Site icon

Tetap Setia di Saat Kritis

Tetap Setia di Saat Kritis (Lukas 1:26-56)

oleh : Andy Kirana

 

Shalom. Puji Tuhan, Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, saat ini kita akan bersama-sama belajar dari seorang tokoh, yaitu Maria. Pribadi yang setia menjalani hidup dalam Tuhan. Sekalipun mengalami banyak sekali krisis di dalam hidupnya, Maria tetap setia kepada Tuhan. Saya mengajak Saudara untuk membuka Alkitab dari Perjanjian Baru. Kita membuka Injil Lukas pasal 1 dari ayat 26 sampai ayat 56. Tetapi, saya akan membaca dari ayat 26 sampai 38, sedangkan ayat-ayat yang lainnya kita akan melihatnya kemudian.

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, jelas sekali ayat-ayat ini berbicara mengenai kesetiaan. Namun, kalau kita memperhatikan sekarang ini nampaknya yang namanya kesetiaan itu begitu langka. Dalam kenyataannya banyak orang tidak setia. Betul, Saudara? Yang jadi pertanyaan, mengapa sekarang ini semakin banyak orang menjalani hidupnya dengan tidak setia?

Lama saya memikirkan pertanyaan itu dan saya mendapati jawaban ini. Seorang pria itu menjadi tidak setia karena sebelum menikah, wanitanya cantik, seksi, gitu ya… tetapi setelah menikah sang wanita tidak lagi cantik dan seksi, jadi gemuk, Saudara. Tidak langsing, tapi langsung. Katanya begitu. Sebaliknya, wanita menjadi tidak setia karena sebelum menikah laki-lakinya gagah, ganteng, keren… tetapi setelah menikah (rambut kepalanya) mbrodholi kabeh (semua rontok). Iya, saya ndak tahu, ya… kalau ini pitik (ayam), ya… bisa jadi ditotoli (dipatoki) sama babone (induknya). Saudara boleh percaya atau tidak tapi ini pitik lho, ya, Saudara. Ingat ini ayam. Tapi bisa jadi kita juga mencontoh perilaku ayam ini.

Sekarang, mari kita coba mengerti apa yang dinamakan dengan setia ini.

Ada yang mengatakan bahwa setia itu adalah hati yang tidak mendua sampai akhir hidupnya. Orang Jawa mengatakan seperti suami dan istri yang setia sampai kaken-ninen. Namun, ada satu hal yang sangat penting, yang perlu kita pahami, terutama di dalam kehidupan keluarga.

Ada satu ungkapan yang indah, Saudara… yang namanya pernikahan itu diikat oleh cincin yang terdiri dari tiga ring. Yang pertama adalah engagement ring (cincin pertunangan). Yang kedua adalah wedding ring (cincin pernikahan). Bila kita berbicara mengenai kesetiaan, kedua cincin tersebut belum komplit. Mengapa? Karena setelah kita menikah, kesetiaan itu akan diuji dengan cincin yang ketiga yang dinamakan dengan suffering. Penderitaan! Bagaimana saat penderitaan, saat masalah kritis terjadi di tengah-tengah rumah tangga; apakah kita juga masih setia dengan pasangan kita? Oleh karena itu, Saudara, saya ingin mengajak Saudara belajar dari Maria. Bagaimana Maria di dalam situasi yang sangat kritis tetap setia di dalam hidupnya?

Pertama, kita akan melihat, kesetiaan Maria itu ditunjukkan melalui keberaniannya.

Keberanian dalam hal apa? Keberanian mengambil keputusan di dalam hidupnya. Mari, Saudara perhatikan! Saat malaikat Gabriel datang menemui Maria, ia mengatakan, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Nah, Saudara yang dikasihi Tuhan, di sini kita melihat salam atau shalom yang secara harafiah bisa berarti sesuatu hal yang sangat membahagiakan. Sesuatu hal yang sangat membuat suka cita. Namun, justru inilah yang dipertanyakan oleh Maria. Apa yang dimaksud dengan salam itu? Apa yang dimaksud dengan kegembiraan yang akan aku terima melalui Tuhan? Malaikat pun lalu mengatakan, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Ini merupakan berkat yang sangat besar. Maria mendapatkan kasih karunia di hadapan Tuhan.

