Kedatangan Kristus Mengubah yang Hina Menjadi Mulia
Yohanes 1:16
oleh: Jenny Wongka †
“Karena kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.”
Charles Spurgeon, seorang pengkhotbah besar, pada suatu hari Minggu di musim panas, sempat berdiam di sebuah kota Italian yang bersebelahan dengan Gunung Alpens. Seluruh populasi daerah itu adalah orang Romish. Bersama dengan tiga orang temannya yang beragama Kristen Protestan, mereka melakukan ibadah kepada Allah. Kemudian, mereka keluar untuk menyaksikan pemandangan sambil mencari udara segar. Tiba-tiba terdengarlah sebuah pengumuman bahwa barangsiapa yang sanggup naik ke atas bukit itu dengan intensi yang selayaknya melalui tangga, maka orang tersebut akan menerima pengampunan dosa serta indulgence (boleh menuruti keinginan diri sesuka hati) selama lima hari berikut.
Banyak hal yang bisa dilihat dalam seluruh perjalanan mendaki bukit tersebut— yang semuanya merupakan model penderitaan dan kematian Kristus, yang diawali dari kesedihan hati-Nya di Taman Getsemani yang dilukiskan dengan tetesan keringat-Nya jatuh mengalir bagaikan tetesan darah ke tanah. Tiga murid-Nya berada sepelemparan batu jauhnya dari Tuhan Yesus. Sedangkan para murid yang lain berada jauh di luar tembok taman tersebut. Setiap model figur tersebut berada pada posisi yang diatur dengan apik. Tiap kelompok model diberi keterangan dalam bahasa Latin hingga kami mencapai puncak bukit itu. Di sana kami melihat sebuah taman lain, tatkala pintu masuk didorong terbaca sebuah kalimat: “Kini Anda berada dalam sebuah taman dengan sebuah kubur baru!” Dengan menelusuri jalan yang sempit, kami masuk ke kubur baru itu; sambil berdiri serta melongok ke dalam tepat seperti apa yang dilakukan oleh Petrus pada pagi kebangkitan Tuhan Yesus. Apa yang kami lihat ternyata bukan sebuah lukisan mayat Kristus, melainkan hanya teks Latin yang berbunyi: “Dia tidak ada di sini, sebab Dia telah bangkit! Marilah lihat tempat di mana Dia dibaringkan itu.” Sesudah itu, kami tiba di tempat yang merupakan sudut representasi tentang kenaikan Tuhan Yesus. Sebuah lukisan gedung gereja yang besar terlihat di depan dan kami memasukinya. Tak seorang pun di dalam gereja itu, namun sesuatu yang luar biasa telah menarik hati Spurgeon, di mana plafon gereja dipenuhi dengan lukisan representasi Tuhan Yesus Kristus. Di sekelilingnya terdapat patung-patung para nabi, masing-masing dengan jari yang terarah kepada Tuhan Yesus.
Oh itu dia tampak Nabi Yesaya dengan sebuah gulungan kitab yang bertuliskan: “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap Dia, dan bagi kita pun Dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya.” Sekeliling gedung gereja bagian dalam diliputi dengan kata-kata yang agung tertulis dengan huruf cukup besar sehingga terbaca dengan jelas.
Membaca kesaksian Spurgeon ini, saya sendiri merenung: Semua orang kudus yang hidup mulai dari zaman Adam hingga Maleakhi, kemudian disusul dengan orang-orang kudus zaman Tuhan Yesus hingga melewati sejarah gereja perdana, bahkan orang-orang kudus hingga hari ini, masing-masing menyaksikan betapa Yesus Kristus, Anak Allah, Sang Juruselamat manusia itu telah mengubah hidup setiap pribadi. Tiap individu dalam posisi masing-masing menerima panggilan keselamatan dan pelayanan dengan cara yang unik. Bagi saya, semua ucapan syukur itu akan terangkat dari bumi ke surga. Suatu ungkapan: “Di dalam kepenuhan-Nya, kita telah menerima kasih karunia demi kasih karunia!”
