Renungan Berjalan bersama Tuhan

Sahabat yang Terceraikan

Sahabat yang Terceraikan

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib” (Amsal 17:9)

Setiap orang pasti mempunyai karakter dan kebiasaan masing-masing. Semua itu terjadi karena kita bertumbuh dan kita dibentuk melalui lingkungan kita. Pertama, kita tinggal bersama orangtua kita, saudara dan famili, baik yang dekat maupun yang jauh. Kemudian, kita terus bertumbuh di tengah lingkungan sekolah, tetangga, dan sebagainya. Semua itu membentuk kita mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang terus kita lakukan tanpa kita sadari. Sebagai contoh, orang yang optimistis atau pesimistis pasti dibentuk oleh lingkungannya, entah apakah lingkungannya sejak kecil itu memberikan semangat, dorongan, pujian, motivasi, dan bimbingan atau tidak? Jika yang terjadi sebaliknya, maka setelah besar, ia akan menjadi orang yang lebih pesimistis, penakut, dan tidak berani mengambil keputusan.

Kitab Amsal mengamati bagaimana sikap orang dalam menjalin persahabatan. Menurut Amsal, ada orang yang terus-menerus “membangkit-bangkit perkara”. Dengan kata lain, orang ini suka sekali mengungkit-ungkit masalah yang sudah terjadi pada masa lalu. Pada umumnya, yang diungkit adalah hal-hal yang negatif, jelek, dan menyakitkan; kesalahan-kesalahan atau kegagalan-kegagalan pada masa lalu. Setiap kali pembicaraan, orang ini terus menceritakan kembali dan membahas hal-hal yang sebenarnya sudah selesai dan tidak menjadi masalah. Orang yang demikian, menurut Amsal, adalah orang yang memang tidak bisa bersahabat dengan baik. Justru sebaliknya, ia menjadi orang yang menceraikan sahabat karibnya. Persaudaraan yang dahulunya akrab, baik, dan menyenangkan, sekarang menjadi terpisah. Lalu, apa yang dimaksud Amsal dengan orang yang “menutupi pelanggaran”? Ini bukan berarti menyetujui pelanggaran atau kesalahan, dan juga bukan mendukung hal-hal yang tidak benar. Yang dimaksud adalah ketika sahabat itu melakukan kesalahan dan sudah dibereskan, maka ada pengampunan, dan semua perkara itu sudah selesai. Apa pun yang telah terjadi sudah tidak perlu dibahas atau dibicarakan lagi; sebaliknya, mereka harus terus menjalin relasi kasih dan tidak saling menyakiti lagi. Itulah sahabat yang dimaksud oleh kitab Amsal. Ia menjadi orang yang mengejar kasih.

Kasih merupakan dasar relasi antarsahabat. Kasih itu menyelesaikan semua perkara yang menyakitkan dengan saling memberikan pengampunan. Kasih itu melihat kegagalan pada masa lalu dan kemudian membangun hidup yang baru dengan menatap masa depan yang lebih baik lagi. Kasih itu telah mengubur kejatuhan masa lalu dan membangkitkan semangat untuk menjalani masa depan. Amin.

 

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ajarlah aku berlapang dada, berjiwa besar, dan tidak bersikap sebagai pengecut atau pengkhianat jika aku berhadapan dengan sahabat yang mengalami kegagalan atau kejatuhan. Ajarlah aku untuk tidak menceritakan kegagalannya atau kejatuhannya, tetapi membangkitkan kembali semangatnya untuk terlepas dari keterpurukan, menutupi kegagalannya, dan menggantinya dengan pengampunan dan kasih.
  2. Tuhan, pimpinlah dan berilah hikmat kepada kami sebagai gereja ketika melihat salah seorang anggota jemaat yang jatuh dalam dosa, gagal, dan terpuruk. Acapkali anggota jemaat terjerumus dalam isu merumpi yang tidak bertanggung jawab, menceritakan kegagalan dan kejatuhan orang lain, dan tidak menolongnya untuk bangkit kembali serta menjalani hidup baru. Pimpinlah kami sebagai gereja untuk terus membawa pengampunan dan kasih, terus mengumandangkan semangat kepada mereka yang jatuh untuk bangkit kembali dari keterpurukan, dan menatap masa depan yang baru dan cerah bersama Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *