Saul: Bersandar pada Kekuatan Manusia
1Sam 13:8-14; 15:22-27
Pdt. Agus Surjanto
Saul adalah raja Israel pertama yang dipilih sendiri oleh Allah. Namun sebenarnya Allah tidak berkenan dengan adanya seorang raja bagi Israel. Di mata Allah keinginan itu sebenarnya mencerminkan sikap penolakan bangsa Israel terhadap Allah sendiri (1Sam 8:7-8). Karena ketegaran hati bangsa Israel, maka Allah mengijinkan orang Israel mempunyai seorang raja. Tetapi Allah mengingatkan bangsa itu bahwa ada konsekwensi-konsekwensi tertentu yang cukup berat sehubungan dengan hak-hak raja apabila mereka tetap ingin memiliki raja. Ternyata kekerasan hati mereka membuat mereka tidak lagi merasa berat dengan hak-hak yang harus mereka berikan kepada raja mereka (1Sam 8:11-22).
Demikianlah akhirnya Saul diangkat oleh Allah menjadi raja atas Israel. Tetapi pengangkatan raja ini melalui jalan yang berliku-liku karena Saul perlu lebih dahulu dipersiapkan, dibentuk dan diuji oleh Allah untuk dapat memimpin umat-Nya. Allah tahu persis bagaimana tegarnya tengkuk bangsa Israel itu yang tidak pernah mau tunduk dengan tulus, bahkan kepada Allah sekalipun. Karena itu perlu seorang raja yang punya kemampuan luar biasa untuk dapat memimpin bangsa itu supaya bangsa itu jangan tersesat. Kalau raja yang memimpin mereka lemah, maka pasti raja itu yang akan mengikuti kemauan bangsa tegar tengkuk itu.
Saul pada dasarnya adalah seorang yang pemalu dan kurang percaya diri, walaupun secara fisik dia memiliki kelebihan dari orang Israel lainnya. Alkitab mengatakan bahwa dia dari bahu ke atas lebih tinggi dari orang Israel (1Sam 10:23). Tetapi kelebihan fisik ini tidak membuat Saul tumbuh menjadi orang yang percaya diri. Dan rupanya sifat kurang percaya diri ini diketahui oleh sebagian orang Israel. Itulah sebabnya sebagian orang-orang Israel meragukan dan menghina dia (1Sam 10:27). Tetapi karena dia memang orang yang kurang percaya diri, maka Saul pura-pura tidak mendengar cemoohan mereka. Saul juga sampai dua kali menolak, atau paling tidak memberi kesan tidak berambisi menjabat kedudukan sebagai raja.
Pertama, ketika pulang dari pertemuannya dengan Samuel, dia tidak berani menceritakan kepada pamannya bahwa Samuel telah mengurapi dia menjadi raja Israel (1Sam 10:16), padahal Samuel adalah nabi dan hakim yang paling didengar oleh orang Israel. Boleh dikatakan semua persoalan bangsa Israel selalu dibawa ke hadapan Samuel lebih dahulu sebelum orang Israel mengambil keputusan.
Yang kedua, ketika akan dimahkotai menjadi raja, ia menyembunyikan diri (1Sam 10:21-22). Jelas sekali bahwa Saul benar-benar orang yang kurang percaya diri. Namun sebenarnya kasih karunia Tuhan melampaui semua kekurangan manusia, asal manusia itu mau taat kepada Allah. Dia sanggup mengubahkan orang yang paling tidak pantas sekalipun asal orang itu mau taat. Saul pada akhirnya memang diangkat menjadi raja atas Israel dan kemudian melakukan banyak hal luar biasa dalam menegakkan kewibawaan bangsa Israel. Hal ini terjadi karena Tuhan memimpin dan menyertai dia. Keberhasilan Saul menjadi raja dan memenangkan peperangan dengan musuh-musuh Israel adalah karena ia didorong oleh Roh Allah dan dibantu oleh orang-orang gagah perkasa yang digerakkan juga oleh Allah (1Sam 10:26; 11:16-17). Sama sekali bukan Saul yang membuat kemenangan itu. Orang yang kurang percaya diri dan pemalu itu menjadi pahlawan yang besar karena Allah beserta dengan dia, tetapi Saul kurang menyadari kebenaran itu.
