Site icon

Tiga Tindakan Nyata untuk Meraih Hidup Berarti: Jauhilah-Kejarlah-Bertandinglah

Tiga Tindakan Nyata untuk Meraih Hidup Berarti:

Jauhilah-Kejarlah-Bertandinglah

1 Timotius 6:10-12

oleh: Jenny Wongka †

Dalam kerutinan hidup yang cenderung membuat kita merasa hidup ini tiada bermakna, tema di atas menjadi sangat kontekstual, yaitu tentang harapan agar kita bisa mencapai hidup yang berarti. Marilah kita merenungkan bagaimana agar hidup kita yang relatif singkat ini bisa berarti. Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen terhadap hidup yang Tuhan percayakan untuk kita jalani ini. Sesungguhnya seluruh kehidupan kristiani kita dapat disimpulkan dalam tiga kata berbentuk kata perintah: jauhilah, kejarlah, dan bertandinglah.

Jauhilah Semuanya Itu (ayat 11)

Pertama, Paulus menyatakan bahwa dalam kehidupan kristiani, kita kadang diperhadapkan pada suatu kondisi yang di dalamnya kita harus bertindak menjauhi atau saya lebih senang dengan istilah Inggris to flee atau melarikan diri. Tetapi, kita harus melarikan diri dari apa? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus kembali pada ayat 9 dan 10, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan kedalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Rasul Paulus melukiskan ancaman bahaya bagi mereka yang menjadikan dunia dan segala milik dunia ini sebagai tujuan hidup dan ilah mereka. Ia memperingatkan mereka bahwa sudah ada sejumlah orang di antara mereka yang berbuat demikian, dan mereka telah tersesat dan jauh dari Tuhan. Mereka menuju ke arah kemerosotan rohani, yang membawa berbagai kedukaan ke dalam hidup mereka. Kemudian dalam ayat 11 Paulus tidak hanya menasihati Timotius, tetapi juga kita agar menjauhi semuanya itu, atau melarikan diri jauh-jauh dari semuanya itu!

Seorang ibu yang berani tahu bahwa ada saat-saat tertentu yang mengharuskannya untuk bertindak tegas dalam melawan seorang yang dijumpainya yang berniat jahat untuk merebut putranya. Namun, ia juga tahu dengan jelas bahwa ada saat di mana dengan menyadari kekuatan fisiknya sehingga atas dasar pertimbangan bijaknya ia berupaya sekuat tenaga untuk lari bersama putranya, karena ia tidak ingin mati konyol. Demikian pula kehidupan orang Kristen, ada saat-saat kita harus segera melarikan diri dari berbagai jenis godaan dunia yang sangat memikat hati. Godaan dunia ini sangat nyata dan berbahaya—jauhilah semuanya ini!

Seorang yang bernama John Noble menyaksikan apa yang terjadi di tengah keluarganya tatkala kemakmuran itu datang. Ayahnya seorang Kristen—orang yang saleh dan setia dalam melaksanakan kewajiban orang Kristen dan setia beribadah. Ia juga seorang yang tekun berdoa. Namun kehidupan rohaninya lambat laun mulai merosot. Hal ini karena sang ayah mulai asyik mencari lebih banyak keuntungan untuk bisnisnya. Keberhasilan finansial tiba dengan mengorbankan secara terus-menerus nilai hidup lainnya. Tuhan telah memakmurkan kita, namun kami lupa untuk berterima kasih. Sementara saya dan saudara saya menjadi dewasa, kebiasaan membaca Alkitab, doa bersama setiap malam dalam keluarga mulai berkurang, bahkan tidak sempat sama sekali. Ayah memanjatkan doa hanya satu kali dalam sehari saat kami bersantap malam. Kadangkala ayah meminta saya atau saudara saya memimpin doa ucapan syukur untuk makan malam, semuanya kami lakukan dengan formalitas tanpa makna lagi. Yang lebih menyedihkan, kebiasaan ke gereja bersama pun berhenti.

Inilah kondisi yang tepat seperti yang dilukiskan dalam ayat di atas tadi, yakni bagi mereka yang menyembah pada altar materialisme sudah tentu akan kehilangan persekutuannya dengan Allah dan kehilangan kehidupan rohani yang baik. Rasul Paulus berkata “jauhilah” atau larilah dari semua yang menggoda Anda dan dari semua hal yang ingin merebut hati Anda. Perhatikan, dalam ayat ini Paulus mengatakan bahwa “cinta uang” adalah “akar segala kejahatan”. Ia tidak mengatakan bahwa uang itu sendiri adalah jahat. Mencari uang bukanlah jahat. Tidak dikatakan pula bahwa orang yang beruang banyak itu jahat. Ia mengatakan bahwa “cinta akan uang” itu adalah jahat sebab hal ini akan menuntun orang jatuh ke dalam kegagalan rohani. Manakala hal-hal materi dari dunia ini telah menjadi hal yang terpenting dalam hidup Anda, saat itu pula Anda harus berwaspada dan bertindak seperti nasihat Paulus, “Jauhilah semuanya itu” atau “larilah dari semuanya itu!” sebab jiwamu sedang dalam bahaya.

