Site icon

Rancangan Allah bagi Keluarga

Rancangan Allah bagi Keluarga (Kejadian 1:26-28)

oleh : Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

 

1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

 

Keluarga dirancang Allah sebagai tempat kita mendapatkan kesegaran dan kekuatan dalam menghadapi rumitnya kehidupan ini. Hal ini terlihat dari rangkaian kisah penciptaan yang tercatat dalam kitab kejadian. Setelah Allah menciptakan manusia, Dia menugaskan mereka untuk mengelola bumi ini, Dia memberkati ketika pria dan wanita dipersatukan. Ini rencana Allah bagi keluarga. Di tengah kerasnya kehidupan, maka keluarga seharusnya menjadi sumber rasa aman dan nyaman.

Namun, mengapa kita mengalami sesuatu yang berbeda sekarang? Mengapa banyak peristiwa buruk terjadi di dalam keluarga? Perhatikanlah berita-berita di televisi dan bacalah koran, maka Anda akan menemukan berita: seorang istri menyiram suaminya dengan minyak panas, seorang suami membakar istrinya sendiri, seorang anak membunuh orangtuanya sendiri, seorang ayah memerkosa putrinya sendiri. Di mana semua peristiwa itu terjadi? Di luar rumah? Tidak! Semua itu justru terjadi di dalam rumah. Dulu mungkin kita berkata, “Hati-hati, di luar rumah ada banyak orang jahat!” Namun, kini hal itu tidak berarti lagi. Di manakah Anda merasakan sakit hati yang terdalam? Di gereja? Di kantor? Tidak. Di dalam rumah. Siapa yang melukai kita? Suami, istri, atau anak-anak, bukan? Di dalam rumahlah kita justru kerap mengalami rasa sakit dan kepahitan yang luar biasa. Akibatnya, kita cenderung melarikan diri dari rumah. Ke mana? Ke pekerjaan, tempat hiburan, atau juga ke gereja. Tak jarang pelayanan di gereja menjadi tempat pelarian dari kesesakan di rumah.

 

Apa yang Salah dengan Keluarga?

Apa yang salah dengan keluarga masa kini? Bukankah keluarga dirancang oleh Allah sebagai sebuah surga kecil di dunia ini? Namun, mengapa keluarga justru terasa seperti neraka? Mungkin juga tidak separah ini. Keluarga Anda damai-damai saja, tetapi gersang. Keluarga Anda sepertinya baik-baik, tetapi tidak ada kehangatan di dalamnya. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Dalam keadaan seperti ini, mampukah keluarga mengemban amanat Tuhan untuk mengusahakan dunia ini?

Kitab Kejadian memaparkan kepada kita asal mula kehidupan keluarga yang bergerak keluar dari rencana Allah. Keluarga dirancang oleh Allah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya di dunia. Namun jangan lupa, di tempat Allah bekerja, di situ pula Iblis tidak kalah kerasnya berusaha untuk menghancurkan pekerjaan Allah. Iblis datang dengan godaan yang sangat menarik kepada Adam-Hawa, “Kamu akan menjadi seperti Allah” (Kejadian 3:5). Adam dan Hawa jatuh ke dalam godaan itu, dan Allah mengetahuinya. Ketika Allah bertanya, mereka bersembunyi. Ketika Allah bertanya kepada Adam, ia menyalahkan Hawa. Hawa menyalahkan ular. Pada akhirnya, keluarga yang tak lagi menempatkan Allah di tengah-tengah kehidupan mereka itu menjadi keluarga yang rapuh, yang melahirkan seorang pembunuh. Kain membunuh Habel, adiknya sendiri.

Keluarga yang tidak menghadirkan Allah di tengah-tengah mereka adalah keluarga yang rapuh. Rapuh karena ibarat rumah, ia dimangsa oleh rayap-rayap ego dan kesombongan anggota-anggotanya. Dari luar tampak indah, tetapi kekuatan di dalam sudah habis. Di tempat Allah tak lagi bertakhta, di situlah ego dan kesombongan merajalela. Apa konsekuensinya bila Allah tak lagi bertakhta di tengah keluarga?

Saat membeli motor, bukankah Anda mendapatkan buku petunjuk tentang pemeliharaan motor itu dari pembuat/pabriknya? Tentang bahan bakar misalnya, ada ketentuan mengenai harus memakai bahan bakar premium atau pertamax. Namun, jika Anda berkata, “Ini khan motor saya. Saya mau pakai bahan bakar apa pun khan terserah saya.” Anda mengisinya dengan premium, kadang Anda campur dengan oli. Lalu, karena merasa diri kaya, Anda berpikir, “Mengapa tidak mengisinya dengan susu?” Apa yang akan terjadi dengan motor Anda bila semua itu Anda lakukan? Motor menjadi rusak, bukan? Bukan karena susu itu kurang mahal, tetapi karena susu tidak cocok dijadikan sebagai bahan bakar. Tidak sesuai dengan petunjuk pembuat motor itu. Anda tentu tidak sebodoh itu, bukan?

