Berani Percaya (Roma 4:13-25)
Andy Kirana
Pada bulan April 1519, seorang penjelajah berkebangsaan Spanyol bernama Hernando Cortez bersama hampir 400 awaknya berlayar dengan misi menemukan daratan yang baru. Mereka tiba di dekat Veracruz, di pantai timur Meksiko, tanpa tahu apa yang akan terjadi. Singkatnya, sesudah menepi di pantai, Cortez memerintahkan awaknya untuk melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan: membakar kapal. Sebelum mereka mengetahui apa yang dapat mereka temukan di wilayah yang belum dipetakan itu, komandan mereka memaksa mereka membongkar muatan dan memusnahkan satu-satunya alat transportasi. Dengan mengatakan “Burn your boats!”, Cortez mengajak awaknya berani mengambil risiko untuk terus maju – pantang mundur!
Kisah Cortez ini membuat saya berpikir tentang apa artinya berani percaya kepada Allah seperti yang ditempuh Abraham. Ia memiliki kepercayaan kepada Allah yang disebut dalam bahasa Ibrani chutzpah. Bukan keyakinan, tetapi sesuatu yang lebih kuat dari itu. Chutzpah adalah suatu komitmen yang teguh, kuat, dan tidak pernah mati terhadap Allah. Suatu keinginan untuk percaya pada apa yang berada di luar “akal sehat” kita. Seseorang dengan chutzpah akan tetap percaya kepada Allah, bahkan ketika apa yang dikatakan-Nya sungguh bertentangan dengan pribadi-Nya. Kepercayaan Abraham yang seperti itulah yang diajarkan Paulus kepada jemaat di Roma, juga kita saat ini.
Saudara-saudaraku yang terkasih…
Abraham adalah bapa semua orang beriman. Nama “Abraham” bermakna “bapa banyak bangsa” dan memang demikianlah dirinya. Karena Abraham adalah bapa kita, ia menjadi panutan atau teladan kita. Paulus berkata bahwa cara Allah dalam berhubungan dengan Abraham juga menjadi cara Allah berhubungan dengan kita (ayat 23-24).
Allah menyatakan bahwa pembenaran Abraham tidak diperoleh karena usahanya, tetapi berdasarkan iman percayanya (ayat 16-17). Imannya adalah teladan bagi kita. Objek imannya adalah janji Allah (ayat 18). Iman tidak mengandung nilai apa pun jika dipisahkan dari objeknya. Paul E. Little, seorang pengajar Alkitab berkata: “Iman yang kuat pada jembatan yang rapuh tidak dapat membuat Anda melintasi jurang, tetapi iman yang lemah pada jembatan yang kuat akan dapat mengantar Anda sampai ke seberang.”
Paulus memberi contoh nyata keberanian percaya Abraham untuk kita teladani sebagai “anak-anak”nya. Ada tiga hal yang perlu kita lakukan untuk berani percaya:
Pertama, memahami bahwa kenyataan lebih dari sekadar apa yang kita rasakan atau apa yang kita lihat. “Ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah” (ayat 19a). Allah telah menjanjikan keturunan (Kejadian 12:2,7), sebanyak bintang-bintang di langit (Kejadian 15:5). Tetapi Abraham belum mendapatkannya: “usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup” (ayat 19b) diusia sembilan puluh tahun (Kejadian 17:17). Di tempat lain Paulus berkata: “hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2Korintus 5:7). Iman tidak berlawanan dengan rasio, tetapi terkadang berlawanan dengan perasaan dan apa yang terlihat. Abraham melihat tubuhnya dan terlihat tidak ada harapan [Wis angel…angel… Gak isa rek, aku wis tuwek!]. Tetapi Abraham tidak mengandalkan apa yang terlihat. Ini menunjukkan kepada kita bahwa iman bukan sekadar optimisme tentang hidup secara umum, atau kepercayaan pada diri. Berlawanan dengan itu. Iman dimulai dengan mematikan kepercayaan pada diri. Iman itu nyata meski ada kelemahan dan berlawanan dengan perasaan dan apa yang kita lihat.
