Yosua: Panglima yang Beribadah
Yos 24:14-29
Pdt. Agus Surjanto
Yosua dikenal sebagai salah seorang dari 2 orang yang keluar dari tanah Mesir yang tidak terkena hukuman Allah, yaitu tidak boleh masuk tanah Kanaan. Pengecualian ini dilakukan Allah karena hanya Yosua dan Kaleb yang beriman kepada Allah ketika Allah memerintahkan umat Israel menyerbu tanah Kanaan setelah beberapa bulan berkeliling di padang gurun. Hanya 2 orang itu yang percaya bahwa walaupun penghuni tanah Kanaan bangsa yang kuat dan besar, tetapi kalau Allah yang menyertai umat-Nya maka pasti mereka akan sanggup memenangkan peperangan itu, karena sebenarnya bukan mereka yang berperang akan tetapi Allah sendiri yang berperang bagi umatNya (Bil 14:6-9, 30). Perlu diketahui bahwa Yosua dan Kaleb pada waktu itu masih muda, akan tetapi ternyata kedewasaan iman mereka jauh melampaui para penatua Israel lainnya yang tidak percaya kepada Allah.
Bangsa Israel, karena ketakutan akan kekuatan orang Kanaan, akhirnya mengambil keputusan untuk tidak menyerang mereka. Namun ketika Allah marah dan menghukum mereka, maka mereka belagak seakan-akan taat dan mau menyerbu bangsa itu. Ternyata Allah tidak berkenan atas perbuatan mereka dan mereka dikalahkan orang Kanaan dan Amalek (Bil 14:39-45). Kadang kala kesempatan yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah kesempatan yang satu-satunya karena kehendak Allah sungguh sangat jelas. Kalau kita tidak memakai kesempatan itu sebaik-baiknya maka tidak ada lagi kesempatan kedua.
Peristiwa dalam Yosua 24 adalah pidato perpisahan Yosua dengan bangsa Israel. Tugas Yosua, yaitu memimpin penaklukan tanah Kanaan, sudah selesai. Dan Yosua sudah memberi contoh ketaatan kepada Firman Allah yang luar biasa. Allah memberi tugas kepada Yosua untuk memimpin orang Israel menaklukkan kota-kota besar di daerah Kanaan. Kota-kota kecil lainnya yang belum ditaklukkan diserahkan kepada masing-masing suku untuk melakukan penaklukan itu sendiri tetapi tetap dengan pola yang sama seperti yang dilakukan oleh Yosua. Seperti yang diceritakan dalam Ulangan 7:1-26, Allah memerintahkan supaya semua bangsa yang ada di tanah Kanaan dimusnahkan dan tidak ada seorangpun yang boleh dibiarkan hidup. Panglima yang hebat ini menaati perintah Tuhan itu dengan segenap hati dan dengan setia (Yos 6:21-24; 8:24-29; 10:28-43 dst.)
Semua penduduk negeri itu, termasuk perempuan dan anak-anak ditumpas habis. Apakah Allah yang menyatakan diri dalam PL adalah juga Allah yang menyatakan diri dalam PB seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus? Sepintas, kelihatannya ada kontradiksi yang begitu nyata sehingga banyak orang mengalami kesulitan untuk dapat mengatakan bahwa Allah PL persis sama dengan Allah PB. Salah satu bidat yang membuang seluruh PL misalnya adalah bidat Marcion. Bahkan bidat ini hanya mengakui sebagian dari PB, yaitu Injil dan beberapa tulisan Paulus, sebagai kitab suci. Memang sulit bagi manusia berdosa ini untuk dapat memahami Allah dengan benar. Ada perbedaan kualitas yang tidak mungkin terlampaui antara Allah dengan manusia. sehingga sampai kapanpun manusia tidak akan pernah dapat mengenal Allah dengan tuntas. Itulah sebabnya orang percaya diberi kehidupan kekal. Tujuan Allah memberi hidup kekal kepada orang percaya adalah supaya orang percaya tidak henti-hentinya mengalami pengenalan akan Allah dan makin hari makin takjub akan Allah (Yoh 17:3).