Tetapi, itulah yang dilakukan oleh banyak orang terhadap keluarga mereka. Mereka merasa inilah keluarga mereka. Mereka anggap mereka boleh berbuat semaunya sendiri terhadap keluarga mereka karena istri, suami, anak-anak adalah milik mereka. Memang benar, keluarga Anda adalah milik Anda. Namun jangan lupa, Allah yang menciptakan keluarga itu memberikan firman-Nya agar Anda memelihara keluarga Anda. Allah telah memberikan petunjuk kepada Anda tentang bagaimana seharusnya Anda memperlakukan anggota keluarga seturut firman-Nya. Namun, ketika Allah disingkirkan di tengah keluarga, ketika suara-Nya tak lagi didengar, maka rapuhlah keluarga Anda. Tidak peduli sekaya apa pun Anda, sebijaksana apa pun Anda, keluarga yang tak lagi mendengar suara Allah adalah keluarga yang rapuh. Ketika keluarga telah rapuh, maka keluarga tersebut tentu tidak dapat menjadi berkat bagi orang lain, malah mungkin menjadi beban bagi orang lain.

 

Mendengar Kehendak Allah bagi Keluarga

Apa bukti bahwa sebuah keluarga telah mendengarkan suara dan tuntunan Allah? Ketika keluarga mendengarkan suara dan tuntunan Allah, maka di dalam keluarga itu akan ada rasa takut akan Tuhan. Konkretnya, apa pun yang dialami dan dirasakan oleh anggota keluarga, mereka akan tetap tunduk pada kehendak Allah. Pikiran dan perbuatan tetap tertuju pada kehendak-Nya, bukan pada emosi atau ego pribadi.

“Pak, kalau tidak ingat Tuhan, saya sudah menceraikan istri saya!,” kata seorang pria. “Saya tidak sanggup lagi dengan perilakunya yang suka pinjam sana-sini. Saya malu. Tapi saya takut sama Tuhan.” Kondisi ini tidak mudah, bukan?

“Saya sudah tidak tahan lagi Pak dengan perilaku suami saya. Kasar dan suka main perempuan. Saya sudah lama ingin lari meninggalkan rumah. Tapi apa Tuhan akan berkenan dengan perbuatan saya?” Tidak gampang, bukan?

“Saya ingin sekali bunuh orangtua saya, Pak. Dari kecil saya dianiaya dan diperlakukan kasar. Tapi … saya tahu firman Tuhan tidak mengajarkan saya begitu” Mudahkah bersikap demikian?

Kita harus menyadari bahwa emosi dan pikiran kita tidak selalu benar. Oleh  karena itu, lembutkanlah hati untuk menerima dan menjalani kehendak Tuhan. Menundukkan diri di bawah kehendak Tuhan itu sulit, bukan? Hali itu karena kita harus mengalahkan ego kita. Inilah musuh kita: ego dan kesombongan kita. Inilah musuh keluarga kita: ego dan kesombongan anggota-anggotanya. Inilah juga yang telah menjungkalkan keluarga pertama di dunia—Adam dan Hawa—akibat bujukan Iblis, “Kamu akan menjadi seperti Allah.” Akan tetapi, ketika kita gagal mengalahkan kesombongan kita, kita tidak dapat mengemban amanat Allah di dalam dunia ini. Ketika anggota keluarga tidak bersama-sama menundukkan diri pada tuntunan Tuhan, maka anggota keluarga akan saling mengalahkan dan menundukkan.

Suatu kali, dua orang suami sedang berkumpul. Mereka asyik membicarakan istri mereka masing-masing. Suami yang pertama, katakanlah Pak Joni, berkata kepada Pak Badu, “Eh … Badu, tahu tidak semalam aku berhasil membuat istriku menangis di pelukanku.” “Wah hebat kamu, Jon. Gitu donk suami yang ideal: istri harus tunduk pada suami.” “Kamu sendiri gimana, Badu? Bagaimana dengan istrimu?” tanya Pak Joni. “Oh … kalau aku lain lagi, Jon. Dua malam yang lalu, aku berhasil membuat istriku berlutut di hadapanku!!” “Haaaa? Berlutut? Hebat benar kamu, Badu!” seru Pak Joni. “Iya, dong … Ini baru Badu namanya …,” sambut Pak Badu bangga. “Emangnya kamu apakan istrimu sampai ia berlutut di depanmu?” tanya Pak Joni penasaran. “Hm … malam itu istriku berlutut di hadapanku sambil berkata kepadaku, ‘Kalau kamu suami yang berani, ayo keluar dari kolong ranjang!’”

Perhatikanlah masalah-masalah di dalam keluarga kita. Dari manakah sumber masalah itu? Dari ketidaksediaan kita untuk menaati tuntunan firman Tuhan, bukan? Dari ego dan kesombongan yang kita biarkan merajalela, bukan? Ego dan kesombongan orangtua yang selalu merasa benar! Tidak pernah meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat dan membuat kepahitan di hati anak-anak. Pemberontakan dan ketidakpatuhan anak-anak telah menyebabkan luka di hati orangtua. Dari manakah awal mula terjadinya perselingkuhan? Bukan dari orang ke-3. Lalu? Dimulai dari memikirkan diri sendiri, bukan? Yang penting kebutuhan saya terpenuhi, persetan dengan istri dan anak-anak, dan juga dengan Tuhan.

Oleh sebab itu, apabila kita menginginkan keluarga yang kokoh dan melayani Allah, kita harus kembali pada hal yang mendasar ini: menghadirkan Tuhan di tengah keluarga yang dibuktikan dengan adanya kesediaan untuk menaati-Nya bagaimanapun keadaan dan perasaan kita.

Bersediakah Anda?

 

 

Exit mobile version