Site icon

Janda Miskin: Memberi yang Terbaik

Janda Miskin: Memberi yang Terbaik

Mrk 12:41-44; Luk 21:1-4

Pdt. Agus Surjanto

Peristiwa yang diceritakan dalam bacaan di atas terjadi menjelang hari-hari yang sekarang kita kenal sebagai minggu sengsara. Pada hari-hari itu seharusnya Tuhan Yesus lebih memperhatikan diri-Nya karena Dia sedang menghadapi hari-hari yang berat. Dia harus naik di atas kayu salib menebus dosa manusia. Dan yang paling “menakutkan” adalah Dia akan menerima murka Bapa yang penuh. Akan tetapi dalam situasi seperti itu, Dia masih menyempatkan diri untuk mengajar hal yang penting kepada murid-murid-Nya,yaitu bagaimana memberi persembahan yang berkenan kepada Allah.

Pada zaman TY, umat Israel juga memberi persembahan yang disebut persembahan suka rela. Setiap orang dapat memberikan persembahan sesuai dengan hatinya. Kompleks Bait Allah pada waktu itu dibagi dalam beberapa bagian seperti yang terlihat di gambar di bawah ini

Peristiwa Janda Miskin yang membersembahkan dua peser terjadi di dalam kompleks Pelataran Wanita Yahudi, karena inilah satu-satunya tempat di mana setiap orang Yahudi, termasuk wanita, bebas untuk masuk. Di dalam kompleks itu disediakan 13 peti persembahan. Kotak yang cukup besar dengan “mulut” yang bentuknya menyerupai terompet. Di tempat itulah orang Israel memberikan persembahannya. Pada waktu itu uang yang dipakai berupa koin yang dibuat dari tembaga, perunggu, perak atau emas. “Peti persembahan” waktu itu terbuat dari logam sehingga ketika orang memberi persembahan akan terdengar bunyi yang nyaring. Makin banyak koin yang dimasukkan, makin nyaring bunyinya. Demikian juga jenis suara yang dihasilkan pasti berbeda antara uang tembaga dengan uang emas. Karena itulah orang-orang sekitar dapat memperkirakan berapa banyak persembahan yang diberikan seseorang dengan mendengarkan suara yang muncul ketika persembahan diberikan.

Peser adalah mata uang yang paling kecil pada waktu itu. Nilainya 1/64 dinar. Upah seorang pekerja sehari pada waktu itu adalah satu dinar. Kalau di kurs pada zaman ini (2021) dan dianggap upah pekerja sehari 120.000 rupiah, maka satu peser berarti kira-kira 2000 rupiah. Dua peser berarti kira-kira 4000 rupiah. Pada zaman kita sekarang uang sebesar ini hanya cukup untuk biaya parkir mobil, tetapi di mata Tuhan Yesus janda miskin itu dikatakan memberi persembahan lebih banyak dari semua persembahan yang diberikan oleh semua orang waktu itu. Bagaimana bisa? Orang Yahudi dari sejak kecil sudah diajar untuk memberi persembahanyang terbaik kepada Allah. Dalam ritual korban persembahan, salah satu syarat binatang korban adalah harus tidak bercacat (Im 22:21; Mal 1:14). Karena itu hampir dapat dipastikan bahwa orang-orang kaya itu memberikan persembahannya juga yang terbaik, artinya uang mereka juga bukan uang yang cacat.

Dan kalau kita perhatikan dengan teliti, Tuhan Yesus sama sekali tidak pernah mengecam atau menganggap persembahan orang-orang kaya itu salah. Dia memuji persembahan janda itu yang memberi dari kekurangannya, seluruh nafkahnya pada hari itu. Berarti kemungkinan dia puasa atau tidak makan hari itu. Apakah itu berarti bahwa pemberian yang terbaik adalah pemberian dari kekurangan kita? Artinya nafkah kita pada hari itu sebenarnya tidak cukup untuk hidup layak pada hari itu, tetapi tokh kita tetap harus memberi persembahan. Kalau memang itu yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, bukankan janda itu hanya dapat memberikan persembahan terbaiknya dengan sangat terbatas? Sebab kalau dia tiap hari memberi seluruh nafkahnya pada hari itu bukankan berarti dia tidak pernah makan tiap hari? Tentu tidak mungkin janda itu melakukan hal itu setiap hari. Apakah Tuhan Yesus menginginkan persembahan yang seperti itu (mempersembahkan dari kekurangan) setiap hari? Kalau kita punya banyak kelimpahan apakah Allah ingin supaya kita mempersembahkan sebagian besar milik kita sedemikian rupa sehingga hari itu kita harus puasa? Sebenarnya apa yang ingin Tuhan Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya? Apakah ini masalah persembahan?