Hidup kita di sorga bukan hanya diisi dengan pujian kepada Dia. Hal yang jauh lebih penting bagi kita adalah kita punya kesempatan yang tidak terbatas untuk mengalami pengenalan akan Dia. Setiap hari orang percaya akan terkagum-kagum karena mengalami pengenalan terhadap Allah yang terus menerus diperbaharui dan keadaan seperti ini berlangsung terus setiap saat sampai kekal. Sungguh suatu kehidupan yang begitu menyenangkan.
Penekanan hanya pada salah satu karakter Allah akan menghasilkan bidat. Demikian juga pengenalan hanya pada salah satu karakter Allah akan menghasilkan ilah yang lain, bukan seperti yang dinyatakan dalam Alkitab. Allah Alkitab harus dikenal sebagaimana adanya seperti yang dinyatakan dalam Alkitab. Mungkin ada hal-hal tertentu dalam diri Allah yang sangat sulit dipahami oleh manusia berdosa ini, akan tetapi hal-hal yang sulit itu tidak boleh menjadi alasan manusia “menciptakan” Allah yang mudah dimengerti oleh orang berdosa ini (Ul 29:29). Manusia berdosa harus menyadari bahwa keberadaan Allah adalah keberadaan yang sebenarnya tidak mungkin dipahami oleh manusia. Ciptaan mana mungkin memahami Pencipta? Kalau yang disebut Pencipta itu bisa dengan tuntas dipahami ciptaan-Nya maka sudah pasti itu hanyalah “pencipta” hasil imajinasi atau hasil pemikiran ciptaan itu.
Banyak hal dalam diri Allah yang sulit dan tidak mungkin untuk dapat dimengerti manusia sebagai ciptaan. Misalnya, bukankah Allah sendiri yang memerintahkan supaya umat-Nya mentaati hukum-hukum-Nya? Dan salah satu dari hukum itu adalah jangan membunuh (Kel 20:13). Tetapi mengapa Dia sendiri juga yang memerintahkan umat-Nya untuk membunuh habis bangsa-bangsa di tanah Kanaan? Alangkah kontrasnya sikap ini dengan sikap Tuhan Yesus terhadap orang berdosa. Para pemungut cukai, pelacur, orang kusta memperoleh belas kasihan yang begitu besar, sedangkan para Ahli Taurat dan Orang Farisi yang hidup keagamaannya jelas-jelas lebih bisa dipertanggung jawabkan (di mata manusia) justru dicela habis-habisan. Tidak heran pengikut bidat Marcion membuang Allah PL karena bagi mereka Allah PL tidak sama dengan Tuhan Yesus.
Tetapi Yosua, yang mengenal dan bergaul dengan Allah PL berpuluh tahun lamanya, tahu dengan cukup jelas siapa Allah PL itu. Karena itu ketika menyampaikan pidato perpisahannya dengan bangsa Israel dia sekali lagi mengingatkan kepada bangsa itu supaya beribadah kepada Allah PL. Lho, apakah Yosua sudah buta dan sudah pikun sehingga ia tidak dapat melihat bahwa selama ini orang Israel telah melakukan ibadahnya dengan taat kepada Allah. Bukankah mereka semua telah melakukan persembahan-persembahan yang dituntut oleh Hukum Taurat? Bukankah mereka juga selalu bertanya kepada Allah dalam segala tindakan mereka ketika menaklukkan tanah Kanaan? Apakah karena sudah tua, Yosua pikun, buta dan lupa apa yang diperbuat bangsa itu? Tetapi kalau kita memperhatikan pidato perpisahan itu maka tampak jelas bahwa Yosua sama sekali tidak pikun, lupa atau pun buta. Mata jasmaninya dan mata rohaninya masih sama tajamnya dengan ketika dia meninggalkan Mesir dahulu.
Bahkan barangkali mata rohaninya bertambah tajam. Dari pengalamannya bersama dengan bangsa Israel selama kira-kira tujuh delapan puluh tahun maka Yosua tahu persis bagaimana konsep dan penyembahan bangsa itu terhadap Allah. Pengalamannya bersama dengan Allah juga membuat Yosua makin mengenal Allah, makin tahu kepada siapa ia sedang beribadah. Justru karena pengenalannya akan Allah dan akan bangsa itu yang membuat Yosua memberikan tantangan kepada bangsa Israel kepada siapa mereka akan beribadah, kepada Allah Yahweh atau kepada allah nenek moyang mereka di seberang sungai Efrat (Yos 24:15).