Sering kali kita menganggap bahwa kasih karunia adalah suatu hal yang pasif. Kita  mengira bahwa kasih karunia kita terima begitu saja. Padahal dari apa yang disampaikan oleh malaikat Gabriel, kita tahu bahwa di dalam kasih karunia ada tanggung jawab yang sangat besar, yang harus ditanggung oleh Maria. Apa itu, Saudara? Hamil tanpa suami! Itulah tanggung jawab besar yang harus diemban oleh Maria. Dan, apakah ia berani memutuskan menerima kasih karunia itu atau tidak? Karena, faktanya, kalau kita lihat Ulangan 22 ayat 23 sampai 24 ada konsekuensi yang besar; saya percaya Maria tahu persis apa konsekuensinya saat ia menerima kasih karunia ini. Ayat itu mengatakan, “Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan—jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati”. Saudara perhatikan, konsekuensi hamil tanpa suami adalah dirajam batu sampai mati.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Seandainya kita sebagai Maria, saya percaya kita pasti menghadapi dilemma, “Mau terima kasih karunia itu atau tidak, ya? Tapi, kalau aku terima, konsekuensinya aku mati dilempari batu.” Nah, Saudara… di sinilah kita melihat sosok Maria yang begitu hebat. Sekalipun ia paham betul konsekuensi menerima kasih karunia ini, dia berani menerima tanggung jawab ini. Ia berani memutuskan, “Ya, aku terima kasih karunia-Mu, Tuhan… sekalipun aku harus menghadapi akibat yang sangat berat itu.”

Keberanian Maria itu menginspirasi kita. Keberanian Maria ini juga memberikan kekuatan kepada kita. Karena keberaniannya, Maria justru bisa bertahan sekalipun ia harus menghadapi situasi sangat sulit. Dan, berkat keberanian Maria inilah kita menyaksikan keajaiban di tengah-tengah krisis hidup. Saya kira ini juga berlaku bagi Saudara dan saya. Amin? Itu yang pertama Saudara.

Yang kedua, Maria menunjukkan kesetiaannya kepada Allah dengan kepercayaannya yang begitu teguh.

Ia percaya sepenuhnya oleh apa yang disampaikan malaikat Gabriel.  Mari kita pikirkan satu pertanyaan ini: hamil tanpa bersetubuh? Hamil tanpa benih seorang laki-laki? Mungkin atau tidak, Saudara? Tidak mungkin! Mustahil! Sekalipun Maria menjelaskan secara jujur dan berulang-ulang, siapa yang mau percaya? Mana ada wanita hamil tanpa benih seorang laki-laki? Dari dulu sampai sekarang pun belum ada. Dunia tidak akan percaya. Dunia tidak akan mengakui. Saudara… ini kesulitan kedua yang dihadapi Maria. Coba, Saudara bayangkan seandainya Yusuf bertanya kepada Maria, “Kamu hamil sama siapa?” Saat Maria mengatakan, “Aku mengandung karena Roh Kudus.” Kira-kira Yusuf percaya atau tidak, Saudara? Pasti tidak percaya! Seandainya orang tua Maria juga bertanya… orang-orang di sekeliling Maria juga bertanya, ‘kamu hamil sama siapa?’, lalu Maria menjawab, ‘tidak sama siapa-siapa’… orang-orang itu pasti akan mengatakan, “Tidak mungkin!”

