Lukas 2:8-20
Oleh: Sepridel Hae Tada
Saudara-saudara, bulan Desember identik dengan bulan Natal. Hal ini terlihat dari dekorasi Natal yang bermunculan di mana-mana. Di gereja-gereja, sekolah-sekolah Kristen, kampus-kampus termasuk kampus kita tercinta ini, bahkan berbagai pusat perbelanjaan juga tidak mau ketinggalan. Pohon natal yang unik-unik juga mulai bermunculan. Bahkan di tahun 2010, sebuah pohon Natal termahal di dunia di pasang di sebuah hotel mewah di Abu Dhabi. Pohon natal yang tingginya sekitar 13 meter ini sebenarnya dibuat dari cemara buatan. Lalu apa yang membuatnya mahal? Rupanya hiasan dan pernak perniknya yang mahal karena terdiri dari ratusan jenis batu permata, emas dan perak yang mencapai hampir 100 miliar! Selain itu, lagu-lagu Natal juga mulai terdengar. Semua nuansa ini membuat para mahasiswa perantauan semakin galau, bukan saja karena UAS yang di depan mata, tetapi karena kepengen cepat pulang ke kampung halaman untuk natalan bersama keluarga!
Natal menjadi peristiwa yang dinantikan dengan antusiame yang tinggi. Berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut Natal. Natal seolah bukan Natal jika tanpa adanya pohon Natal, dekorasi natal, lagu-lagu natal, kue-kue natal, film-film natal, dan lain sebagainya. Jikalau kita sebagai umat Tuhan tidak benar-benar memikirkan esensi natal, maka perayaan natal kita tidak ada bedanya dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan yang menjadikan momen natal sebagai kesempatan untuk menjual barang-barang kebutuhan natal! Semua gambaran natal masa kini sangat jauh berbeda dengan suasana natal pertama di kota kecil Betlehem.
Natal pertama adalah natal yang sederhana, namun membawa sukacita dan damai sejahtera.
Inilah yang kisahkan dalam teks yang kita baca.
I. Kelahiran dalam kesederhanaan
Dalam kehidupan diabad pertama, kelahiran putra raja atau kaisar sebagai pewaris tahta adalah hal yang sangat dinantikan dan disambut dengan meriah dan mewah. Hal ini juga yang terlihat ketika seluruh Inggris begitu antusias menyambut kelahiran the Royal baby, yaitu anak dari pangeran William pada Juli 2013 lalu. Tidak demikian dengan kelahiran Yesus. Tidak ada sambutan meriah nan akbar sekalipun Ia adalah Raja di atas segala raja.
Lukas 2:7 mencatat, “dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” Dalam kisah-kisah drama Natal, seringkali digambarkan Yusuf dan Maria keliling-keliling cari penginapan atau hotel, tetapi semuanya sudah penuh! Lalu akhirnya Yusuf menemukan sebuah kandang dan mereka memutuskan bermalam di sana. Apakah memang seperti itu Bapak Ibu?
Mari kita memperhatikan frasa “tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” “Rumah penginapan” ini memakai kata Yunani kataluma yang berarti ruang tamu (guest room) sebuah rumah. Sedangkan “rumah penginapan komersil” yang bisa disewa seperti dalam kisah orang Samaria yang murah hati memakaikata pandocheion (Lukas 10:34-35).
Istilah kataluma ini muncul kembali di Markus 14:14; Lukas 22:11, yang mengacu pada ruang tamu di bagian atas sebuah rumah yang dipakai Yesus bersama para murid untuk perjamuan Paskah sebelum Yesus ditangkap. Para murid, beberapa perempuan, Maria, ibu Yesus dan saudara-saudara Yesus berkumpul dan berdoa bersama di kataluma sebuah rumah sebelum Pentakosta tiba (Kis. 1:13-14). Jadi, kataluma adalah kamar tamu yang biasanya disediakan jika ada kerabat bahkan tamu asing untuk beristirahat sejenak melepas lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Namun, entah kenapa semua kataluma rumah di kota Betlehem pada saat itu penuh semuanya. Mungkin karena padatnya arus mudik penduduk untuk mengikuti sensus penduduk yang diperintahkan kaisar Agustus. Dan tentu saja Yusuf tidak bisa booking online sebuah guest room para kerabatnya karena belum ada internet!