Kemenangannya terhadap bani Amon (1Sam 11) membuat dia lupa diri. Allah tidak lagi menjadi fokus kehidupannya. Keberhasilannya dan kedudukannya sebagai raja kemudian menjadi fokus kehidupannya. Rupanya kedudukan raja dan kemenangan-kemenangan yang berhasil diraihnya membuat Saul tidak kuat menanggung beban psikologis yang besar itu. Dari seorang pemalu dan kurang percaya diri, tiba-tiba dia menjadi orang nomor satu yang dihormati seluruh Israel, dipuja dan dipercaya penuh. Perubahan itu terlalu tiba-tiba bagi dia dan rupanya Saul menjadi terikat dan terobsesi dengan perubahan yang menyenangkan itu sehingga akhirnya kedudukan dan kehormatan menjadi fokus utama dalam kehidupannya. Dia tidak mau dirinya dihina ataupun diremehkan lagi. Berapapun harga yang harus dibayar, dia akan bayar demi mempertahankan kedudukan dan kehormatannya itu. Sampai akhirnya dia berani melanggar ketetapan Allah ketika dia merasa bahwa kedudukan dan kehormatannya terancam.
Dengan dukungan prajuritnya yang telah terbukti beberapa kali memenangkan peperangan, maka Saul merasa tidak terlalu perlu Allah. Tindakan-tindakan keagamaannya hanya sekedar suatu upacara belaka. Tidak ada hati yang sungguh-sungguh taat kepada Allah. Dia lebih bersandar kepada kekuatan dan kekuasaan yang dia miliki dari pada kepada Allah. Saul menjadikan Allah sekedar “ban serep” yang menjadi penting hanya saat dibutuhkan, yaitu pada saat menghadapi masalah-masalah yang melebihi kemampuannya (1Sam 13:6-12). Ketika ditinggal oleh prajuritnya, maka Saul merasa perlu datang pada Allah, mohon belas kasihan-Nya melalui upacara persembahan korban. Tetapi bagi Saul upacara itu hanya sekedar upacara keagamaan yang boleh dilakukan dengan sembarangan. Dia tidak mau terikat dengan aturan-aturan yang Allah berikan. Dengan kata lain, Saul sebenarnya sedang “memaksa” Allah dan menempatkan dirinya di atas Allah. Dia pikir asal upacara dilakukan maka Allah tidak akan punya alasan untuk tidak melakukan tugas-Nya, yaitu menolong bangsa Israel. Kalau Allah tidak mau menolong dia, maka Allah akan “bersalah” terhadap umat-Nya. Bukankah upacara dan korban sudah diberikan kepada Allah? Bukankah Allah sudah menerima imbalan dari apa yang harus dilakukan-Nya?
Saul berpikir bahwa dengan mempersembahkan korban, maka bangsa Israel punya hak untuk memperoleh pertolongan Allah. Kalau saya sudah melayani Tuhan, saya sudah berpuasa, saya sudah beribadah dengan setia, saya sudah memberi persepuluhan, saya sudah hidup kudus, saya sudah …., maka Allah harus memberkati saya, Allah harus menyembuhkan saya, Allah harus menolong saya. Bukankah kita seringkali berpikir seperti itu juga? Bukankah Allah berjanji bahwa kalau saya sudah …, maka Ia akan ….. Tidak tahukah anda bahwa Allah bukan melihat semua itu tetapi melihat hati (1Sam 16:7). Dan Dia sedang mencari hati yang takut akan Tuhan, hati yang menomor satukan Tuhan, hati yang memuliakan Tuhan, yang taat kepada-Nya. Bukan hati yang ingin kemuliaan diri seperti Saul. Betapa dalamnya Saul telah jatuh. Namun Allah alkitab adalah Allah yang penuh kasih dan penuh belas kasihan. Karena kasih itulah maka Allah tetap memberi kesempatan kepada Saul. Allah masih mengijinkan Saul mengalami kemenangan-kemenangan terhadap musuh-musuh Israel (1Sam 14:47-48).
