Site icon

Sudahkah Kita Siap Sedia?

Oleh: Pdt. Andy Kirana

Matius 24:37-44

Roma 13:11-14

Shalom. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan… tema kita pada kesempatan ini adalah Sudahkah Kita Siap Sedia? Tema ini sangat penting untuk mengingatkan kita semua akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Terlintas dalam pikiran saya sebuah pertanyaan: seandainya nanti malam Tuhan Yesus datang, apakah Saudara-saudara sudah siap? Ini pertanyaan yang sulit karena tidak hanya membutuhkan jawaban ‘siap’ atau ‘tidak siap’. Mari kita akan menggumuli pertanyaan tersebut dengan membaca dan merenungkan firman Tuhan dari Matius 24:37-44 dan Roma 13:11-14.

“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.

Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan… mari kita akan menggumuli lebih dulu apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Injil Matius. Mengapa sebagai anak-anak Tuhan kita harus siap sedia? Di sini Tuhan Yesus memberikan empat gambaran.

Pertama, Tuhan Yesus mengingatkan kita dengan kisah zaman Nabi Nuh sebelum air bah datang. Ketika itu orang-orang beraktivitas seperti biasa… melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa: makan, minum, kawin, mengawinkan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sampai pada suatu hari Nuh masuk ke bahtera.

Saya membayangkan apa yang dilakukan Nuh ini, Saudara… dia setiap hari mengingatkan, berkhotbah mengenai bencana air bah yang akan datang, tetapi orang-orang tidak percaya. Nabi Nuh melakukan itu setiap hari selama 120 tahun dan selama itu mereka tidak percaya. Coba, Saudara bayangkan!

Karena itu Tuhan Yesus menggunakan peristiwa itu untuk mengingatkan kita. Kita tidak tahu kapan Dia akan datang. Dia akan datang pada saat yang tidak kita sangka-sangka. Itu pertama.

Kedua, Tuhan Yesus menggunakan gambaran dua orang yang bekerja di ladang. Pada waktu Tuhan Yesus datang, yang satu dibawa sedangkan yang lain ditinggalkan. Ini apa artinya, Saudara? Ini memberi tahu kita bahwa Tuhan Yesus datang ketika Saudara sedang melakukan kegiatan atau aktivitas sehari-hari. Tuhan Yesus datang pada saat yang tidak kita sangka-sangka… saat kita bekerja di kantor… atau di mana pun kita sedang bekerja.

Ketiga, Tuhan Yesus mengungkapkan, bila ada dua orang wanita sedang menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ini menunjukkan persis seperti ketika ibu-ibu sedang melakukan pekerjaan rumah… memasak, bersih-bersih rumah; tiba-tiba Tuhan Yesus datang. Mungkin Saudara sedang mencuci pakaian… tiba-tiba Tuhan datang.

Keempat. Tuhan Yesus mengumpamakan kedatang-Nya seperti pencuri. Ini juga mengungkapkan bahwa Tuhan Yesus datang pada saat-saat yang tidak kita duga. Pencuri datang ketika kita tidur. Tidur adalah kegiatan rutin setiap hari. Kalau si pencuri sudah kirim whatsapp lebih dulu ke Saudara bahwa nanti malam dia akan mencuri di rumah saudara; Saudara pasti sudah siap-siap. Betul, Saudara? Melalui perumpamaan ini Tuhan Yesus mengingatkan kita supaya kita jangan terlena dengan rutinitas. Pagi berangkat, sore pulang, malam tidur… terus begitu setiap hari… itu akan menjadi rutinitas. Rutinitas itu bisa membuat Saudara dan saya terlena, tidak lagi memikirkan kedatangan Tuhan. Dengan demikian, perumpamaan ini juga sekaligus mengingatkan kita agar kita selalu menghadirkan Tuhan dalam setiap aktivitas atau kegiatan kita sehari-hari.

Saudara… itulah alasan mengapa kita harus selalu siap sedia, yaitu karena Tuhan akan datang pada saat yang tidak kita duga. Setelah kita tahu alasan perlunya kita selalu siap sedia, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita siap sedia? Rasul Paulus menjawab pertanyaan ini dalam Surat Roma yang sudah kita baca tadi. Rasul Paulus juga menggunakan gambaran kehidupan sehari-hari supaya kita siap sedia di dalam Tuhan. Pertama, Rasul Paulus mengingatkan agar engkau siap sedia, pertama-tama engkau harus bangun. Engkau harus bangun dari tidurmu… engkau harus bangun dari dosa-dosa yang engkau lakukan. Engkau tidak boleh terlena… engkau tidak boleh tertidur oleh dosa-dosa yang engkau lakukan.

Dengan bangun Tuhan mengingatkan supaya kita kembali memedulikan jiwa kita dan kepentingan kekal kita. Fisik… tubuh ini memang penting. Tetapi, ketika kita hanya berfokus pada hal-hal fisik, hati-hati… kita bisa terlena. Karena itu, sekali lagi… Paulus mengatakan, “Bangun… ayo, bangun!” Perhatikanlah kehidupan kekalmu! Perhatikanlah kehidupan sehari-harimu karena itu yang akan menentukan kehidupan kekalmu.

