Site icon

Magnificat

Oleh: Maria Natalia

Lukas 1:46-55

Saudara-saudara, tahukah arti kata “Dilema”, atau pernahkah mengalaminya? Dilema adalah sebuah situasi yang cukup sulit dan membingungkan. Bisa jadi karena mengharapkan sesuatu namun yang diharapkan datang pada cara dan saat yang dirasa kurang tepat. Tentu jadi dilema, bukan? Antara harus senang atau sedih, atau senang dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Apa yang dirasakan tentu kemudian menimbulkan respons tindakan yang berbeda-beda. Bisa jadi seseorang yang dilema itu terus menerus merasa kebingungan. Atau dalam dilemanya kemudian mengambil keputusan yang dianggap paling tepat.

Dalam hidup kita sebagai orang percaya pun, tidak luput kita mengalami situasi dilematis. Acapkali dalam situasi seperti itu, bagaimana respons yang kita tunjukkan? Kalut dalam dilema yang ada? Atau sibuk dengan sisi manusiawi kita dengan menunjukkan sikap yang kurang tepat? Saat ini mari kita belajar dari seorang figur yang terkenal dalam Alkitab bernama Maria. Ia pun mengalami dilema dalam hidupnya sebagai seorang beriman pada Allah dan menunjukkan responsnya melalui magnificat. Dilema seperti apa yang ia hadapi? Apa itu magnificat?

SS, mari kita sedikit mundur ke belakang dalam Lukas pasal 1 ini.  Apa yang dialami Maria? Siapa dia? Maria adalah seorang gadis remaja di bawah 20 tahun, mungkin usianya masih belasan tahun. Perempuan yang masih begitu muda, didatangi oleh malaikat Gabriel yang memberitakan bahwa ia akan mengandung bayi Juru Selamat. Malaikat itu mengatakan kepadanya bahwa ia adalah seseorang yang dikaruniai oleh Allah, karena dapat mengandung seorang Anak yang kudus, anak Allah yang Mahatinggi, yang nantinya diberi nama Yesus. Secara manusia tentu Maria terkaget-kaget akan kedatangan malaikat ini. Bagaimana tidak? 400 tahun bangsanya yaitu bangsa Israel tidak lagi pernah menerima firman langsung yang diberikan Allah melalui perantaraan nabi-nabi-Nya. Ada periode di mana Allah silent, Allah diam terhadap umat-Nya. Alangkah mengejutkannya malaikat itu datang dan membawa kabar yang demikian mengguncangkan hati dan pikiran Maria.

SS, sebagai umat Yahudi, Maria dibesarkan dalam keluarga yang taat dan takut akan Allah. Ia mengenal hukum Taurat, ia mengenal siapa Allah YHWH. Ia pun tahu bahwa dalam Perjanjian Lama, Allah berulang kali berjanji akan menghadirkan Mesias untuk membebaskan umat Israel. Pada zaman Maria hidup, bangsa Israel sedang berada dalam penjajahan Romawi. Sebuah bangsa yang tidak mengenal Allah dan menindas sedemikian rupa bangsa Israel. Tentu sebagai seorang beriman, Maria benar-benar menantikan janji Allah digenapi atas bangsanya. Seperti orang-orang Yahudi lainnya, katakanlah Simeon, Hana, ataupun orang-orang lain, dalam doanya pun mungkin tidak putus-putusnya ia menaikkan harapan yang sama: “Datanglah Mesias, tolonglah kami.” Namun, seolah Allah tetap diam dan tidak mendengar mereka.

