Site icon

Tujuh Perkataan Salib: Bagian Pertama

Tujuah Perkataan Salib: Bagian Pertama

Pdt. Agus Surjanto

Ada 7 perkataan Tuhan Yesus yang dicatat Alkitab ketika Dia disalib. Apakah hanya 7 perkataan ini yang diucapkan oleh Tuhan Yesus, kita tidak tahu. Tetapi angka 7 adalah angka sempurna. Ketujuh perkataan itu adalah:

  1. Pengampunan (forgiveness) Luk 23:34 (Ya Bapa ampunilah …….
  2. Keselamatan (salvation) Luk 23:43 (Aku berkata kepadamu ………
  3. Kasih (love) Yoh 19:26 (Ibu, inilah, anakmu)
  4. Penebusan (atonement) Mat 27:46; Mrk 15:34 (Eli, eli ………
  5. Penderitaan (suffering) Yoh 19:28 (Aku haus)
  6. Kemenangan (victory) Yoh 19:30 (sudah selesai)
  7. Keamanan (security) Luk 23:46 (Ya Bapa ke dalam tanganMu …….. 

Ke tujuh perkataan ini merupakan perkataan yang luar biasa, karena inti dari tujuh perkataan itu adalah teladan kasih Allah yang luar biasa, kasih yang sempurna, kasih agape dan juga memberi gambaran akan bagaimana kasih yang sempurna itu dinyatakan. Kasih Tuhan Yesus dinyatakan bukan hanya melalui perkataan saja, tetapi dengan tindakan yang begitu nyata sampai saat terakhir. Yohanes telah memberikan kesaksian akan kasih Tuhan Yesus yang luar biasa itu melalui tulisannya dalam Yohanes 13:1. Ayat ini ditulis oleh Yohanes untuk menegaskan bahwa Dia memang mengasihi kita sampai saat terakhir. Karena kalau Tuhan Yesus tidak digerakkan oleh kasih yang sempurna sampai saat terakhir, maka tidak akan pernah dapat terjadi penebusan. Kasih itu hanya bisa ditujukan dan dibuktikan melalui saat terakhir yaitu kematian-Nya di atas kayu salib. Tidak ada jalan lain. Ini adalah jalan satu-satunya. Dan semua itu hanya bisa terjadi oleh karena adanya kerelaan yang tulus dari Tuhan Yesus. Tanpa kerelaan-Nya, maka tidak akan pernah terjadi penebusan.

Pergumulan penebusan bukan hanya di atas kayu salib, tetapi secara serius telah dimulai di Taman Getsemani. Dan di taman itu Tuhan Yesus telah memenangkan babak pertama penebusan-Nya. Tiga kali Dia berdoa kalau bisa cawan itu lalu dari pada-Nya, tetapi Dia tetap berkata “Bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mulah yang terjadi.” Perkataan ini hanya dapat dilakukan oleh Tuhan Yesus dalam arti yang sebenarnya, karena Dia setara dengan Allah Bapa. Kalau saat itu Dia tidak ingin naik di atas kayu salib, maka tidak ada siapapun yang bisa menghalangi keputusan-Nya itu. Tetapi itu baru babak pertama. Babak dihina, diadili makhluk ciptaan-Nya, harus dilalui juga. Sampai babak terakhir, yaitu kayu salib. Di atas kayu salib inilah Dia mengucapkan tujuh perkataan salib itu. Tetapi untuk dapat mengerti makna tujuh perkataan salib kita perlu memahami paling sedikit 2 hal:

Pertama, kita harus mengerti posisi Tuhan Yesus ketika inkarnasi di dunia. Kitab Filipi menjelaskan bahwa ketika Tuhan Yesus menjadi manusia, Dia telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba. Karena itulah Dia menyebut diri-Nya Anak di hadapan Bapa. Penyebutan identitas Tuhan Yesus terhadap diri-Nya sendiri ini untuk memberikan teladan hidup bagi para pengikut-Nya. Sama seperti seorang anak yang taat kepada orangtuanya demikian Allah Anak taat kepada Allah Bapa. Dia taat bukan karena Dia kalah kuasa dengan Allah Bapa, tetapi karena Dia walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan tetapi telah mengosongkan diri-Nya dan memberi keteladanan sampai mati (Flp 2:5-8).