Alkitab mengajarkan bahwa persembahan yang berkenan kepada Allah adalah persembahan yang diberikan dengan suka rela, yang memang seharusnya, yang kudus, dengan tulus ikhlas (tanpa motivasi untuk keuntungan diri) dan berdasarkan kasih (Mzm 54:8; 1Taw 29:17; Mat 22:21; 2Kor 8:12; 9:6-8). Orang Israel mempunyai kewajiban untuk memberikan persembahan yang adalah persembahan “wajib.” Persembahan “wajib” adalah persembahan yang harus diberikan karena sudah diatur dalam Hukum Taurat. Semua orang Israel harus memberikan persembahan “wajib” ini. Tetapi selain persembahan “wajib” itu, setiap orang Israel bisa memberikan persembahan yang disebut persembahan suka rela. Dan inilah yang dilakukan oleh janda miskin itu. Berarti persembahan itu boleh dilakukan dan juga boleh tidak dilakukan. Inilah yang dipuji oleh Tuhan Yesus. Berarti janda miskin memberikan seluruh hidupnya hari itu kepada Tuhan dengan rela hati. Hati seperti inilah yang dilihat oleh Tuhan Yesus. Dan sikap hati inilah yang sedang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya, yaitu mempersembahkan seluruh hidup mereka kepada Allah dengan rela hati. Mempersembahkan hidup kita kepada Allah memang seharusnya seperti itu. Paulus dalam Roma 12:1-2 mengatakan supaya kita mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, yang berkenan kepada Allah. Dan untuk itu kita perlu mengalami pembaharuan budi kita sehingga mengerti kehendak Allah.

Janda miskin itu peka akan kehendak Allah sehingga hari itu dia digerakkan oleh Roh Kudus untuk memberikan persembahan suka rela dari seluruh penghasilannya pada hari itu, walaupun karena itu dia harus berpuasa pada hari itu. Kepekaan ini sebenarnya merupakan pergumulan orang percaya sepanjang zaman. Orang Kristen sejati pasti merindukan untuk terus berjalan menuruti kehendak Allah dalam segala hal. Tetapi dalam kehidupan umat Allah sekarang, mencari kehendak Allah tidak semudah seperti umat Allah pada zaman dulu. Zaman itu umat Allah bisa mendengar langsung kehendak Allah. Ketika Allah ingin Abraham pergi meninggalkan tempat kelahirannya, Allah berbicara secara langsung kepadanya (Kej 12:1-3). Juga ketika Allah ingin Abraham mempersembahkan anaknya Ishak, Allah juga berbicara langsung (Kej 22:1-2). Selain itu ada malaikat yang diutus, ada para nabi yang diangkat Allah untuk menyatakan apa kehendak Allah. Yusuf juga tahu kehendak Allah supaya dia menikahi Maria karena ada malikat datang dalam mimpinya (Mat 1:18-25). Umat Allah tidak perlu bingung-bingung mencari kehendak Allah. Tetapi pada zama Sekarang ini hal-hal seperti yang dialami oleh bangsa Israel itu apakah masih terjadi? Bukankah kita sudah mempunyai alkitab yang sudah lengkap? 

