Site icon

Buta yang Dicelikkan!

Man walking toward a cross formed by light reflecting off the grungy walls of an underground culvert.

Buta yang Dicelikkan!

Matius 16:5-12

oleh: Jenny Wongka †

Terjadilah suatu tragedi yang mengejutkan atas diri Thomas Steward pada masa studinya di universitas: salah satu matanya terluka oleh sebuah cutter sehingga berakibat fatal, yakni kebutaan. Demi kebaikan sebelah matanya yang sehat, maka atas persetujuan Thomas dan kedua orangtuanya, dokter memutuskan untuk mengangkat mata yang buta itu. Setelah Thomas sadar dari pengaruh obat bius, barulah diketahui bahwa ternyata dokter telah melakukan kesalahan dalam operasi. Justru matanya yang sehat yang diangkat, dan sejak saat itu Thomas menjadi buta total.

Dengan sikap yang tak gentar atas tragedi ini, Thomas terus berjuang bahkan meneruskan kuliah jurusan hukum di McGill University di Montreal, Kanada. Ia menyelesaikan studinya dengan menempati ranking satu, William adiknya menduduki ranking dua. Selain memenuhi seluruh tuntutan studinya sendiri, adiknya berfungsi sebagai mata bagi Thomas, misalnya untuk membacakan tuntutan tugas paper dan menyalinkan  ujiannya sesuai dengan apa yang Thomas bacakan di depan dosen penguji. Hal ini berjalan terus hingga membuahkan keberhasilan Thomas, sang buta total itu, untuk meniti masa depan.

Suatu tragedi yang lebih buruk dari kebutaan fisik ialah kebutaan spiritual akibat dosa. Dan tanpa pertolongan Allah melalui karya Anak-Nya, Yesus Kristus, hidup dalam kebutaan spiritual itu akan tetap berlangsung selamanya.

Seorang Thomas yang lain, filsuf Inggris terkenal pada abad ke-17 yang bernama Thomas Hobbes adalah seorang ateis sekaligus antikekristenan. Konon menjelang akhir hayatnya ia berkata, “Aku sedang melompat ke dalam kegelapan yang dahsyat.” Voltaire, filsuf Prancis terang-terangan mengolok-olok Allah dan menentang kekristenan. Tatkala sadar bahwa saat-saat kematian akan menjelang, ia meminta semua temannya berkumpul di sekitar pembaringannya. Dengan sangat sedih ia berkata, “Pergi, pergilah kalian semuanya dariku! betapa kalian inilah yang sudah membawaku ke dalam kondisi sekarang ini!” Dua bulan terakhir, ia bergumul antara menarik kembali sikap ketidakpercayaannya kepada Tuhan dan terus mencemooh Allah melalui tulisan-tulisannya. Namun, karena sudah terlalu lama dalam ketegartengkukan hatinya, ia tetap bersikukuh untuk menolak Allah. Kalimat akhir dalam tulisannya berbunyi, “Aku akan meninggal dalam kondisi yang dibuang oleh Allah dan manusia.”

Matius 16:1-4 melukiskan tentang buta spiritual yang tidak tercelikkan, yang dilambangkan oleh orang-orang Farisi dan Saduki yang tidak percaya, menolak Terang dan Hidup yang Yesus tawarkan. Sebagai kontrasnya, ayat 5-12 memberi satu gambaran tentang buta spiritual yang berkat kedaulatan kasih karunia Allah membuat mereka dicelikkan. Para murid Yesuslah orang-orang buta yang tercelik itu. Ada tiga karakteristik orang-orang dalam konteks ini. Mari kita simak satu demi satu

 

Mencari Terang Itu

Murid-murid berada pada persimpangan jalan dalam pengambilan suatu keputusan vital dalam hidup mereka. Entah harus terus bergantung pada sistem yang diterapkan oleh orang-orang Farisi dan Saduki atau tidak. Bukankah para murid jelas tahu bahwa orang-orang Farisi diakui sebagai para penafsir hukum Taurat dan tradisi, dan orang Saduki adalah aristokrat religius, yang biasanya di dalamnya termasuk imam besar dan imam-imam kepala?