Kedua, berfokus pada fakta tentang Allah. Meski janji keturunan itu terlihat tidak mungkin dipenuhi, Abraham “ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (ayat 20-21). Ini menunjukkan bahwa iman bukannya tanpa memakai rasio, tetapi sebaliknya, bertindak sepenuhnya dari pertimbangan yang benar bukan hanya bereaksi terhadap situasi yang ada. Abraham mempertimbangkan dan merenungkan kekuatan Allah. Dia percaya bahwa Allah yang telah menjanjikan dia seorang anak adalah “Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada” (ayat 17). Kita bisa membayangkan Abraham sedang memakai rasionya: Jika ada Allah Pencipta (dan saya tahu Dia ada), maka Dia pasti memiliki segala kuasa – tidak ada batasannya. Allah mengetahui Sarah sudah mati haid dan saya sudah tua, tetapi Dialah yang menciptakan matahari dan bulan dan menebarkan bintang seperti debu dengan tangan-Nya! Sungguh amat menggelikan jika saya menganggap usia kami bisa menjadi penghalang!
Iman sama dengan memikirkan tentang Allah, berfokus pada fakta tentang Dia. Kita tentu memiliki fakta yang sangat banyak tentang Allah untuk menjadi fokus kita, serta wujud kasih dan kuasa-Nya yang jauh lebih besar. Kita tahu bahwa Allahlah yang menjadikan rahim Sarah yang mandul menjadi tempat kehidupan (Kejadian 21:1-2); dan yang paling penting kita tahu bahwa Dialah yang telah membangkitkan Anak-Nya (ayat 24). Kita memiliki lebih banyak hal daripada Abraham ketika memikirkan tentang Allah, dan tentang apa yang bisa Dia perbuat! Masakan kita tidak berani percaya?
Ketiga, memercayai janji Allah pasti terlaksana. Abraham percaya bahwa “Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (ayat 21). “Percaya Allah” bukan sekadar berpikir tentang Allah, tetapi memercayai perkataan-Nya. Percaya pada apa yang Allah katakan meski tidak ada yang mendukungnya – ketika perasaan, pendapat dan pikiran umum sepertinya berlawanan dengan janji-Nya. Iman adalah berpegang pada apa yang Allah katakan, dan membiarkan perkataan Allah itu menentukan kenyataan bagi hidup kita. Kenyataan ini hanya mungkin bagi kita yang berani percaya akan janji Allah!
Sampai di sini mungkin Saudara masih ragu: “Ya… itu kan Abraham bapa orang beriman, sedangkan saya ini orang yang tidak sempurna.” Kehidupan Abraham juga mengingatkan kita tentang bagaimana kehidupan beriman yang sebenarnya. Abraham tidak selalu menghidupi imannya, ketaatannya tidak sempurna, keyakinannya naik turun [Abraham pernah berbohong kalau Sarai isterinya yang cantik itu adalah adiknya, supaya ia tidak dibunuh orang Mesir. Lihat Kejadian 12:10-20.]. Sekalipun begitu, imannya tidak pernah padam. Abraham berpegang pada janji Allah meski di dalam kekurangan dan kegagalannya – dan ketika dia melakukannya, dia “diperkuat dalam imannya” (ayat 20). Hidup beriman bukanlah hidup yang sempurna; hidup beriman adalah hidup yang bergantung pada apa yang Allah katakan akan Dia lakukan, serta melihat pergumulan, sukacita, dan kegagalan sebagai sarana untuk meningkatkan kebergantungan kita pada Allah yang membuat dan memenuhi janji-Nya. Seperti itulah iman, dan saat kita meletakkan kepercayaan kita pada Allah, hal itu “diperhitungkan sebagai kebenaran” (ayat 22).