Inilah kesaksian dari semua orang kudus atau orang Kristen yang berada di bawah naungan kasih-Nya di segala tempat dan sepanjang abad. Ayat singkat dari Yohanes 1:16 ini bisa kita pelajari dengan dua huruf F, yakni Fullness dan Filling. Sebagai seorang hamba Tuhan yang sederhana dan sadar akan keterbatasan diri, saya mencoba untuk membagikan firman Tuhan. Sebuah kata yang bermakna tak terbatas: “Fullness” atau kepenuhan. Saya bagaikan seorang anak kecil yang mengimpikan ingin mencedok air laut sedikit demi sedikit melalui sebuah kulit kerang. Saya berdiri pada sebuah sisi alam semesta ini, yang tidak mampu untuk melihat ujung satunya dari alam ini. “Filling” atau pemenuhan atas diri kita merupakan suatu tindakan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri. Sungai Allah yang besar, yang penuh dengan air, dengan sangat baik sedang serta akan memenuhi kanal-kanal pribadi dengan kasih karunia demi kasih karunia-Nya. Menyongsong Natal yang tiga hari lagi akan dirayakan bersama, saya mengajak kita untuk memikirkan: sungguh Yesus Kristus sebagai Allah dengan kepenuhan kasih karunia-Nya yang kaya dan mulia justru telah datang menjadi pribadi yang papa atau miskin dan dihina oleh manusia. Marilah kita merenungkan betapa Yesus Kristus telah menerima semua perlakuan manusia ini, hanya dengan satu tujuan agar melalui penghinaan atas diri-Nya kita dimuliakan, melalui kepapaan-Nya kita justru menjadi kaya!
His Fullness = Kepenuhan-Nya
Fullness Yesus Kristus, Anak Allah—Oh, betapa di dalam segala kepenuhan-Nya, suatu kepenuhan pribadi-Nya; Sang Penebus kita, yang pada hakikatnya adalah Allah, dengan merendahkan diri-Nya telah mengambil natur manusia. Dia yang sempurna itu memiliki seluruh kepenuhan. “Fullness”—di dalam diri-Nya berdiam seluruh kepenuhan Allah, kemahakuasaan Allah. Segala kuasa telah diberikan kepada Dia sebagai Mediator di surga dan di bumi. Kemahahadiran Allah berada di dalam diri Yesus Kristus: “sebab dimana ada dua atau tiga orang berkumpul di dalam nama-Nya, Ia berada di tengah-tengah mereka. Ia memiliki hikmat sempurna, bahkan tatkala Ia hidup di dunia ini,” Ia menyerahkan diri-Nya sendiri kepada manusia dan tidak membutuhkan korfirmasi manusia atas diri-Nya, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam diri manusia.” Di dalam diri Yesus ada kepenuhan dalam keadilan. Allah Bapa telah mengaruniakan kuasa penghakiman kepada Anak-Nya—via kebangkitan-Nya dari kematian, kuasa ini diberikan kepada Dia. Di dalam diri Yesus juga terdapat kepenuhan dalam kemurahan-Nya—melalui Dia berita pengampunan dosa disampaikan kepada kita. Semua atribut Allah Bapa dengan sempurna dikenakan atas diri-Nya sebagai suatu totalitas kesempurnaan; kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, keunikan persatuan-Nya itu ada di dalam diri Yesus Kristus sendiri.
“Di dalam Dia berdiam segala kepenuhan Allah Bapa”. Dia adalah image ekspresi pribadi Allah Bapa. Dia bukan hanya memiliki kemuliaan Allah Bapa, tetapi juga pancaran cahaya kemuliaan Allah (Brightness of the Father’s Glory). Betapa bernilainya keyakinan kita kepada Dia, sebab di dalam kepenuhan inilah kita menerima kasih karunia demi kasih karunia Allah.
