Site icon

Tiada Piala Kemenangan, Tanpa Cawan Pengorbanan

Tiada Piala Kemenangan, Tanpa Cawan Pengorbanan

Yohanes 18:1-11.

Pdt. Andy Kirana

Apakah Saudara pernah mendengar ungkapan atau idiom “No pain, no gain” dalam hidup ini? (jemaat: pernah, belum). Bagi yang belum pernah, kalau ungkapan “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, sudah pernah mendengar belum? (jemaat: pernah, itu kan berasal dari peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”). Ya, betul. Nah… kalau idiom “No pain, no gain” ini berasal dari dunia olahraga dan sudah dipergunakan sejak tahun 1500-an. Pada tahun 1670 idiom ini sudah terdaftar dalam kamus buatan John Ray meski agak berbeda sedikit,  “Without pain, no gain” yang maknanya sama yaitu keberhasilan tidak akan dicapai tanpa usaha. Ungkapan ini cocok sekali apabila dipakai untuk menyemangati seseorang yang sedang berjuang untuk meraih kemenangan dalam bidang apa pun.

Ungkapan itu serupa dengan perkataan Tuhan Yesus yang dipakai untuk menyemangati Petrus, saat Ia ditangkap di suatu taman di seberang sungai Kidron. Kemenangan itu bukan diperoleh dengan kekuatan pedang – pemberontakan, tetapi melalui cawan penundukan diri – pengorbanan. Bukankah itu juga yang kita perlukan dalam menjalani kehidupan ini? Oleh karena itu, mari saat ini kita telusuri lintasan pengorbanan itu hingga ke garis akhir, ketika piala kemenangan diraih. Dan, secara khusus kita akan belajar dari ayat 10 dan ayat 11. Ada dua pelajaran yang sangat berharga melalui apa yang dilakukan oleh Petrus dengan pedangnya dan apa yang diperbuat oleh Kristus dengan cawan-Nya.

Pertama, pedang pemberontakan Petrus (ay. 10).

Kalau kita perhatikan sebelum peristiwa penangkapan Kristus di kebun pohon zaitun, Petrus telah berjanji kepada Tuhan Yesus: “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” (Yoh. 13:37). Secara khusus, Petrus ingin menepatinya; maka ia segera mencabut pedang kecilnya dan mulai melawan! Ternyata, ia salah memahami apa yang dikatakan Tuhan Yesus tentang “pedang” pada malam sebelumnya (Luk. 22:35-38). Ia telah memperingatkan bahwa mulai saat itu situasi akan berubah, dan orang-orang akan memperlakukan mereka sebagai pemberontak. Tuhan Yesus tidak sedang menyuruh mereka menggunakan pedang sungguhan untuk melakukan peperangan rohani, tetapi agar mereka mempunyai cara berpikir yang baru dan memperhitungkan sebelum terjadinya perlawanan maupun bahaya. Kristus telah memelihara dan melindungi mereka ketika Ia ada bersama mereka di bumi, tetapi sekarang Ia akan kembali kepada Bapa. Mereka harus bergantung sepenuhnya kepada Roh Kudus dan menggunakan hikmat-Nya. Nampaknya Petrus menerima perkataan Tuhan Yesus itu secara harfiah dan menyangka bahwa ia disuruh berperang!

Meskipun tampaknya Petrus berjuang untuk Kristus, sebenarnya ia justru sedang melawan Dia. Pedang Petrus melambangkan pemberontakan terhadap kehendak Allah. Petrus seharusnya sudah tahu bahwa Tuhan Yesus akan ditangkap dan bahwa Ia akan menyerahkan diri dengan sukarela kepada musuh-musuh-Nya. Petrus ternyata salah total! Ia memerangi musuh yang salah, menggunakan senjata yang salah, mempunyai motivasi yang salah, dan mencapai hasil yang salah! Petrus secara terbuka mencampuri rencana Allah dan menghalangi pekerjaan yang harus diselesaikan Tuhan Yesus melalui kedatangan-Nya! Meskipun kita patut menghargai keberanian dan ketulusannya, perbuatan itu sebenarnya merupakan demonstrasi semangat tanpa pengetahuan. Ya, itulah kasih tanpa kebenaran, yang sama dengan fanatik!

