Site icon

Tetaplah Beriman Pada Kristus!

Tetaplah Beriman Pada Kristus!

Filipi 1:27-30

oleh: Jenny Wongka †

“Karena kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Filipi 1:29).

Saya pernah membaca moto di sebuah seminari di Filipina yang berbunyi: Derita, Percaya, dan Karunia (DPK), sebuah moto yang menarik dan berkaitan erat dengan Filipi 1:27-30.  Perikop ini dalam Alkitab versi bahasa Indonesia diberi judul: Nasihat supaya tetap berjuang. Dari tema ini saja dapat terlihat bahwa kehidupan orang Kristen bukanlah kehidupan yang santai, tenang, selalu damai, melainkan lebih pada sebuah perjuangan yang terus-menerus mewarnai kehidupan kita. Karena itu, kalau Anda mendengar tawaran yang mengatakan bahwa jika kita beriman kepada Yesus Kristus, maka segala sesuatu akan lancar; segala persoalan, kesulitan hidup akan sirna; kita akan hidup makmur dan sehat tanpa mengenal penderitaan. Ini adalah sebuah tawaran yang keliru dan menyesatkan. Yang benar adalah: berimanlah kepada Kristus, maka dosamu akan diampuni dan engkau akan menerima hidup yang kekal. Tuhan Yesus dengan jelas menandaskan bahwa di dunia ini akan ada banyak kesusahan, tetapi di dalam Dia ada damai sejahtera. Damai sejahtera yang diberikan itu tidak dapat direbut oleh dunia. Dunia membenci kita, orang-orang beriman pada Kristus, tetapi kita tidak boleh kecewa, karena itu adalah hal yang lumrah, karena sebelumnya pun dunia ini telah membenci Kristus. Apabila kita beriman kepada Kristus, maka kita mendapatkan jaminan kekuatan untuk tetap berjuang walaupun keadaan sekeliling kita buruk; kita mengalami kemiskinan, sakit, dan derita yang mencekam. Mengapa? Karena Kristus telah menang.

Tanggal 31 Oktober adalah hari reformasi gereja. Kita mengingat seorang tokoh reformator yang bernama Martin Luther. Seorang pejuang kebenaran Tuhan yang merombak ajaran Alkitab yang telah dialihtafsirkan oleh gereja. Keselamatan hanya diperoleh secara cuma-cuma oleh kasih karunia Tuhan melalui iman kita kepada Kristus. Martin Luther membayar harga yang mahal dari perjuangannya membela kebenaran Alkitab, karena pada akhirnya ia dikucilkan dari gereja Roma Katolik, bahkan nyawanya pun terancam.

Seberapa besarkah harga yang telah kita bayar demi iman kita kepada Kristus? Apakah ketika kita hidup di dalam kemiskinan, sakit, atau kehilangan orang tua, anak atau kekasih hati, lalu kita tidak mau lagi beriman kepada Kristus? Kali ini, saya ingin mengajak Anda merenungkan fokus ayat dalam perikop ini. Ada tiga kata seperti yang tercantum di dalam moto yang sudah saya sebutkan dalam pendahuluan tadi,  yaitu: Derita, Percaya dan Karunia.

 

Derita

Di dalam ayat 29 dari kata kerja terakhir disebutkan kata “menderita”. Kata ini dalam bahasa aslinya yaitu Yunani merupakan kata yang unik karena adanya konotasi menderita terus-menerus, jadi bukan hanya menderita satu kali saja.