Pada sisi lain, Dia juga sebagai manusia sempurna. Dia murni tanpa mewarisi dosa; watak-Nya tidak terarah pada hal-hal yang jahat. Kesempurnaan natur-Nya sebagai manusia terlihat dalam karya dan kehidupan-Nya. Dia memiliki kepenuhan yang simpatik. Dia bukan seorang Imam Besar yang tidak dapat merasakan segala kelemahan kita, melainkan malah telah dicobai dalam segala hal sama seperti kita. Janganlah kita berpikir bahwa sifat kemanusiaan Yesus kurang lebih mirip dengan sifat manusia kita masing-masing. Dia sungguh-sungguh adalah manusia. Dia memiliki segala kelembutan, hati-Nya diliputi dengan kasih. Totalitas natur manusia berada di dalam Dia, namun perbedaan antara Dia dan kita adalah Dia tanpa dosa. Natur simpatik-Nya terwujud melalui kerelaan-Nya menangis bersama orang-orang yang berduka, bersukacita dengan orang yang berbahagia.
Kepenuhan-Nya diwujudkan pula pada jabatan-Nya sebagai Imam Besar—sebagai Mediator manusia dengan Allah; memohonkan pengampunan dosa via kurban yang dipersembahkan kepada Allah—kurban yang termahal, sebab diri-Nya sendirilah yang menjadi kurban, yang dipersembahkan cukup sekali untuk selamanya. Jabatan-Nya sebagai Gembala yang baik, yang mengenal dengan baik setiap domba-Nya, bahkan dengan rela mengurbankan nyawa-Nya demi keselamatan domba-domba-Nya, yakni siapa saja yang mau datang kepada Kristus, di sepanjang sejarah dan di segala tempat. Kepenuhan yang sama dialami oleh setiap anak Tuhan, saya dan Anda menerima kepenuhan Kristus tersebut sama dengan apa yang dialami oleh para murid. Menyongsong hari Natal 25 Desember 1996, saya tidak ingin kita hanya merayakan Natal tanpa makna. Yesus Kristus yang kita rayakan kelahiran-Nya, Dia adalah Tuhan dengan segala kepenuhan-Nya. Namun, apakah Dia sudah menjadi bagian dari diri kita secara pribadi? Dia datang untuk mengangkat status hina sebagai orang berdosa menuju status mulia sebagai anak-anak Tuhan, yang menerima kepenuhan atau kesempurnaan pengampunan dosa serta kesempurnaan keselamatan kita. Marilah kita merenungkan sejenak untuk pribadi kita masing-masing hari ini: Apakah kepenuhan Kristus telah menjadi bagian dari diri Anda? Ataukah kita masih berada di luar kepenuhan-Nya? Apakah kita masih tetap berada dalam kepapaan di luar kasih karunia dan kebenaran Allah?
His Filling = PemenuhanNya
Yohanes 1:16 berbunyi, “Dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima ….” Sungguh semua orang kudus, siapa pun dia, pada mulanya berada dalam kondisi “kosong” atau empty. Anda kosong, saya juga tidak mempunyai apa-apa (I have nothing), bahkan bukan apa-apa (I am nothing at all), demikian pula orang kudus seperti Abraham, Paulus, dan seterusnya— semuanya bukan apa-apa! Kasih karunia yang diberikan secara cuma-cuma ini telah mengisi hidup ini dengan makna yang lain pada setiap pribadi. Suatu perbedaan radikal terjadi atas orang yang menerima pemenuhan-Nya secara pribadi, dibandingkan kondisi sebelumnya.