Kedua, semua perkataan Tuhan Yesus tidak ada yang bertentangan satu dengan yang lain. Karena itu, semua perkataan Tuhan Yesus di alkitab harus dipahami sesuai dengan konteks dalam hal apa atau dalam situasi bagaimana atau dalam saat seperti apa, ketika perkataan itu diucapkan dan juga tetap diingat bahwa Allah Anak sedang dalam posisi berinkarnasi sebagai Anak Manusia. Supaya kita memperoleh pengertian yang benar akan makna perkataan pertama di kayu salib, maka kita harus melihat seluruh perkataan Tuhan Yesus mengenai hal itu (misalnya tentang pengampunan), baik sebagai konteks dekat, yaitu situasi dan keadaan waktu itu dan juga seluruh kebenaran alkitab sebagai konteks jauh. 

Dari kedua pemahaman konteks di atas (konteks dekat dan konteks jauh), maka baru kita dapat mengambil kesimpulan yang tepat akan makna tujuh perkataan salib.

Perkataan pertama (Ya Bapa ampunilah …… Luk 23:34)

Perkataan “Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34) menunjukkan salah satu aspek ungkapan kasih yang benar dan sempurna, yaitu kasih yang mengampuni dengan tulus. Inilah kasih yang benar-benar agung, karena Tuhan Yesus rela memohonkan ampun bagi orang yang memusuhi-Nya. Mau memohonkan ampun bagi orang yang melakukan hal-hal jahat kepada kita adalah hal yang amat langka pada manusia berdosa. Apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus untuk mengasihi musuh, mendoakannya, memohon berkat bagi yang mengutuk, mencaci (Mat 5:44; Luk 6:28), telah dilakukan-Nya di atas kayu salib. Tuhan Yesus tidak hanya mengajar, tetapi melakukan semua yang diajarkan kepada murid-murid-Nya.Andaikata orang Yahudi menyadari bahwa yang mereka salibkan adalah Mesias yang sudah mereka tunggu ratusan tahun, maka pasti mereka tidak akan pernah menyalibkan Dia. Akan tetapi karena mereka sudah mempunyai gambaran Mesias yang salah, maka mereka menyalibkan Dia.

Tetapi apakah ketidaktahuan membuat kesalahan pasti akan diampuni? Apakah permohonan ampun dari Tuhan Yesus untuk orang-orang yang menyalibkan Dia dikabulkan oleh Bapa? Apakah permohonan itu membuat dosa orang Yahudi pasti diampuni oleh Bapa di sorga? Kalau ya, maka apakah berarti mereka diselamatkan? Tetapi mereka kan tidak percaya bahwa Dialah Mesias? Apakah orang yang tidak percaya dapat diselamatkan? Kalau Bapa tidak mengabulkan permohonan itu, untuk apa Tuhan Yesus berdoa mohon pengampunan bagi mereka? Untuk menjawab pertanyaan ini maka kita perlu memahami apa maksud Tuhan Yesus dengan perkataan-Nya itu :

Pertama, perkataan ini hanya ditulis oleh Lukas dan tidak oleh ketiga Injil yang lain. Hal ini penting bagi Lukas, karena dia menulis Injilnya terutama ditujukan kepada orang non-Yahudi atau orang kafir. Lukas ingin mengatakan bahwa Mesias yang disalibkan itu mempunyai kualitas kasih yang luar biasa, yang bersedia memohonkan ampun bagi orang-orang yang telah berbuat jahat kepada-Nya. Menurut pengertian dan konsep pada zaman itu, hal ini tidak dapat dimengerti dan dipahami, karena konsep kasih seperti ini memang tidak ada dalam semua kebudayaan di dunia. Bahkan sampai saat inipun konsep kasih yang seperti itu tidak pernah ada di luar ke-Kristenan.