Hingga hari itu datang, seorang malaikat yang memberitakan kabar yang menyukakan: “Akan lahir seorang Juru Selamat, yang kerajaan-Nya pun tidak akan berkesudahan.” Tentu kabar ini sangatlah menggembirakan, namun, untuk Maria berita itu tidak berhenti di sana. Ia-lah yang akan mengandung Juru Selamat yang dijanjikan itu. Dari jutaan wanita Yahudi, dialah yang dipilih Allah untuk mengerjakan tugas ini. Maria tidak pernah diberitahu mengapa ia yang dipilih. Maria tidak pernah dijelaskan terms & conditionnya (Syarat dan ketentuan berlaku) bila ia menerima tugas itu. Tentu dalam hatinya ia mengalami dilema. Di satu sisi, ia bersukacita luar biasa karena Allah menggenapi janji-Nya. Namun di sisi lain ia sangat sedih, takut, kuatir, bagaimana hal itu bisa terjadi pada perawan seperti dia? Bagaimana dengan tunangan yang mengasihinya? Di satu sisi dia memang punya harapan yang begitu besar akan hadirnya Juru Selamat itu, namun di sisi lain, ia pun merasa tidak siap bila harus mengandung Sang Bayi. Pertanyaannya pada malaikat: “Bagaimana mungkin hal itu terjadi, karena aku belum bersuami?” merangkum kegundahan hatinya. Malaikat Gabriel meyakinkannya, bahwa tidak ada sesuatu yang mustahil bagi Allah. Gabriel jugalah yang memberitahu bahwa keluarganya yaitu Elisabet dalam kemandulan dan usia tuanya pun, saat itu sudah hamil 6 bulan. Bagi Allah, terlalu kecil untuk membukakan kandungan dari seorang yang mandul, dan bukan mustahil juga kehamilan terjadi pada seorang perawan, jika itu memang cara yang Allah pakai untuk menjalankan rencana keselamatan-Nya. Maria pun menanggapinya dengan sebuah respons iman: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Dalam dilemanya, Maria memilih untuk beriman, berserah sepenuhnya kepada Allah. Hal yang  kemudian terjadi adalah ia pergi ke rumah saudaranya yaitu Elisabet dan Zakharia. Elisabet menyambutnya dengan tidak terduga, dalam tuntunan Roh Kudus ia mengatakan bahwa Maria adalah wanita yang diberkati dan diberkatilah kandungannya. Padahal Maria belum bercerita apa pun, dari mana Elisabet tahu kalau ia telah mengandung? Belum pulih kekagetannya, Elisabet pun menyebut bahwa bayi dalam kandungannya melonjak ketika salam Maria didengarnya. Elisabet bahkan berkata: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Bagi Maria yang adalah perenung, menjadi sebuah catatan dalam hatinya akan makna dari kata-kata yang diucapkan Elisabet. Apa yang Elisabet katakan menjadi peneguhan terhadap panggilan Tuhan atas dirinya.

Saya percaya bahwa Maria merenungkan apa yang terjadi dalam hidupnya, segala peneguhan yang ia terima sehingga kemudian menaikkan pujian yang dikenal sebagai “Magnificat.” Banyak penafsir yang mengatakan bahwa Nyanyian Pujian Maria ini mirip sekali dengan Nyanyian Pujian Hana yang tertulis dalam 1Sam. 2, sehingga dianggap sebagai karya yang menjiplak dan bukan asli dinyatakan oleh Maria. Namun sesungguhnya bila kita mengerti latar belakangnya, tentu amat berbeda konteks Nyanyian Pujian Hana dengan Nyanyian Pujian Maria ini. Di mana perbedaannya? Pujian Hana adalah nyanyian karena dikabulkan permohonannya, sudah lama menantikan anak dan Allah memberi. Jadi ini merupakan syukur atas kehamilannya. Sedangkan Pujian Maria dilatarbelakangi atas rasa takut akan kehamilannya. Sungguh suatu background yang kontras dan amat berbeda. Meskipun latarbelakangnya berbeda, namun keduanya sama-sama menaikkan pujian yang terpusat dan tertuju kepada Allah. Maria sadar, pusat hidupnya adalah Allah.

Sejak abad ke-2 M, manusia dengan ilmu pengetahuannya membuat teori tentang bumi dan alam semesta yang dikenal dengan Geocentric Theory, yaitu bahwa Bumi menjadi pusat alam semesta. Bumi berada di tengah dan semua benda langit lain termasuk matahari bergerak mengitari bumi. Kurang lebih 1500 tahun kemudian ditemukan sebuah teori Heliosentris, yang kita kenal dan pegang sampai hari ini. Teori ini menyangkal bahwa bukan bumi yang menjadi pusat alam semesta, matahari-lah pusatnya. Bumi dan planet-planet yang lain bergerak dalam lintasannya mengelilingi matahari. Mari kita andaikan, bumi adalah manusia dan matahari adalah Allah. Seringkali, manusia seperti bumi dalam teori geosentris. Merasa bahwa dirinyalah pusat segala sesuatu, bukan Allah.