Roma 3:23 berbunyi, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” sebab itu tiap orang harus datang kepada Kristus. Sikap moral yang baik telah dilukiskan secara baik dalam kisah ini: Seorang wanita yang rajin, cantik, dan kaya menikah dengan seorang lelaki yang tidak tampan dan miskin. Sungguh merupakan sejoli yang tidak sepadan dalam pandangan manusia. Mereka berdua pada awalnya mempunyai sikap yang sangat acuh terhadap Injil. Namun pada suatu hari jusru pemberitaan Injillah yang telah mengubah hati dan pandangan nilai hidup mereka, keduanya menjadi percaya dan masing-masing mengambil keputusan positif untuk menerima Tuhan Yesus selaku Juruselamat pribadi. Sang wanita yang berstatus sosial tinggi [kaya] maupun suaminya yang berstatus sosial rendah (papa) sama-sama menerima anugerah keselamatan yang sama. Kedaulatan anugerah Tuhan adalah sama bagi siapa saja, baik yang sempat mengecap pendidikan tinggi, ataupun yang hanya berpendidikan rendah. Saya yakin perkataan Elihu, salah seorang sahabat Ayub bisa meyakinkan Anda tentang hal ini, “Sesungguhnya, semuanya ini dilakukan Allah dua, tiga kali terhadap manusia: mengembalikan nyawanya dari liang kubur, sehingga ia diterangi oleh cahaya hidup” (Ayub 33:29-30).
Cobalah kita amati pemenuhan tersebut dilakukan oleh Tuhan kepada setiap orang tanpa kecuali. Syaratnya hanya satu: “kita mau menerima”. Setiap orang kudus sudah mengambil bagian dalam pemenuhan Tuhan ini. Kalimat “Dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima” dengan jelas memanifestasikan bahwa setiap orang memiliki hak istimewa untuk menerima pemenuhan ini. Dalam pelayanan penginjilan, tatkala Injil diberitakan, undangan kasih Allah ditawarkan, betapa kita menyaksikan ada sejumlah besar orang yang menolak pemenuhan tersebut. Oh, betapa suatu keputusan yang salah dan berakibat fatal. “Kita semua”—siapakah yang dimaksudkan dengan kita semua ini? Tak lain adalah kita semua yang percaya. Kita semua yang pernah sekali menjadi anak yang hilang, tersesat bagaikan domba yang terpisah dan tersesat dari sang gembalanya, seperti sekeping dirham yang hilang—kita yang sama-sama perlu dicari, ditemukan, bahkan diselamatkan. Namun “pemenuhan” ini hanya akan terjadi bila kita masing-masing secara pribadi mau menerima. Penerimaan personal berlaku dalam konteks ini, sebab tidak ada seorang pun sanggup atau diperbolehkan mewakili kita untuk pemenuhan ini.
Berbicara sampai di sini, saya teringat pada perumpamaan Tuhan Yesus tentang lima anak dara yang bijaksana, yang menantikan tibanya sang mempelai lelaki dengan sambil menyediakan minyak yang cukup untuk pelita mereka. Tatkala lima anak dara yang bodoh kehabisan minyak dan meminta kepada anak dara yang bijaksana. Jawaban mereka tegas dan tepat, “Tidak! Nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di sana.” Masing-masing orang harus siap sedia. Memang kesalehan keluarga mencakup tanggung jawab atas seisi keluarga, namun tidak dapat mewakili kesalehan personal.
Secara pribadi Anda harus datang sendiri kepada Kristus, sebagai orang yang hina dan penuh dosa, sebagai yang papa hidup jauh dari Tuhan. Anda perlu datang secara personal menerima pemenuhan Tuhan Yesus di dalam hati Anda. Natal tahun ini jangan kita lewatkan dengan hanya ikut-ikutan dalam keramaian, hanya sekedar ikut mengirimkan atau menerima kartu-kartu Natal, ikut memberikan atau mendapatkan hadiah-hadiah Natal, atau hanya dengan pesta pora: makanan lezat dan sekedar make fun! Makna Natal, pertama jelas sebagai manifestasi kasih Allah yang besar, yang menyediakan kasih karunia yang cuma-cuma tanpa harus membelinya. Syaratnya, apakah hati Anda kini sedang dipenuhi hal yang lain sehingga tidak ada lagi tempat bagi pemenuhan kasih karunia tersebut? Kosongkan hati Anda hari ini, biarlah pemenuhan Kristus dalam kasih karunia-Nya terjadi atas diri Anda.
