Site icon

The Miracle of Life Change

Oleh: Pdt. Andy Kirana

Efesus 4:17–24, 28


Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Pagi ini saya ingin membagikan berkat firman Tuhan dengan satu tema The Miracle of Life Change. Ini adalah satu tema yang sering kita lupakan. Bahkan, sering kali kita memaknai mukjizat hanya sebagai sesuatu yang spektakuler, yang kelihatan dahsyat dan luar biasa. Kita melupakan bahwa sepanjang kehidupan kita dengan Tuhan Yesus, itu adalah mukjizat. Mari saya ajak Saudara-saudara membaca dari Efesus 4:17–24 dan 28:

Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

Saudara-saudara, surat Efesus ini ditujukan kepada mereka yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, mereka yang telah diselamatkan. Saat saya merenungkan surat Efesus ini, saya merasakan jemaat di Efesus seperti dua ekor kupu-kupu ini (menunjukkan gambar kupu-kupu). Yang satu berwarna hitam, yang satu berwarna kuning keemasan. Dua-duanya baru saja keluar dari kepompong. Keduanya bersyukur karena keduanya mengalami kehidupan yang baru.

Si Kuning dan si Hitam hinggap di sebuah ranting. Selaput mereka masih basah, siap-siap tinggal landas.

Si Kuning berkata: “Betapa menyenangkan, bisa keluar dari kepompong dan menikmati hangatnya sinar matahari. Aku tidak sabar terbang dan hinggap di atas bunga dan pepohonan di bawah sana.”

Si Hitam berpaling dan berkata: “Yah, memang enak bisa keluar dari kepompong. Dalam kepompong keadaannya memang gelap dan dingin, namun aku merasa lebih aman. Aku merasa pusing dan ngeri kalau menengok ke bawah dan meluncur ke bunga-bunga itu. Bagaimana kau bisa yakin kalau sayap ini akan bekerja dengan baik?”

Si Kuning menjawab: ”Lihatlah!” ia melompat dari daun ke daun, sayapnya terbuka terbang dan hinggap pada beberapa bunga, lalu membubung memanfaatkan terpaan angin. Kembali ke sisi si Hitam, sambil terengah-engah berkata: “Hitam, sungguh indah! Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kau sangat mengagumkan! Kau sangat indah. Lihatlah dirimu. Ada dunia baru, kita mendapatkan sebuah kehidupan yang sepenuhnya baru! Kita bukan lagi ulat bulu. Kita kupu-kupu. Kita ciptaan baru!”

Si Hitam menggelengkan kepalanya dengan sedih dan berkata: ”Kau tahu, Kuning, aku takut akan ketinggian dan kurang mampu untuk terbang.” Kemudian ia menggulung sayapnya dan berusaha untuk masuk kembali ke dalam kepompong.

Si Kuning berkata: ”Hitam, kau tidak diciptakan untuk tinggal di dalam kepompong. Kau diciptakan untuk terbang. Ayo, kita pergi.”

Si Hitam tidak mau terbang. Ia kembali ke dalam kepompong yang gelap dan penuh dengan ulat. Ia terbaring di sana, di tempat yang tidak nyaman dan berbau busuk.

Si Kuning melompat dan terbang menuju jalan hidup yang sama sekali baru. Hidupnya benar-benar sebuah petualangan.

Saudara, kehidupan jemaat di Efesus persis seperti Si Hitam. Setelah mengalami hidup baru, mestinya mereka menikmati kehidupan yang baru di dalam Tuhan Yesus. Tetapi kenyataannya, mereka justru kembali ke kehidupan yang lama. Mereka kembali ke dalam kegelapan. Firman Tuhan pagi ini mengajarkan kepada kita bahwa orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Allah pasti akan mengalami perubahan hidup. Dan ini merupakan mukjizat yang terjadi di sepanjang kehidupan kita bersama Tuhan Yesus.

Apa yang ingin diungkapkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus? Mari kita akan melihat di ayat 17 sampai ayat 19:

Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.

Ayat ini memberi tahu kita mengapa jemaat Efesus tidak mengalami perubahan, yaitu karena hidup mereka seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka mengenal Kristus, mereka sudah diselamatkan, tetapi kenyataannya mereka hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah. Paulus katakan, “Pikiranmu sia-sia… Apa yang kamu pikirkan kosong, tidak ada gunanya.”

