Oleh: Pdt. Andy Kirana
Efesus 5:15-17
Shalom. Pagi hari ini saya ingin membagikan kebenaran firman Tuhan melalui satu tema Walk in Wisdom. Mari kita bersama-sama membuka surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus 5:15-17 sebagai dasar firman Tuhan.
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Kita bersama-sama sudah memasuki tahun baru, tahun yang disediakan Tuhan untuk kita jalani bersama-Nya. Tetapi kita juga diingatkan oleh firman Tuhan bahwa hari-hari ini adalah jahat. Hari yang Saudara lalui dan saya lalui dikatakan jahat. Mari kita akan memahami apa yang dimaksud dengan hari-hari ini adalah jahat oleh Rasul Paulus tersebut.
Saudara, Rasul Paulus menulis surat tersebut kepada jemaat di Efesus di mana pada waktu itu banyak orang di Efesus yang hidupnya tercela. Orang-orang di sana menjalani hidup mereka dengan penuh kekejian satu dengan yang lain… bahkan mereka hidup dengan penuh kebobrokan. Lebih dari itu, hidup yang mereka jalani itu nekad. Apa pun yang diperintahkan Tuhan, apa pun yang benar ditabrak. Moralitas dan etika begitu rendahnya dalam hidup mereka waktu itu. Bisa dikatakan, hidup manusia di sana waktu itu lebih rendah daripada cara hidup binatang.
Saudara… coba, renung-renungkan! Apakah kondisi itu tidak mirip-mirip dengan kehidupan di sekitar kita saat ini? Begitu banyak hari ini orang di sekitar kita yang hidupnya demikian nekad. Kalau nekadnya bener sih tidak masalah, ini nekadnya nekad nggak bener.
Dalam konteks seperti itu, Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Efesus agar para jemaat tidak mengikuti cara hidup dan jalan hidup masyarakat di sana ketika itu. Tapi untuk itu, engkau harus hidup di dalam hikmat, kearifan… dalam kebijaksanaan… yang berasal dari Allah karena hikmat dunia adalah jahat.
Maka kita bertanya, bagaimana di tengah gelombang kehidupan yang begitu jahat ini kita bisa hidup dalam hikmat dan kebijaksanaan Allah. Di sini Rasul Paulus memberikan bekal kepada kita, Saudara. Mari pertama-tama kita lihat ayat yang ke-15: ”Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” ‘Karena itu, perhatikanlah dengan saksama’. Kalimat yang diberikan oleh Rasul Paulus ini mengungkapkan bahwa dalam menjalani hari-hari kita di dalam dunia yang jahat ini; kita harus menjalaninya seperti ketika kita berjalan di atas tangga yang sempit. Kita harus hati-hati, harus memerhatikan dengan saksama. Coba Saudara bayangkan, misalnya Saudara harus menaiki tangga yang tinggi dan lebar tangga itu hanya setengah meter. Apakah Saudara bisa berjalan dengan seenak ketika Saudara menapaki tangga yang lebarnya satu setengah meter… sambil tengok kanan, tengok kiri; bercanda-canda? Pastinya, tidak, ya, Saudara? Seperti itulah Rasul Paulus menasihati kita dalam menjalani tangga demi tangga kehidupan kita. Kita harus hati-hati, perhatikan setiap tangga dengan saksama, perhatikan setiap langkah demi langkah, tidak usah tengok kanan tengok kiri karena bila begitu kita bisa jatuh.
Ada sesuatu yang unik, Saudara. Dalam terjemahan bahasa Indonesia dikatakan… perhatikan dengan saksama, bagaimana kamu hidup. Tetapi bila Saudara membaca terjemahan bahasa Inggris, hampir semua terjemahan bahasa Inggris menggunakan kata ‘walk’, berjalan. Karena memang seperti itu maksud sebenarnya dari bahasa aslinya. Lalu, apa yang dimaksud dengan hikmat Tuhan itu, Saudara? Saya ingin tunjukkan supaya Saudara mengerti.
Andy Kirana : Saya minta Bapak gembala untuk ke depan membantu saya (Pdt. Warsito Aji ke mimbar). Pak Warsito, coba peragakan bagaimana Bapak berjalan dari sini ke sana (menunjuk ke ujung podium) dan kembali ke sini lagi. (Warsito berjalan). Pada waktu Pak Warsito tadi berjalan, ketika kaki kanan di depan, kaki kiri di mana?
Jemaat : Di belakang.
Andy Kirana : Ketika kaki kiri melangkah ke depan, kaki kanan harus di mana?
Jemaat : Di belakang.
