Seri Tujuh Dosa Maut: Kerakusan
oleh : Pdt. Joas Adiprasetya
“Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” (Fil. 3:9)
“Gluttony is not a secret vice.” (Orson Welles)
“Glutton: one who digs his grave with his teeth.” (French Proverb)
satu
Surat kabar Ottawa Citizen (22 Desember 2000) melaporkan sebuah pesta Natal besar-besar dari sebuah firma keuangan internasional yang diselenggarakan di London. Seluruh pegawai dari penjuru dunia diterbangkan ke London. Tema Natal yang dipakai: Seven Deadly Sins! Ruangan pesta begitu megah dan mewah, dengan sepuluh bar penuh dengan makanan. Para penghibur berbaring di lantai karpet dengan mulut terbuka menerima terus makanan di dalam mulut mereka. Reporter yang meliput peristiwa ini mengatakan bahwa apa yang terjadi mirip dengan pesta jamuan besar-besaran yang lazim dilangsungkan pada masa kejayaan Romawi ribuan tahun lalu. Yang tak ada di London saat itu adalah ruangan “vomitaria” yang selalu ada di jamuan kerajaan Romawi, yaitu tempat di mana mereka yang makan dan minum terlalu banyak dapat masuk ke ruangan itu dan memuntahkan apa yang ada di dalam perut mereka, sebelum melanjutkan makan mereka. Seorang filsuf Roma klasik, Seneca, merasa begitu jijik dengan kebiasaan ini dan menulis, “Mereka muntah untuk makan, dan makan untuk muntah.”
Saya samar-samar masih ingat bahwa beberapa belas tahun lalu seorang boss diidentikkan dengan perut buncit dan orang melarat dengan tubuh kurus-kering. Tapi kini, di zaman dietaholicism (gejala di mana seseorang yang secara kompulsif dan berlebihan memerlukan diet), seorang boss justru tercitrakan lewat seseorang yang ramping dan punya banyak waktu, perhatian dan uang untuk membeli makanan yang low-anything (low sugar, low carb, low calorie dan sebagainya), dan banyak orang-orang miskin yang berperut buncit karena hanya mampu menyantap lebih banyak makanan berkarbohidrat tinggi (ingat stereotipe petugas pemerintahan tingkat rendahan yang gemuk-gemuk). Sekalipun tentu saja tubuh kurus-kering tetap menjadi tanda kemiskinan yang ekstrim. Pencitraan yang bergeser ini sesungguhnya juga mengubah pemahaman kita mengenai kata Gluttony.
Gluttony lazimnya dipahami sebagai kerakusan atau keserakahan pada makanan. Dua kutipan di atas mencerminkan pemahaman atas definisi ini. Kerakusan biasa tampil lewat citra seseorang yang gemuk karena kebiasaan makan yang tak terkendali. Itu sebabnya, obesitas kini menjadi masalah amat besar masyarakat Amerika. Sebanyak 58 juta penduduk Amerika menderita kelebihan berat badan; 40 juta sudah tergolong obese. Peningkatan anak-anak Amerika sejak tahun 1982 juga terlihat drastis. Pada tahun 1982 hanya ada 4% anak yang obese, meningkat menjadi 16% pada tahun 1999, dan meningkat lagi menjadi 25% pada tahun 2001.
Akan tetapi banyak penafsir tujuh dosa mematikan pada masa kini yang merenungkan kehidupan di zaman dietaholic ini yang juga memasukkan mereka yang secara berlebihan menaruh perhatian pada diet demi tubuh yang ramping sebagai contoh dari Gluttony. Dengan kata lain, Gluttony tidak pertama-tama menjadi persoalan jumlah makanan yang dikonsumsi, namun lebih pada cara kita menyikapi makanan. Seseorang yang menaruh perhatian berlebihan pada takaran carb yang serendah mungkin hingga rela menjangkau toko penjual bahan-bahan organik yang berada di ujung kota terkesan bagi saya sebagai seorang yang “rakus” pula. Singkatnya, mengapa Gluttony menjadi satu dari tujuh dosa mematikan sesungguhnya terletak pada aspek berlebihannya (excessiveness) dan bukan hanya pada jumlah yang disantap. Perhatian yang berlebihan pada makanan—entah yang tampil lewat konsumsi berlebihan maupun diet berlebihan—sama-sama terjatuh ke dalam dosa Gluttony, dan keduanya mengingkari makna sejati dari makan.