Paulus kemudian menunjukkan kondisi lain hidup mereka. Mereka tidak lagi mau bersekutu dengan Allah. Mereka tidak lagi mau bersekutu bersama-sama. Mereka meninggalkan persekutuan. Apa alasan mereka meninggalkan persekutuan? Paulus katakan, penyebabnya adalah kebodohan yang ada di dalam diri mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka bebal. Mereka sesungguhnya tahu apa yang seharusnya mereka perbuat, tetapi mereka tidak melakukan kebenaran itu. Alasan kedua, karena kedegilan hati mereka. Saudara, hati yang degil itu sama dengan hati yang membatu. Dan, itu bisa terjadi pada kehidupan orang yang percaya. Apa akibatnya? Paulus katakan, perasaan mereka telah tumpul. Apa yang dimaksud Paulus dengan perasaan yang telah tumpul? Kata ‘tumpul’, dalam bahasa aslinya, sebenarnya yang dimaksud begini… kalau setiap hari Saudara mencangkul atau menyabit; apa yang terjadi dengan telapak tangan Saudara? (seorang jemaat menjawab: kapalan). Ya, betul… tangan Saudara akan kapalan. Kalau telapak tangan Saudara kapalan, kapalan itu ditusuk dengan jarum terasa atau tidak? Nggak krasa (tidak terasa-red). Itu yang terjadi dengan kehidupan jemaat di Efesus. Jemaat Efesus tidak lagi bisa merasakan salah ketika melakukan kesalahan atau merasa berdosa ketika melakukan dosa karena perasaaan mereka telah tumpul. Mereka sudah kapalan. Akibat berikutnya, mereka menyerahkan diri pada hawa nafsu dan melakukan dengan serakah segala macam kecemaran.

Perlu Saudara ketahui, Efesus adalah tempat yang sangat terkenal. Di Efesus ada sebuah kuil di mana orang-orang di sana mempercayai bahwa doa dan ibadah mereka akan dikabulkan oleh dewa di dalam kuil tersebut bila ibadah dan doa tersebut dilakukan dengan persetubuhan. Di kuil tersebut disediakan pelacur-pelacur suci. Di Jawa Tengah juga ada tempat seperti itu, ya, Saudara? Saya pernah survei bersama beberapa mahasiswa ke sebuah tempat. Di tempat itu orang-orang melakukan doa dengan cara persis seperti yang dilakukan orang-orang Efesus di kuil tadi.

Saudara, apakah Paulus berhenti dengan menuding kesalahan jemaat Efesus? Tidak. Paulus memberikan jalan keluar. Dalam ayat 22 sampai ayat 24 Paulus menunjukkan apa yang harus dilakukan jemaat untuk mengubah hidup mereka, yaitu dengan satu kata: metamorphoo. Engkau harus mengalami perubahan di dalam hidupmu, itu kata Paulus. Dan Paulus ungkapkan, yang pertama, engkau harus menanggalkan manusia yang lama. Engkau harus meninggalkan masa lalu. Mari kita baca bersama-sama ayat ke-22: yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.

Paulus dengan tegas mengatakan, “Tanggalkanlah manusia lama!” Mengapa? Karena hidupmu di hadapan Allah seperti orang yang mengenakan baju yang compang-camping. Hidupmu lusuh, kumuh. Saudara… pagi ini firman Tuhan mengingatkan akan manusia lama kita. Barangkali manusia yang lama kita adalah materialisme, segala sesuatu kita ukur dengan materi. Bisa jadi pakaian yang lama kita adalah egoisme, kita hanya mementingkan diri kita sendiri. Bisa jadi pakaian lama kita adalah hobi kita sehingga waktu demi waktu kita habiskan demi hobi kita dan kita meninggalkan persekutuan dengan Allah. Saya tidak tahu apa pakaian lama Saudara. Tetapi, pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita untuk menanggalkan manusia lama kita. Menanggalkan pakaian lama merupakan keputusan yang kita buat secara sengaja. Kita tidak bisa menunda-nunda. Karena kalau tidak, kita akan kembali mengenakan baju yang lama.