Pada akhirnya Yusuf dan Maria hanya kebagian ruangan tempat hewan peliharaan tinggal di malam hari. Di situlah bayi Yesus lahir. Tentu tidak ada ranjang yang empuk sehingga akhirnya setelah bayi Yesus dibungkus dengan lampin untuk menghangatkan tubuhnya, Ia hanya bisa dibaringkan di sebuah palungan! Sebuah tempat makan hewan yang dari kayu atau pahatan batu. Tentu itu bukan sebuah palungan bersih seperti yang telihat di dekorasi natal atau kartu-kartu natal. Ini adalah palungan bekas pakai yang mungkin saja ada sisa-sisa makanan. Mengenai aroma ruangan itu tentu saja bukan aromaterapi seperti di ruang spa yang harum. Yang ada adalah bau kotoran hewan yang bercampur bau hewan itu sendiri karena mereka tidak mandi 2x sehari pakai sabun detol! Saya yakin tidak ada seorang ibu pun di dunia yang memimpikan apalagi merencanakan untuk melahirkan anak pertamanya di tempat seperti ini! Namun hari itu, bayi Yesus, Raja di atas segala raja, terbaring di sebuah palungan kotor pada sebuah“kandang” hewan.
Kesederhanaan ini bukan hanya karena tempat lahirnya tetapi juga para tamu Natal pertama, yaitu para gembala. Gembala adalah kelompok yang dianggap profesi kelas bawah dan tidak dipercayai ketika memberi kesaksian di sebuah pengadilan! Namun, mereka inilah kelompok pertama yang mendengar berita kelahiran Yesus dari seorang malaikat. Mereka dengan begitu antusias di tengah malam bahkan mungkin subuh berjalan sekitar 3-4 km dari area padang untuk mencari bayi Yesus di kota Betlehem sesuai petunjuk malaikat Tuhan. Mungkin saja ada bayi-bayi lain yang lahir di Betlehem pada waktu itu, namun hanya ada satu bayi yang terbaring dalam palungan! Merekalah yang mengunjungi bayi Yesus yang terbaring di palungan. Mereka tidak membawa parsel hadiah atau perlengkapan bayi untuk diberikan kepada Maria dan Yusuf. Para gembala begitu bersukacita karena dengan mata kepala sendiri mereka telah melihat bayi Yesus yang kelak menjadi Juru Selamat bagi manusia berdosa.
Hanya para gembala miskin dan sederhana ini yang mengunjungi bayi Yesus bukan rombongan orang majus kaya raya yang membawa berbagai jenis persembahan berharga! Anehnya di wallpaper, kartu Natal, bahkan drama-drama Natal seringkali digambarkan bahwa para gembala dan orang 3 orang majus sama-sama mengunjungi bayi Yesus di palungan! Ini adalah gambaran yang tidak tepat! Kalau kita mencermati injil Matius, tidak dicatat berapa jumlah orang majus. Namun mengapa bisa muncul 3 orang? Dari jenis persembahan yang di bawa yaitu 3 jenis: emas, kemenyan, dan mur. Padahal, tidak mungkin mereka hanya bertiga karena itu terlalu berbahaya menempuh perjalanan panjang sekitar 1300 km dari daerah Persia menuju Yerusalem selama lebih 30an hari! Jadi, tentu jumlah mereka lebih dari 3 orang. Selain itu, Yesus bukan lagi bayi yang baru sajalahir dan terbaring di palungan ketika dikunjungi oleh rombongan orang majus. Mattius 2:11 mencatat bahwa orang majus masuk ke dalam rumah dan melihat Anak itu bersama Maria ibu-Nya. Umur Yesus pada saat itu di bawah dua tahun, darimana kita tahu? Dari usia anak-anak yang seumuran Yesus yang di bunuh oleh Herodes berdasarkan perkiraan orang majus.
Kelahiran di kandang hewan, dibaringkan di palungan, dikunjungi oleh gembala miskin dan sederhana mewarnai setting Natal pertama. Natal menjadi spesial bukan karena meriahnya perayaan, indah dan uniknya dekorasi dan pohon natal, banyaknya kue-kue dirumah, namun karena SIAPA yang lahir di hari itu.
Perayaan natal seharusnya menolong kita mengevaluasi diri, apakah sungguh-sungguh kita berjumpa secara pribadi dengan Yesus, yang kelahirannya kita rayakan? Ataukah kita sekadar mengikuti berbagai ibadah, kebaktian dan perayaan Natal tanpa pemaknaan? Masihkah kita antusias dan bisa berefleksi ketika mendengar kisah-kisah Natal yang mungkin saja sama setiap tahun dan telah dimulai sejak kita sekolah minggu? Atau kita kadang merasa bosan dan berkata, “Yah kisah orang majus lagi, gembala lagi, Maria Yusuf lagi!” Jangan lupa, andaikata 1000 kali kita mendengar kisah yang sama, maka 1000 kali itu juga kita diingatan akan kasih Allah bagi manusia berdosa! Lalu, jika Natal kita maknai sebagai perayaan ulang tahun Yesus, maka kado seperti apa yang akan kita persembahkan bagi Dia?