SS, seringkali mata dan perhatian kita tidak tertuju kepada Allah, melainkan pada diri kita sendiri. Ketika kita mengalami masalah dan pergumulan, acapkali kekecewaan, kekesalan, keluh kesah kita lontarkan kepada Allah. Ia seolah-olah menjadi objek dalam hidup kita, harus memenuhi apa yang kita inginkan dan harapkan. Namun, Allah bukankah objek dalam hidup kita. Ia adalah SUBJEK TERTINGGI dalam hidup kita. Manusia dan bahkan orang percaya seringkali menganggap dirinya sebagai pusat dalam hidup, padahal Allahlah seharusnya yang menjadi pusat kehidupan orang percaya. Manusia hidup demi dan bagi Allah, bukan Allah yang selalu harus ada dan memenuhi keinginan kita. Tidak demikian dengan Maria, melalui nyanyian pujian yang dinaikkannya, Maria menyatakan Allah yang ia kenal dan sembah.

BISS, Lukas 1:46-55 yang berisi nyanyian pujian Maria dikenal sebagai “Magnificat.” Kata ini dari pujian versi bahasa latin. Kata pertama dalam ayat ini, yaitu “Megalynei”, yang berarti “Membesarkan.” Dalam konteks ini mengkonotasikan kebesaran Allah. Apa isi dari magnificat ini?

Melalui pujian ini, Maria berbicara bagi dirinya dan menggemakan perasaan dari bangsanya. Allah layak untuk dipuji atas apa yang akan Ia lakukan dalam memedulikan milik kepunyaan-Nya. Melalui pujiannya, Maria memuji Allah sebagai:

Allah yang beranugerah kepadanya (ay. 46-50)

Maria menemukan sukacita di dalam tindakan Allah yang secara ajaib menjadikannya mengandung anak pengharapan mesianik. Maria menyadari campur tangan Allah sebagai Juru Selamatnya. Maria menujukan pujiannya kepada Allah Juru Selamatnya. Gambaran PL tentang Allah yang menyelamatkan adalah gambaran yang lazim. Maria menggambarkan dirinya sebagai hamba, sebuah posisi yang sadar siapa dirinya di hadapan Allah. Maria mengagungkan Allah sebagai TuhanIa menyebut Allah sebagai “Yang Mahakuasa.” Semua sebutan ini menunjukkan kerendah-hatian Maria.

Maria tidak pernah menyangka atau mengharapkan bahwa ia mendapatkan perhatian khusus dari Allah, dan ia bersyukur atasnya. Maria menyadari bahwa Allah memberikannya tugas khusus dengan mengandung Sang Mesias. Karena itu, generasi dari sepanjang zaman akan menyebutnya berbahagia. Ia disebut berbahagia bukan karena layak melakukan tugas itu, tetapi karena Allah yang beranugerah dalam hidupnya. Oleh malaikat, Maria disebut “Yang dikaruniai,” bukan? Melalui pengalaman pribadinya, Maria begitu tersentuh dengan tindakan anugerah Allah. Inilah yang menjadi dasar ucapan syukurnya di hadapan Allah. Ia mengenal karakter Allah. Allah tidak berutang apa pun padanya, namun ia berhutang segalanya pada Allah. Segala sesuatu yang baik berasal dari Dia dan adalah tindakan anugerah. Allah yang ia kenal adalah Allah yang juga menunjukkan anugerah dan kasih setia yang dialami oleh orang-orang yang takut akan Dia.

SS, sadarkah kita bahwa kita pun adalah orang-orang yang telah menerima anugerah Allah? Kita pun sama tidak layaknya dengan Maria, namun Allah beranugerah dalam hidup kita. Ia menyelamatkan engkau dan saya sekalipun kita tidak layak dan tidak akan pernah layak menerimanya. Namun engkau dan saya kini ada di hadapan Allah sebagai orang-orang pilihan yang menerima anugerah keselamatan dari-Nya. Sudahkah kita merasakan dan menyadari anugerah Allah itu dalam hidup kita? Adakah dengan kerendahan hati seperti Maria kita memuji Allah atas anugerah-Nya dalam hidup kita?