Walaupun saat ini alkitab sudah lengkap, tetapi umat Allah merasa masih memerlukan pimpinan Tuhan dalam kehidupannya secara pribadi. Misalnya banyak orang Kristen ingin tahu siapa jodohnya. Dengan siapa seharusnya dia menikah. Bukankah saya harus menikah dengan seseorang seperti yang dikehendaki Allah? Bukankah Allah menjodohkan Ishak dan Ribka? Kalau saya sampai salah pilih bukankah saya berdosa kepada Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya sebagian kecil dari segudang pertanyaan yang membuat gelisah umat Allah. Orang Israel lebih enak. Ingin tahu apa, tinggal tanya nabi Allah atau Imam Besar melalui Urim dan Tumim. Memang kita punya PL dan PB yang sudah lengkap, yang memberikan prinsip-prinsip hidup yang penting bagi umat Allah. Tetapi kan tetap ada kasus-kasus khusus yang perlu tahu kehendak khusus Allah supaya kita tidak salah mengambil keputusan, demikian kata sebagian orang percaya. Kehendak Allah yang seperti itu biasa disebut dengan istilah Kehendak Individu Allah (Individual Will of God), yaitu kehendak Allah secara khusus bagi setiap orang percaya. Kehendak Individu ini harus sesuai dengan Kehendak Moral Allah dalam alkitab.

Dengan munculnya pergumulan ini maka banyak ahli alkitab mencoba mencari jawaban bagi umat Allah. Tetapi tentu saja bukan hal yang mudah, karena sumber yang dimiliki hanyalah alkitab PL dan PB. Dan sampai hari ini tidak ada lagi Imam Besar, tidak ada lagi para nabi yang dengan kuasa dari Allah bernubuat:”Demikianlah Firman Tuhan,” dan semua yang dikatakan nabi itu terjadi sampai detail yang sekecil-kecilnya. Tidak ada hal kecil sedikitpun yang tidak tepat. Kebingungan umat Allah pada zaman sekarang bertambah lagi ketika muncul “nabi-nabi” modern yang dengan berani “bernubuat” seperti Yesaya dan berkata : “Demikianlah Firman Tuhan,” tetapi ternyata tidak terjadi seperti yang dikatakannya atau ada hal-hal yang tidak tepat. Sedikit meleset kan manusiawi, demikian kata mereka yang percaya nabi-nabi modern itu.

Tetapi apakah Allah pernah mengatakan bahwa Dia akan menurunkan kualitas nabi-nabi-Nya pada zaman akhir ini? Apakah sedikit meleset atau tidak terlalu tepat adalah kriteria nabi modern? Ini pertanyaan yang sangat serius, karena menyangkut kredibilitas Allah yang sempurna. Nubuat yang tidak sempurna sampai detail sekecil-kecilnya berarti menunjukkan ketidaksempurnaan Allah “yang bernubuat” itu. Apakah Allah Alkitab adalah Allah yang seperti itu? Tentu tidak. Allah Alkitab adalah Allah yang sempurna, sampai detail yang paling kecil. Jadi jelas sekali bahwa “nabi” yang bisa salah sedikit bukanlah nabi Allah Alkitab. Firman Tuhan mengatakan bahwa “nabi” yang seperti itu adalah nabi palsu (Ul 18:20-22). Tetapi mengapa ada yang agak tepat? Kalau nubuatnya salah, ya pasti nabi palsu, tetapi kalau sebagian tepat dan hanya beberapa hal tidak tepat, bukankah itu tetap nubuat dari Allah? Mereka sering mengutip satu ayat dalam Alkitab (1Kor 13:8-9) yang menuliskan bahwa pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Berarti kalau nubuat kita ada yang sedikit salah ya tidak masalah, karena tidak sempurna.