Natal pertama memang dalam setting kesederhanaan, namun ini adalah peristiwa yang agung. Mengapa? Karena ini adalah kelahiran yang membawa sukacita dan damai sejahtera.
II. Kelahiran yang membawa sukacita dan damai sejahtera
Beberapa waktu lalu saya berbincang-bincang dengan beberapa orang. Iseng-iseng saya bertanya, apa sih yang berkesan dari Natal? Jawabannya sangat bervariasi. Ada yang berkata karena akan ada banyak kue-kue natal dan kiriman parsel ke rumah. Ada yang bilang karena jelang natal adalah masa liburan panjang dan kesempatan untuk pulang kampung, perbaikan gizi alias penggemukan badan! Nah kalau yang ini ketahuan kalau anak kos karena mungkin sering makan indomie! Jadi sangat memimpikan makan enak di rumah dan gratis! Ada juga yang menjawab karena suka dengan lagu-lagu natal, pohon natal, dan segala pernak pernik natal. Hal-hal diatas memang membawa sukacita tersendiri. Namun sesungguhnya esensi sukacita Natal tidak teletak pada semua itu.
KelahiranYesus membawa sukacita dan damai sejahtera. Berita inilah yang diberitahukan oleh malaikat pada sekelompok gembala di padang sekitar kota Betlehem. Kehadiran malaikat, sosok makluk sorgawi yang suci tentu saja membuat para gembala ketakutan! Pada ay. 10-12, “lalu kata malaikat Tuhan itu kepada mereka: “jangantakut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan di kota Daud. Dan inilah tanda bagimu: kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan. Bahkan proklamasi kelahiran Yesus ini didukung oleh sejumlah besar paduan suara malaikat surga yang memuji Allah, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera dibumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (ayat 13-14).
Kelahiran Yesus, Sang Juru Selamat menjadi kesukaan besar bagi segala bangsa karena hanya dengan karya penebusan Kristus di kayu salib maka pada akhirnya nanti segala suku, bangsa, kaum, dan bahasa akan sama-sama menyembah Allah di surga (Wahyu 5:9; 7:9). Pujian dari para malaikat memiliki dua makna: 1. Surga bersukacita dan memuji Allah karena keselamatan yang sedang dikerjakan di tengah-tengah manusia. Kelak orang-orang tebusan milik Allah akan kembali memuji dan menyembah Allah. 2. Hadirnya damai sejahtera (eirene) atau shalom di bumi. Ini adalah damai sejahtera vertikal, yaitu antara manusia dengan Allah. Damai sejahtera menjadi nyata karena Kristuslah yang mendamaikan manusia berdosa dengan Allah yang maha kudus. Kristuslah yang mendamaikan manusia berdosa, musuh-musuh Allah yang harus dimurkai menjadi anak-anak Allah. Damai sejahtera Allah itu hanya dialami oleh orang-orang yang diperkenan Allah, yaitu orang-orang yang sebenarnya tidak layak, namun beroleh kemurahan Allah, yaitu anugerah keselamatan dari Allah. Dampak dari adanya damai sejahtera vertikal ini adalah damai sejahtera horizontal, yaitu dengan sesama di sekitarnya. Hanya manusia yang telah berdamai dengan Allah yang pada ahirnya bisa berdamai dengan sesama bahkan dengan diri sendiri. Pemulihan relasi dengan Allah memungkinkan kita untuk memulihkan relasi yangretak dengan orang di sekitar kita.
Saudara-saudara, Desember 2007, di akhir semester 7 saya di Petra ini, saya memutuskan untuk pulang mengunjungi keluarga saya, lebih tepatnya kakak-kakak saya setelah hampir sekitar 4 tahun saya tidak pernah pulang. Kali itu liburan jadi lebih menegangkan karena saya diberitahukan oleh kakak saya bahwa papa saya akan berada di rumah kakak saya ketika saya pulang. Ya, tentu saja agak asing bagi saya untuk bertemu dengan papa saya setelah belasan tahun kami berpisah dan tanpa komunikasi, karena setelah mama saya meninggal saat saya berumur 6 tahun, papa saya menikah lagi dan tinggal di kota yang berbeda dengan kami anak-anaknya! Peristiwa ini sebenarnya menimbulkan sakit hati, kekecewaan dan kemarahan karena papa saya tampak lebih sibuk dengan keluarga barunya seolah lupa kalau beliau memiliki 7 orang anak yang berumur 6-26 tahun! Sejak saat itu, kami semua harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup tanpa dukungan orang tua dan keluarga besar.