Allah yang berdaulat atas hidup manusia (51-53)

SS, Maria menyatakan Allah sebagai Pribadi yang berdaulat dalam hidup umat manusia. Maria menyatakan bahwa Allah menunjukkan perbuatan-perbuatan besar “Dengan tangan-Nya.” Di sini, Maria menyebut Yang Mahatinggi dengan menggunakan antropomorfisme atau cara manusia membahasakan tindakan Allah. Apakah sungguh Allah mempunyai tangan? “Tangan” Allah di sini menunjukkan kuasa-Nya. Tangan itu dapat membebaskan, mendukung, menopang. Bisa juga dipakai untuk menyerakkan, menjatuhkan dan mengeluarkan. Ingat kemahakuasaan Allah dalam 10 tulah bagi bangsa Mesir? Ingat juga bahwa kemahakuasaan Allah nyata melalui mukjizat-mukjizat-Nya. Dari firman Allah yang dipelajarinya, tentu Maria mengetahui semua pengalaman ini.

Allah dapat menurunkan orang yang berkuasa dari takhtanya, Ia pun dapat meninggikan orang-orang yang dipandang rendah. Ia bahkan bisa menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa, tidak mendapat apa-apa bila itu memang kehendak-Nya. Allah berdaulat atas segala sesuatu, semua orang dan dalam semua keadaan. Kedaulatan Allah nyata dalam kuasa, penebusan dan keadilan-Nya. Apa yang Allah lakukan adalah menurut kehendak-Nya. Tidak ada rencana manusia ataupun kehendak manusia yang dapat menggagalkan apa yang telah direncanakan-Nya.

SS, melalui pernyataan bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat, Maria juga mengingat bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, termasuk membuatnya mengandung meskipun belum bersuami. Kini Maria bukan hanya mengetahui bahwa Allah berdaulat, tetapi ia juga mengalami kedaulatan Allah melalui kuasa-Nya yang ajaib. Sungguh tidak ada yang terlalu sulit untuk dapat Allah lakukan dan kini ia memercayai Allah dan kedaulatan-Nya atas hidupnya.

Allah yang setia pada perjanjian-Nya (ay. 54-55)

Dalam ayat 54-55, Maria menggambarkan Pribadi Allah yang setia kepada perjanjian-Nya. Allah akan menggenapi perjanjian-Nya melalui Kristus. Maria menyebutkan: “Ia mengingat rahmat-Nya” menunjukkan bahwa tindakan Allah didasari atas kesetiaan pada perjanjian-Nya. Allah setia pada janji-Nya dan pada umat-Nya, Israel, janji yang diberikan-Nya kepada nenek moyang dan keturunannya. Tindakan Allah digerakkan oleh kasih setia-Nya.

Maria melihat janji Tuhan yang akan digenapi melalui kehidupannya yang dipakai untuk melahirkan Juru Selamat. Maria tahu bahwa janji Allah adalah tetap dan ini alasan ia memuji Allah. Kesetiaan kasih Allah adalah pusat harapan dan jaminan untuk mereka yang mengenal Dia. Sebagaimana Maria percaya bahwa Allah adalah Pribadi yang setia pada janji-janji-Nya, adakah kita mengenal-Nya sebagai Pribadi yang begitu setia? Adakah kita yakin dan percaya pada janji-janji Allah bagi hidup kita yang Ia nyatakan dalam firman-Nya?

SS, melalui magnificat ini, kita belajar bahwa Maria beralih dari dilema yang ia hadapi. Ia beralih dari ragu dan takut menuju kepada penyerahan, dari penyerahan kepada kepercayaan dan dari kepercayaan kepada pujian. Di tengah keadaan yang tidak memungkinkan dan sulit untuk dimengerti dan diterima, Maria dapat memuji Tuhan. Ia berespons sebagai orang yang percaya kepada Tuhan. Ia memusatkan hidupnya bukan pada kehendak dan rencananya sendiri, tetapi pada kehendak dan rencana Allah. Ia menghidupi hidup dalam kasih karunia. Ia sadar panggilan Allah terkadang enggan diterima, namun bagaimanapun adalah anugerah Allah yang harus dijalani dalam ketaatan.