Sayang, Saul ternyata bukan sadar dan mau taat menyembah kepada Allah dengan tulus, tetapi tetap terus menjaga jarak dengan Allah. Bagi Saul Yahweh bukanlah benar-benar Allahnya. Yahweh adalah Allah Samuel dan tidak punya relasi apa-apa dengan Saul (1Sam 15:15, 21, 30). Walaupun lahir sebagai orang Israel, ternyata Saul tidak punya pengenalan secara pribadi dengan Allah. Memang menyedihkan. Akan tetapi hari ini juga banyak “orang Kristen” (maksudnya lahir dari keluarga Kristen, punya KTP Kristen), yang rajin ke geraja setiap minggu, suka ikut doa, bahkan mungkin ikut melayani, tetapi tidak punya relasi dengan Allah. Ibadah dan ritual keagamaan hanya sekedar sebuah tanda bahwa dia orang beragama, orang baik. Tetapi ketika menghadapi persoalan hidup ternyata sandarannya adalah uangnya, kedudukannya, kepandaiannya, relasinya dengan orang-orang besar ataupun yang semacam itu.
Allah bukan prioritas hidupnya. Persis seperti Saul yang bersandar kepada kekuatannya sendiri dan sangat ketakutan kalau-kalau rakyatnya tidak lagi mendukung dia sebagai raja (1Sam 15:24). Saul jauh lebih takut kepada rakyatnya dari pada takut kepada Tuhan. Dia lebih bersandar kepada kekuatan prajuritnya dari pada kepada kekuatan Tuhan. Saul lebih mementingkan kehendak rakyatnya dari pada kehendak Tuhan. Bahkan dia juga mungkin lebih bergantung kepada Samuel dari pada kepada Tuhan (1Sam 15:25). Sangat mengherankan bahwa Saul bisa mempunyai sikap seperti itu. Benar-benar dia sudah dibutakan oleh kedudukan dan kemuliaan yang telah diraihnya.
Kemenangan-kemenangan yang dicapainya dalam peperangan bukan membuat Saul makin bergantung kepada Allah, tetapi ternyata makin membuat dia bergantung kepada kekuatan manusia, sehingga akhirnya Allah berkenan mengangkat seseorang lain yang lebih bergantung kepada Allah, yaitu Daud. Pada saat semua orang Israel takut menghadapi Goliat, maka Daud dengan kekuataan yang dari Allah maju mengalahkan Goliat (1Sam 17). Kasih Allah yang besar terhadap umat-Nya tidak menghendaki umat Israel makin jauh dari pada Dia dan bersandar kepada kekuatan sendiri. Israel harus dipimpin oleh raja yang bersandar kepada kekuatan Allah. Dan orang itu ternyata bukan Saul karena sudah beberapa kali diberi kesempatan tetapi Saul tidak menunjukkan sikap yang bertobat dan berbalik kembali kepada Allah. Akhir yang menyedihkan dari seseorang yang bernama Saul. Seseorang yang pada mulanya begitu pemalu dan rendah diri, bisa menjadi begitu tinggi hati. Mengapa “orang pilihan Allah” bisa berubah seperti itu? Memang tidak mudah beradaptasi menghadapi suatu perubahan yang tiba-tiba dan yang dahsyat. Beban psikologis yang diterima Saul ternyata terlalu berat. Dari seorang pemalu dan rendah diri, tiba-tiba Saul menerima sanjungan yang begitu dahsyat dari seluruh orang Israel (1Sam 11:12-13).