Tetapi para murid tidak ragu untuk mengiring Yesus. Tatkala Yesus menyeberang ke arah timur daerah orang non-Yahudi pada tepi Danau Galilea, mereka ikut menyeberang danau bersama Yesus. Mereka dengan tulus hati mencari Terang Allah, mereka tahu bahwa Yesus sendiri adalah Terang itu. Melalui Nabi Yermia, Tuhan telah berjanji, “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku” (Yeremia 29:13,14). Para murid memiliki hati yang mencari, dan Allah berkenan menggenapi janji-Nya untuk menuntun mereka kepada diri-Nya.

Pada suatu hari sementara berdiri sambil mengajar para murid-Nya di dalam Bait Allah, Yesus menyatakan diri kepada para murid sekaligus di hadapan Ahli Taurat dan orang Farisi, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yohanes 8:12). Para murid percaya akan kebenaran, dan mereka tahu bahwa sebagai Terang Allah, Yesus bukan hanya untuk dilihat tetapi juga harus ditaati. Mereka tahu, Mesias akan datang menjadi suatu “terang untuk bangsa-bangsa” (Yesaya 42:6) dan, seperti yang telah diserukan oleh Daud, Mesias adalah “terangku dan keselamatanku” (Mazmur 27:1). Yesus adalah Mesias yang menerangi kegelapan mereka. Mereka masih sering salah mengerti, kadangkala masih tetap dalam kebodohan, ketumpulan hati untuk memahami Dia, namun yang menarik ialah mereka masih tetap dengan tulus mengiring Dia.

Tidak setiap orang yang tertarik pada Yesus setia untuk mengiring Dia. Tatkala mereka menyadari inti pemberitaan-Nya dan harga yang harus dibayar oleh seorang pengikut Yesus, banyak murid superficial “mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia” (Yohanes 6:66).

Tetapi orang-orang percaya sejati sadar dan akan berdoa sama seperti pemazmur, “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu. … Perlihatkanlah kepadaku, ya Tuhan, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu. … Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu. … Tangan-Mu telah menjadikan aku dan membentuk aku, berilah aku pengertian, supaya aku dapat belajar perintah-perintah-Mu” (Mazmur 119:18,33,36,73).

 

Menerima Terang yang Lebih Besar

Setiba di seberang danau bersama Yesus, para murid segera sadar bahwa mereka lupa membawa roti. Setelah konfrontasi dengan orang Farisi dan Saduki, mereka segera pergi bersama Yesus (Matius 16:1-4). Kini mereka berada di sebelah timur laut Danau Galilea, yang berjarak beberapa mil jauhnya dari tempat mereka bisa membeli makanan. Markus mencatat bahwa mereka hanya mempunyai sebuah roti saja (Markus 8:14), jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan tiga belas orang.

Meskipun sudah mendapatkan pengajaran ilahi, menyaksikan teladan sempurna Yesus dan mukjizat-mukjizat-Nya, pikiran para murid tetap berorientasi pada level fisik saja. Tatkala mereka menjadi lapar setelah menyeberangi danau, pikiran mereka tidak terarah pada pemeliharaan Yesus, tetapi pada kekurangan mereka. Sebagaimana yang sering Yesus lakukan, yakni mengoreksi kesalahpahaman mereka, kini pun Dia segera memenuhi kebutuhan mereka dengan memberikan ajaran kebenaran.

Justru dalam kebersamaan dengan para murid-Nya itulah, Dia segera menjadi tahu bahwa perhatian mereka saat itu tertuju pada kurangnya roti. Yesus bersabda, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki” (Matius 16:6). Makna dua kata dalam ayat ini ialah amatilah dengan cermat dan lihatlah dengan saksama terus-menerus. Parafrasanya, “Bukalah matamu, berikan perhatian khusus terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.” Jangan menaruh perhatian besar pada roti, melainkan pada apa yang terlebih penting dalam situasi sekarang ini, yaitu bahaya pengajaran orang Farisi dan Saduki.

“Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti?” Maksud-Nya, Kalian harus tahu bahwa Aku tidak membicarakan roti. Tuhan Yesus mengingatkan mereka tentang pengalaman yang sebenarnya masih segar dalam ingatan mereka, yakni kisah lima roti dan dua ikan yang mengenyangkan lima ribu orang, dan masih tersisa dua belas bakul roti di teritorial Yahudi; kisah tujuh ketul roti yang mengenyangkan empat ribu orang, dan masih tersisa tujuh bakul roti di teritorial orang non-Yahudi.

Ungkapan Yesus selanjutnya, “Bagaimana mungkin kamu tidak mengerti bahwa bukan roti yang Kumaksudkan?” Yesus menjadi sedih terhadap para murid-Nya, yang sudah menerima banyak pengajaran yang jelas melalui perumpamaan sekaligus penjelasan, begitu banyak manifestasi ajaib lewat mukjizat, namun masih tetap hidup dengan visi manusia dan tidak mencapai visi ilahi. Bagaimanapun juga, Yesus selalu sabar terhadap mereka. Dia tahu dengan jelas bahwa mereka tidak sanggup memahami dan memiliki visi ilahi ini tanpa iluminasi ilahi.

Kontaminasi spiritual orang Farisi dan Saduki atas orang-orang percaya dalam konteks ini ialah kemunafikan (Lukas 12:1). Mereka mempunyai kemurnian eksternal tanpa kebenaran internal; legalisme, formalisme, dan ritualisme sebagai topeng untuk menutupi kenajisan mereka. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran” (Matius 23:27).

Doktrin yang salah tidak pernah boleh disepelekan atau diremehkan. Rasul Yudas memperingatkan setiap orang percaya agar berusaha menolong seseorang dari sistem atau doktrin yang salah, seperti menyelamatkan sepotong kayu dari kobaran api (Yudas 13). Mendekatkan diri walau setapak saja bisa berakibat fatal, terbakar secara harfiah. Dua contoh konkret telah terjadi tahun lalu. Yang pertama adalah para pengikut cult yang bernama David Koresh ikut mati terbakar di Waco. Yang kedua, pengikut Luc Jouret dari apocalyptic sect, telah mengakibatkan 53 orang di Kanada dan 45 orang lainnya di Swiss mati terbakar. Kita perlu Terang yang lebih besar agar bisa mengenali doktrin yang salah, untuk menyelamatkan orang-orang ibarat berusaha untuk menarik sepotong kayu dari kobaran api.

 

Mereka Diajar Oleh Tuhan

Kedua belas murid telah menerima Terang, Allah memberikan mereka Terang yang lebih besar. Yesus mengatakan bahwa di sini Dia tidak membahas tentang roti secara fisik, melainkan tentang ragi atau pengaruh pengajaran keliru orang Farisi dan Saduki.

Selama pelayanan-Nya di dunia ini, berulang kali Yesus mengajar para murid-Nya. Bahkan setelah kebangkitan-Nya, menjelang kenaikan-Nya ke surga, selama empat puluh hari Dia masih mengajar dan mengarahkan para murid-Nya (Kisah Para Rasul 1:3). Bahkan Dia menyediakan kesinambungan pengajaran-Nya melalui Roh Kudus. “Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yohanes 14:26). Tidak lama berselang, kepada para murid-Nya Yesus berkata, “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yohanes 16:12-14).

Roh Kudus bukan hanya dijanjikan untuk kita, namun telah diberikan, Dia akan menuntun kita ke dalam seluruh (bukan sebagian) kebenaran. Masalahnya, seberapa jauh kita rela diajar oleh Tuhan sendiri? Mari kita kembali pada pertanyaan yang pernah diajukan para murid dalam Matius 13, “‘Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?’ Jawab Yesus: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak’” (Matius 13:10,11). Tuhan Yesus melihat dengan jelas bahwa mayoritas umat itu tidak berhasrat untuk hal-hal mengenai Allah sehingga Dia tidak dengan terang-terangan menjelaskan rahasia Kerajaan Surga. Dengarkan apa yang Tuhan katakan kemudian, “Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. … Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (ayat 13,15,16). Perbedaan tersebut tidak terletak pada kemampuan pembawaan para murid dalam memahami firman Tuhan, melainkan terletak pada keinginan, kesediaan, kerelaan mereka untuk diajar oleh Tuhan sendiri. Mereka sesungguhnya buta spiritual, namun melalui iman, Tuhan telah memampukan mereka untuk melihat.

