Site icon

Kemuliaan di Atas Gunung

Kemuliaan di Atas Gunung

Ulangan 3:23-27

oleh: Jenny Wongka †

Tak seorang pun bersama dengannya saat ia meninggal.

Tiada seorang pun yang hadir dalam pemakamannya.

Tidak seorang pun tahu lokasi kuburannya. Siapakah orang itu?

Namanya Musa—seseorang yang dikubur oleh Allah sendiri.

Pekerjaan Musa telah selesai. Tibalah saatnya bagi dia untuk berangkat dan saat dimana orang lainlah yang harus mengambil alih posisi kepemimpinan atas umat Israel. Sebab itu Tuhan berfirman kepada Musa, “Naiklah ke Gunung Nebo. Yosua akan memimpin  umat itu. Di atas gunung itulah engkau akan mati dan berkumpul bersama dengan para leluhurmu.”

Saya membayangkan dan merasakan detik-detik ketika Musa meninggalkan umat Israel. Seluruh umat itu berkumpul dan suasana perpisahan yang mengharukan mencekam segenap umat. Mereka meratapi perpisahan ini, bahkan ada di antara mereka yang menyobek pakaian mereka tanda berkabung. Mereka sangat mengasihi orang tua ini. Walau kadangkala mereka berpikir bahwa ia sebagai orang tua yang keras dan tidak sudi berkompromi sedikit pun dengan kesalahan atau dosa mereka, mereka tetap mengasihi Musa. Mereka merasa sangat kehilangan figur seorang bapak yang selama ini sudah dengan sabar menuntun mereka. Dengan linangan air mata mereka menatap Musa menaiki Gunung Nebo, serta lama-kelamaan hilang dari pandangan mereka.

Saya membayangkan detik-detik tatkala Musa di atas puncak Gunung Nebo, saat jubahnya ditiup angin. Dengan kedua tangan menudungi matanya ia melihat ke arah Sungai Yordan dan pegunungan serta lembah-lembah subur negeri Kanaan.

Kemudian saya tidak melihat apa-apa lagi. Seolah-olah sebuah tirai menutupi pandangan saya. Kitab Suci memberikan kelanjutan kisah ini, yaitu “lalu matilah Musa, hamba Tuhan itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman Tuhan. Dan dikuburkan-Nyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini” (Ulangan 34:5).

Apakah yang ingin kita renungkan bersama tentang tokoh Musa ini?

 

Doa Musa yang Tidak Terkabulkan

Dalam Kitab Ulangan, kita menemukan perkataan Musa seperti yang terdapat dalam Ulangan 3:25-27.

Musa yang telah memimpin umat Israel tiba di perbatasan Negeri Perjanjian. Allah mengatakan kepadanya bahwa ia boleh memandang negeri itu dari puncak gunung namun tidak diperbolehkan untuk memasukinya. Ada kisah di balik ini yang dipaparkan dengan jelas dalam kitab Bilangan pasal 20.

Dalam perjalanan panjang di padang gurun tahun ke-40 ini, Musa bersama segenap umat tiba di tempat yang disebut Meriba. Tiada air di sana, umat menjadi sangat gelisah dengan kebutuhan mendesak ini. Seperti kebiasaan perilaku mereka, mereka mulai menyalahkan Musa, sambil berseru, “Mengapa engkau membawa kami ke tempat sepi ini dan membiarkan kami mati kehausan?”

Menjawab sungutan ini, Tuhan menjumpai Musa dan berpesan kepadanya, “Berbicaralah kepada batu itu, dan Aku akan memberikan air untuk kebutuhan umat itu.” Namun karena menjadi sangat marah kepada umat itu, Musa menjadi tidak menaati Allah. Ia tidak berbicara kepada batu itu melainkan memukul batu itu dengan tongkatnya. Ia kembali melakukan dosa tatkala menempatkan dirinya dan Harun, kakaknya, sebagai orang-orang yang sudah berjasa memberikan air kepada umatnya. “Dengarlah, hai pemberontak,” ia berkata, “haruskah kami mengeluarkan air dari batu ini?”