Melalui Magnificat-nya, Maria menunjukkan kepada kita bagaimana hati yang mengenal Tuhan, tahu rencana Tuhan dan mau mengasihi Tuhan. Seberapa dalam kita mengenal Allah kita? Seberapa ingin kita berjalan dalam rencana-Nya? Seberapa dalam kita mengasihi-Nya?

SS, mungkin di antara kita tahu ada seorang penulis himne yang terkenal bernama Fanny J. Crosby (1820-1915). Ia lahir di keluarga orang percaya. Saat bayi, ia menderita infeksi mata dan dirawat oleh seorang dokter yang tidak cakap yang mengolesi pasta panas pada kelopak matanya yang memerah dan meradang. Infeksinya sembuh, tetapi berakibat pada matanya dan Fanny menjadi buta seumur hidupnya. Fanny tumbuh menjadi seseorang yang dekat dengan Tuhan, neneknya mengajarinya Alkitab dan berdoa pada Tuhan. Sedari kecil pun ia sudah belajar menghafal ayat Alkitab, lima pasal setiap minggu.

Kebutaan tidak pernah membuat Fanny mengasihani diri sendiri dan tidak memandang kebutaan sebagai sesuatu yang mengerikan. Fanny bertumbuh dewasa dan menemukan pekerjaan yang ia inginkan yaitu menulis himne. Ia membuat kesepakatan dengan penerbit untu menulis tiga himne setiap minggu untuk dipakai di sekolah minggu. Meskipun Fanny dapat menulis puisi yang rumit dan mengarang music klasik, himne-himnenya bertujuan untuk membawa pesan Injil kepada semua orang yang tidak mau mendengarkan khotbah. Kapan pun dia menulis sebuah himne, dia berdoa agar Tuhan menggunakan himne tersebut untuk membawa banyak jiwa kepada-Nya. Himne terkenal yang dihasilkannya: Jaminan Mulia, Mulia Bagi Allah, Mampirlah Dengar Doaku, dll. Fanny J. Crosby kemungkinan menjadi penulis himne terbanyak di sepanjang sejarah, ia menulis lebih dari 8.000 himne. Ada 200 nama pena yang berbeda diberikan oleh para penerbit buku himne sehingga masyarakat tidak tahu bahwa ia menulis sedemikian banyaknya.

Tentang kebutaannya, Fanny berkata: “Tampaknya ini adalah suatu anugerah Tuhan, bahwa aku harus buta seumur hidup dan aku berterima kasih untuk hal ini.” Jika kesempurnaan penglihatan duniawi ini ditawarkan kepadaku besok, aku tidak akan menerimanya. Aku mungkin tidak akan bisa menyanyikan himne untuk memuji Tuhan, jika aku telah tertarik pada hal-hal indah yang menarik dalam diriku.” Dalam kekurangannya, dalam ketidakmengertiannya akan kebutaannya, Fanny J. Crosby memilih untuk berserah pada Allah dan membiarkan Allah memakainya dengan kekurangannya untuk menjadi berkat dalam hidupnya.

           

SS, bila Fanny J. Crossby di tengah kesulitannya terus mencari kehendak Tuhan untuk dilakukan dan melangkah dalam ketaatan, bagaimana dengan kita? Adakah dalam hidup, tatkala tidak segalanya berjalan menurut kehendak dan rencana kita, ada hati yang terus percaya akan anugerah Allah, kedaulatan dan kesetiaan-Nya dalam hidup kita? Adakah kita rindu semakin mengenal isi hati Allah dan mengasihi-Nya? Biarlah momen menjelang natal ini mengingatkan kita untuk rendah hati dan taat mengizinkan Tuhan berkarya dan menggunakan hidup kita untuk menggenapi rencana-Nya. Amin.

Exit mobile version