Tetapi apapun yang akan diputuskan bangsa itu, Yosua dan seluruh keluarganya akan beribadah kepada Yahweh. Suatu keputusan yang luar biasa, karena keputusan ini bukan berdasarkan pengenalan akan Allah yang sederhana seperti yang dibuat oleh bangsa Israel. Keputusan Yosua bukanlah keputusan yang diambil dengan sembarangan, tetapi setelah Yosua mengalami pengalaman di mana Allah memusnahkan seluruh bangsa Israel yang keluar dari Mesir dan bagaimana Allah menyertai penaklukan tanah Kanaan. Kata beribadah yang dipakai oleh Yosua berasal dari kata kerja “abad” yang mempunyai arti melayani seperti seorang budak melayani tuannya. Itulah cermin diri Yosua setelah lebih dari 70 tahun berjalan bersama Tuhan mulai dari Mesir sampai penaklukan tanah Kanaan. Beribadah (abad) kepada Allah bagi Yosua dan keluarganya harus dilakukan dengan tulus ikhlas dan setia (Yos 24:14). Kata yang dipakai adalah tamiym (tulus ikhlas) dan emeth (setia). Tamiym artinya komplit, seluruhnya, semuanya, keseluruhan. Emeth artinya dalam kebenaran, dengan benar. Dengan demikian beribadah bagi Yosua adalah melayani Tuhan seperti seorang budak melayani tuannya dengan seluruh keberadaannya (segenap pikiran, hati dan kehendak) di dalam kebenaran.
Maka beribadah sebenarnya merupakan puncak pelayanan dan juga puncak kehidupan orang percaya. Melalui ibadah seharusnyalah nama Allah paling ditinggikan oleh umat-Nya, lebih dari pada kesempatan-kesempatan yang lain. Itulah sebabnya Tuhan, ketika memberikan 10 Perintah Allah,memerintahkan supaya umat-Nya mengingat dan menguduskan hari Sabat (Kel 20:8). Perintah ini perintah yang sangat serius. Kalau tidak, Allah tidak akan menempatkan perintah ini sebagai salah satu dari 10 Perintah Allah. Beribadah di dalam kekudusan merupakan wujud nyata dari pengakuan kedaulatan Pencipta terhadap ciptaan-Nya. Ibadah pada hari Sabat juga merupakan suatu tanda perjanjian antara Allah sebagai Pencipta dengan umat-Nya sebagai ciptaan (Kel 31:12-18).
Jawaban bangsa Israel terhadap tantangan Yosua (Yos 24:16-18) membuktikan bahwa apa yang diamati oleh Yosua tentang bangsa itu adalah pengamatan yang tepat. Bangsa Israel sebenarnya tidak pernah beribadah dengan sungguh di mata Allah, karena ada pengenalan dan motivasi yang tidak berkenan kepada Allah ketika mereka melakukan ibadah itu. Mereka mau beribadah (baca melakukan upacara ibadah) oleh karena punya tuntutan tertentu terhadap Yahweh (Yos 24:17-18). Mereka mau beribadah kepada Allah karena Yahweh telah dan akan melakukan segala hal yang menjadi kebutuhan mereka. Dengan kata lain mereka menyamakan Yahweh sebagai makhluk yang hampir setara dengan mereka. Ada kerja sama yang saling menguntungkan antara dua pihak. Israel mempersembahkan korban dalam ibadah mereka dan Yahweh melindungi mereka, mencukupi kebutuhan mereka, menjaga mereka dari yang jahat, menyembuhkan kalau mereka sakit. Mereka tidak ingin meninggalkan Tuhan karena Tuhan telah melakukan suatu hal yang menguntungkan mereka. Yosua yang telah melihat isi hati bangsa itu selama puluhan tahun, tahu persis maksud hati bangsa itu, yaitu bahwa selama Allah Yahweh masih melakukan apa-apa yang menjadi keinginan hati mereka, maka mereka akan “beribadah” kepada-Nya.