Allah tidak berkenan membiarkan dosa Musa dan Harun menghalangi pemberian air minum bagi umat-Nya, dan Allah tetap memberikan air yang berkelimpahan itu keluar dari batu. Namun, kemudian saat mereka tiba di perbatasan Negeri Perjanjian, Musa memanjatkan doa, “Tuhan, biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang baik itu.” Allah menjawab, “Tidak, Musa, sebab dosamu di Meriba itu, maka engkau tidak akan memasuki negeri itu.”

Kitab Suci memberikan kepada kita beberapa alasan mengapa doa-doa kita tidak dikabulkan Tuhan:

Inilah sebabnya mengapa doa Musa tidak dikabulkan Tuhan.  Ini juga alasan mengapa Tuhan tidak menjawab doa-doa umat-Nya pada zaman Yesaya. Dalam Yesaya 59:1-2 kita membaca perkataan Nabi Yesaya:

“Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”

Dari sebuah artikel saya membaca kisah ini:

Zaman kanak-kanak Norman Peale akan saya ambil untuk menggambarkan kebenaran tersebut. Sebagai seorang anak laki-laki, bersama dengan teman sebayanya yang sedang mencari identitas diri, ia sudah belajar untuk mengisap rokok. Suatu hari, sambil menyulut sebatang rokok dan mengisapnya dengan perasaan bangga sebagai seorang laki-laki, tiba-tiba ia sangat terkejut karena ada seorang pria yang sedang berjalan ke arah dan itu ayahnya, seorang pendeta. Si Norman segera menyembunyikan rokok di balik tubuhnya, dan menyapa, “Hello, Dad!” “Mengapa hellomu dengan tangan di belakang, anakku?” Si Norman kelabakan namun tidak habis akal. Ia segera mengalihkan perhatian ayahnya dengan tangan kiri menunjukkan reklame kunjungan sirkus ke kota mereka, sambil berkata, “Dad, berikan aku uang untuk membeli tiket sirkus itu, aku ingin nonton bersama teman-temanku nanti!”

Dengan suara yang tenang dan lembut, ayahnya menjawab, “Norman, kamu harus belajar mulai saat ini, jangan berharap meminta sesuatu apa pun dari ayahmu, dengan tindakan ketidaktaatanmu pada ayah, yaitu dengan apa yang kamu sembunyikan di balik tubuhmu itu.”

Hai, orang-orang Kristen, adakah Anda dan saya sedang berdoa sambil menyembunyikan sesuatu dalam kehidupan? Tidak mungkin, dan jangan berharap doa kita dikabulkan oleh Tuhan! Doa Anda tidak akan lebih tinggi atau hanya mencapai langit-langit kamar saja bila persoalan tersembunyi (dosa Anda) masih Anda pertahankan.

 

Kekecewaan Besar Musa

Kenyataan menunjukkan bahwa Musa berdoa serta meminta agar Tuhan mengizinkannya masuk ke Negeri Perjanjian, dan hal ini begitu berarti bagi dirinya. Mungkin Anda bisa turut merasakan, tinggal selangkah lagi, sudah di perbatasan, namun tidak diizinkan masuk. Betapa besar kekecewaan yang melanda Musa.

Ini adalah untuk pertama kalinya setelah 40 tahun lamanya mereka terus mengelilingi padang gurun. Pengembaraan ini disebabkan ketakutan mereka akan penduduk Kanaan yang buruk menurut laporan dari sepuluh pengintai. Sambil mengembara dan tiba di perbatasan Negeri itu, saya yakin Musa berpikir, “Empat puluh tahun adalah jangka waktu yang panjang, namun kini berakhir sudah. Kini aku akan menyeberangi Sungai Yordan dan memasuki Negeri Perjanjian yang sudah dijanjikan Tuhan kepada Abraham dan bapak-bapak leluhurku.”

Namun jawaban yang diterima Musa dari Tuhan, “Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku. Musa, engkau tidak boleh memasuki negeri itu.”

Hancurlah seluruh pengharapan Musa.

Kekecewaan adalah satu bagian kecil dari pengalaman hidup manusia. Dan kekecewaan yang mirip seperti pengalaman Musa itu akan datang pada saya dan Anda sekalian. Saya ingin katakan sekali lagi, kekecewaan yang sejenis ini bisa menimpa setiap orang.