Maria juga menghadapi masalah itu. Ia juga mempertanyakan, “Bagaimana mungkin aku hamil tanpa persetubuhan dengan laki-laki? Bagaimana mungkin aku hamil tanpa benih seorang laki-laki?” Beginilah jawaban Malaikat Gabriel, “Roh Kudus akan turun atasmu.” Di sini kita melihat bagaimana kepercayaan Maria itu ditunjukkan tanpa keraguan sedikit pun. Maria sungguh percaya sekalipun dunia ini tidak percaya… sekalipun orang-orang di sekelilingnya tidak percaya… sekalipun mungkin Yusuf juga tidak percaya… sekalipun orang tua atau calon besannya tidak mempercayainya.

Saudara, itu adalah hal luar biasa yang ditunjukkan Maria. Maria percaya bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Belajar dari Maria, kepercayaan itu juga harus menjadi pegangan kita di dalam hidup ini. Sekalipun orang-orang di sekitar kita tidak mempercayai akan apa yang akan kita terima dari Tuhan; namun kita tetap mempercayai sebagaimana halnya Maria percaya. Saya percaya hingga saat ini mukjizat Maria masih berlangsung. Amin.

Yang ketiga, Maria menunjukkan kesetiaannya melalui ketaatannya yang penuh.

Saudara… kalau kita bicara mengenai ketaatan, sering kali kita berbicara bahwa ketaatan itu ada itung-itungannya. Kita ngitung itu untung atau rugi. Saya ambil satu contoh, saat Saudara naik motor atau mobil. Saat Saudara ada di traffic light. Saat lampu itu merah, pasti Saudara berhenti kan? Betul? Ya, pasti Saudara berhenti. Yang jadi pertanyaan, mengapa Saudara berhenti? Karena pengen taat. Betul? Tapi, ketataan Saudara tersebut didasarkan pada untung-rugi? Karena apa? Kalau saya melanggar lampu merah, saya yang rugi. Nanti saya ditilang. Kalau saya taat, saya untung… saya tidak ditilang. Nah, sering kali ketaatan kita, kita tunjukkan melalui untung rugi seperti itu.

Bagaimana ketaatan Maria terhadap Allah? Perhatikan perkataan Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan.”  Perhatikan Saudara! Inilah ketaatan yang ditunjukkan oleh Maria. Dari kalimat yang diungkapkan Maria tersebut kita melihat bahwa ketaatan seorang Maria ditunjukkan melalui kesadaran dirinya. Ia tahu siapa dirinya di hadapan Sang Tuan. Ia tahu dia adalah hamba, dia adalah budak, ia adalah milik Sang Tuan dan tidak punya hak terhadap kehidupannya. Ia taat sepenuhnya atas perintah Sang Tuan. Ia menyadari hal itu. Saudaraku… selain sadar akan siapa dirinya, Maria juga sadar siapa dirinya di hadapan Allah. Maka, ia melanjutkan kalimat di atas: “jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Maria tidak hanya menyadari siapa dirinya di hadapan Sang Tuan, tapi ia juga menyadari siapa Pemilik hidupnya, siapa Tuan atas hidupnya. Di sinilah kita melihat bagaimana ketaatan itu sangat berisiko dan ini yang membawa kesulitan dan pergumulan di dalam hidup Maria.

Coba seandainya ketaatan Maria tersebut didasarkan pada untung-rugi. ‘Kalau aku taat akan perintah Allah… rugi aku, aku rugi besar. Aku bisa mati sebagai konsekuensinya.’ Maria sama sekali tidak hitung-hitungan dengan Tuhan. Dia sadari siapa dirinya, aku ini hamba dan Allah adalah Tuanku… dan dia menyadari siapa yang jadi Pemilik atas hidupnya, jadi Tuan atas hidupnya.

Saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus… di sini kita diajari satu hal yang sangat penting: ketika perkataan manusia tidak berdaya kuasa ilahi bekerja. Amin. Saudara tahu apa yang saya maksud? Ketika perkataan Maria tidak akan mungkin bisa memberikan jawaban memuaskan atas kehamilannya, kuasa Allah bekerja di dalam hidupnya. Itu yang terjadi. Di sini kita melihat bahwa ketaatan ini semacam ujian untuk mengalami intervensi ilahi.