Orang Yahudi sebagai umat pilihan Allah juga tidak memahami konsep ini. Bagi mereka berlaku konsep mata ganti mata, gigi ganti gigi (Kel 21:23-25; Im 24:17-23). Lukas mau menyaksikan kepada seluruh dunia bahwa sebagai Mesias yang sejati Tuhan Yesus selalu melakukan apa yang diajarkan-Nya (Mat 5:28-48). Dia mengajarkan kasihilah musuhmu. Dan di atas kayu salib Dia melakukan apa yang Dia ajarkan kepada murid-murid-Nya.

Kedua, tujuh perkataan salib mempunyai kedudukan yang persis sama dengan semua perkataan Tuhan Yesus lainnya, artinya permohonan doa pengampunan yang dikatakan di atas kayu salib kedudukannya sama dengan permohonan doa Tuhan Yesus yang lain. Dalam banyak hal, permohonan doa Tuhan Yesus ketika menjadi Anak Manusia dikabulkan oleh Bapa. Misalnya mujizat lima roti dan dua ikan adalah permohonan doa yang dikabulkan oleh Bapa. Tetapi kitab Injil juga mencatat bahwa tidak semua permohonan doa yang dinaikkan oleh Tuhan Yesus dikabulkan oleh Bapa. Alkitab mencatat ketika Tuhan Yesus menubuatkan bahwa Petrus akan menyangkali Dia tiga kali, Dia berdoa supaya iman Petrus tidak gugur. Tetapi ternyata iman Petrus tetap gugur (Luk 22:31-34 bandingkan dengan Luk 22:54-62).

Demikian juga ketika di taman Getsemani, Tuhan Yesus berdoa supaya cawan murka Allah tidak ditumpahkan ke atas-Nya. Tetapi ternyata cawan murka itu tetap harus Dia terima (Mat 26:30; Luk 22:42). Tuhan Yesus bukan tidak tahu bahwa permohonan doa itu tidak akan dikabulkan oleh Allah Bapa. Dia tahu, tetapi Dia tetap mengajukan permohonan itu untuk mengajarkan kepada pengikut-Nya bagaimana Anak belajar untuk memiliki ketergantungan kepada Bapa dalam segala hal dan dengan bebas dapat mengutarakan semua permohonan-Nya. Dia tetap berdoa walaupun tahu dengan jelas bahwa permohonan itu tidak akan dikabulkan. Tetapi Dia juga tetap taat kepada Bapa walaupun permohonan-Nya tidak dikabulkan. Jadi permohonan pengampunan untuk mereka yang telah menganiaya Dia tidak otomatis membuat Bapa harus mengabulkan permohonan doa itu. Pertanyaannya sekarang adalah apakah permohonan doa seperti itu mungkin dikabulkan oleh Bapa di sorga? 

Dalam seluruh pengajaran-Nya tentang keselamatan, dengan jelas Tuhan Yesus selalu menghubungkan keselamatan dan pengampunan dosa kepada diri-Nya. Ada sangat banyak ayat dalam alkitab yang mengajarkan hal ini. Dialah roti hidup dan barangsiapa memakannya akan hidup selama-lamanya (Yoh 6:51). Dia adalah terang dunia, barangsiapa mengikuti Dia akan memperoleh terang hidup (Yoh 8:12). Dialah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepada-Nya, dia akan hidup walaupun sudah mati (Yoh 11:25). Kata kunci keselamatan adalah percaya kepada-Nya. Di luar iman kepada Tuhan Yesustidak ada keselamatan. Dengan demikian kita juga harus mendudukkan perkataan pertama kayu salib dengan kebenaran ini. Berarti tanpa iman percaya kepada-Nya tidak pernah ada keselamatan. Apakah kemudian kita juga dapat mengambil kesimpulan bahwa perkataan pertama Tuhan Yesus di kayu salib tidak ada artinya, apakah doa-Nya itu sia-sia? Bukankah orang-orang Yahudi dan para pemimpin mereka tidak percaya kepada Tuhan Yesus?