Mengapa Petrus mengalami kegagalan yang fatal dan amat menyedihkan? Karena ia telah membantah Tuhan ketika Ia memperingatkannya bahwa ia akan menyangkal-Nya pada malam itu juga. Petrus tertidur ketika seharusnya ia berdoa, dan ia berbicara ketika seharusnya mendengarkan. Petrus menghunuskan pedangnya dengan meniru musuh yang menggunakan pedang untuk menangkap Tuhan Yesus. Namun pada saatnya nanti, Petrus akan menyadari bahwa pedang Roh-lah yang seharusnya ia gunakan. Bukan senjata perjuangan yang duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah. Ia akan menggunakan “pedang” tersebut pada hari Pentakosta, dan “menobatkan” tiga ribu jiwa (Kis. 2:41). Dan tidak lama setelah itu, dengan pedang Roh pula Petrus membuat Ananias dan Safira rebah dan putus nyawa di hadapannya (Kis. 5:5,10).

Tuhan Yesus tidak memerlukan perlindungan manusia, termasuk Petrus. Ia dapat meminta lebih dari dua belas pasukan malaikat kalau Ia ingin dibebaskan (Mat. 26:52-54). Lukas mencatat bahwa Tuhan Yesus menjamah telinga Malkhus dan menyembuhkannya (22:51). Tentu saja penyembuhan itu merupakan suatu tindakan kasih karunia dari Kristus. Dari sudut pandang Petrus, tindakan Tuhan Yesus itu merupakan suatu anugerah; karena jika Tuhan kita tidak menyembuhkan telinga Malkhus, Petrus mungkin sudah ditangkap. Mungkin saja akan ada empat kayu salib di Golgota! Petrus bertindak seperti kaum “Zelot” (orang-orang yang fanatik terhadap agama Yahudi dan giat berjuang dengan kekerasan untuk kebebasan politik) dan sama sekali tidak mencerminkan murid Kristus. 

Apa yang dilakukan Tuhan Yesus itu juga merupakan anugerah bagi Malkhus. Bagaimanapun juga, ia hanyalah seorang hamba; mengapa Tuhan Yesus harus repot-repot menolong seorang hamba? Malkhus juga seorang musuh, ia serombongan dengan orang-orang yang datang untuk menangkap Tuhan Yesus; jadi ia pantas untuk menderita! Tetapi Kristus tidak menghukum Malkhus, meskipun ia orang berdosa yang pantas ditimpa murka Allah. Sebaliknya, Ia menyembuhkan telinganya! Penyembuhan itu adalah mukjizat terakhir yang dilakukan Tuhan Yesus di depan umum sebelum Ia menyerahkan nyawa-Nya. Perlu diingat juga bahwa mukjizat itu menyatakan kasih karunia-Nya kepada kita. Jika Tuhan Yesus mempunyai kuasa untuk menjatuhkan sepasukan prajurit bersenjata dan menyembuhkan telinga yang putus, Ia tentu dapat menyelamatkan diri-Nya dari penangkapan, pengadilan, dan kematian. Namun, Ia tunduk dengan sukarela! Dan Kristus melakukan semuanya itu demi Saudara dan saya. Ini adalah kasih karunia!

Sungguh amat menyedihkan dan tampak bodoh apabila ada orang Kristen yang bermaksud baik tetapi kurang pengetahuan, mengangkat senjata untuk “membela” Kristus. Petrus melukai Malkhus, sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang percaya. Ia merusak kesaksian Kristus dan memberi kesan yang salah bahwa murid-murid-Nya membenci musuh-musuh mereka dan mencoba menghancurkan mereka. Coba perhatikan jawaban Tuhan Yesus kepada Pilatus di Yohanes 18:36. Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Jelas bahwa Kerajaan-Nya jauh berbeda dengan kerajaan-kerajaan dunia, di mana kekerasan dan ketidakadilan merajalela. Kerajaan Tuhan Yesus tidak didirikan dengan “pedang.” Di dalam kerajaan-Nya, yang ada hanya kebenaran yaitu firman Allah. Itulah pedang Roh, satu-satunya pedang yang boleh dipergunakan oleh orang Kristen.

Kedua, cawan pengorbanan Kristus (ay. 11).

Petrus menghunus sebilah pedang, tetapi Kristus mengangkat sebuah cawan. Petrus menolak kehendak Allah, tetapi Kristus menerima kehendak Allah. “Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (ay. 11). Sesungguhnya seluruh peristiwa ini menyatakan kemuliaan Kristus yang beraneka ragam: keunggulan mutlak dan penyerahan mutlak. Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai “Akulah Dia,”maka kekuatan dari nama ilahi itu membuat musuh-Nya mundur dan jatuh ke tanah (ay. 6); Ia memberikan perintah, maka murid-murid-Nya dapat pergi dengan selamat (ay. 8). Sekarang Kristus menyerahkan diri tanpa syarat di bawah kehendak Bapa dan menerima cawan penderitaan yang dahsyat itu tanpa mengeluh sedikitpun. Makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa; minuman-Nya adalah apa yang disajikan oleh Bapa. Kesempurnaan semacam ini tidak pernah ada pada manusia lain: Tuan, namun menjadi Hamba; Singa, namun sebagai Domba!