Sebenarnya kata “sempurna” (LAI Terjemahan Baru) yang dipakai di bagian ini persis sama dengan bagian sebelumnya yaitu tentang pengetahuan yang tidak lengkap (Yun = meros), jadi bukan tidak sempurna dalam arti bisa salah sedikit, tetapi tidak lengkap, tidak menceritakan semuanya secara lengkap. Misalnya kalau ada orang mengatakan bahwa dia hanya mempunyai sebuah pabrik kertas, maka bukan berarti dia hanya punya satu pabrik. Mungkin saja pabriknya banyak, tetapi yang produksi kertas memang cuma satu. Inilah yang dimaksud dengan tidak lengkap itu. Dan ini adalah hal yang persis sama dilakukan oleh para nabi dalam Alkitab seperti Yesaya, Yeremia dan para nabi yang lain. Nubuat mereka juga tidak lengkap karena tidak pernah ada yang lengkap. Mereka hanya menubuatkan sebagian kebenaran dan kehendak Allah, bukan seluruh kehendak Allah, tetapi tetap dengan detail yang sempurna. Kehendak Allah tidak dinyatakan sekaligus hanya oleh seorang nabi. Alkitab mengajarkan bahwa Allah alkitab adalah Allah yang tidak pernah berbuat salah sedikitpun. Alkitab mengatakan bahwa kalau ada nabi yang “bernubuat” dan nubuatnya tidak terjadi persis seperti apa yang dia katakan, maka berarti dia adalah nabi palsu dan Tuhan mengatakan bahwa “nabi” itu harus mati.

Kalau begitu, apa sebenarnya Kehendak Individu ini? Bagaimana kita mengetahuinya? Banyak orang Kristen salah mengerti akan Kehendak Individu ini. Mereka beranggapan bahwa Kehendak Individu ini ada untuk semua orang dan untuk setiap aspek kehidupan sampai detail yang sekecil-kecilnya. Apakah alkitab mengajarkan demikian? Alkitab memang mengajarkan ada Kehendak Individu. Misalnya jodoh Ishak adalah Ribka. Allah menghendaki Daud menjadi raja Israel. Allah menetapkan Salomo untuk membangun Bait Allah dan bukan Daud. Dan banyak lagi contoh dalam alkitab bahwa Kehendak Individu itu benar-benar ada. Tetapi apakah untuk semua orang dan juga untuk semua aspek kehidupan? Ternyata tidak. Allah hanya memilih orang-orang tertentu untuk menyatakan Kehendak Individu itu dan itupun bukan dalam seluruh aspek kehidupan orang-orang itu.

Tuhan memang menghendaki Daud menjadi raja Israel, tetapi bagaimana dia memilih istrinya, bagaimana dia mendidik anak-anaknya diserahkan kepada Daud sesuai dengan Kehendak Moral dalam Firman Tuhan. Tuhan tidak pernah mengungkapkan Kehendak Individu untuk istri-istri Daud. Berarti Daud bebas untuk memilih istri-istrinya, tetapi tentu saja harus sesuai dengan aturan Firman Tuhan waktu itu. Dan ternyata Daud kemudian berdosa ketika mengambil Batsyeba sebagai istri. Demikian juga untuk sebagian besar orang Israel, Tuhan tidak pernah menyatakan Kehendak Individu-Nya, tetapi orang Israel tetap dipimpin oleh Kehendak Moral Allah dalam alkitab (PL). Hal yang penting untuk disadari sehubungan dengan Kehendak Individu ini adalah bahwa Kehendak Individu ini bukan hanya berkaitan dengan individu yang tersebut, tetapi menyangkut dengan rencana Allah secara keseluruhan. Artinya individu tersebut dilibatkan dalam keseluruhan rencana Allah melalui peran atau tugas yang Allah inginkan dilakukan oleh orang yang dipilih itu. Tetapi Allah tetap memberi kebebasan bagi individu tersebut untuk mau ikut rencana Allah atau tidak. Peringatan yang diberikan Mordekhai kepada ratu Ester (Est 4:13) patut menjadi tanda awas bagi mereka yang diberi kesempatan untuk terlibat dalam rencana Allah itu.

