Site icon

Ananias dan Safira: Disiplin Gereja

Ananias dan Safira: Disiplin Gereja

Kis 5:1-11

Pdt. Agus Surjanto

Disiplin memang diperlukan bagi semua orang, termasuk umat Allah atau gereja, tidak ada yang terkecuali. Kisah Para Rasul pasal 5:1-11 juga menceritakan tentang masalah disiplin ini. Akan tetapi kalau kita membaca, hanya dengan sepintas peristiwa dalam Kis 5:1-11 di atas, maka kita mungkin merasa bahwa disiplin yang dijatuhkan Allah kepada Ananias dan Safira agak terlalu berat. Bandingkan misalnya dengan Petrus yang telah menyangkali Tuhan Yesus sampai 3 kali. Petrus tidak dihukum sama sekali, padahal Tuhan Yesus sudah memperingatkan Petrus bahwa dia pasti akan melakukan penyangkalan itu (Mat 26:34). Adanya peringatan yang telah diberitahukan lebih dahulu seharusnya mendatangkan sanksi yang lebih berat. Tetapi Petrus diampuni begitu saja, bahkan kedudukannya sebagai pemimpin para rasul dipulihkan kembali (Yoh 21:15-17).

Bandingkan juga dengan Saulus yang menyetujui kematian Stefanus dan yang bermaksud memasukkan semua orang Kristen ke dalam penjara. Orang ini ternyata sama sekali tidak dihukum berat, tetapi malahan dijadikan murid Tuhan Yesus (Kis 7; 9:1-22). Atau kalau mau dikatakan dihukum, dia hanya dihukum buta selama beberapa hari (Kis 9:9). Seakan-akan semua kesalahannya “dilupakan” oleh Allah. Ananias (Ananias yang lain yang adalah murid Tuhan, Kis 9:10) bahkan sempat “protes” kepada Tuhan tentang Saulus (Kis 9:13-14). Ada banyak hal yang jahat yang dilakukan oleh Saulus terhadap umat Allah (Kis 9:13), mengapa Tuhan menyelamatkan dia, malahan mau menjadikan dia alat pilihan Allah (Kis 9:15). Elimas, seorang tukang sihir, yang mencoba membelokkan iman Gubernur Sergius Paulus, “hanya” dihukum buta selama beberapa hari (Kis 13:8-11). Padahal dengan jelas Paulus menyebutnya “anak Iblis.” Mengapa Allah menghukum Ananias dan Safira begitu dahsyat? Bukankah kesalahan mereka kelihatannya relatif lebih ringan dari Petrus, Saulus maupun Elimas? Mereka kan hanya berbohong masalah besarnya persembahan? Untuk itu kita perlu lebih memperhatikan lebih cermat cerita tentang Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul pasal lima tersebut.

Kisah Para Rasul pasal lima sebenarnya merupakan rangkaian yang berkesinambungan dengan Kisah Para Rasul pasalempat ayat 36-37 (cerita tentang Barnabas). Ada kata “de” (Yun = tetapi), yang menghubungkan Kisah Para Rasul 4:36-37 dengan Kisah Para Rasul 5:1. Kata tetapi menunjukkan suatu kontras dengan cerita sebelumnya, yaitu cerita tentang Barnabas. Allah Roh Kudus, melalui Lukas, ingin menceritakan hal tertentu yang penting untuk umat Allah yang baru (gereja) yang masih rawan dan rapuh. Di dalam ayat yang sangat singkat (Kis 4:36-37) tercantum keterangan yang begitu mendetail tentang Barnabas. Bahkan asal usulnya tercantum dengan jelas. Berarti tindakan Barnabas begitu “termasyhur” sehingga semua orang akhirnya mengenal siapa itu Barnabas. Nama sebenarnya Yusuf, artinya “Increaser” (= penambah), karena ketika Rahel (istri Yakub) melahirkan Yusuf dia berdoa supaya Tuhan menambahkan seorang anak laki-laki lagi. Dan memang kemudian Tuhan menambahkan Benyamin (Kej 30:22-24; 35:17-18). Tetapi para rasul menyebutnya Barnabas, artinya “anak penghiburan.” Berarti keberadaan dan kehadiran Barnabas memberikan penghiburan dan sukacita bagi para rasul dan juga jemaat.

Mungkin sekali persembahan yang diberikan oleh Barnabas itu sangat besar sehingga nama Barnabas harum dalam jemaat, sampai akhirnya semua orang tahu siapa dia. Ananias dan Safira rupanya tertarik dengan nama harum itu sehingga ingin meniru apa yang telah dilakukan oleh Barnabas. Tetapi karena motivasinya hanya ingin nama harum, maka persembahan itu tidak diberikan dengan sepenuh hati. Mereka membohongi Petrus dengan menyembunyikan sebagian dari hasil penjualan tanah mereka. Pertanyaannya adalah apakah motivasi yang salah ini sudah cukup untuk menghukum mati mereka berdua? Seharusnya tidak. Petrus, Saulus dan Elimas mempunyai motivasi yang lebih jahat dari Ananias dan Safira. Kalau hanya karena motivasi mereka yang tidak tulus kemudian mereka dihukum mati, maka Petrus, Saulus dan Elimas seharusnya juga dihukum mati. Kalau demikian apa sebabnya mereka harus dihukum berat?