Meminum cawan sering kali dipergunakan dalam Alkitab untuk menggambarkan pengalaman penderitaan dan dukacita. Ketika Babel menawan Yerusalem, kota itu telah “meminum dari tangan TUHAN isi piala kehangatan murka-Nya, engkau yang telah meminum, menghirup habis isi cangkir yang memusingkan!”(Yes. 51:17). Nabi Yeremia menggambarkan amarah Allah terhadap bangsa-bangsa sebagai pencurahan isi piala atau cawan (Yer. 25:15-28). Cawan merupakan lambang penghakiman Allah; inilah cawan murka Allah terhadap dosa manusia. Namun, dalam kasih sayang Allah yang unik, cawan kemarahan-Nya yang adil itu diletakkan bukan di tangan musuh-musuh-Nya, melainkan di tangan Anak yang dikasihi-Nya. Dan Anak-Nya itu akan meminum cawan sampai pada tetes penghabisan, hingga saat terakhir ketika ucapan-Nya di kayu salib “Aku haus” berubah menjadi “Sudah selesai!”

Masing-masing kita, setiap pribadi harus mengambil keputusan di hadapan Tuhan: Memilih pedang atau cawan? Apakah saya akan melawan kehendak Allah atau tunduk kepada kehendak Allah? Kalau Saudara memilih cawan, ingatlah… cawan biasanya mengandung penderitaan, namun itu hanyalah sebuah masalah yang tergolong kecil, sangat ringan, dan hanya untuk sekejab saja. Cawan penderitaan yang diberikan kepada kita itu merupakan karunia Allah. Cawan itu diberikan oleh seorang Bapa, yang dengan kuasa-Nya tidak berbuat salah kepada kita anak-anak-Nya. Ia adalah Bapa yang penuh kasih sayang, yang tidak bermaksud menyakiti kita. Ia tahu seberapa besar yang dapat kita tanggung. Saat mencampur isi cawan itu, Bapa melakukannya supaya kita bisa menikmati kebaikan-Nya. Arthur Walkington Pink (1886-1952) meyakinkan kita, “Jika kita menerima cawan-cawan yang pahit dari tangan Bapa, betapa cawan-cawan itu akan menjadi manis!” 

Sesungguhnya ini suatu pengajaran yang bagus sekali: kita tidak perlu takut menerima cawan yang diberikan oleh Bapa. Juruselamat kita sudah meminum cawan itu sebelum kita, dan kita hanya mengikuti jejak-Nya. Kita tidak perlu takut kepada isi cawan itu, karena Bapa telah menyiapkannya untuk kita di dalam kasih dan hikmat-Nya. Jika kita meminta roti, Ia tidak akan memberi kita batu; dan cawan yang disediakan-Nya tidak akan pernah berisi sesuatu yang membahayakan kita. Memang, cawan itu adalah cawan penderitaan. Namun cawan itu juga dapat menjadi cawan kegembiraan, cawan persekutuan, ketika kita meminum dari cawan yang sama. Kita mungkin merasakan penderitaan bahkan sakit hati akibat cawan penderitaan, tetapi pada akhirnya Tuhan akan mengubah penderitaan menjadi kemuliaan. Allah akan mengubah kesusahan menjadi kegembiraan… Allah akan mengubah kekalahan menjadi kemenangan!

Kalau kita perhatikan dengan saksama, gambaran cawan itu sudah dikenal di antara para murid Kristus, dan bukan pula gambaran yang asing bagi kita pada zaman sekarang ini. Lihatlah, di atas meja ini ada dua barang yang bentuknya kelihatan sama tapi berbeda. Kita akan belajar dari cawan dan piala ini. Namun sebelum kita belajar dari kedua lambang ini, saya minta tolong salah satu dari Saudara-saudara untuk membantu. Ada yang mau? Oke… terima kasih pak Djoko atas kesediaannya.

