Site icon

First Aid Kit

Oleh: Pdt. Ruth Retno Nuswantari

Lukas 19:1-10

Pengalaman apa yang menurut Anda paling menyakitkan? Di-bully? Di- label-in? Dikucilkan?

Amanda Tod, seorang gadis cantik yang ramah dan suka berteman dengan siapa saja baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Suatu saat, tanpa dia sadari, dia menjalin pertemanan dengan orang yang salah di medsos.  Orang itu meminta Amanda memperlihatkan bagian tubuhnya yang paling pribadi dan tanpa berpikir,  Amanda memenuhi permintaan tersebut. Hanya beberapa detik, tetapi itu cukup untuk orang itu merekamnya dan rekaman itu dijadikannya senjata untuk memaksa dia mempertontonkan bagian-bagian tubuhnya yang lain dengan ancaman, kalau dia tidak mau, orang itu akan menyebarkan rekaman itu ke medsos. Orang tuanya berusaha menyelamatkannya dari teror orang tersebut dengan berbagai cara termasuk memindahkannya ke sekolah lain, bahkan memindahkan tempat tinggalnya, tetapi tidak berhasil. Teror itu terus mengejar dia di mana pun dia berada sampai akhirnya Amanda tidak tahan lagi dan bunuh diri.

Mengalami perlakuan seperti yang dialami Amanda memang sangat menyakitkan, tetapi sebenarnya ada jalan yang lebih baik dari pada bunuh diri. Mari kita belajar dari Zakheus.

Apa yang dialami Zakheus?

Zakheus mengalami perlakuan yang mirip dengan Amanda. Dia telah melakukan “kesalahan” dengan memilih profesi sebagai kepala pemungut cukai yang memang risikonya dilabeli sebagai orang berdosa, antek-antek penjajah.

Pada saat itu bangsa Israel berada dalam penjajahan kekaisaran Romawi. Agar menghindari konflik, untuk menarik pajak dari mereka, pemerintah Romawi memiliki kebijakan memakai orang-orang Yahudi. Mereka melelang jabatan pemungut cukai itu dan siapa saja boleh mengikutinya.

Tentu saja yang berhak mendapatkan jabatan tersebut adalah mereka yang berani menawar dengan harga tertinggi. Jadi, modal untuk menjadi seorang pemungut cukai itu sangat besar. Bagaimana caranya mereka bisa mendapatkan uang bukan hanya untuk mengembalikan modal, melainkan juga mendapat keuntungan sebesar-besarnya? Pemerintah Romawi tidak menggaji mereka tetapi memperbolehkan mereka menarik pajak sebesar mungkin, pokoknya setiap bulan mereka harus menyetorkan sejumlah uang dan sisanya boleh mereka ambil. Itulah sebabnya kebanyakan pemungut cukai berusaha menarik pajak sebesar-besarnya supaya mendapat keuntungan sebesar-besarnya.

Apakah Zakheus sama dengan pemungut cukai pada umumnya? Belum tentu! Alkitab tidak menjelaskan hal itu, tetapi kalau kita melihat apa yang dijanjikan Zakheus setelah dia berjumpa dengan Tuhan Yesus, bahwa setengah dari miliknya akan diberikan kepada orang miskin dan bila ada yang pernah diperasnya akan dikembalikan 4 kali lipat, mestinya tidak masuk akal kalau zakheus berbuat sama seperti pemungut cukai pada umumnya. Lagi pula dia kepala pemungut cukai, jadi kemungkinan dia tidak secara langsung menarik pajak dari rakyat.

Namun, sebaik apa pun Zakheus, dia adalah kepala pemungut cukai. Maka, tidak bisa dihindari, semua orang melabeli dia orang berdosa, antek pemerintah Romawi. Dengan badannya yang pendek mungkin juga ada label-label lain yang dikenakan kepadanya. Nama Zakheus yang berarti murni mungkin juga membuat Zakheus merasa tertuduh karena hidupnya berlawanan dengan nama itu. Kemanapun dia pergi, label-label itu melekat pada dirinya dan tuduhan munafik juga terus mengikutinya. Maka, meskipun hartanya banyak, hatinya kosong.

Apa yang Zakheus Lakukan?

Zakheus mencari Tuhan Yesus!

Teks kita mengatakan bahwa ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, artinya dia sudah mendengar tentang Tuhan Yesus dan ia ingin mengenal-Nya, tetapi terhalang, selain oleh statusnya sebagai kepala pemungut cukai yang dianggap najis, juga karena badannya pendek, sedangkan pada waktu itu, Tuhan Yesus dikelilingi orang banyak yang tentu lebih tinggi dari padanya. Namun, Zakheus tidak putus asa. Dia berlari mendahului kerumunan itu dan naik ke atas pohon ara.