Memang waktu itu mereka tidak percaya, tetapi kesaksian alkitab memberitahu kepada kita bahwa sebagian orang-orang yang menyalibkan Tuhan Yesus akhirnya percaya kepadanya. Mereka bertobat ketika Petrus berkotbah pada hari raya Pentakosta, kira-kira 2 bulan setelah penyaliban Tuhan Yesus (Kis 2:21-41). Dengan jelas Petrus mengatakan bahwa orang-orang yang hadir waktu hari raya Pentakosta itulah yang telah menyalibkan Tuhan Yesus (Kis 2:22-23). Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan Kis 2:37 dengan istilah “hati mereka sangat terharu.” Kata yang dipakai adalah “katanusso” yang artinya tertusuk sampai tembus. Berarti memang merekalah yang telah hadir dan berteriak “salibkan Dia” dua bulan yang lalu. Orang Yahudi laki-laki mulai usia 13 tahun ke atas, wajib datang ke Yerusalem paling sedikit 3 kali setahun pada hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Roti Tidak Beragi, Pentakosta dan Pondok Daun (Im 23; Ul 16). Tuhan Yesus disalibkan sekitar hari Paskah. Hari Raya Roti Tidak Beragi dirayakan sehari setelah hari raya Paskah.

Hari raya Pentakosta dirayakan kira-kira dua bulan setelah hari raya Roti Tidak Beragi. Karena itu mereka yang datang pada hari raya Roti Tidak Beragi dan berteriak “salibkan Dia” sebagian adalah juga mereka yang datang pada hari raya Pentakosta. Paling tidak ada tiga ribu orang Yahudi yang tertusuk sampai tembus hatinya dan bertobat pada hari Pentakosta (Kis 2:41). Mereka inilah yang juga mendengar perkataan pertama Tuhan Yesus itu. Namun waktu itu merekalah yang berteriak “salibkan Dia.” Tetapi kotbah Petrus yang penuh dengan Roh Kudus telah menusuk tembus hati mereka sehingga mereka menyadari dosa mereka dan memberi diri dibaptis. Berarti doa permohonan Tuhan Yesus tidak sia-sia. Bapa di sorga mendengar permohonan doa-Nya dan mengabulkan permohonan doa Tuhan Yesus, walaupun tertunda selama kira-kira dua bulan. 

Perkataan kedua (Aku berkata kepadamu ……..Luk 23:43)

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23:43). Ini merupakan pernyataan kasih kepada orang yang mau mengakui dosanya dan kemudian memohon belas kasihan kepada Tuhan. Saat itu seharusnya Tuhan Yesus berkonsentrasi kepada diri-Nya sendiri, karena sebentar lagi Dia akan mengalami puncak penderitaan-Nya. Akan tetapi kasih-Nya kepada orang berdosa dinyatakan dengan memberikan Firdaus kepada orang yang sangat tidak layak untuk memperoleh sorga itu. Matius dan Markus mencatat bahwa kedua penyamun yang disalibkan di kanan kiri Tuhan mencela Dia (Mat 27:44; Mrk 15:32). Hanya Lukas yang mencatat pertobatan salah satu dari penyamun itu. Rupanya pada mulanya kedua penjahat itu mencela dan ikut mengolok-olok Dia. Mereka berdua mendengar para pemimpin agama dan orang Israel mengolok-olok Tuhan Yesus. Akan tetapi yang tidak pernah kita bayangkan adalah bahwa olok-olok itu sebenarnya adalah Berita Injil. Orang-orang itu memberitakan suatu berita yang luar biasa yaitu bahwa Dialah Anak Allah, Dialah Mesias, Raja Israel (Mat 27:40-43; Mrk 15:29-32; Luk 23:35-38). Dan kelihatannya Tuhan Yesus tetap berdiam diri diolok-olok seperti itu.