Yang terakhir… yang keempat, Saudara. Maria menjalani kehidupannya dengan senantiasa memuji Tuhan.

Saudara bisa membaca di Lukas 1:46-55 mengenai pujian Maria. Ayat itu berbicara hal yang sangat menakjubkan. Karena apa? Karena di dalam keadaan yang sangat lemah… di dalam situasi yang kritis… Maria bersukacita. Saudara, Maria sebenarnya memiliki dua pilihan saat menghadapi situasi yang kritis itu. Dia bisa mengumpat dan dia bisa memuji Tuhan. Jika Saudara meneruskan membaca Lukas 1, di sana diceritakan Maria bertemu Elisabet, saudaranya. Kita melihat bagaimana nubuat Elisabet itu memberikan kekuatan kepada Maria. Berbahagialah ia karena sudah mempercayai bahwa apa yang dikatakan Tuhan pasti akan terjadi. Dan itulah yang membuat Maria memuji, “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira kerena Allah, Juruselamatku.” Sekali lagi, inilah yang luar biasa di dalam diri Maria: sekalipun hidupnya berada di dalam situasi kritis, Maria masih bisa memuji Tuhan.

Saudara yang dikasihi Tuhan… saya ingin  menunjukkan sesuatu yang sangat penting: bagaimana sikap Maria ketika hidupnya menghadapi saat kristis. Sikap itu juga bisa kita terapkan di dalam kehidupan kita.

Saya ingin menunjukkan kepada Saudara bagaimana menerapkan prinsip memuji Tuhan di saat kritis… tapi saya meminta bantuan seseorang untuk maju. Saya ingin tunjukkan sesuatu supaya saudara bisa menerapkan prinsip ini dalam kehidupan bersama Tuhan. (Ibu Angel maju dan terjadi percakapan berikut. A: Andy Kirana, B: Angel)

A: Dengan ibu siapa?

B: Ibu Angel

A: Saya mau bertanya kepada bu Angel: kalau di rumah sering masak air, tidak?

B: Sering

A: Masaknya pakai apa ibu?

B: Pakai dispenser

A: Ibu pernah masak air pakai ceret atau teko? (menunjukkan teko).

B: Pernah

A: Ibu tahu bagaimana caranya?

B: Tahu. Teko dikasih air kemudian dimasak.

A: Di masak di mana, Bu?

B: Di kompor.

A: Sampai kapan Bu?

B: Sampai mendidih.

A: Taunya kalau air mendidih?

B: Bunyi ngikkkkk…. gitu.

A: Masak ngikkk… gitu? Ngikkkk atau nginggg heee…

Mengapa bisa bunyi?

B: Karena tekonya.

A: Tekonya kenapa bu?

B: Nggak tahu pak…hee

A: Mengapa bisa bunyi? Karena ketika air mendidih akan keluar uapnya dan uapnya

menekan mulut teko ini, sehingga menimbulkan bunyi nginggggg…..

Terima kasih Bu Angel sudah membantu saya memeragakan masak air. Teko ini untuk

kenang-kenang dari saya….terimalah.

B: Terima kasih pak.

A: Sama-sama ibu. Tuhan memberkati.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan… pagi hari ini kita diajari oleh Maria hendaknya hidup kita seperti ceret atau teko. Tahu maksud saya? Sekalipun menghadapi situasi yang kritis di dalam hidupnya, Maria tetap memuji Tuhan. Karena itu, Saudara… ingatlah ceret atau teko… meski dalamnya mendidih, mulutnya menyanyi. Inilah yang harus kita praktikkan di dalam hidup ini, seperti Maria: ”Jiwaku memuji Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.”

Exit mobile version