 

Kejarlah! (Follow)

Kata kedua dari petunjuk Paulus untuk meraih hidup yang berarti adalah kata kejarlah. Apa yang harus kita kejar? “Kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.”

Menjadi seorang Kristen menuntutnya untuk memercayai beberapa hal. Ini berarti bahwa ia harus percaya pada Allah, Yesus Kristus, jalan keselamatan. Namun, dengan memiliki satu set kepercayaan tidak berarti itulah seluruh kehidupan kristiani. Seorang Kristen bukan hanya percaya pada beberapa hal itu, tetapi juga hidup dalam cara tertentu. Ia haruslah seorang yang secara aktif mencari dan berusaha menjadi seorang yang saleh, adil, atau benar. Tujuan utama dan arah hidupnya haruslah menjadi seseorang yang Tuhan kehendaki. Namun, sayang seribu sayang, boleh dikatakan tidak banyak orang Kristen yang sungguh-sungguh ingin menuruti nasihat Paulus untuk “mengejar kesalehan ibadah”.

Seorang pekerja mengalami cedera serius dan tergeletak di lantai sambil menantikan pertolongan dokter. Seorang pekerja Kristen atau aktivis yang juga merupakan kolega pekerja yang cedera itu berada di sana. Dalam kondisi sekarat dan tahu jelas bahwa ia akan segera mati, dengan suara yang nyaris tak terdengarkan pekerja yang cedera itu berupaya memohon agar seorang di antara mereka sudi menolongnya secara spiritual. Pekerja Kristen itu berkata kepada pendetanya, “Dari tiga ratus orang lebih yang ada di situ, tak seorang pun memberikan pertolongan spiritual kepadanya.” Dr. C.A. Roberts dengan heran menjawab, “Apa yang kaukatakan kepadanya? Kaulah yang harus menolongnya. Kau tidak perlu berkhotbah padanya, tetapi cukup berlutut di dekatnya dan berkata betapa Kristus Yesus itu berarti bagimu. Setidaknya, kau harus berdoa bersamanya dan menguatkannya.”

Dengan muka sedikit kemerah-merahan karena malu ia menjelaskan, “Orang-orang di sekeliling saya saat itu tidak pernah melihat saya mengajar Sekolah Minggu, tidak pernah mendengar saya berdoa. Mereka tidak pernah melihat saya sebagai kolektor dalam Ibadah Minggu. Yang sering mereka dengar dari saya adalah perkataan kotor yang tidak senonoh, yang sering mereka lihat dari diri saya adalah sosok yang pemarah. Berulang kali saya tertangkap basah dengan ketidakjujuran saya. Saat berdiri bersama mereka saat itu, berulang kali saya berpikir dalam hati, “Saya harus berlutut di dekat teman yang sekarat itu agar ia mempersiapkan dirinya menghadapi kematian. Namun ketika saya melihat wajah orang-orang di sekitar saya, saya tidak berani melakukannya.”

Inilah tragedi besar dalam gereja—Orang Kristen pada hari Minggu saja! Orang Kristen yang bersikap A di gereja, dan bertindak B di luar gereja, misalnya di tempat kerja, ia adalah orang Kristen yang menuruti dunia dan segala praktik duniawi, dan ia pun gagal menjalankan perintah Allah untuk “mengejar kehidupan saleh, beribadah”.

Di depan sebuah toko tergantung sebuah sangkar burung yang besar, dan seekor burung elang dirantai dan terkurung di sana. Seorang pria berpostur tubuh tegap masuk ke toko, menemui pemilik toko, dan menanyakan berapa harga burung itu. Orang-orang yang berbelanja terheran-heran melihat pria itu karena hampir semua uang di kantong kiri dan kanannya dikeluarkan semua hanya untuk mendapatkan seekor burung elang. Sejumlah orang mengikuti pria tersebut. Elang itu dibawa, lalu ia melepaskan rantai pengikat kakinya. Sambil berjalan, perlahan-lahan dilepaskannya elang itu. Si elang membentangkan sayapnya dan mulai terbang semakin tinggi lalu lenyap dari pandangan mata mereka. Kemudian pria itu menoleh kepada orang-orang yang terheran-heran menyaksikan perilakunya tersebut, dan berkata, “Saya tidak tahan melihat elang itu dirantai di sangkar karena ia diciptakan bukan untuk berada di bawah sana, melainkan jauh tinggi di atas sana.” Hai, orang Kristen, renungkan makna kisah ini. Tatkala Allah menyelamatkan kita, Dia memberikan hidup yang baru kepada kita. Dia memberikan sayap-sayap itu untuk kita. Kita tidak diciptakan untuk berada pada level yang bawah itu. Kita diciptakan untuk berada pada level yang tinggi. Allah memanggil kita untuk mencurahkan perhatian dan pikiran kita pada perkara yang di atas, bukan yang di bumi ini. Sekarang, pada level manakah kehidupan kristiani kita?