Andy Kirana : Nah, itu salah satu hikmat Tuhan, cara Tuhan, Saudara. Ketika engkau melangkah ke depan, tinggalkanlah masa lalumu. Jangan pernah membawa masa lalu bersama-sama dengan masa depan. Saudara tidak akan kuat. Mau lihat buktinya? Coba sekarang Pak Warsito berjalan lagi ke ujung sana tetapi kaki kanan dan kaki kiri melangkah bersamaan dengan kedua tangan direntangkan ke depan (Warsito memeragakan berjalan melompat ke ujung podium seperti vampir, sambil terengah-engah).
Andy Kirana : Berat atau tidak?
Jemaat : Berat.
Andy Kirana : Itu bukan cara Tuhan, tapi cara Iblis supaya kita lelah dan kalah dalam menjalani hidup ini. Nah itu cara hidup orang bebal, kata Paulus.
“… janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” Seperti apa menjalani hidup ini secara arif, Saudara? Saya membayangkan, menjalani hidup seperti orang arif itu seperti seorang ibu. Kita seharusnya menjalani hidup ini dengan prinsip seorang ibu (Andy Kirana menunjukkan gambar ibu menyusui bayinya). Kalau mendengar kata ‘IBU’, kata yang terlintas di dalam pikiran kita adalah ‘kasih sayang’. Tepat seperti itu… mestinya kita menjalani hidup ini dengan kasih sayang. Kasih sayang di antara anggota keluarga, anggota masyarakat, dan dengan semua orang. Tetapi juga kasih sayang dalam politik, ekonomi, budaya, dll. Sayangnya, sekarang ini banyak orang menjalani hidup bukan dengan prinsip ‘IBU’, melainkan prinsip ‘UBI’ (Andy Kirana menunjukkan gambar ubi). Apa artinya? Menjalani hidup semata-mata untuk urusan ‘ubi’ atau materi. Orang mengejar materi bagaimanapun caranya…. tidak peduli itu benar atau salah. Segala sesuatunya ditimbang, diukur dengan materi. Akibatnya, banyak orang yang karena terlalu mengejar dan mengutamakan ‘UBI’ akhirnya justru masuk ke dalam ‘BUI’ (Andy Kirana menunjukkan gambar bui/penjara). Betul nggak, Saudara?
Saya ingin katakan bahwa orang bebal bukan orang yang bodoh, Saudara. Orang bebal adalah orang yang tahu mana yang benar, tetapi tidak melakukan prinsip yang benar itu. Mereka tahu kebenaran tetapi tidak pernah menjalankan kebenaran.
Bagaimana dengan orang arif, Saudara? Rasul Paulus memberikan gambaran yang indah. Mari kita baca ayat ke-16: ”dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Orang yang arif, bijaksana, berhikmat mempergunakan waktu (kairos) karena hari-hari ini (kronos) adalah jahat. Kronos adalah waktu ke waktu yang kita lalui. Hari ini, besok, lusa… bulan ini Januari, setelah itu Februari, selanjutnya Maret dan seterusnya; itu adalah kronos.
Bagaimana dengan kairos? Orang mengartikan kairos bukan hanya sekadar waktu, tetapi kesempatan. Orang Yunani menggambarkan kairos itu seperti manusia tetapi kedua kaki dan punggungnya bersayap. Ini menunjukkan bahwa kairos bisa datang sewaktu-waktu tetapi dengan cepat akan meninggalkan kita bila kita tidak menangkapnya. Selain bersayap di kedua kaki dan punggungnya, rambut kepala kairos digambarkan lebat di depan tetapi botak di bagian belakang. Saya akan memeragakannya untuk Saudara bagaimana menangkap kairos, tapi saya minta ada seorang yang menemani saya (Berjalan menuju ke tempat duduk jemaat).
Andy Kirana : Mau menemani saya, Mas? (Mengajak seorang jemaat). Siapa namanya, Mas?
Daniel : Daniel.
Andy Kirana : Okay. Umpamakan Mas Daniel itu kairos, kesempatan. (Andy Kirana dan Daniel berdiri berhadap-hadapan dengan jarak sekitar 5 meter). Ketika kairos itu datang (Daniel berjalan lurus sehingga semakin dekat dengan Andy Kirana) dan saya tidak menangkapnya (Daniel terus berjalan melewati Andy Kirana), kairos itu akan terus berjalan. Ketika saya sadar ada kairos atau kesempatan lewat, dia sudah berjalan jauh meninggalkan saya (Andy Kirana berbalik badan memandangi Daniel, tetapi jarak Daniel dan Andy Kirana sudah jauh). Bisa saja saya mengejarnya kembali, tetapi ketika saya akan menangkap kairos itu, tangan saya akan menyentuh bagian belakang kairos yang gundul dan licin sehingga saya sulit mendapatkannya (Andy Kirana memeragakan tangannya menangkap bagian belakang kepala Daniel tapi lepas terus).