“Kasih karunia demi kasih karunia”—Yang pertama, artinya: Allah memberikan kasih karunia dalam persediaan kasih karunia yang berlimpah, atau tidak habis-habisnya. Kasih karunia bagi sebuah hati yang patah, hati yang diliputi kebencian atas dosa, sehingga membuka jalan baru bagi komuni kudus untuk kembali pada Kristus. Sebentar lagi, suka atau tidak, kita harus tinggalkan tahun ini, marilah kita merenung sejenak: adakah pemenuhan kasih karunia demi kasih karunia Kristus sudah berlaku atas diri kita? Adakah persekutuan pribadi kita dengan Tuhan semakin dekat atau justru semakin jauh?
“Kasih karunia demi kasih karunia”—Yang kedua, artinya: kasih karunia yang susul-menyusul, seperti ombak lautan yang datang tiada putus-putusnya; belum selesai satu ombak menghempas, tampaklah sebuah ombak lain yang segera menyusul.
Untuk menerangkan kebenaran ini, saya ingin menyampaikan sebuah kisah Rowland Hill yang konon dipercaya jemaatnya dengan diberi uang sebesar 100 Pounds Sterling untuk membantu suatu keluarga miskin di sebuah desa tetangganya. Pada zamannya, uang 100 Pounds Sterling sangat besar, maka Hill dengan hikmat mengirimkan 10 Pounds Sterling via surat dengan sebuah catatan: “more to follow”! Setiap minggu ia mengirim jumlah yang sama dengan catatan yang sama! Bagi saya, kisah sederhana ini bisa menggambarkan kasih karunia demi kasih karunia Kristus bagi kita. Tuhan kita tidak sekaligus dalam memberikan kasih karunia untuk jatah seumur hidup. Sebaliknya, manakala Tuhan memberikan kasih karunia-Nya, maka catatan “more to follow” sudah menjadi jaminan bagi kita.
Kesimpulan
Kristus di dalam segala kepenuhan-Nya telah datang via kelahiran-Nya yang akan kita songsong dan rayakan. Dia datang untuk melakukan pemenuhan atas tiap pribadi yang percaya serta yang mau menerima. Anda dan saya yang papa dijadikan kaya di dalam kelimpahan-Nya, kita yang hina menjadi mulia. Kedua hal ini akan terjadi bila kita sudi merespons dengan positif. Banyak orang telah menerima kepenuhan-Nya, bagaimana dengan Anda sendiri?
God”s Trustworthiness—Dua gadis kecil sedang bercakap-cakap. Salah seorang berkata bahwa ia mempunyai uang Rp10.000,00. Temannya menyaksikan pada tangannya hanya ada selembar uang lima ribuan. “Ah, uangmu hanya Rp5.000,00!” Gadis kecil itu segera menjawab, “Aku memang mempunyai Rp5.000,00 sekarang dan ayahku sudah janji tadi pagi menjelang ke kantor, bahwa sore nanti saya akan menerima Rp5.000,00 lagi. Sebab itu, saya mempunyai Rp10.000,00.” Sang gadis kecil ini memahami bahwa janji ayahnya sama dengan sesuatu yang sudah diberikan kepadanya.
Keyakinan gadis kecil kepada ayahnya ini hendaklah menjadi keyakinan kita kepada Allah kita, yang sudah berjanji untuk memberikan kasih karunia demi kasih karunia kepada kita. Masihkah kita meragukan janji-Nya? Masihkah kita hidup sebagai anak-anak yang pesimis tiada pengharapan sama sekali?
Semoga Tuhan memampukan iman kita untuk memberikan respons positif kepada Dia! A M I N.