Tetapi kalau Yahweh tidak menuruti kemauan bangsa itu maka mereka akan segera meninggalkan Yahweh. Tidak ada pengakuan yang tulus kepada Allah sebagai Pencipta. Tentu masih jelas dalam ingatan Yosua bagaimana bangsa itu kelihatan begitu taat ketika Musa memberikan perjanjian Allah. Tetapi baru saja Musa pergi selama 40 hari, maka mereka telah mengkhianati perjanjian itu dengan membuat patung anak lembu emas (Kel 32). Mata jasmani Yosua mungkin mulai makin rabun, akan tetapi mata rohaninya justru makin tajam. Mata hati Yosua menangkap motivasi dan maksud hati bangsa itu yang tidak dengan sepenuh hati mau melayani Allah sebagai Pencipta mereka. Sebab itu Yosua mengatakan bahwa kalau mereka punya hati yang seperti itu, maka pasti mereka tidak sanggup beribadah kepada Allah Yahweh (Yos 24:19), karena Allah menuntut umat-Nya untuk memberikan seluruh hatinya (tamiym) kepada-Nya. Allah tidak segan-segan untuk menghukum umat-Nya kalau mereka berani berpaling kepada ilah lain (Yos 24:20). Allah Yahweh tidak sama dan tidak mau disamakan dengan ilah lain zaman itu yang sedikit banyak bisa “diatur” oleh manusia.
Beribadah kepada ilah lain adalah semacam kerja sama yang saling menguntungkan. Ilah lain memperoleh pengakuan atas otoritasnya melalui “ibadah” yang dilakukan oleh penyembahnya sedangkan pada sisi yang lain, kalau ibadah sudah dilakukan, maka ilah itu “wajib” melindungi dan menolong umatnya. Tidak jadi soal apakah umat berlaku salah atau benar. Pokoknya kalau ibadah dan korban sudah diberikan maka umat berhak atas perlindungan dan pertolongan. Kalau tidak, maka umat akan meninggalkan ilah-ilah itu dan mencari ilah lain yang lebih mau diatur. Sungguh konsep yang menyedihkan dari umat Israel. Hidup bersama selama 400 tahun dengan bangsa Mesir yang menyembah berhala telah meracuni cara berpikir mereka.
Tetapi apakah kita kadang-kadang atau mungkin malahan sering juga berlaku seperti itu? Pernahkah anda beribadah dengan suatu kesadaran penuh untuk mendudukkan diri secara penuh sebagai budak waktu beribadah hari Minggu? Ataukah saat itu anda sedang mengharapkan sesuatu dalam ibadah Minggu itu? Apakah anda sedang mengharapkan suatu kotbah tentang Allah yang selama ini belum anda ketahui? Apakah kotbah-kotbah yang anda dengar selama ini telah memuaskan keinginan tahu anda tentang masalah-masalah teologia tertentu? Banyak sekali sikap-sikap yang salah di dalam ibadah, tetapi tidak kita sadari. Banyak orang pulang dari ibadah pada hari Minggu dan merasa tidak memperoleh apa-apa dalam ibadah karena kotbahnya tidak memberikan suatu hal yang baru, karena kotbahnya tidak mendarat, karena lagunya kurang bersemangat, karena liturginya kaku dsb. Padahal kesalahan utama adalah pada hatinya yang tidak sepenuhnya tertuju pada Allah.
Ada hal yang aneh, tetapi ini banyak terjadi, yaitu ada orang yang datang ke kebaktian untuk mengamati kesalahan kotbah atau nyanyian dalam kebaktian tersebut. Orang ini sangat peka terhadap kesalahan orang lain, tetapi sikapnya sendiri yang salah besar dalam ibadah tidak disadari. Memang, melihat selumbar di mata orang lain jauh lebih jelas dari pada balok di mata sendiri (Mat 7:1-5). Kadang-kadang ada rasa puas karena telah “berhasil” menemukan kesalahan orang lain. Tanpa disadari, hatinya berbangga karena merasa dirinya lebih tahu dari orang lain. Konsentrasi dalam ibadah yang benar (abad, tamiym dan emeth), adalah bukan ingin mengetahui tentang Allah, tetapi kepada Allah, kepada pribadi Allah dan pada waktu itu ada relasi antara Pencipta dengan ciptaan. Semua hal-hal eksternal seperti kotbah, nyanyian, doa hanya suatu sarana untuk bertemu secara pribadi dengan Allah. Untuk belajar mengenal tentang Allah tempatnya adalah Pemahaman Alkitab, Seminar, Persekutuan atau yang semacam itu, bukan pada waktu ibadah Minggu (Sabat). Ibadah Minggu adalah menghadap Allah. Bahwa saat menghadap Allah kemudian kita belajar sesuatu tentang Allah itu adalah berkat karena ibadah kita berkenan di hadapan-Nya.
