hikmat berkata, “kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina” (1 Korintus 4:10). Hal itu dikatakannya untuk menunjukkan bahwa ia tidak menganggap dirinya kuat karena kekuatannya sendiri. Oleh karena kelemahan inilah jemaat di Korintus kemudian menyalahgunakan berbagai hal yang sakral, termasuk Perjamuan Kudus (The Lord’s Supper). Klimaksnya, gambaran keadaan jemaat pada saat itu adalah: “… banyak di antara kamu [mereka] yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal” (1 Korintus 11:30).

Orang yang mengira dan terlalu percaya bahwa dirinya kuat sangat berpotensi untuk terjatuh ke dalam pencobaan (1 Korintus 10:12). Pada suatu kali dalam pelayanannya, Paulus diperhadapkan dengan bahaya yang sama. Ia telah diangkat ke Taman Firdaus, dan mendengar kata‑kata yang tak terkatakan … dan sebab pernyataan‑pernyataan yang luar biasa itu, maka ia diberikan duri di dalam dagingnya, seo­rang utusan Setan untuk menggocoh dia‑‑semuanya ini untuk menjaga agar ia tidak meninggikan diri. Kemudian ia mendapatkan pelajaran berharga dari Tuhan, manakala Dia berfirman: “cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Itulah sebabnya ia justru memegahkan diri di dalam kelemahannya, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2 Korintus 12:4,7,9).

Tanpa disiplin, kita tidak akan menjadi lebih kuat baik secara rohani maupun jasmani. “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi” (1 Korintus 9:25). Kekuatan rohani berasal dari pengorbanan diri (self‑sacrifice), penyangkalan diri (self‑denial), dan disiplin diri (self‑discipline). Kita bertumbuh dengan kuat sehingga kita dapat memakai kekuatan kita, sehingga hidup kita layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kita menghasilkan buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya (Kolose 1:10,11).

Sumber utama dari kekuatan rohani kita adalah Kristus. Itulah sebabnya Paulus dapat berkata, “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia, yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Ia pun menyatakan kebenaran ini: “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus, Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan memercayakan pelayanan ini kepadaku” (1 Timotius 1:12). Saya dapat membayangkan bahwa Paulus sering mengingat-ingat seruan pemazmur ini, “Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya nantikanlah Tuhan!” (Mazmur 27:14)

Sambil menanti-nantikan kekuatan Tuhan, kita harus menyerahkan roh kita di dalam Roh-Nya, supaya Dia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kita oleh Roh-Nya di dalam batin kita (Efesus 3:16).

 

Perintah Kelima: Lakukanlah Segala Pekerjaanmu di Dalam Kasih

Ini adalah perintah maupun prinsip yang paling komprehensif dan melengkapi segala prinsip yang harus kita pegang untuk dapat menjalani kehidupan Kristiani yang penuh kuasa. Kasih adalah pelengkap dari segala sesuatu. Kasih adalah prinsip yang indah dan lembut. Ia memertahankan keteguhan dari kekakuan kita serta kekuatan dari sikap kita yang dominan. Kasih menjaga kedewasaan dan juga kematangan pertimbangan kita. Kasih menjaga doktrin kebenaran yang kita pegang dari dogmatisme keras kepala, dan kehidupan benar kita dari kecenderungan untuk berpuas diri dengan pembenaran diri (self‑righteousness).

Kasih adalah hal yang paling dibutuhkan oleh jemaat di Korintus, dan itu juga merupakan hal yang dibutuhkan oleh orang percaya di sepan­jang kala. Di atas semuanya, Petrus berkata, “kasihlah sungguh‑sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:8). Kasih, seperti kekuatan rohani, bersumber dari Tuhan, “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah” (1 Yohanes 4:7). Kita mampu untuk mengasihi satu dengan yang lain, “karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19).

 

 

KESIMPULAN

Teguran Paulus yang dinyatakan dalam bentuk lima perintah kepada jemaat di Korintus memiliki makna meluas, yaitu berlaku kepada seluruh jemaat Kristus di dunia. Keberadaan kita sebagai perwakilan Allah di dunia ini tidak akan berguna apabila di antara jemaat terjadi perselisihan dan perpecahan, tidak adanya teladan yang dapat ditiru oleh orang-orang yang belum mengenal Kristus secara pribadi, sehingga kita menjadi orang-orang yang tidak memiliki kuasa Ilahi. Mari, dengan penuh kesadaran sebagai pengemban tugas surgawi, kita memegang tegus prinsip-prinsip ini, agar kita dapat hidup sebagai orang Kristen yang penuh kuasa.

 

 

Exit mobile version