Paulus mengajarkan bahwa kata-kata indah dalam Kejadian 15:6 “tidak ditulis untuk Abraham saja tetapi ditulis juga untuk kita, sebab kepada kita pun Allah memperhitungkannya” (ayat 23-24). Seperti apa iman yang menyelamatkan itu bagi kita? “Percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita dari antara orang mati” (ayat 24), dan percaya pada “Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita” (ayat 25). Sama seperti Abraham percaya bahwa Allah sanggup memberikan keturunan dari seorang yang keadaannya sudah seperti orang mati, demikian pula kita percaya kepada Allah yang telah membangkitkan Anak-Nya sendiri dari kematian. Inilah janji Allah yang membentuk sikap hidup berani percaya dan menentukan kenyataan hidup kita!
Saudara-saudaraku yang terkasih…
Abraham sudah menunjukkan kepada kita agar berani percaya dengan mengetahui lebih banyak tentang Allah melalui belajar, merenungkan, dan menyelidiki. Abraham mampu mengatasi kelemahannya dengan memikirkan segala sesuatu di atas dasar apa yang dia tahu tentang Allah. Kita perlu melakukan hal yang sama. Abraham juga bertindak atas dasar janji dan perkataan Allah meski sulit. Iman adalah hidup seolah-olah janji itu telah terjadi. Iman inilah yang memberi kekuatan kepada Abraham untuk memperoleh seorang anak laki-laki pada usia tuanya. Agustinus, seorang bapa gereja, berkata: “Iman ialah percaya apa yang tidak kita lihat, dan upahnya ialah melihat apa yang kita percayai.”
Bagaimana penerapannya pada keselamatan? Allah harus menunggu sampai orang berdosa “mati” dan tidak dapat menolong dirinya sendiri sebelum Ia melepaskan kuasa-Nya yang menyelamatkan. Selama orang berdosa yang sesat merasa bahwa ia cukup mampu melakukan sesuatu untuk menyenangkan Allah, ia tidak dapat diselamatkan oleh kasih karunia. Allah harus menunggu sampai Abraham mengakui bahwa ia “mati”, barulah kemudian kuasa Allah mulai bekerja di dalam tubuhnya. Pada saat orang yang sesat mengakui bahwa ia mati secara rohani dan tidak dapat menolong dirinya sendiri, barulah kemudian Allah dapat menyelamatkannya.
Prinsip keselamatan itu seperti gabus yang ditenggelamkan sampai ke dasar air – sampai “mati” dan tidak bisa menolong dirinya. Kemudian gabus akan naik ke atas permukaan air saat dilepaskan – saat kuasa Allah bekerja dalam dirinya. Apakah Saudara percaya? Kalau nggak percaya, yuk… kita buktikan! Di tangan saya ini ada gabus (styrofoam) dan di depan saya ada ember plastik transparan yang berisi air. Gabus saya tenggelamkan ke dalam air sampai ke dasar ember. Kemudian saya lepaskan gabus dari genggaman tangan. Perhatikan… gabus itu langsung bergerak naik ke atas permukaan air. Jadi, saat gabus itu terlepas dari tangan yang menenggelamkannya, maka gabus akan segera naik ke atas permukaan air. Begitu pula dengan orang yang berani percaya pada janji Tuhan dan minta pertolongan-Nya. Sebesar dan sekuat apa pun tekanan hidup yang menenggelamkannya, Tuhan akan memampukan orang tersebut untuk “mengapung di atas permukaan air” – mengatasi masalah yang dialaminya.
Pada minggu Prapaska dan di tengah pandemi covid-19 ini, kita diingatkan untuk menjadi “manusia Paska.” Manusia yang berani percaya kepada Tuhan, dalam keadaan apa pun, termasuk menghadapi maut.Berani percaya bahwa setiap kesulitan, penderitaan, dan kematian justru membuka pintu berkat Allah serta menjadi tumpuan untuk mengalami berkat Allah yang lebih besar. Apakah saudara berani percaya? Amin.