 

Bertandinglah! (Fight)

Jauhilah, kejarlah! masih belum cukup. Kata perintah ketiga agar hidup kita berarti adalah bertandinglah, atau berjuanglah!

Bila kita memerhatikan tayangan TV, apalagi saat hari Kemerdekaan, misalnya, kepala negara atau para menteri tampak sangat terhormat dan agung dengan baju kebesaran serta semua atribut mereka. Berdiri tegak di panggung kehormatan, segenap pasukan TNI dengan seragam mereka berparade diiringi musik mars, dengan megah berbaris lengkap dengan senjata masing-masing. Kita tahu dengan pasti bahwa kepala negara, para menteri, dan segenap pasukan TNI itu tidak akan berdandan dengan seluruh atribut kebesarannya itu jika hendak mengatasi kerusuhan. Fokus perhatian mereka bukan pada kemegahan seragam serta atribut, atau parade yang menggagumkan dengan lagu mars yang gegap gempita itu. Perhatian mereka terarah pada para perusuh dan cara untuk menghalau mereka demi keamanan warga masyarakat. Hidupnya sendiri diabaikan untuk memperjuangkan kesejahteraan warga.

Allah memanggil kita bukan untuk ikut dalam barisan parade nan megah dengan seluruh atribut kebesaran kita masing-masing. Dia memanggil kita sebagai prajurit yang siap bertempur, berjuang, bergumul, diperhadapkan dengan kesulitan, menderita cedera atau luka, bahkan selain ada kemenangan kadangkala kita juga dibiarkan untuk menghadapi kegagalan.

Tadi saya sudah menyinggung bahwa kehidupan kristiani perlu mengejar kesalehan ibadah, keadilan. Dari sinilah perjuangan itu dimulai. Ini suatu perjuangan untuk tetap bertahan pada level tinggi, menghidupi suatu kehidupan yang akan memuliakan Allah di dunia ini. Pernahkah kita merasakan betapa sulitnya menjalankan kehidupan kristiani? Memang ini adalah suatu perjuangan yang sulit dan secara konstan mewarnai seluruh kehidupan kita!

Mengapa dikatakan konstan dan sulit? Sebab ada dua musuh yang sangat kuat yang siap untuk mengalahkan kita.

Musuh pertama adalah dari luar, yakni SETAN. Ia adalah makhluk yang riil, sesosok malaikat yang jatuh. Ia sangat pandai dan licik, seperti yang dilukiskan Kitab Suci sebagai singa yang mengaum-aum yang siap untuk menelan mangsanya.

Musuh kedua adalah dari dalam, yakni diri kita sendiri! Tidak heran bila kita mempunyai pengalaman yang sama seperti Rasul Paulus. Dari bibir mulut kita juga terungkap, “Bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (ungkapan yang sama seperti Paulus dalam Roma 7).

Inilah fakta tentang dua musuh yang kuat yang tak jemu-jemunya melawan Anda. Bagaimana caranya agar kita sanggup mengalahkan dua musuh itu? Jawabannya adalah kita tidak akan pernah bisa mengalahkan keduanya dengan kekuatan diri kita sendiri.

Seorang Kristen akan berjuang di dalam keyakinan bahwa yang berdiri di sampingnya adalah Allah yang berkuasa, yang selalu siap menolongnya dan menyelamatkannya. Ia akan berseru sama seperti Rasul Paulus dalam perjuangan hidupnya, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

 

Penutup

Jika Anda adalah orang Kristen sejati, maka sesungguhnya Anda sedang berada dalam perjuangan iman secara konstan di sepanjang perjalanan hidup untuk meraih hidup yang berarti dalam Kristus.

Hadapilah perjuangan Anda ini dengan keyakinan di dalam Allah. Dia siap menolong Anda! Pertolongan-Nya selalu datang tepat pada waktunya, sebab itu: Berjuanglah dalam perjuangan iman Anda dengan kuat kuasa Allah. Dia adalah kekuatan dan penolong!

Exit mobile version