Oleh karena itu, langkah terbaik bila bertemu kesempatan adalah…. (Andy Kirana kembali berhadap-hadapan dengan Daniel, lalu keduanya saling berjalan ke depan sehingga mereka semakin dekat dan ketika Daniel berada tepat di hadapan Andy Kirana)… TANGKAP rambut bagian depannya (memegang rambut depan Daniel). Dan jangan pernah dilepaskan lagi. Itu cara paling tepat ketika Tuhan memberikan kairos atau kesempatan kepada kita. Tangkap dan jangan pernah dilepaskan.
Saudara, saya percaya pagi ini di ruangan ini Saudara telah melakukan itu. Saudara pergi ke gereja itu berarti Saudara langsung menangkap kairos, kesempatan waktu untuk beribadah, bertemu Tuhan. Kita tidak tahu, jangan-jangan bila kesempatan beribadah ini tidak kita tangkap, kita sudah tidak punya kesempatan lagi untuk beribadah bertemu Tuhan. Ini cara pikir orang yang arif.
Nah, sekarang bagaimana cara menangkap kairos dalam kehidupan kita sehari-hari, Saudara. Saya menemukan, Musa pernah berdoa kepada Tuhan untuk menangkap kairos itu supaya dia bisa menjalani hidupnya dengan bijaksana. Inilah doa Musa di saat-saat akhir hidupnya. ”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12). Ketika membaca doa ini, Saudara… saya bertanya-tanya: masa sih Musa yang sudah setiap hari bersama Tuhan masih berdoa minta diberi hati yang arif, hati yang bijaksana?
Apa maksudnya ‘menghitung’ dalam doa tersebut, Saudara? Saya mendapati kata menghitung itu persis seperti kalau kita menghitung dengan tanda hitung. Jadi supaya kita bisa hidup seperti orang arif bijaksana, maka yang pertama harus kita lakukan adalah ‘menambah’. Apa yang harus kita tambah? Kebenaran Tuhan, hikmat Tuhan, kebaikan untuk sesama. Kita menambah-nambah semua itu dalam kehidupan kita. Kedua, ‘mengurangi’. Apa yang harus kita kurangi? Hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, sifat buruk kita. Kita mengurangi semua itu dalam sepanjang kehidupan kita. Yang ketiga, Saudara bisa ‘mengalikan’ atau melipatgandakan hidup yang kita jalani ini. Bagaimana kita ‘mengalikan’ atau ‘melipatgandakan’ hidup yang kita jalani? Saya ingat orangtua saya. Ayah saya petani dan biasanya ayah dan tetangga menggarap sawah bersama-sama. Yang saya lihat, sejak saya kecil, kalau sedang menanam padi di sawah, ayah dan para penggarap sawah tidak hanya bekerja; tetapi mulut mereka menaikan kidung pujian kepada Tuhan. Saudara juga bisa melakukan itu. Sambil menyelesaikan pekerjaan rumah, pujilah Tuhan. Sambil bekerja di kantor, ingat istri dan anak, doakan istri dan anakmu. Itu cara menghitung hari dengan ‘melipatgandakan’. Dan yang keempat, kita juga ‘membagi,’ dengan berbagi untuk orang lain. Kita berikan apa yang kita punyai untuk orang lain. Berbagi tidak selalu dalam bentuk materi. Kita mendoakan orang lain, itu juga telah berbagi.
Saya jadi ingat… setiap kali saya bertemu bapak saya (almarhum), ada satu kalimat yang selalu diucapkan bapak. Kalimat itu selalu dia sampaikan sejak saya masih kecil sampai menjelang Bapak dipanggil Tuhan. Bapak selalu katakan begini (dalam bahasa Jawa dialek Surabaya), “Andy, mumpung Bapakmu jik orip, sekaren sakiki. Percuma koen nyekar Bapakmu nek wis matek” (Andy, selagi Bapakmu masih hidup, taburilah bunga sekarang. Percuma kamu menaburi bunga Bapakmu kalau sudah meninggal – red). Ini adalah nasihat untuk berbagi sewaktu kita masih hidup, kepada orang yang masih hidup. Percuma kita berbagi kepada orang yang sudah mati, mereka tidak bisa merasakannya. Selagi kita masih diberi kesempatan hidup, taburilah orang lain bunga mumpung mereka masih hidup… dengan kebaikan.