Kenyamanan ini membuat Saul ingin terus mempertahankan posisi itu, berapapun harga yang harus dibayar. Dia tidak sadar bahwa posisi itu dapat diraih karena Allah menyertai dan memberkati dia dan Allah mau meninggikan dia. Dia menganggap bahwa semua keberhasilannya selama ini adalah karena kekuatannya. Tetapi Allah tidak suka kepada orang yang bersandar kepada kekuatan manusia. Yeremia dengan jelas mengatakan terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh dari Tuhan (Yer 17:5). Allah ingin orang yang taat kepada-Nya dengan sepenuh hati. Tetapi Allah Alkitab memang Allah yang luar basa. Setelah Saul berulang kali gagal menaati kehendak Allah, ternyata Saul masih diberi sekali lagi kesempatan. Namun rupanya kesempatan ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan Tuhan kepadanya. Tuhan ingin memberi kesempatan sekali lagi kepada Saul untuk membuktikan apakah Saul betul-betul mau taat kepada Allah dengan melakukan suatu tes. Tetapi ternyata tes yang ini juga gagal dilalui Saul (1Sam 13:8-10).
Kemenangan-kemenangan yang telah dicapainya dalam peperangan melawan musuh Israel, ternyata sudah membuat Saul berubah. Memang kelihatannya dia masih berkata kepada Samuel bahwa ia belum memohonkan belas kasihan Allah (1Sam 13:12), tetapi sebenarnya dia sedang “memaksa” Allah dengan keberaniannya melakukan korban bakaran dan korban keselamatan Sebagai orang Israel, Saul tahu persis bahwa mempersembahkan korban adalah hak para imam, bukan hak seorang raja. Samuel dengan jelas telah menguraikan hak-hak raja (1Sam 10:25) sehingga tidak ada alasan bagi Saul untuk tidak mengetahui apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan sebagai raja. Suatu sikap yang sungguh meremehkan perintah Tuhan. Saul lebih mementingkan hal-hal lahiriah, seperti upacara-upacara korban, dari pada Tuhan. Taat kepada Tuhan jauh lebih penting dari semua upacara-upacara lahiriah. Dia bahkan berani melakukan praktek memanggil arwah yang dia sendiri telah melarangnya (1Sam 28:5-25). Karena ketakutan diserang oleh orang Filistin, maka Saul berani melanggar perintah Allah yang melarang orang percaya melakukan praktek-praktek perdukunan. Saul gagal dan akhirnya ditolak oleh Tuhan. Ketidaktaatan Saul mencapai puncaknya ketika dia akhirnya berani melawan ketetapan Tuhan dengan terus menerus mencoba membunuh Daud yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menggantikan dia (1Sam 18:6-11, 25; 19:10-12, 20, 33; 24:1-2; 26:1-2). Saul tidak rela kehilangan takhta duniawi, dan akhirnya kehilangan takhta sorgawi.
Saul sadar bahwa Daud pasti akan menggantikan dirinya menjadi raja. Ini dibuktikan dengan dia mohon belas kasihan Daud untuk keturunannya kelak (2Sam 24:20-21). Tetapi Saul dengan sekuat tenaga tetap terus ingin menggagalkan rencana Allah dengan berusaha membunuh Daud setiap ada kesempatan. Dan sampai saat yang terakhir, yaitu kematiannya, Saul tidak pernah menunjukkan pertobatannya. Berarti Saul sungguh-sungguh makin nekad melawan Allah. Sebuah tragedi yang menyedihkan dari orang yang dipakai Tuhan. Karena itu, kita tidak dapat menilai seseorang apakah dia orang yang berkenan kepada Tuhan hanya dengan melihat hasil pelayanannya saja. Bisa saja hasil pelayanan yang dilakukan sangat baik. Tetapi apakah dia melakukan semua itu untuk Tuhan atau untuk dirinya sendiri, kita tidak tahu, kecuali dia mengaku.
Banyak orang di dalam alkitab yang ternyata hanya sekedar dipakai oleh Tuhan,tetapi tidak dikenan oleh Tuhan. Hatinya tidak melekat kepada Tuhan dan Tuhan tidak pernah menjadi fokus hidupnya, tetapi justru keberhasilan pelayanannya.