Ada banyak kotbah yang baik, nyanyian yang baik, akan tetapi kalau hati tidak dibuka maka tidak ada pertemuan dengan pribadi Allah. Kotbah bisa salah, nyanyian bisa salah, doa pun bisa salah. Tetapi kalau saat itu hati dibuka kepada Tuhan, maka dalam ibadah yang sangat “amburadul” itu anda tetap akan berjumpa dengan Allah, karena bagaimana pun juga Firman Allah dibacakan. Beribadah adalah masalah personal, pribadi anda dengan pribadi yang Mahakudus. Sebagai pribadi dan sebagai anggota umat secara bersama-sama kita beribadah kepada Tuhan. Perjumpaan antara Allah Pencipta dengan manusia ciptaan dalam ibadah bukan ditentukan oleh tema kotbah, cara kotbah, atau kotbahnya sekali pun, tetapi dari sikap hati abad, tamiym dan emeth. Sebuah kotbah dengan urapan Roh Kudus yang penuh sekalipun, kalau tidak ada sikap hati abad, tamiym dan emeth, maka kotbah itu sia-sia dan tidak ada artinya bagi orang tersebut. Tuhan Yesus ketika di dunia pasti berkotbah penuh urapan Roh Kudus dan pasti tidak ada orang lain lagi yang bisa berkotbah dengan kuasa Roh Kudus seperti Tuhan Yesus. Dia adalah Allah sendiri yang berkotbah kepada umat-Nya Israel.
Tiga setengah tahun Tuhan Yesus berkotbah dengan penuh kuasa di hadapan puluhan atau mungkin ratusan ribu orang, bahkan jutaan orang. Tetapi berapa banyak yang membuka hatinya dan bertobat? Berapa banyak yang mengalami perjumpaan dengan Allah? Alkitab mencatat bahwa pengikut-Nya yang setia cuma ratusan orang (1Kor 15:6). Di mana ratusan ribu atau bahkan mungkin jutaan orang yang pernah mendengar kotbah Tuhan Yesus? Bukankah Alkitab mencatat (Mat 4:25, 8:1, 13:1, 15:30, 19:2 dst.) bahwa kalau Tuhan Yesus berkotbah berbondong-bondong orang datang untuk mendengarkan Dia? Memang banyak orang datang mendengarkan Dia, mendengar tentang Allah, tetapi hanya sedikit yang bertemu dengan Allah. Banyak orang mendapat berkat dari Tuhan Yesus seperti mujizat, kesembuhan, bangkit, dilepaskan dari roh jahat, akan tetapi tidak banyak yang mengenal Dia secara pribadi. Bahkan murid-murid-Nya juga heran dan bertanya siapakah orang ini sehingga angin dan danau taat kepada-Nya (Mrk 4:41). Sangat disayangkan bahwa gereja kadang-kadang juga gagal mengenalkan Allah secara pribadi. Berapa banyak keputusan gereja yang sungguh-sungguh digumulkan bersama dengan Allah melalui doa dan persekutuan dengan Allah? Gereja seringkali lebih asyik menceritakan tentang Allah, berkotbah tentang Allah (baca berteologi), tetapi jarang sekali mengalami perjumpaan dengan Allah itu sendiri.
Jemaat diajar banyak tentang Allah melalui PA, katekisasi, pengajaran/doktrin, seminar tetapi tidak atau jarang dipimpin untuk beribadah kepada Allah secara pribadi melalui doa, saat teduh, meditasi. Kalaupun ada barangkali hanya merupakan bagian dari ritual belaka. Kalau anda seorang pemimpin gereja, berapa banyak jemaat anda yang sudah anda pimpin untuk berdoa lebih dari 1 jam sehari? Berapa banyak (diukur dengan prosentasi, bukan jumlah) jemaat yang hadir dalam kegiatan doa dalam gereja anda? Berapa banyak keluarga yang punya saat teduh pribadi atau mezbah keluarga? Kalau anda pemimpin gereja, apakah anda yakin bahwa setiap hari jemaat anda berjumpa dengan Tuhan dalam ibadah pribadi mereka dan kemudian mencapai puncaknya pada hari Minggu? Banyak sekali orang yang mempunyai motivasi salah ketika beribadah tetapi tidak sadar. Yang dikejar bukan Allah, tetapi pengkotbahnya, cara menyanyinya, cara beribadahnya.