dua
Jadi, Gluttony kini memperoleh maknanya yang lebih luas daripada sekedar kerakusan. Ia menjebak karena membuat manusia memiliki perhatian dan fokus secara berlebihan pada makanan, entah dengan menyantapnya secara rakus atau terlalu mencurigainya melalui program-program diet. Mereka yang terjebak ke dalam kedua model Gluttony ini sama-sama berada di bawah kritik Paulus yang berkata bahwa “Tuhan mereka ialah perut mereka” (Fil. 3.9) dan bahwa mereka “tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri” (Rom. 16.18).
Gluttony secara teologis juga bermasalah karena ia menggeser makna “makan” dari tujuan sejatinya. Pertama, Alkitab selalu memperlihatkan bahwa makan adalah cara alami yang dipakai Allah untuk memelihara (providing) manusia. Ia adalah Allah pemberi manna yang setia hari demi hari. Kerakusan menolak providensia Allah, yaitu ketika fokus kita hanya pada apa yang akan kita makan. Bilangan 11 mencatat bagaimana orang-orang Israel berubah menjadi rakus dan menolak providensia Allah yang memberikan manna setip hari bagi mereka dan malah menghendaki daging seperti yang mereka peroleh selama di Mesir. Ketika Allah akhirnya mengirimkan burung puyuh sebagai daging yang bisa mereka makan, demi membuktikan providensia-Nya, orang Israel dengan amat rakus mengumpulkan burung-burung puyuh itu sebanyak mungkin dan menyimpannya untuk jaminan hari-hari mendatang.
31 Lalu bertiuplah angin yang dari TUHAN asalnya; dibawanyalah burung-burung puyuh dari sebelah laut, dan dihamburkannya ke atas tempat perkemahan dan di sekelilingnya, kira-kira sehari perjalanan jauhnya ke segala penjuru, dan kira-kira dua hasta tingginya dari atas muka bumi. 32 Lalu sepanjang hari dan sepanjang malam itu dan sepanjang hari esoknya bangkitlah bangsa itu mengumpulkan burung-burung puyuh itu–setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh homer–,kemudian mereka menyebarkannya lebar-lebar sekeliling tempat perkemahan. 33 Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, maka bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar. 34 Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus. (Bil. 11.31-34)
Kedua, Gluttony secara teologis bermasalah karena seorang yang rakus hanya menikmati makanan tanpa makna kebersamaan komunal, “food without friends” (William R. White). Dan bukan hanya hilanganya kebersamaan komunal, Gluttony merupakan dosa yang menyedihkan ketika diperhadapkan dengan realitas sosial dan global, di mana 852 juta orang kelaparan di seluruh dunia, 36.3 juta di antaranya hidup di Amerika Serikat, termasuk 13 juta anak-anak. Belum lagi, setiap tahunnya, 11 juta anak-anak di bawah lima tahun mati karena masalah yang terkait dengan kurangnya pangan. Ketika jutaan orang tak pernah terpuaskan karena tiadanya makanan, Glutonny membuat orang juga tak pernah terpuaskan sekalipun di hadapannya tersaji makanan yang terlalu melimpah dan tak pernah habis. Ironi ini mendesak kita untuk mengafirmasi bahwa Gluttony adalah sebuah dosa yang mematikan.
Thomas Aquinas mempertegas prinsip bahwa Gluttony bukan sekedar masalah jumlah makanan yang berlebihan (nimis), namun juga tampil lewat empat bentuk lain: terlalu cepat (praepropere), terlalu mahal (laute)–, terlalu tergesa-gesa (ardenter) atau terlalu mewah dan lezat (studiose). Berdasarkan ini agaknya kita—bukan hanya saya yang memang sudah jelas selalu terjebak ke dalam dosa ini—memang amat mudah jatuh ke dalam dosa Gluttony.
tiga
Kerakusan tidak boleh disamakan dengan perayaan (feasting). Pesta makan dirayakan di dalam kebersamaan dengan komunitas di mana pemeliharaan Allah dinikmati bersama-sama.
Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. (Yes. 55.1-2)
Pesta jamuan makan selalu menjadi modus yang dipakai oleh Yesus untuk menunjukkan bahwa pemeliharaan Allah dinikmati dalam kebersamaan (Mt. 11, 22, ; Mk. 14; Lk. 5, 14, 16; Yoh. 2, 7). Bahkan Perjamuan Kasih menjadi model persekutuan yang merayakan keselamatan dari Allah. Dan Yesus melambangkan diri-Nya sendiri sebagai Roti Hidup dan Air Hidup … yang menjadi elemen utama dari perjamuan makan. Akibatnya, Yesus sering disalahtafsirkan sebagai seorang yang rakus atau pelahap, sementara Yohanes Pembaptis dipandang sebagai seorang asketis.
Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap (glutton) dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa … (Mat. 11.18-19).
Terlalu banyak orang Amerika kini makan tanpa makna kebersamaan. Makan menjadi tindakan solitary belaka. Makanan disantap “on the go” atau “on the run.” Dapur dan ruang makan kini banyak didesain bukan lagi untuk keperluan makan bersama seluruh keluarga namun untuk memenuhi kebutuhan masing-masing anggota keluarga yang tak dapat makan bersama lagi. “Duduk di sekitar meja makan” telah menjadi peristiwa langka.
Sebagaimana Yesus mementingkan perjamuan makan bersama, Ia juga menganggap bahwa puasa merupakan tindakan religius yang berfaedah. Melalui puasa manusia belajar untuk menyadari bahwa “manusia hidup bukan dari roti saja” melalui dari pemeliharaan Allah. Puasa juga berfaedah untuk menjaga kepekaan kita pada kebutuhan sesama, selain juga kebutuhan spiritual kita sendiri akan Allah.
Dengan demikian, baik feasting maupun fasting merupakan wahana spiritual seorang Kristen untuk mengikutsertakan sesama dan Allah dalam kegiatan makan mereka. Feasting dan fasting adalah jawaban atas Gluttony yang muncul baik lewat kerakusan maupun diet berlebihan, yang keduanya sama-sama menghapus sesama dan Allah dari tindakan makan dan meletakkan fokus berlebihan pada makan untuk diri sendiri. Ketika aspek teologis dan komunal ini dihilangkan, maka Gluttony berubah wajahnya dari sebuah dosa menjadi sebuah “disorder” atau “masalah psikis.” Dan salah satu alasan mengapa semakin sedikit orang berkotbah soal ini adalah karena percakapan tentang Gluttony telah diambil-alih oleh para dokter, pelatih kebugaran, instruktur aerobik, dan pembicara pengembangan kepribadian. Craving kini lebih menjadi persoalan psikis atau medis tinimbang moral dan spiritual.
Dalam tradisi Kristen, Gluttony dilawan dengan pembatasan (temperance), sebagaimana nafsu birahi dilawan dengan pengendalian diri (self-control). Jika pengendalian diri mengatur diri sendiri agar sesuai dengan citra dan fitrah kemanusiaan kita, pembatasan mengatur apa yang kita konsumsi agar sesuai dengan kapasitas fisik kita. Tidak lebih dan tidak kurang. Dan inilah inti dari doa Yesus, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya;” Yesus yang sama yang di atas salib berteriak di ujung batas hidup-Nya, “Aku haus” (Yoh. 19.28). Sang Air Hidup yang menawarkan kelegaan spiritual menghadirkan sosok kemanusiaan yang membutuhkan air (dan makanan) sekedar untuk memenuhi kebutuhan fisik-Nya. Dan dengan teriakan kehausan-Nya itu Ia mewakili umat manusia yang juga dahaga dan lapar karena kekurangan bahan pangan, sementara segelintir orang berpesta-pora tanpa peduli pada sesamanya.