Saya tahu bahwa PR terbesar saya sejak saya bertobat saat SMA adalah pemulihan relasi dengan papa saya. Pembina rohani saya sejak SMA berulangkali mengingatkan saya bahwa saya harus berdamai dengan papa saya, karena saya adalah orang yang telah berdamai dengan Allah. Bahkan, nasihat ini juga yang terus diingatkan ketika pembina saya tahu bahwa saya akan bertemu papa saya! Dan saya telah belajar melakukan hal tersebut.
Pada saat saya melihat papa saya, perasaan saya bercamur aduk. Rasanya papa saya semakin bertambah tua karena sudah hampir mencapai usia 70 tahun! Sekalipun papa saya telah mengabaikan kami anak-anaknya, tetapi kami semua masih hidup dalam pemeliharaan Allah, Bapa Sorgawi yang sempurna. Pada saat itu, saya berkata kepada papa saya, “Papa memang bukan papa yang ideal, tetapi dengan kasih Tuhan, saya sudah belajar mengasihi papa, karena bagaimanapun juga papa tetaplah papa kami.” Saya memang telah belajar mengampuni papa saya jauh sebelum saya bertemu dengannya. Tetapi hanya setelah saya mengucapkan kalimat-kalimat tersebut saya benar-benar merasa plong, lega, dan sungguh-sungguh damai.
Saya berpikir bahwa natal tahun itu akan menjadi sesuatu yang berbeda karena kami akan melewatinya bersama papa saya setelah belasan tahun tanpa papa. Namun, ternyata ini sekadar impian saya. Sehari sebelum natal papa saya memutuskan untuk pulang. Bagaimana mungkin, papa saya lebih memilih merayakan Natal-tahun baru bersama dengan mama tiri dan saudara-saudara tiri saya daripada dengan anak-anak maupun cucu kandungnya. Tetapi itulah faktanya! Hal ini benar-benar membuat saya kesal dan enggan ke gereja di malam natal tanggal 24 Desember. Namun, dalam perenungan pribadi saya di malam itu, saya diingatkan oleh Tuhan bahwa dengan atau tanpa papa saya, natal tetaplah natal. Natal menjadi berharga karena kehadiran Yesus yang memberikan sukacita dan damai sejahtera. Bagi saya, ini adalah penghiburan luar biasa yang Tuhan berikan yang sungguh meneduhkan dan mendinginkan hati saya yang panas. Kehadiran Yesus memang membawa sukacita dan damai sejahtera.
Saudara-saudara, Natal berbicara soal sukacita dan damai sejahtera karena pemulihan relasi dengan Allah yang berdampak pada pemulihan relasi dengan sesama. Apakah kita telah menjadi orang-orang yang telah didamaikan denganAllah? Ataukah kita masih menjadi seteru Allah yang harus dimurkai oleh Allah? Andaikata kita telah menjadi orang-orang yang menerima anugerah keselamatan, pertanyaannya adalah apakah kita sedang hidup dalam perdamaian dengan orang-orang di sekitar kita? Misalnya dengan anggota keluarga, orang tua, keluarga besar, rekan kerja, dan lain sebagainya. Jikalau ada konflik atau masalah, mari segera kita selesaikan. Jangan sampai relasi yang bermasalah tersebut mencuri sukacita dan damai sejahtera natal yang seharusnya kita rasakan.
Saudara-saudara, Firman Tuhan yang baru saja kita renungkan mengingatkan kita bahwa sukacita natal bersumber dari kelahiran Yesus Kristus, Juru Selamat bagi segala suku, bangsa, kaum, dan bahasa yang mendamaikan manusia berdosa dengan Allah yang maha kudus. Damai sejahtera secara vertikal, yaitu dengan Allah ini berdampak juga terhadap damai sejahtera horizontal, yaitu dengan sesama. Marilah kita merayakan natal tanpa kehilangan esensi berita natal di tengah segala kemeriahan dan pernak-pernik natal. Maka sukacita dan damai sejahtera natal yang sejati akan terus kita rasakan. Amin.