Janji Tuhan digenapi atas diri para murid, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

Sebagai orang Kristen, bagaimana mungkin kita akan memahami firman-Nya bila kita malas bermeditasi, membaca Alkitab, dan bersekutu dengan Dia dalam doa. Padahal justru melalui aktivitas inilah, kita membiarkan Roh Allah menuntun kita, menerjemahkan firman itu kepada kita. Tatkala saya dan Anda memberikan keleluasaan Roh Allah bekerja, maka Dia akan memampukan kita untuk memahami rahasia firman-Nya yang terdalam. Setumpul apa pun hati kita, mungkin seperti halnya kedua murid yang berjalan bersama Yesus menuju Emaus, bagaimanapun kondisi kebutaan spiritual kita, Dia sanggup melembutkan hati dan mencelikkannya; menyingkapkan kebenaran-kebenaran penting dalam Alkitab bagi kita. Masalahnya, rindukah atau bersediakah kita untuk diajar oleh Tuhan?

 

Kesimpulan

Seorang gadis Perancis yang buta pernah mendapatkan satu Kitab Injil Markus dalam tulisan braille. Ia mulai membaca dan terus membaca pasal demi pasal. Akhirnya ia menjadi seorang yang beriman kepada Yesus. Ia sangat mengasihi dan menghargai Kitab Injil Markus ini, sehingga seluruh waktunya dipakai untuk membaca dan membaca. Akibatnya, jari tangannya bukan hanya lecet, bahkan menurut dokter syaraf jarinya sudah mulai berkurang kepekaannya. Bahkan akhirnya jarinya itu sudah tidak dapat berfungsi untuk mengenali huruf braille. Dengan linangan air mata ia mengangkat Injil Markus braille ini untuk menyampaikan selamat tinggal dengan menciumnya berulang kali. Tiba-tiba ia segera memuji Tuhan di tengah deraian air matanya sambil berkata, “Terima kasih ya Tuhan Yesus, meskipun syaraf jari tangan saya sudah tidak sensitif lagi, tidak mampu membaca huruf braille ini, namun masih ada bibir saya yang begitu sensitif, dan saya bisa mulai membaca firman-Mu dengan bibirku.”

Kisah ini amat sangat menyentuh hati saya. Saya menyaksikan betapa Tuhan kita penuh hikmat, Dia tahu menemukan jalan atau cara yang terbaik bagi anak-anak-Nya, yang sungguh mempunyai kerinduan untuk belajar akan firman-Nya. Buta jasmaniah gadis Perancis ini tidak sanggup mematahkan semangat atau meniadakan kerinduannya untuk membaca firman Tuhan; kebutaan tidak menghalanginya menemukan Terang sejati, menemukan Terang yang lebih besar. Hal ini menjadi mungkin sebab kesediaan hatinya untuk diajar oleh firman Tuhan.

Marilah kita mengintrospeksi diri masing-masing: adakah kondisi kita sama dengan para murid Yesus, yang tampak jelas buta spiritual, yakni meski telah bersama Sang Terang sejati, Yesus Kristus, mendengar pengajaran-Nya, menyaksikan kehidupan dan pelayanan-Nya, mereka masih tetap salah mengerti maksud-Nya. Sang Guru yang lembut dan agung itu dengan kesabaran yang luar biasa telah menuntun mereka, memberikan Terang yang lebih besar. Akhirnya, kebutaan spiritual mereka tercelikkan! Semuanya ini menjadi mungkin hanya karena adanya kesediaan hati mereka untuk diajar oleh Tuhan sendiri.

Akhir kata, marilah kita terus-menerus berdoa agar kita tetap mempunyai telinga dan hati seorang murid, mau mendengar dan terus diajar oleh Sang Guru Agung kita sehingga kebutaan spiritual kita terlebih dahulu tercelikkan, dan barulah dengan hati lembut kita menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi serta siap dipakai oleh Tuhan untuk memperkenalkan Kristus kepada orang lain.  A  m  i  n!

Exit mobile version