Berbicara mengenai penderitaan, kita perlu melihat apakah konsep penderitaan dalam Alkitab. Apakah orang Kristen berideologi menderita? Atau kekristenan itu adalah agama yang  menderita? Dengan jelas ayat ini menyatakan bahwa kita dikaruniakan bukan hanya untuk percaya kepada Kristus, melainkan untuk menderita terus-menerus untuk Dia. Apakah ini berarti bahwa Tuhan tidak menghendaki anak-anak-Nya menikmati kesenangan hidup, damai sejahtera, sebaliknya hanya untuk hidup menderita? Bagaimana Anda menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut ini?  Di dalam Alkitab terdapat banyak ayat yang menasihati kita untuk rela menderita bagi Tuhan, seperti pada Kisah Para Rasul 14:22 “untuk masuk ke dalam kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” Rasul Paulus dalam 2 Timotius 3:12 berkata: “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus akan menderita aniaya.” Namun, ayat-ayat ini tidaklah cukup bagi kita untuk menyimpulkan bahwa Allah senang anak-anak-Nya menderita. Tidak demikian maksudnya. Kekristenan bukan agama derita. Pada hakekatnya, Allah tidak menghendaki kita menderita, sebaliknya Dia menghendaki agar anak-anak-Nya memeroleh berkat dan damai sejahtera, baik dalam segi emosi, rohani, maupun materi. Diaa tidak ingin anak-anakNya miskin, yang Dia inginkan adalah mereka dapat menikmati kecukupan dalam kepapaan mereka.

Tatkala Allah menjadikan Adam dan Hawa, Dia menyediakan segala sesuatu bagi mereka, bahkan Dia menyediakan sebuah taman untuk dapat mereka nikmati. Sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan! Di dalam kasus Ayub, pada prinsipnya Allah tidak ingin Ayub menderita. Sebaliknya, Dia menyediakan berkat berlimpah baginya, karena ia hidup sebagai orang yang benar dan takut akan Allah. Kenyataannya, Ayub terlebih dahulu harus mengalami ujian yang berat, tetapi ujian ini telah mendapat perkenan Allah. Ujian berat ini merupakan sarana yang dipakai Allah untuk memberinya berkat yang lebih melimpah dari sebelumnya. Di balik ujian itu, Allah menyimpan suatu tujuan agung atas diri anak-anakNya. Kepada Abraham, sahabat Allah sendiri, diberikan kelimpahan dalam kekayaan dan iman yang teguh. Tetapi Anda dapat melihat bahwa kekayaan Abraham berbeda dengan kekayaan Lot, keponakannya. Segala yang dimiliki oleh Lot, diperolehnya dengan cara duniawi, yaitu dengan kelebihannya untuk memilih negeri yang subur, dan dengan cekatan ia berhasil merebut hak pilih. Sedangkan Abraham mendapatkan kekayaannya hanya karena ia mengandalkan hidupnya sepenuhnya di tangan Allah.

Kita dapat melihat contoh konkret lain, yaitu suku Lewi. Mereka dipilih secara khusus untuk melayani Allah dalam kemah sembahyang. Mereka adalah satu-satunya suku Israel yang tidak memiliki bagian dalam pembagian tanah. Tetapi Allah melimpahi mereka dengan berkat yang luar biasa. Mari kita perhatikan. Di dalam Kitab Bilangan 26 tercatat jumlah orang Lewi, dihitung mulai usia satu bulan ke atas sebanyak 23.000 orang, tetapi jumlah suku Israel lain jumlah para laskar yang mampu keluar berperang, mulai dari usia 20 tahun ke atas adalah 601.730 orang. Rasio perbandingannya adalah 1:30. Kesebelas suku Israel lainnya harus mempersembahkan perpuluhan mereka untuk suku Lewi. Kita dapat lihat bahwa jumlah yang diperoleh oleh setiap orang dari suku Lewi itu sejumlah 3 kali lebih banyak dari satu orang suku Israel lain. Di sini tampak jelas bahwa Allah tidak ingin anak-anak-Nya menderita, melayani atau menyembah Dia dengan segala kekurangan dan kemiskinan. Singkatnya, kita harus memiliki konsep dan pengenalan yang tepat akan kata “penderitaan”, yaitu: apa tujuan apa kita menderita? Apabila kita menderita akibat kebodohan kita, maka itu harus dijadikan pelajaran berharga, jangan melakukan kebodohan lagi. Apabila kita menderita demi untuk Kristus, oleh karena kita beriman pada-Nya, maka kita akan dibenci, dimusuhi, disalahpahami bahkan bisa jadi kita diusir oleh keluarga. Ini sesuai dengan tujuan panggilan Tuhan pada kita, untuk menderita bagi Dia. Banyak sekali contoh tentang pengalaman penderitaan anak-anak Allah karena mereka beriman pada Kristus.