Saya mau bertanya kepada pak Djoko: “Cawan ini biasanya digunakan untuk apa pak?” Jawabnya: “Yang saya tahu selama ini, ya untuk tempat anggur perjamuan kudus.” Pertanyaan selanjutnya: “Apakah pak Djoko tahu artinya cawan ini bagi kehidupan iman kita?” Sambil berpikir, akhirnya menjawab: “Hmm… menurut saya cawan ini merupakan simbol penderitaan dan kematian Tuhan Yesus untuk menebus dosa kita.” Sekarang saya mau bertanya lagi: “Apakah betul cawan ini merupakan cawan penderitaan yang juga harus kita tanggung pak?” “Ya, saya pikir kok seharusnya begitu, karena kita sebagai orang percaya kan perlu meneladani penderitaan Kristus dalam hidup ini,” jawab pak Djoko.

Nah… sekarang kita akan bicara tentang piala ini. “Kalau piala ini fungsinya untuk apa pak?” Jawab pak Djoko: “Yang pasti untuk hadiah bagi mereka yang memenangkan pertandingan.” “Ngomong-ngomong, apakah pak Djoko pernah melihat bagaimana mereka yang bertanding dan menang itu ketika mempersiapkan diri? Atau mungkin pak Djoko malah pernah mengalami sendiri hee…” Pak Djoko menjawab demikian: “Hee… saya belum pernah bertanding sebagai atlet. Setahu saya, mereka harus mempersiapkan diri dengan disiplin yang ketat, bahkan harus rela menderita baik secara fisik maupun mental saat berlatih.” “Berarti nggak mungkin ya pak, meraih piala tanpa usaha yang keras?” Jawabnya: “Saya rasa begitu, karena nggak mungkin meraih piala kemenangan tanpa persiapan yang matang, apalagi hanya dengan bersantai saja.” “Setuju pak,” saya menimpali jawabannya. 

“Sebagai tanda terima kasih saya, terimalah piala ini sebagai kenang-kenangan. Dan saya minta tolong bacakan kata-kata yang tertulis di piala ini ya pak.” Pak Djoko membaca idiom di piala itu dengan keras: “TIADA PIALA KEMENANGAN, TANPA CAWAN PENGORBANAN!”

Saudara-saudara yang dikasihi Kristus… Pertama, kenyataan bahwa beberapa piala dirancang berbentuk cawan, hal itu memberikan isyarat bahwa para pemenang telah melalui pengalaman-pengalaman yang sangat menekan dan deraan yang menyakitkan. Demikian pula kita juga harus melalui pengalaman meminum cawan penderitaan yang diminum oleh Kristus. Mengapa? Karena kita semua diharapkan mengikuti jejak perbuatan-Nya, termasuk di dalamnya menanggung penderitaan karena iman di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kita akan menghadapi penderitaan melawan kuasa kedagingan, supaya Bapa kita yang di surga dipermuliakan. Sebagaimana Kristus meminum cawan penderitaan, supaya Bapa-Nya dipermuliakan. Jangan takut, karena Tuhan Yesus akan memberikan kemampuan untuk menghadapi penderitaan ini dengan kuasa yang sama yang Dia terima ketika menghadapi penderitaan. 

Kedua, tidak peduli seberapa besar cawan penderitaan yang harus ditanggung orang Kristen, Tuhan akan melimpahi kita dengan penghiburan dan pertolongan yang sebanding, bahkan berlebih. Setelah menerima penghiburan Tuhan dalam hidup kita, kita kemudian diperlengkapi untuk menolong orang lain yang juga sedang mengalami kesulitan. Dengan kesaksian kita, kata-kata penghiburan dan bantuan praktis, kita dimampukan untuk mendukung orang lain yang mengalami berbagai pencobaan supaya mereka juga dapat mengatasinya. Pendeta Paul Mallard mengatakan, “Kehidupan kita seperti sebuah cawan. Pertama, penderitaan mengalir masuk ke dalam kehidupan kita dan kemudian penghiburan juga mengalir masuk. Lalu, dari kehidupan kita mengalir keluar penghiburan yang baru mengalir masuk tadi. Jadi, hidup kita menjadi sumber berkat dan pertolongan bagi mereka yang ada di sekitar kita.”

Akhirnya, mari kita melangkah mundur sejenak dan mengenal senyuman manis Tuhan di balik setiap penderitaan. Kita perlu melihat melampaui penderitaan kita saat ini ke hasil akhirnya. Mengapa? Karena yang menjadi keindahan bagi semua orang percaya adalah, bahwa penderitaan yang kita alami adalah sesaat dan kemuliaan yang akan kita nikmati adalah kekal! Bersama-sama dengan rasul Paulus, mari kita ikrarkan kemenangan iman kita di hadapan Kristus (dengan membaca bersama ayat ini): “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm. 8:18). Itulah piala kemenangan yang kita peroleh melalui cawan pengorbanan. Haleluya… Amin.

Exit mobile version