Yang terakhir, ayat 17: ”Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Saya ingin menggarisbawahi kalimat ‘… mengerti kehendak Tuhan.´ Banyak orang bertanya-tanya, bagaimana mengerti kehendak Tuhan. Ada sebuah ungkapan yang sudah hidup di dalam gereja sejak dulu, yaitu kata Carpe Diem. Ini secara harafiah berarti petiklah hari. Itulah kata kunci untuk mengerti kehendak Tuhan, Saudara: memetik setiap hari dan mempersembahkannya di mezbah Tuhan. Begini, Saudara. Kalau besok adalah hari Senin; petiklah hari Senin itu lalu letakkan di hadapan Tuhan, serahkan sepanjang hidup hari itu dalam naungan Tuhan. Setelah itu, jalanilah hari itu bersama Tuhan. Entah Saudara menjalaninya mulus tanpa rintangan atau Saudara menjalaninya dengan penuh rintangan; Saudara tidak berjalan sendirian karena Allah bersama dengan Saudara. Saudara ada dalam kehendak Tuhan. Seperti itu carpe diem. Itulah kunci kita memahami kehendak Allah.
Saudara, untuk mengakhiri perenungan pagi ini, saya akan memberikan satu contoh bagaimana menjalani hidup ini dengan arif. Untuk itu, saya minta bantuan tiga orang maju ke mimbar (tiga orang maju ke mimbar).
Andy Kirana : Dengan siapa?
Jemaat : Okto, Daniel, Lukas.
Andy Kirana : Baik. Saya akan memberikan mangga kepada Pak Okto, Mas Daniel, Mas Lukas. (memberikan mangga kepada masing-masing). Pak Okto, saya mau tanya. Pernah makan mangga, ya? Coba diingat-ingat, pada waktu makan mangga, yang dimakan dagingnya atau bijinya.
Okto : Dagingnya.
Andy Kirana : Mas Daniel, pertanyaan yang sama: yang dimakan apanya? (mendekati Daniel).
Daniel : Seingat saya, dagingnya.
Andy Kirana : Coba, diingat-ingat apakah pernah bijinya juga dimakan.
Daniel : Belum pernah.
Andy Kirana : Kalau (bijinya) dikulum-kulum?
Daniel : O iya… pernah. Enak…
Andy Kirana : Saya bertanya kepada Mas Lukas (mendekati Lukas). Pada waktu makan mangga, apanya yang dimakan?
Lukas : Ya dagingnya, ya bijinya… tapi dikulum (jemaat tertawa).
Andy Kirana : Pertanyaan kedua. Saya mulai dari Mas Lukas. Pada waktu mengulum biji mangga; apakah bijinya sampai tertelan? (jemaat tertawa).
Lukas : Tidak.
Andy Kirana : Mengapa bijinya tidak ditelan sekalian?
Lukas : Bijinya terlalu besar dan mungkin tidak ada rasanya.
Andy Kirana : Kalau Mas Daniel?
Daniel : Tidak. Menelan biji mangga berbahaya. Kalau menyangkut di tenggorokan saya bisa mati.
Andy Kirana : Bagaimana dengan Pak Okto?
Oktober : Biji mangga tidak saya makan karena tidak berguna bagi tubuh saya.
Andy Kirana : Ya… ternyata tidak ada satu pun yang makan mangga sekaligus dengan bijinya. Semua alasan benar. Tapi ada satu alasan utama yang belum diungkapkan. Biji itu adalah bakal pohon. Apabila mulai hari ini semua orang yang makan mangga sekaligus harus mengabiskan bijinya; apa yang terjadi, Saudara?
Jemaat : Mangga akan punah.
Saudara, coba amati bagaimana siklus mangga itu. Sebuah mangga kita makan dagingnya, bijinya kita tanam, tumbuh pohon mangga. Dari sebatang pohon mangga akan dihasilkan banyak buah mangga. Buahnya kita petik, dagingnya kita makan lagi. Bijinya kita tanam, akan tumbuh pohon mangga lagi. Dari pohon mangga tersebut akan dihasilkan buah-buah mangga. Saudara bayangkan, pohon mangganya akan semakin banyak, buahnya juga akan semakin banyak. Ini lingkaran multiplikasi atau pelipatgandaan. Saat engkau menanam, buah yang dihasilkan akan dilipatgandakan. Hal itu sesuai dengan janji Tuhan dalam 2 Korintus 9:10 yang mengatakan “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.”
Saudara, mangga ini saya ibaratkan sebagai berkat Tuhan. Kalau Saudara diberi berkat oleh Tuhan, jangan habiskan semua berkat itu untuk diri sendiri. Jangan dimakan juga bijinya. Itu cara orang bebal! Sisihkan sebagian berkat tersebut, tanamlah. Berkat yang Saudara sisihkan itu adalah biji yang akan memberikan hasil berlipat ganda di masa depan. Ini cara orang arif! Mari kita belajar berjalan hari demi hari dalam hikmat Allah. Berjalan dalam hikmat-Nya, berjalan dalam berkat-Nya. Amin.