Tidak heran kedua penjahat itu juga ikut mengolok-olok Dia. “Pemberitaan Injil” itu dilakukan oleh para musuh Tuhan Yesus dengan maksud untuk mengolok-olok dan menghina Tuhan Yesus, berarti dengan maksud jahat. Tetapi kuasa pemberitaan Injil sama sekali tidak tergantung dari motivasi si pemberita Injil. Motivasi yang salah sekalipun tetap bisa dipakai oleh Allah untuk membuat orang bertobat. Pemberitaan Injil tidak tergantung kepada manusia. Apakah kualitas manusianya baik atau jahat, atau apakah maksud pemberitaannya tulus atau ada maksud tersembunyi. Berita Injil mempunyai kuasa dari dirinya sendiri, karena di sana ada kuasa Roh Kudus yang akan mengubah hati orang-orang pilihan. Kalau orang percaya lalai atau enggan memberitakan Injil, maka sebenarnya merekalah yang rugi, karena Amanat Agung diberikan kepada manusia, bukan karena Allah tidak sanggup memberitakan injil. Peristiwa Kornelius menunjukkan bahwa ketika para rasul gagal mengerti maksud Amanat Agung untuk memberitakan berita injil kepada semua bangsa, maka “terpaksa” Allah membuka hati dan pikiran pemimpin para rasul, yaitu Petrus. Ini kesempatan bagi pemimpin para rasul itu. Dan syukur kepada Allah bahwa Petrus akhirnya menyadari maksud Amanat Agung dengan benar. Perhatikan bahwa setelah mengutus malaikat kepada Korelius, Allah tetap memakai Petrus untuk memberitakan injil itu (Kis 10).

Kedua penyamun mendengar “Injil” yang sama, tetapi yang satu bertobat, yang lain menghujat Dia (Luk 23:39). Inilah yang namanya kasih karunia. Mengapa yang satu bisa bertobat, tetapi yang lain tetap mengolok-olok Dia? Kita tidak tahu dengan persis, tetapi itu semua adalah wewenang Allah, kedaulatan Allah. Dia berhak memilih menurut hikmat dan kasih karunia-Nya kepada manusia berdosa. Tukang periuk berhak menentukan tanah liat itu mau dibuat seperti apa (Yer 18). Dan kalau Allah mau memakai pemberitaan injil yang bermotivasi jahat, maka itu juga adalah hak Allah. Dia sanggup mengubah niat jahat manusia menjadi kebaikan bagi rencana-Nya (Kej 50:20). Rasul Paulus juga mengatakan kebenaran yang sama dalam kitab Filipi (Flp 1:12-29). Pemberitaan injil dengan maksud jahat tetap disyukuri oleh Paulus, karena dia tahu bahwa selama injil diberitakan, tidak peduli motivasi di balik itu, maka akan ada pertobatan dari orang-orang pilihan. Berita Injil diberitakan oleh para penghujat dengan maksud jahat, tetapi ketika kemudian salah seorang penjahat itu mendengar Firman Kristus, yaitu “Bapa ampunilah mereka ….,” maka dia bertobat. Firman Kristus inilah yang mengubah hati salah seorang penjahat tersebut. 

