Setialah!
Oleh: Pdt. Nathanael Channing
“Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin daripada seorang pembohong” (Amsal 19:22)
Apakah Anda termasuk salah seorang yang menyukai barang-barang antik, unik, kuno, langka, bahkan yang sudah tidak dijual lagi? Jika ya, pertanyaan selanjutnya adalah “Bagaimana Anda mendapatkan barang-barang itu?” Apakah Anda dengan sengaja terus memburu barang-barang yang Anda inginkan sampai berkata, “Sampai ke ujung bumi pun, akan kucari”? Atau, Anda bukan tipe orang seperti itu? Anda lebih suka mengumpulkan barang-barang antik sambil lalu, kalau kebetulan melihatnya dan tertarik, barulah dibeli. Terlepas dari cara apa pun yang Anda gunakan untuk mencari barang-barang tersebut, pasti di dalam diri Anda terdapat sifat setia, tidak bosan-bosannya mencari terus-menerus, tidak pernah mengenal lelah, rintangan apa pun dijalani demi mendapatkan barang yang disukai. Hanya orang yang setia saja yang bisa mencari, memburu, dan menemukan barang-barang langka.
Amsal mengatakan bahwa “kesetiaan” adalah sifat yang diinginkan pada seseorang”, bahkan oleh banyak orang. “Kesetiaan” di tengah zaman modern dengan teknologi yang begitu canggih seperti sekarang ini telah menjadi barang yang langka, sesuatu yang antik, kuno, jarang didapatkan di mana pun! Untuk mendapatkan “kesetiaan”, ini sama seperti orang yang berburu barang-barang antik atau langka. Juga tidak semua orang mempunyai sifat atau karakter yang setia.
Amsal juga memberikan perumpamaan bahwa lebih baik menjadi orang miskin. Bukankah kemiskinan itu selalu dihindari semua orang? Tidak ada seorang pun yang mempunyai cita-cita atau berharap menjadi orang miskin. Bagi Amsal, kemiskinan justru diinginkan, jika dalam kemiskinan itu dapat membuat orang menjadi setia, bukan pembohong. Tetapi jangan juga menjadi kebalikannya: orang yang makmur tetapi penuh kebohongan. Bisa terjadi juga, semua kemakmuran dan kekayaan akan hilang dalam sekejap karena kebohongan. Kebohongan pasti merusak semua sendi relasi, baik dalam keluarga maupun bersama orang lain.
Kebohongan menghasilkan pengalaman-pengalaman yang sangat menyakitkan hati. Luka hati yang sulit diobati biasanya disebabkan oleh kebohongan dari orang-orang terdekat. Berapa banyak kebohongan atau ketidakjujuran itu hadir dalam realitas hidup kita. Dalam relasi suami istri sudah banyak terjadi ketidakjujuran. Suami membohongi istrinya, demikian pula sebaliknya, juga anak-anak ikut saling membohongi. Kebohongan sudah menjadi hal yang biasa, tidak perlu dirisaukan lagi, sudah menjadi budaya umum, bahkan tidak menjadi masalah yang serius. Namun, jangan lupa bahwa kebohongan suatu saat akan terbongkar, semua akan terkuak, terbuka lebar, dan tidak ada satu pun yang dapat disembunyikan. Mengapa? Karena Tuhan membenci kebohongan.
Itulah sebabnya Amsal memberikan perumpamaan bahwa lebih baik menjadi orang miskin. Sekalipun miskin, jika semua dijalani dengan kesetiaan, maka hidup miskin itu tidak akan terasa menjadi miskin. Dalam kemiskinan, masih ada nilai yang memberikan sukacita, yakni kesetiaan. Setia dalam menjalani hidup bersama akan mendatangkan sukacita yang sejati. Setialah! Amin.
Pokok Doa:
- Tuhan, pimpinlah langkah hidupku agar aku menjadi orang yang setia dalam kehidupan berkeluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Aku sadar bahwa di zaman sekarang ini kejujuran justru menjadi bahan tertawaan dunia, tetapi aku tahu bahwa kebohongan merupakan sifat yang dibenci Tuhan.
- Tuhan, sertailah kami sebagai gereja agar terus menanamkan kebenaran bahwa Engkau adalah Allah yang kudus, Allah yang membenci kebohongan dalam bentuk apa pun. Pimpinlah kami agar terus mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada seluruh anggota jemaat Tuhan supaya mereka terus hidup setia dalam mengikut Tuhan, belajar firman Tuhan, dan bertumbuh dewasa dalam kerohanian. Kami berdoa bagi komunitas bisnis, jemaat yang berdagang, para pengacara, hakim, dan jaksa supaya mereka menjunjung tinggi nilai-nilai kesetiaan dan kejujuran.