Yang kedua. Bagaimana agar kita benar-benar bisa berubah dan tidak hanya menanggalkan manusia lama? Paulus menasihati… perbaharuilah roh dan pikiranmu. Mari kita baca ayat ke-23: supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu. Saudara… yang namanya pembaruan bersama Tuhan Yesus; itu adalah sebuah proses yang terus-menerus terjadi. Jadi, ibaratnya begini Saudara. Bila hidup lama kita penuh virus, hidup kita harus diformat atau diprogram ulang; dan program yang baru itu adalah program yang serba-Tuhan Yesus. Ini berarti bahwa apa yang Saudara lakukan harusnya seperti apa yang Tuhan Yesus lakukan. Karena programnya adalah program serba-Tuhan Yesus, prosesnya pun proses serba-Tuhan Yesus dan keluarannya pun serba suka cita dalam Tuhan Yesus. Perubahan yang terjadi dalam hidup kita persis seperti yang dikatakan Paulus dalam Kolose 3:17.  Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Yang terakhir… mengenakan manusia yang baru. Mengenakan manusia baru berarti mengenakan manusia masa depan yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Inilah perubahan itu, Saudara. Hidup yang berpusat pada hubungan dengan Kristus. Kristus akan terpancar dalam bagaimana kita melakukan pekerjaan atau pelayanan, bagaimana kita mengelola pernikahan atau menjalani kehidupan lajang, dan bagaimana kita mengasuh anak-anak kita. Pada kenyataannya, bagaimana kita hidup, apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita rasakan semuanya akan diarahkan oleh hubungan baru kita dengan Kristus. Dan sekali lagi, ini adalah sebuah proses yang terus-menerus berlangsung sampai kita dipanggil Tuhan.

Perubahan adalah masalah pelatihan rohani, bukan berusaha dengan keras. Apakah artinya itu? Saya ingin memberikan gambaran seperti ini, Saudara. Anggap saja bulan depan adalah bulan Agustus. Biasanya pada bulan Agustus banyak diadakan lomba. Karena Saudara dulu pernah menjadi juara tenis meja, pada Agustusan kali ini Saudara mendaftar ikut lomba tenis meja. Saudara sangat bersemangat karena disediakan hadiah: ada sepeda motor, ada televisi, ada kipas angin, dll walaupun sudah puluhan tahun Saudara tidak pernah lagi bermain tenis meja. Pada saat hari “H”, Saudara apakah pasti menang? Belum tentu, walaupun Saudara bekerja dengan keras pada saat lomba. Saya mengalami, Saudara. Waktu masih muda saya memang suka bermain tenis meja. Puluhan tahun tidak pernah bermain tenis meja, begitu bermain… memukul bola saja meleset-meleset. Kalaupun kena, bolanya menyangkut net atau keluar lapangan. Jadi, kalau Saudara mau mengikuti lomba, apakah Anda akan langsung ikut lomba dengan bekal usaha yang keras? Pasti Anda memerlukan pelatihan yang terprogram dengan baik sebelum hari lomba diadakan. Inilah yang dimaksud oleh Paulus bahwa perubahan itu sebuah proses.

Nah, sekarang, bagaimana menerapkan proses perubahan ini dalam kehidupan kita, Saudara? Paulus sendiri memberikan contoh. Mari kita lihat contoh di ayat ke-28: Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