Alkitab mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran dan pendengaran akan Firman Kristus (Rom 10:17). Proses ini terjadi dalam waktu yang begitu singkat dan kritis, karena kesempatan itu berlangsung mungkin hanya dalam hitungan jam. Roh Kudus bekerja luar biasa dahsyat dalam hati salah seorang penjahat itu. Pertama, Roh Kudus menyadarkan dia bahwa dia orang berdosa yang memang layak untuk dihukum (Luk 23:39-41). Menyadari kesalahan memang banjak terjadi dalam diri orang berdosa. Akan tetapi menyadari bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita dari hukuman dosa tidak banyak diketahui atau dirasakan oleh orang berdosa. Kerusakan total dalam diri manusia telah membuat manusia berpikir bahwa dia dapat menyelamatkan dirinya dari hukuman dosa dengan banyak melakukan hal-hal yang baik. Kalau perbuatan baiknya lebih banyak dari dosanya, maka pasti dia akan lolos dari hukuman kekal. Kalau dihukum ya tidak terlalu lama. Tetapi karena baiknya lebih banyak dari jahatnya, maka setelah “hukuman sementara” itu akhirnya pasti akan masuk sorga. Kesalahan berpikir seperti ini menunjukkan bahwa manusia memang sudah rusak total. 

Kedua, Roh Kudus telah menyadarkan salah seorang penjahat itu dengan mencerahkan hatinya bahwa hanya Tuhan Yesus inilah satu-satunya yang dapat menolong dia dari hukuman kekal. Kita tidak tahu bagaimana caranya Roh Kudus bekerja, tetapi berita Injil yang diberitakan dengan maksud jahat tadi, telah mengubah hatinya sehingga salah seorang penjahat itu “tercelik mata hatinya” dan mengerti bahwa inilah Mesias itu. Permohonan untuk diingat ketika Tuhan Yesus datang sebagai raja (Luk 23:42) menunjukkan bagaimana dahsyatnya Roh Kudus bekerja dalam hatinya. Akal sehat dan logika manusia tidak akan pernah mampu sampai pada kesimpulan bahwa orang yang disalib dan sedang sekarat itu adalah Mesias. Paulus mengatakan bahwa berita salib adalah kebodohan bagi manusia yang akan binasa (1Kor 1:18). Bagi dunia, mereka yang percaya pemberitaan salib adalah orang bodoh, tetapi sebenarnya “orang bodoh inilah” yang memperoleh kasih karunia dari Allah. Salah seorang penjahat itu tidak pernah menyangka bahwa ternyata Tuhan Yesus memberikan kepadanya jauh melebihi dari apa yang dia minta. Dia minta diingat kalau Mesias itu datang sebagai Raja. Tetapi Tuhan Yesus memberikan Firdaus langsung kepadanya hari itu juga (Luk 23:43). 

Dia tidak perlu menunggu sampai Tuhan Yesus datang sebagai  Raja. Inilah salah satu bentuk pernyataan kasih bagi mereka yang mau mengakui salah dan dosanya kepada Tuhan Yesus dan mohon belas kasihan. Janji Tuhan ini juga mengajarkan kepada kita, bahwa memang perbuatan baik bukan syarat masuk sorga. Salah seorang penjahat itu mengakui bahwa dia dan temannya yang sama-sama disallib pantas untuk menerima hukuman itu. Berarti dia menyadari bahwa dia orang yang jahat. Kalau perbuatan baik menjadi syarat masuk sorga, maka dia pasti masuk neraka. Tetapi ternyata Allah tidak pernah memasang syarat itu (Tit 3:4-7). Salah seorang penjahat itu masuk sorga karena dia percaya bahwa orang yang sekarang sedang disalibkan itu adalah benar-benar Mesias.