 

Percaya

Asal katanya adalah “pisteuein”, yang ditulis dalam bentuk infinitif aktif; konotasi bahasa aslinya adalah: percaya terus-menerus. Butir kedua ini berkaitan erat dengan butir pertama; oleh karena kita percaya kepada Kristus, maka kita rela menderita. Di dalam dunia yang penuh dengan kompromi ini, untuk percaya kepada Kristus, mau tidak mau dan tidak dapat ditawar-tawar lagi, kita akan menderita. Tuhan Yesus dengan terang-terangan bersabda, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu” (Yohanes 15:8). Dunia membenci Kristus dan para pengikut-Nya, karena dunia ini gelap dan sangat membenci terang. Kristus datang sebagai Terang yang akan menyingkapkan kegelapan mereka. Saya ingin memberikan contoh praktis dalam kehidupan kita. Anda adalah mahasiswa Kristen di tengah-tengah rekan-rekan yang tidak seiman dengan Anda. Contek-menyontek, menyewa orang untuk membuatkan skripsi atau makalah lazim dipraktikkan. Anda yang tidak bersedia melakukan hal yang sama dengan mereka akan menjadi dimusuhi bahkan dikucilkan oleh mereka. Anda akan menjadi bulan-bulanan mereka, dan mereka kuatir Anda akan membocorkan perbuatan mereka pada pihak kampus. Anda adalah seorang pegawai yang bekerja di antara para pegawai yang beretos kerja santai, sementara atasan Anda giat bekerja. Sebagai orang Kristen, Anda bekerja dengan etos kerja yang tepat, dengan motivasi untuk memuliakan Allah. Para pegawai lain tentunya tidak menyukai sikap Anda, sehingga Anda sering dicela sok alim, ingin cari muka, dan lain sebagainya.

Rasul Petrus pernah menyebutkan adanya dua jenis penderitaan. Yang pertama adalah penderitaan yang memang harus kita tanggung karena kesalahan sendiri, dan penderitaan seperti ini tidak layak kita banggakan. Yang kedua adalah penderitaan akibat kerelaan mengikut Kristus. Penderitaan itu dapat berupa erbagai aniaya, ejekan, hinaan, olok-olok, sindiran pedas orang lain atas diri kita karena Kristus. Tetapi kita telah memiliki tekad dan kerelaan untuk menderita akan hal ini. Jika Anda adalah orang tua, pastilah Anda berharap dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anak Anda, bukan? Apabila anak Anda harus mengalami “penderitaan” yang sebenarnya bermanfaat baginya, maka sebagai orang tua, pasti Anda akan tetap membiarkan anak itu mengalami “penderitaan” itu.

Dari Majalah Tempo, saya pernah membaca perjalanan hidup Michael Bambang Hartono, yang menjabat sebagai Presiden Direktur PT Djarum Kudus. Ia berkata bahwa ayahnya cukup keras dalam melatih anak-anaknya untuk memecahkan masalah, hidup sederhana, meningkatkan kreativitas dan pantang putus asa dan menyerah dalam menghadapi kesulitan. Ia sadar bahwa inilah bekal mental dan tekad yang telah terlatih, yang dulu dianggapnya sebagai “penderitaan” yang dibebankan ayahnya kepadanya. Tetapi kini ia melihatnya sebagai bekal tekad juang yang besar, dan memiliki andil yang besar di dalam kesuksesannya.