Seorang pemuda yang sedang menjalin cinta dengan gadis pujaannya, dengan tekun dan semangat juang tinggi bekerja keras, demi kelak mampu membahagiakan kekasihnya. Berbulan-bulan ia mengatur keuangannya dengan baik, sambil menyisipkan sejumlah uang untuk membeli kado ulang tahun bagi sang kekasih: sebuah arloji tangan yang manis dan indah. Siapa menduga, gadis pujaan tersebut justru akhirnya dengan tega menerima lamaran seorang pemuda lain yang kaya. Anda bisa menduga bukan, suatu kekecewaan yang besar sedang dialami pemuda ini! Hancur semua impiannya!

Kekecewaan jenis apa pun bisa melanda kita, namun ada sejenis impian yang lebih besar dan yang paling membahagiakan bila kita berhasil meraihnya: Mengenal kekecewaan besar itu dan dengan tenang dan tabah menerimanya sebagai kehendak Allah. Inilah gambaran betapa Musa menerima larangan Tuhan padanya untuk memasuki Negeri Perjanjian itu. Tidak ada catatan argumentasi Musa setelah Tuhan berkata, “Cukup, jangan lagi bicarakan perkara ini pada Aku!” Tidak sepatah kata bantahan pun dari Musa, melainkan ketaklukan penuh akan kehendak Allah saja.

Musa menunjukkan kepada kita suatu jalan yang baik. Daripada terus berlarut-larut dalam ketidakpuasan dan kekecewaan, kepahitan yang menimpa kita, lebih baik belajar untuk menerima apa yang Allah berikan itu dan apa yang ada kini. Di dalam menerima kehendak Allah, kita akan menemukan kedamaian hati. Sesungguhnya, di dalam alam semesta ini, tidak ada tempat lain yang terdamai selain di dalam diri Allah sendiri. Dan tiba saatnya, kita sampai pada penemuan terbesar kita, yakni bahwa sesungguhnya jalan Allah adalah yang terbaik dari semuanya!

 

Harapan Musa Digenapi

Lima belas abad berlalu sudah, generasi yang baru datang dan yang lama telah pergi. Yesus dilahirkan ke dunia ini. Dia meluangkan tahun-tahun awal kehidupan di dunia ini di kota Nazaret. Kemudian, pada usia 30 tahun, Dia memulai pelayanan publik.

Pada suatu hari, Yesus naik ke gunung bersama tiga orang murid-Nya. Di sanalah terjadi transfigurasi, terang surga dan radiansi kemuliaan terpancar melalui wajah-Nya. Tiba-tiba tampak dua orang lain yang dikirim dari surga serta berdialog dengan Dia untuk menghibur dan mendorong Dia dalam mempersiapkan diri menghadap Kalvari dan Kayu salib. Siapakah kedua orang yang datang dari surga itu? Yang seorang adalah Nabi Elia, dan yang satu lagi adalah Musa!

Saya tidak mau Anda kehilangan signifikansi penampakan Musa di atas gunung ini. Akhirnya, kini, Musa berdiri di dalam Negeri Perjanjian yang 15 abad yang lalu ia tidak diperbolehkan masuk. Oh, betapa indahnya kompensasi untuk mengisi kekecewaannya yang lalu itu, walaupun ini harus diterima dengan hidup yang lain (hidup setelah kematiannya itu).

Ini adalah hal yang dilakukan Allah bagi semua anak-anak-Nya. Rasul Paulus mengajarkan kepada kita dengan jelas bahwa suatu hari kelak, dalam hidup yang akan datang, Allah akan mengkompensasikan kekecewaan anak-anakNya dengan hidup bersama Dia di sana. Dengan perkataan Paulus dalam Roma 8:18:

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”

Menarik sekali bagi saya tentang John Calvin, yang menderita begitu banyak penderitaan jasmaniah, banyak penganiayaan yang dialaminya dari para musuhnya, dan banyak dilanda kekecewaan, namun justru menjelang ajalnya, ayat itu diucapkannya kata demi kata dengan sangat jelas.

Dunia ini selalu dilukiskan orang sebagai “lembah air mata”.