Perkataan ketiga (Ibu, inilah ……. Yoh 19:26-27)

“Ibu, inilah, anakmu” dan kemudian “inilah ibumu” (Yoh 19:26-27). Pernyataan kasih kepada ibu yang sudah selama ini membesarkan Dia. Peristiwa ini merupakan penggenapan nubuat Simeon 30 tahun yang lalu (Luk 2:34-35). Maria diingatkan akan nubuat yang menyakitkan hatinya. Simeon menubuatkan bahwa hati Maria akan tertusuk pedang. Mungkin Maria waktu itu tidak mengerti bagaimana bisa Mesias akan membuat jiwanya tertusuk pedang. Tetapi hari itu dia mengerti dan dia merasakan hatinya yang tertusuk pedang. Dalam keadaan yang seperti itu maka Maria memerlukan suatu lingkungan yang dapat menopang banyak hal dalam hal kehidupannya dan terutama imannya. Maria mungkin juga bingung mengapa dia diserahkan kepada Yohanes dan bukan kepada anak-anakya yang lain. Dengan perkataan ini hati Maria yang tertusuk pedang bisa dihiburkan karena masa depannya tidak kabur. Ada orang yang akan memelihara dia. Tetapi yang lebih penting adalah bahwa dia diserahkan kepada orang yang sangat bisa dipercaya yaitu Yohanes, karena anak Maria yang lain tidak percaya akan Tuhan Yesus (Yoh 7:5).

Bayangkan kalau perkataan ini tidak diucapkan oleh Tuhan Yesus kepada Maria dan Yohanes. Karena Maria masih mempunyai banyak anak yang lain, maka akan sangat masuk akal bahwa akhirnya Maria akan tinggal bersama dengan mereka, sedangkan mereka tidak percaya. Akan muncul konflik iman dalam keluarga. Tetapi dengan menyerahkan Maria kepada Yohanes, maka Maria yang dalam keadaan labil secara emosional tetap dalam lingkungan orang percaya supaya imannya tetap terpelihara. Bukan suatu kebetulan bahwa pada saat itu ibu kandung Yohanes (Salome) ada di situ juga (Mat 27:56, bandingkan dengan Mrk 15:40). Dan Alkitab mencatat bahwa hari itu juga Maria diterima di rumah Yohanes. berarti perintah itu bukan hanya kepada Yohanes dan Maria, tetapi juga kepada Salome, karena mungkin saja Salome merasa bahwa Maria kan mempunyai anak yang lain selain dari Tuhan Yesus, sehingga agak janggal kalau kemudian Maria harus tinggal dengan Yohanes dan Salome. Dalam keadaan yang seharusnya memikirkan diri-Nya sendiri, ternyata Tuhan Yesus masih memikirkan “ibu-Nya.”

Yang juga menarik dari perkataan ini adalah kata “ibu” (terjemahan LAI) yang dipakai oleh Yohanes. Kata yang dipakai Tuhan Yesus ketika berbicara kepada Maria sebenarnya bukan ibu, tetapi “perempuan,”persis sama dengan yang dipakai dalam Yoh 2:4 (gune (Yunani) = perempuan). Kata yang tidak lazim diucapkan oleh seorang anak kepada ibunya. Maria memang adalah “ibu” Tuhan Yesus. Tetapi pada waktu mujizat di Kana, Tuhan Yesus sedang memposisikan diri-Nya sebagai Anak Manusia di hadapan Allah Bapa, karena itu Dia memakai kata “perempuan” untuk berbicara kepada “ibunya.” Demikian juga pada saat di kayu salib. Tuhan Yesus memakai istilah yang sama, supaya Maria menyadari bahwa yang sedang menebus dosa manusia di atas kayu salib sebenarnya bukan anaknya. Yang ada dihadapannya sekarang adalah Allah Anak yang berinkarnasi menjadi Anak Manusia dan sedang menebus dosa manusia, termasuk dosa Maria.

Sebutan “perempuan” ini menunjukkan bahwa walaupun Maria adalah “ibu-Nya” tetapi tetap adalah orang berdosa yang perlu keselamatan melalui kayu salib. Tetapi ketika Tuhan Yesus berbicara kepada Yohanes dalam Yoh 19:27 Dia memakai kata ibu. Berarti memang Tuhan Yesus ingin supaya Yohanes menjadikan Maria benar-benar sebagai ibunya. 

Exit mobile version