Kedua, setelah mengatakan ‘engkau harus bangun’, Rasul Paulus mengatakan, ‘engkau harus berpakaian’. Ini berarti bahwa kita harus menanggalkan perbuatan-perbuatan lama… perbuatan-perbuatan kegelapan… perbuatan-perbuatan yang tidak berkenan di mata Allah. Saudara bisa membayangkan nasihat ini dengan momen ketika Saudara bangun tidur. Setelah semalaman tidur, lalu pagi hari Saudara bangun… mungkin rambut saudara awut-awutan (berantakan-red). Wajah juga masih tidak karuh-karuhan, baju tidur sudah lusuh. Masak dalam keadaan seperti itu Saudara jalan-jalan di luar rumah padahal hari sudah siang? Paulus katakan, tanggalkan bajumu yang lusuh itu… berdandanlah… kenakanlah Tuhan Yesus Kristus. Rasul Paulus memberi gambaran bahwa Tuhan Yesus Kristus bagi orang percaya persis seperti pakaian. Pakaian itulah yang menjadi senjata dan benteng hidup kita. Ia mempersenjatai dan membentengi kita dari perbuatan-perbuatan jahat yang ingin menghancurkan kita. Di sini Paulus juga mengingatkan bahwa Yesus Kristus adalah pakaian terbaik bagi orang-orang percaya. Tanpa pakaian, kita telanjang. Karena itu Paulus mengingatkan kita untuk mengenakan Kristus agar kita pantas di hadapan Allah.

Setelah pertama bangun… kedua mengenakan pakaian Yesus Kristus… ketiga, saatnya kita siap sedia berjalan bersama Tuhan Yesus. Berjalan bersama Tuhan Yesus diumpamakan kita menjalani hidup kita dengan sopan seperti pada siang hari. Kehidupan pada siang hari berarti kehidupan terang. Menggunakan pakaian Yesus Kristus berarti kita hidup di dalam terang.

Paulus juga mengingatkan bila engkau hidup di siang hari, jangan hidup seperti di malam hari. Gak cocok (tidak cocok-red). Hidup di siang hari, Paulus ingatkan, jangan dalam pesta pora dan kemabukan. Itu pertama. Kedua, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu. Pesta pora dan kemabukan di dalamnya ada percabulan dan hawa nafsu. Itu rupanya satu gandengan, Saudara. Dan bila ada percabulan dan hawa nafsu, di sana pasti ada perselisihan dan iri hati. Semua kehidupan seperti itu adalah kehidupan yang tidak cocok dengan kehidupan siang, kehidupan dengan pakaian Yesus Kristus.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan… Setelah kita bergumul dengan firman Tuhan, saya kembali kepada pertanyaan awal saya: Apakah Saudara siap sedia?

Jawaban yang sesungguhnya bukan sekadar ‘siap’ atau ‘tidak siap’ melainkan apakah kita sudah mempersiapkan diri atau belum. Untuk itu, untuk mengakhiri perenungan ini, saya ingin memberikan gambaran mengenai bagaimana kita harus mempersiapkan diri agar kita siap sedia ketika Tuhan datang. Untuk itu saya minta seorang jemaat menemani saya (seorang jemaat naik ke mimbar).

Andy Kirana        : Dengan siapa?

Nadia                   : Nadia.

Andy Kirana        : Dengan Mbak Nadia. Mbak Nadia, saya minta tolong ini dibuka (menyerahkan goddybag. Nadia membuka goodybag dan mengangkat sekeranjang buah yang ada di dalam goodybag). Mbak Nadia, ini ada beberapa macam buah. Ini buah apa Mbak? (mengangkat sebiji buah).

Nadia                   : Jambu…

Andy Kirana        : Masak ini jambu?

Nadia                   : Kedondong.

Andy Kirana        : Ya, kedondong bukan jambu. Kalau yang ini? (mengangkat satu biji buah lain).

Nadia                   : Salak.

Andy Kirana        : Betul. Kalau yang ini?

Nadia                   : Duku.

Andy Kirana        : Betul. Ada tiga macam buah: kedondong, salak, dan duku. Buah kedondong ini luarnya halus atau kasar, Mbak?

Nadia                   : Halus.

Andy Kirana        : Luarnya halus. Tetapi, Mbak Nadia tahu atau tidak, biji kedondong itu halus atau kasar?

Nadia                   : Kasar.

Andy Kirana        : Kalau salak?

Nadia                   : Luarnya kasar, dalamnya halus.

Andy Kirana        : Ya… betul. Nah, kalau duku, Mbak?

Nadia                   : Luarnya halus, dalamnya halus.

Melalui tiga macam buah ini, saya jadi ingat lagu “Dondong opo salak, duku cilik-cilik…” (Andy Kirana menyanyikan lagu ini, diikuti oleh jemaat). Masih ingat lagu jadul ini ya, Saudara. Ternyata lagu ini mempunyai nilai filosofi dan makna spiritual yang tinggi untuk membentuk karakter Kristus dalam hidup kita.

Oleh karena itu, Saudara-saudara… untuk mempersiapkan diri agar kita siap sedia; kita perlu bertanya: apakah hidup kita sekarang ini seperti kedondong… yang di luarnya halus, tetapi di dalamnya berduri, dan terkadang buahnya juga terasa asam? Begitu juga dengan kita, ada kalanya kita terlihat halus di luarnya… kelihatan rapi dan sopan, akan tetapi di dalam seperti duri buah kedondong… penuh kebencian dan dendam. Atau hidupmu seperti salak: kulitnya coklat legam dan tajam… kasar, grusah-grusuh, mudah marah… tapi sebenarnya dirimu adalah seorang dengan pribadi yang lembut… hatimu baik? Tuhan menghendaki kedua-duanya, Saudara… luar-dalam harus halus seperti nasihat Paulus, bila kita memang mempersiapkan hidup kita untuk kedatangan Tuhan. Oleh karena itu, kita harus menjadi duku, yang kulitnya halus, dalamnya juga halus, dan rasanya juga manis. Ini adalah gambaran yang terbaik dari karakter seseorang.

Bagaimana Saudara… sudahkah kita siap sedia menyambut kedatangan Tuhan? Mari kita menjawab dengan penuh pengharapan dan keyakinan: “Tuhan datanglah segera, kami siap menyambut-Mu.” Amin.

Exit mobile version