Umat Israel gagal beribadah (abad) dengan tamiym dan emeth kepada Yahweh walaupun kelihatannya mereka sendiri memilih Allah Yahweh dan mau mendengar Firman-Nya (Yos 24:21-24). Kalau kita melihat sejarah Israel, maka nyatalah bahwa Israel benar telah gagal. Peringatan Yosua hanya berdampak ketika dia masih hidup. Setelah Yosua mati, maka Israel kembali melakukan apa yang jahat di mata Allah. Mereka beribadah kepada Baal (Hak 2:7-11). Cerita bangsa Israel selanjutnya yang dicatat dalam Perjanjian Lama adalah cerita kegagalan mereka untuk beribadah kepada Allah Yahweh dengan tamiym dan emeth. Tetapi Allah yang mengasihi mereka terus mengampuni Israel. Dan Israel juga terus sujud menyembah ilah lain. Sampai akhirnya Allah sendiri turun menjadi manusia, yang kita kenal sebagai Tuhan kita Yesus Kristus. Tetapi hati yang keras itu memang sudah rusak oleh dosa, maka sekalipun Allah sendiri datang menyatakan diri-Nya, Israel tetap menolak Dia. Dan bukan hanya menolak, tetapi berteriak dengan nyaring :”salibkan Dia, salibkan Dia.” Mereka tidak suka kepada Allah yang mengatur hidup mereka. Allah yang diinginkan hatinya adalah Allah yang bisa diatur. Tidak ada hati yang sungguh-sungguh mau beribadah kepada Allah. Tidak ada pelayanan seorang budak kepada tuannya.
Orang berdosa memang sudah rusak sama sekali sehingga tidak lagi mampu melihat Pencipta yang begitu penuh anugerah, tetapi melihatnya sebagai penguasa yang mau mengatur hidup mereka. Inilah kerusakan dosa yang paling mengerikan. Yosua melihat dengan mata hatinya yang tajam akan kerusakan hati orang Israel. Karena itu ia mendirikan suatu batu peringatan supaya kalau suatu saat bangsa itu berbalik dari Allah dan menyembah ilah lain, mereka dapat ingat kembali akan keputusan mereka sendiri dengan melihat batu peringatan itu (Yos 24:25-27). Yosua tahu bahwa tidak mungkin dia dapat mengingatkan bangsa itu terus karena suatu saat pasti ia akan mati (Yos 24:28-29). Dan apa yang dikuatirkan oleh Yosua menjadi kenyataan karena memang hati bangsa itu penuh dengan dosa. Keinginan untuk menyamai Allah dan tidak rela untuk beribadah (baca melayani seperti budak) adalah pokok dari segala dosa. Iblis jatuh dalam dosa karena sebab yang sama. Adam dan Hawa juga jatuh karena hal itu. Keinginan berdosa itu akan lenyap ketika ada hati yang sungguh-sungguh beribadah, hati yang melihat bahwa diri ini adalah budak-Nya, tetapi budak yang dikasihi-Nya yang demi kasih-Nya Dia rela mati untuk budak-Nya itu. Dan dalam konteks formal, maka ibadah Sabat yang benar merupakan bekal kita selama seminggu untuk bertahan terhadap dosa.
Kualitas ibadah kita pada hari Sabat itu akan menentukan bagaimana kualitas hidup kita selama seminggu, yang dipertahankan melalui ibadah pribadi kita setiap hari dalam saat teduh. Kualitas ini terus diperbaharui Sabat demi Sabat sampai akhirnya hati kita benar-benar 100% melayani Tuhan sebagai seorang budak melayani tuannya (abad), dengan segenap hati (tamiym) dan di dalam kebenaran (emeth). Dengan kualitas ibadah Sabat yang benar dan dibaharui terus menerus dalam saat teduh tiap-tiap hari, maka orang percaya akan memiliki kemampuan mempertahankan pelayanannya dan juga akan memiliki ketahanan terhadap dosa.