Mari kita perhatikan ayat ini. Siapa awalnya orang yang disebut sebagai contoh oleh Paulus dalam ayat ini? Ya, dia adalah pencuri, orang yang mencuri. Manusia lama dia adalah pencuri. Saya mengandaikan, orang seperti itu bisa kita beri nilai -10. Apa nasihat Paulus selanjutnya? Orang yang mencuri, tidak mencuri lagi. Posisi orang itu berubah dari nilai -10 menjadi 0. Saya mau tanya… orang ini sudah mengalami perubahan atau belum? (Jemaat menjawab, “Sudah.”). Sudah. Orang ini tadinya mencuri, sekarang tidak mencuri lagi. Ada perubahan. Walaupun sudah mengalami perubahan, apakah perubahan itu berhenti hanya sampai di situ? Tidak. Firman Tuhan katakan, “Engkau harus bekerja keras.” Orang ini mengalami perubahan lagi, bukan? Dari tidak mencuri menjadi bekerja. Nilainya dari nol menjadi +10. Berhenti hanya sampai di situ? Tidak. Mujizat perubahan itu terjadi lagi. Sudah bekerja itu sudah lebih bagus daripada tidak bekerja. Tetapi, firman Tuhan katakan, “Engkau harus bekerja dengan tanganmu sendiri.” Ini artinya bahwa engkau harus bekerja dengan keringatmu sendiri bukan dengan memeras orang lain. Sampai di sini ada perubahan lagi. Nilainya +20. Tuhan ternyata tidak berhenti hanya sampai di sini. Setelah engkau bekerja dengan tanganmu sendiri, engkau mendapat sesuatu (penghasilan). Nilainya jadi +30. Pendapatannya tidak dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan kepada orang yang berkekurangan. Nilainya +40. Bagian terakhir ini merupakan mujizat terbesar, Saudara. Bila Saudara melihat perubahan-perubahan ini hanya sebagai perubahan biasa, Saudara tidak akan bersyukur. Tetapi Paulus katakan, perubahan-perubahan itu adalah mujizat-mujizat yang terjadi. Dari orang yang tadinya mencuri berubah menjadi orang yang memberi. Ini mujizat, Saudara!

Ini tidak hanya mencerminkan prinsip “menanggalkan manusia lama” (mencuri) dan “mengenakan manusia baru” (bekerja), tetapi kita juga harus mempraktikkan “gaya hidup baru – melayani” (memberi kepada orang yang berkekurangan). Alami mujizat ini, Saudara!

Nah, saatnya saya akan memeragakan bagaimana mengubah hidup ini, supaya Saudara semakin memahami prinsip ini. Boleh seseorang membantu saya? (Dimas ke mimbar).

Andy Kirana      : Mas, mau terima tantangan saya?

Dimas                : Mau.

Andy Kirana      : Betul?

Dimas                : Ya.

Andy Kirana      : Apa pun tantangan itu?

Dimas                : Siap.

Andy Kirana      : Baik. Tadi dalam firman Tuhan dikatakan, kita harus meninggalkan manusia lama. Dalam bahasa Paulus, kita harus menanggalkan baju yang lama karena baju yang lama ini compang-camping. Seandainya baju ini sudah lama dan sudah dua minggu dipakai tanpa ganti (sambil memegang baju Dimas), baju ini juga sudah robek-robek; saya tantang: tanggalkanlah baju lama dan kenakanlah pakaian yang baru. Tidak usah takut, Mas. Ini ada pakaian baru. (Jemaat tertawa dan bertepuk tangan. Dimas terlihat enggan untuk melepas bajunya). Tadi saya tantang sampai tiga kali, Anda begitu mantap terima tantangan saya. Laksanakan! (Andy Kirana memberikan baju baru kepada Dimas. Dimas menolak berganti baju). Lho, tadi terima tantangan apa pun? Dimas mau mengenakan baju baru, tetapi masih tetap mengenakan baju lama. (Jemaat memprovokasi supaya Dimas berganti baju. Akhirnya Dimas berganti baju, mengganti baju lama yang dikenakan dengan baju baru yang diberikan Andy Kirana).

Saudara… persis seperti yang dilakukan Mas Dimas, sering kali kita enggan melepas baju yang lama. Seperti Mas Dimas tadi, dia mau merangkapi baju lama dengan baju baru. Padahal, misalnya baju yang lama sudah bau, lalu kita rangkapi, apa yang terjadi, Saudara? (Jemaat menjawab, “Tetap berbau.”). Ya… tetap berbau. Ini artinya, Saudara tidak bisa hanya menutupi hidup yang lama Saudara dengan hidup yang baru. Saudara harus berganti! Paulus katakan, “Tanggalkan… lepaskan!”

Saudara, pagi ini kita diingatkan oleh Tuhan untuk terus menerus berubah. Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Inilah mujizat perubahan hidup!

Exit mobile version