Mari kita bayangkan: kepala pemungut cukai, sekalipun dibenci oleh bangsa Yahudi, didalam pemerintah Romawi adalah jabatan yang bergengsi. Seorang pejabat, jalannya harus anggun, patang untuk lari, apalagi sambil memakai jubah, pasti harus ditarik ke atas, masih naik pohon lagi, itu sangat merendahkan dan memalukan. Namun, Zakheus tidak peduli; kerinduannya untuk melihat Tuhan Yesus mengalahkan rasa malu dan semua penghalang yang dihadapinya. Orang yang rindu untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus, akan melakukan apa saja asal bisa berjumpa dengan-Nya. Itulah Zakheus.

Sikap Tuhan Yesus

Tuhan Yesus bisa saja mengacuhkannya. Bukankah Dia sedang sibuk melayani orang banyak? Apalagi Zakheus ada di atas pohon, pasti tidak mudah terlihat oleh-Nya. Namun, Tuhan Yesus justru  menyempatkan diri untuk berhenti dan melihat ke atas. Zakheus pasti kaget dan malu, sama sekali tidak menyangka akan ditoleh.  Pandangan Tuhan Yesus pasti diikuti oleh orang banyak dan diantara mereka mungkin ada yang mencibir atau paling sedikit berpikiran negatif. Namun Tuhan Yesus mengucapkan satu kalimat yang luar biasa bagi Zakheus: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Wow! Seorang pemuka agama mau menumpang di rumah seorang kepala pemungut cukai? Belum pernah terjadi!

Umumnya para pemimpin agama Yahudi sangat memandang rendah pemungut cukai. Dimata mereka pemungut cukai itu orang berdosa, najis. Bersentuhan saja tidak mau, apalagi menumpang di rumahnya. Itulah sebabnya semua orang yang bersama Tuhan Yesus bersungut-sungut. Mereka mengkritik Tuhan Yesus yang mau menumpang di rumah orang berdosa. Namun bagi Zakheus, itu sebuah kehormatan yang luar biasa.  Sapaan Tuhan Yesus tentu sangat menyentuh hatinya. Bagi seorang Zakheus yang hatinya kosong, sentuhan kasih seringkali berbicara lebih keras dari pada teguran atau disiplin yang keras.

Respons Zakheus

Dengan hati berbunga-bunga, Zakheus segera turun dan dengan sukacita menyambut Tuhan Yesus di rumahnya. Sebagai tanda bahwa dia bertobat, Zakheus berkata bahwa setengah dari miliknya akan dia berikan kepada orang miskin dan jika ada yang pernah diperasnya, akan dikembalikan empat kali lipat. Apa yang dilakukan Zakheus lebih dari yang dituntut oleh hukum taurat. Hukum Taurat hanya menuntut pengembalian dua kali lipat.

Dampak Pertobatan Zakheus

Tuhan Yesus berkata: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini karena orang inipun anak Abraham. Apa maksudnya? Maksudnya, bukan perbuatan Zakheus memberikan setengah dari hartanya dan mengembalikan empat kali lipat dari yang dirampas yang menyelamatkan Zakheus, melainkan bahwa itu semua adalah buah dari imannya kepada Tuhan Yesus. Tuhan Yesuslah yang menyelamatkan dan mengubah seluruh hidup Zakheus dari dalam.

Secara lahiriah, label-label yang dikenakan kepadanya mungkin masih melekat, tetapi semua itu tidak lagi mempengaruhi hidupnya.  Dia tidak lagi menjadi orang yang tertuduh, karena Tuhan Yesus sudah membayar lunas segala dosanya dengan darah-Nya. Melalui kesaksian dan perbuatannya, Zakheus bahkan menjadi berkat bagi banyak orang.

Jadi, masalah yang sama dampaknya bisa berbeda jika kita mau datang kepada Tuhan Yesus, bertobat dan menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Dia sanggup dan mau mengubah hidup kita dari dalam, sehingga sekalipun segala sesuatu telah menjadi kacau oleh karena kesalahan kita, bukan hanya dipulihkan, tetapi juga bisa menjadi berkat bagi orang lain. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang dapat menolong orang lain yang jatuh sebaik mereka yang pernah jatuh dalam hal yang sama.

Konklusi

Hari ini, apakah ada di antara Saudara yang mengalami seperti Amanda Tod dan Zakheus?  Saudara tidak perlu menghancurkan diri Saudara sendiri dengan terus berputar-putar dalam masalah dan penyesalan. Tuhan Yesus berkuasa dan rindu memulihkan hidup kita dan menjadikan kita berkat Dia tidak pernah menolak orang yang datang kepada-Nya dengan tulus hati. 

Masalahnya, maukah kita datang kepada-Nya dan berkata: “Tuhan, ampuni saya karena saya telah memilih jalan yang salah. Sekarang semuanya telah menjadi kacau dan saya tidak mampu menanganinya. Namun saya percaya bahwa Engkau sanggup dan mau menolong saya. Karena itu saya mau serahkan semuanya kepada-Mu.”

Sebaliknya, jika kita bertemu dengan orang-orang seperti Amanda Tod dan Zakheus, marilah kita menjadi orang pertama yang mau memberi diri menjadi sahabatnya. Menerimanya apa adanya dan mendampinginya untuk menemukan kasih Kristus.

Amin.

Exit mobile version