Saya jelas tidak tahu kesulitan atau persoalan apa yang sedang Anda hadapi saat ini, baik persoalan pribadi, karier, atau rumah tangga. Saya tidak tahu seberapa besar Anda melihat berbagai masalah itu sebagai “penderitaan”. Tetapi satu hal yang dapat saya katakan kepada Anda: sebagai orang yang percaya kepada kedaulatan Allah di dalam hidup kita, maka kita akan diberikan kemampuan untuk menghadapi semua masalah. Pada saat kita mengalami kesulitan ekonomi, kita harus tetap beriman kepada-Nya. Dengan keyakinan bahwa Tuhan adalah Gembala kita, maka kita tidak akan kekurangan apa pun. Hanya dengan percaya dan memercayakan diri kepada Tuhan saja, kita dimampukan untuk menghadapi penderitaan apa pun yang melanda kehidupan kita.

 

Karunia

Asal katanya adalah “exarisqh” yang dipakai dalam bentuk aorist passive. Artinya: dulu pernah satu kali kepada kita diberikan, dianugerahkan, dikaruniakan. Sekali lagi kita membaca seluruh ayat ini: “Karena kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.”

Kesanggupan kita untuk menghadapi dua butir di atas: derita dan percaya itu semata-mata merupakan sebuah pemberian Tuhan bagi kita. Fokus kita adalah beriman dan menderita untuk Dia, dan kedua hal ini merupakan karunia Tuhan buat kita. Apabila kita beriman atau percaya, maka konsekuensinya adalah menderita demi iman itu. Tetapi apabila kita tidak melihatnya sebagai karunia, maka penderitaan itu akan semakin memberatkan hati dan membuat kita kecewa. Kondisi tersebut pernah dialami oleh umat Israel pada saat mereka mengembara di padang gurun selama 40 tahun. Di dalam penderitaan yang mereka alami, mereka bersungut-sungut karena tidak mengimani janji Allah. Akibatnya sejumlah besar umat yang tidak percaya itu harus mati di padang gurun tanpa menikmati kelimpahan Tanah Perjanjian.

Seorang anak yang nakal mungkin akan dipukul atau dihajar oleh kedua orang tuanya. Anak nakal yang dihajar dan dipukuli lalu menjadi baik dan penurut kepada orang tua menandakan bahwa hajaran itu tidaklah sia-sia. Sebaliknya, bila semakin dihajar, ia semakin nakal, berari ia tidak berhasil mengambil pelajaran dari hukuman ini, dan ia hanya akan terus merasa kesakitan. Sebagai anak-anak Tuhan, tidak jarang kita diperhadapkan dengan berbagai penderitaan akibat kesalahan kita, masalah ekonomi, penderitaan batin karena hubungan suami- istri yang mulai tidak harmonis, dan lain sebagainya. Adakah pelajaran yang kita dapatkan melalui penderitaan yang kita alami? Apakah kita segera menyalahkan situasi, orang lain, atau bahkan diri sendiri? Sebagai orang beriman, kita perlu meyakini bahwa Allah tidak pernah membiarkan kita mengalami sesuatu yang tidak sanggup kita tanggung. Allah itu setia dan berdaulat, Dia jugalah yang akan membuka jalan bagi kita untuk keluar sebagai pemenang dalam kesulitan, derita, atau cobaan apa pun yang kita hadapi. Daud menderita akibat dosa yang diperbuatnya. Akhirnya Allah mengizinkan anaknya, Absalom, memberontak terhadap dia. Tatkala Daud bersama orang-orang perkasanya melarikan diri dari istana, di tengah pelarian itu, seseorang bernama Simei mengutuk dan mencaci-maki dia: “Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila! Tuhan telah membalas kepadamu segala darah keluarga Saul, yang engkau gantikan menjadi raja, Tuhan telah menyerahkan kedudukan raja kepada anakmu Absalom. Sesungguhnya, engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah” (2 Samuel 16:7,8). Abisai seorang bawahan Daud berkata, “mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.” Tetapi kata raja: “… Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila Tuhan berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?” (2 Samuel 16:9,10). Perhatikanlah kerelaan hati Daud untuk menerima hal yang menyakitkan, dan itu dinilainya sebagai hal dari diizinkan terjadi oleh. Dengan demikian, ia sanggup mengatasinya dengan tidak segera membalas dendam kepada Simei.

Exit mobile version