Rencana Allah tidak pernah dan tidak mungkin gagal. Kalau kita tidak mau ikut dilibatkan dalam rencana Allah, maka Allah akan memakai “pihak lain” untuk melaksanakan rencana-Nya. Tetapi yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua Kehendak Individu itu pasti akan menyenangkan hati kita. Misalnya, Tuhan ingin menjadikan Paulus sebagai Pemberita Injil bagi orang non-Yahudi. Tetapi Tuhan sudah memberitahu lebih dahulu bahwa Paulus akan mengalami banyak penderitaan karena panggilan khusus itu (Kis 9:15-16). Dan Paulus tetap bebas untuk menjawab “ya” atau menjawab “tidak.” Dan ternyata Paualus menjawab “ya” atas panggilan untuk menderita itu. Nabi Yesaya juga dipanggil dengan suatu “jaminan” bahwa pelayanannya kepada orang Israel “tidak akan pernah berhasil” (Yes 6:1-13). Dan Yesaya juga menjawab “ya” atas panggilan Allah itu. Bayangkan betapa sedih hati Yesaya ketika dia sudah tahu lebih dahulu bahwa semua kotbahnya akan “sia-sia,” walaupun nantinya, setelah dia mati, berita Firman Tuhan itu berdampak besar bagi bangsa Israel.

Dari pemahaman di atas, maka ternyata Kehendak Individu ini tidak berlaku bagi semua orang dan juga tidak berlaku untuk semua aspek hidup seseorang. Maka mungkin saja untuk sebagian besar orang Allah tidak menyatakan Kehendak Individu ini, sehingga bagi orang-orang ini berlaku Kehendak Moral Allah dalam alkitab. Misalnya mereka bebas memilih siapa istri atau suaminya, tetapi untuk memilih istri atau suami itu orang-orang itu harus mengacu kepada Firman Tuhan yang mengatur bagaimana seharusnya memilih seorang istri atau suami. Demikian juga, kalau misalnya Allah punya Kehendak Individu kepada seseorang sehubungan dengan jodohnya, tidak berarti Allah juga punya Kehendak Individu bagi orang tersebut untuk masalah pekerjaannya, misalnya. Mungkin hanya jodoh itulah satu-satunya Kehendak Individu Allah bagi dia. Yang lain Allah memberi kebebasan untuk memilihnya, tetapi dengan memperhatikan prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan.

Pertanyaannya sekarang adalah, kalau Allah mempunyai Kehendak Individu bagi seseorang, bagaiman orang tersebut dapat mengetahuinya? Dari catatan alkitab tentang bagaimana seseorang dapat mengetahui Kehendak Individu itu, kalau ada, kita dapat mengetahuinya melalui beberapa cara:

Kalau memang Allah mempunyai Kehendak Individu tentang masalah tertentu dalam hidup kita, maka seharusnya Allah menyatakan kepada kita sesuai dengan empat  macam kriteria di atas. Allah alkitab bukan Allah yang suka membuat umat-Nya bingung dan menebak-nebak kehendak Allah. Cerita janda miskin yang dipuji Tuhan Yesus adalah peristiwa yang mirip dengan apa yang dialami Nehemia. Dan Kehendak Individu Allah bagi janda miskin itu dipakai Tuhan Yesus untuk melakukan rencana-Nya yaitu mengajar murid-murid-Nya. Bukan suatu kebetulan bahwa “cerita sederhana” ini dimasukkan dalam Injil. Allah dapat melibatkan siapa saja untuk ikut dalam rencana-Nya, termasuk orang yang paling sederhana seperti janda miskin itu, yang bahkan namanya siapa juga tidak diketahui.

Yang penting untuk kita pelajari adalah bahwa mereka yang diberi kesempatan ini tetap diberi kebebasan apakah mau ikut dalam rencana Allah itu atau tidak. Allah ketika menciptakan Adam dan Hawa telah menciptakan mereka dengan kehendak bebas, bukan robot. Adam dan Hawa pernah salah memilih dan akhirnya seluruh manusia jatuh dalam dosa. Syukur kepada Tuhan bahwa Allah menyediakan penebusan dalam Tuhan Yesus, sehingga orang percaya dapat sekali lagi dilibatkan dalam rencana Allah. Kalau Allah ingin melibatkan kita secara khusus dengan memberikan Kehendak Individu itu kepada kita, apakah anugerah kesempatan yang luar biasa ini akan kita ambil atau kita lepaskan?

Exit mobile version