Sepasang ayah-ibu dengan perasaan bangga menyekolahkan putranya di perguruan tinggi. Keduanya berharap putranya bisa menyusul kakeknya sebagai seorang dokter yang penuh dedikasi untuk masyarakat. Namun putranya jatuh ke dalam pergaulan yang tidak selektif, jatuh ke dalam pemakaian narkotika, menjadi pemabuk, dan akhirnya berhenti sama sekali dari kuliahnya. Sepasang orangtuanya menangisi putra kebanggaan yang telah menghancurkan harapan mereka.

Sepasang muda-mudi baru saja melangkahkan kaki mereka dalam pernikahan kudus. Sebelum memasuki tahun pertama kebahagiaan rumah tangga, sang istri harus menerima fakta ungkapan jujur dokter, “Anda terserang kanker usus, dan usia Anda paling lama hanya enam bulan lagi!” Sepulangnya dari dokter, ia menyampaikan kabar ini kepada suaminya. Langit terasa menjadi kelabu bagi sang suami, ia memeluk istrinya dan mereka manangis dengan fakta ini: air mata!

Sungguh, bila kita sanggup untuk menampung air mata yang mengalir sejak permulaan sejarah umat manusia, itu akan menjadi sebuah sungai yang luar biasa besar. Namun di dalam Wahyu pasal 21 Rasul Yohanes berkata bahwa di surga tidak ada lagi air mata, “Tiada penderitaan dan tangisan.” Semua kekecewaan dunia ditelan oleh sukacita surgawi!

Sebuah kisah legenda yang mengisahkan Brother Thomas yang pergi ke hutan untuk mengumpulkan ranting-ranting kering untuk api dapur. Dalam hutan itu, terdengar nyanyian burung yang bertengger di ranting sebuah pohon, ia menyanyikan sebuah lagu merdu. Thomas melepaskan pikulannya yang berat sambil mendengarkan. Tidak lama kemudian burung itu terbang pergi. Thomas kembali ke monastrinya, namun herannya ia tidak mengenal satu orang pun di sana, dan yang lebih mengherankan lagi tak seorang pun mengenali dia.

“Tapi, saya adalah Brother Thomas,” ia berkata, “saya meninggalkan tempat ini tadi setengah jam yang lalu.”

Seorang yang tertua menjawab, “Tatkala saya muda, saya teringat seseorang mengisahkan bahwa ada seorang yang bernama Brother Thomas pergi ke hutan untuk mengumpulkan ranting-ranting pohon demi api dapur, namun ia pergi dan tidak pernah kembali lagi. Namun itu terjadi pada 100 tahun yang lampau!”

Coba Anda perhatikan, si burung kecil telah bernyanyi merdu dengan lagu riang sehingga 100 tahun yang berlalu itu terasa seperti hanya setengah jam saja.

Tampaknya kondisi seperti itu adalah suasana yang akan kita rasakan di surga kelak. Kesukaan, ketakjuban, dan kemuliaan surgawi akan membuat seabad terasa sesaat lamanya. Pikirkanlah ungkapan ini:

An eternity without disappointment,

without sadness,

without tears,

withour death.

What a hope!

What a prospect!

 

Sebagai seorang mantan guru SD dan SMP, bahkan hingga kini sebagai seorang pengajar, sudah tak terhitung banyaknya saya mendapati pancaran sukacita anak-anak didik saya saat ujian akhir selesai. Mereka menantikan masa liburan, yang akan melegakan hati mereka, dan mereka bisa bermain sepuasnya dengan teman-teman sebaya. Bagi para mahasiswa, betapa bahagianya saat-saat seperti itu sampai sudah tidak sabar rasanya menunggu hari esok. Segera setelah penutupan semester, mereka langsung pulang kampung untuk berkumpul bersama sanak keluarga.

Yesus berbicara jelas bahwa surga adalah rumah kita, bahkan Dia sudah berjanji bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi kita. Dan di mana Dia berada, di situ pula kita akan berada.

Jika iman pribadi Anda bersungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus Kristus, maka sudah pasti Anda akan sangat menantikan dan mendambakan sukacita untuk pulang ke rumah kekal kita saat kita mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini!

Exit mobile version