Ajarlah Kami Ya Tuhan
Oleh: Pdt. Nathanael Channing
Mazmur 42:1-12
Teach me, good Lord: Not to murmur at the multitude of business and the shortness of time. Not to magnify undertaken duties by seeming to suffer under them, but to treat them all as liberties. Not to call attention to crowded work, or petty fatigues. Not to gather encouragement from appreciation by others, lest this should interfere with the purity of my motives. Not to seek praise, respect, gratitude, or regard from others. Not to let myself be placed in favorable contrast with another. Amin—Edward White Benson (1829–1896)
Ajarlah aku, ya Tuhan: Tidak mengeluh pada banyaknya pekerjaan dan pendeknya waktu, tidak membesar-besarkan tugas seakan-akan hal itu membuatku tertekan dan menderita, tetapi melakukan semuanya dengan hati yang lapang. Tidak menonjolkan tugasku yang menumpuk, atau pekerjaan kecil namun melelahkan yang kuhadapi, tidak mencari dukungan apresiasi orang lain sehingga menurunkan kemurnian motivasiku. Tidak mencari pujian, hormat, ucapan terima kasih, atau penghargaan orang lain. Tidak menempatkan diriku lebih tinggi dari yang lain. Amin—Edward White Benson (1829–1896)
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang paling tinggi derajatnya di antara seluruh ciptaan Allah. Allah menciptakannya dengan hikmat, pengetahuan, perasaan, tingkah laku dan kehendak bebas sehingga ia bisa berpikir, berperasaan, dan berkehendak. Bukan hanya itu, statusnya adalah sebagai gambar dan rupa Allah. Firman Tuhan berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kejadian 1:26). Tuhan menjadikan manusia mampu berkarya, bekerja, dan mengembangkan dirinya dengan berbagai karunia dan bakat yang ada di dalam dirinya, dan ia dapat menikmati kehidupan dengan penuh sukacita.
Namun, apa yang terjadi dalam kehidupan kita? Kita kerap menjalani hidup ini dengan “mengeluh”. Hampir setiap hari kita mengeluarkan keluhan, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Pagi hari setelah bangun dari tempat tidur dan sebelum melakukan apa pun, banyak orang yang sudah mengawalinya dengan keluhan, misalnya bila udara terasa panas, orang mengeluh kepanasan; bila hujan, orang mengeluh kedinginan; dan sejenisnya. Jarang ada yang mengucap syukur atas penyertaan Tuhan dalam istirahat semalam, dan bahwa Tuhan pasti akan menyertainya dalam perjalanan hidup hari ini. Kita sering menjumpai orang yang menganggur dan mengeluh ingin mendapat pekerjaan. Namun setelah memperolehnya, mengeluh lagi, karena menganggap pekerjaan itu terlalu berat baginya. Tidak ada pekerjaan, orang bingung, tetapi ada banyak pekerjaan, malah jadi lebih bingung. Pada intinya, banyak orang yang tidak pernah puas dengan diri mereka dan apa yang telah mereka terima. Ungkapan keluhan sudah menjadi bahasa sehari-hari yang terus-menerus diungkapkan, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain.
Edward W. Bonson berdoa agar Tuhan memampukannya untuk tidak mengeluh ketika menghadapi semua pekerjaan. Ia minta agar tidak menjadi bingung ketika tugas-tugas itu semakin banyak dan agar dalam hidupnya ia benar-benar memiliki motivasi yang baik: tidak memanipulasi untuk mendapatkan penghormatan atau penghargaan orang lain, terlebih lagi menikmati kehidupan di atas penderitaan orang lain. Inilah doa dari anak Tuhan yang rendah hati, yang tahu siapa dirinya dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Ia tidak mau menjadi orang yang terus mengeluh tanpa rasa syukur. Oleh karena itu, marilah kita belajar dari kehidupan doanya. Pemazmur mengungkapkan sikapnya ketika ia ingin terus mengeluh. Katanya, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6). Ia mengajarkan bahwa jika kita ingin mengeluh, boleh saja dan tidak ada masalah, namun disampaikan kepada Tuhan. Hal ini berarti bahwa jika kita mengeluh, maka keluhan itu dikaitkan dengan iman kita kepada Tuhan. Semakin banyak keluhan, seharusnya semakin dekat kepada Tuhan, bukan semakin jauh dan melarikan diri dari-Nya. Ketika masalah datang bertubi-tubi, tak henti-hentinya, maka masalah itu menjadi sarana untuk “curhat” , mencurahkan seluruh isi hati dan beban hidup kita kepada-Nya. Jika hal itu dilakukan, maka kita akan dimampukan Tuhan untuk mensyukuri anugerah dan berkat-Nya. Hidup tidak dijalani dengan keluhan tetapi dengan ucapan syukur, karena Tuhan itu Gunung Batu kita, tempat perlindungan yang sejati. Amin.
Pokok Doa:
- Dalam kehidupan sehari-hari bisa terjadi masalah-masalah dan beban hidup yang berat sehingga membuat orang berkeluh kesah. Ya Tuhan, mampukan aku, ketika menghadapi makin banyak masalah dan beban hidup, justru hidup makin dekat dengan-Mu, makin mengenal-Mu melalui segala masalah dan beban hidup itu, makin tahu kehendak-Mu dalam segala perkara ini.
- Tuhan, ajarlah aku bersyukur karena anugerah-Mu luar biasa, karena Engkau, Tuhan, adalah Kekuatan dan Gunung Batuku.