Pertama, peristiwa Ananias dan Safira ini merupakan babak baru dalam rencana keselamatan Allah, yaitu terbentuknya gereja sebagai komunitas orang percaya yang baru, umat pilihan yang baru. Keberadaan gereja menggantikan keberadaan orang Yahudi sebagai umat Allah, umat pilihan. Umat yang baru ini perlu mempunyai pengenalan akan Allah yang tepat dan benar. Hal ini penting karena telah terjadi “perubahan” yang dahsyat dalam memahami rencana keselamatan Allah. Hukum Taurat sebagai salah satu ciri umat Allah digantikan dengan hukum kasih. Keselamatan karena melakukan Hukum Taurat diganti dengan iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Umat Allah bukan lagi eksklusif orang Yahudi, tetapi semua bangsa. Allah yang esa (Yudaisme), diganti dengan Allah Tritunggal. Karena itu, umat Allah yang baru ini, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi, perlu mengalami pengenalan akan Allah yang baru (doktrin-doktrin yang baru) yang boleh dikatakan hampir semuanya merupakan hal yang baru.

Dan sepanjang sejarah umat Allah yang telah kita baca dalam Alkitab, kita melihat suatu pola yang terus berulang. Apabila umat Allah mengalami babak pengenalan akan Allah yang baru, maka Allah akan memulai pengenalan yang baru itu dengan “disiplin yang mengerikan.” Allah ingin supaya pengenalan yang baru ini benar-benar diingat oleh umat Allah. Peristiwa yang mengerikan akan membuat umat mengingat pengajaran baru itu. Beberapa contoh dapat dikemukakan yang benar-benar menunjukkan tindakan Allah yang dahsyat dan mengerikan sehubungan dengan babak baru pengenalan akan Allah:

Dan masih banyak lagi cerita tentang wahyu Allah yang baru yang membuka pengenalan akan Allah yang baru yang dicatat dalam alkitab yang menunjukkan kerseriusan Allah untuk memperkenalkan diri-Nya tahap demi tahap. Dan Allah ingin supaya orang Israel mengingat dengan baik hal-hal yang baru dari Allah tersebut. Karena itu Allah memakai cara yang dahsyat yang pasti akan diingat oleh umat-Nya. Kitab Mazmur banyak menceritakan kedahsyatan Allah tersebut.

Umat Allah telah memulai sebuah babak yang baru yaitu gereja sebagai ganti Israel yang tidak taat. Tetapi umat harus makin taat dan setia dan untuk itu salah satu hal yang sangat penting adalah disiplin. Dan disiplin harus selalu dimulai dari dalam, karena hanya orang dalam yang bisa menghancurkan umat Allah. Karena itu sebelum orang dalam menghancurkan umat Allah, gereja harus mendisiplinkan seluruh anggota gereja. Petrus menegaskan bahwa penghakiman dimulai dari rumah Allah (1Pet 4:17). Kalau orang-orang bermotivasi seperti Ananias dan Safira pada akhirnya menduduki posisi penting dalam gereja yang baru tumbuh, maka gereja akan hancur dalam waktu singkat. 

Disiplin terhadap orang dalam menjadi contoh bagi seluruh umat sehingga mereka benar-benar bisa mengalami pertumbuhan pengenalan akan Allah yang benar. Ini merupakan suatu “schock theraphy” sehingga umat memperhatikan pengajaran atau kebenaran baru tersebut. Persembahan bukan lagi berkonsep seperti dulu ketika umat Israel memberi persembahan kepada Tuhan, yang pada pokoknya hanya merupakan ritual lahiriah belaka. Persembahan pada zaman gereja harus keluar dari hati yang tulus, tanpa niat untuk menjadi “hebat” di mata orang lain. Paulus dengan jelas menuliskan bahwa persembahan harus dilakukan dengan sukarela, dengan tulus, bukan karena terpaksa (2Kor 9:7). Karena itulah maka Petrus dengan hikmat dari sorga langsung membongkar niat Ananias dan Safira yang tidak tulus hatinya.

Kedua, dan ini yang fatal. Karena masuknya oknum lain yang berperan dominan terhadap Ananias dan Safira dalam cerita ini, yaitu Iblis (Kis 5:3). Iblis sadar bahwa sangat sulit menghancurkan gereja dari luar. Kesulitan, ancaman, penderitaan bahkan penganiayaan sampai kematian rupanya tidak bisa menghancurkan gereja. Justru gereja bertambah kokoh ketika ditekan dari luar. Dalam Kis 4:24-31 diceritakan bagaimana umat Allah tahu ada ancaman dari para penguasa, tetapi mereka tidak minta para penguasa itu dienyahkan. Kalau kita melihat musuh gereja mula-mula yang dari luar, pasti akan sangat menggentarkan. Bayangkan ada raja-raja dunia, para pembesar, Herodes, Pontius Pilatus dan bahkan pada hakekatnya seluruh dunia. Semua mereka itu menentang umat Allah. Tetapi para musuh luar itu tidak membuat umat Allah menjadi takut atau gentar. Mereka malahan minta keberanian untuk tetap memberitakan Injil.

Mereka tahu bahwa hal itu sudah dinubuatkan oleh alkitab dengan perantaraan Daud (Mzm 2), maka penganiayaan dan ancaman itu pasti dan harus terjadi. Karena itu mereka taat kepada keputusan Allah dan minta keberanian untuk tetap terus memberitakan injil. Menyadari hal ini maka Iblis kemudian mengganti siasatnya dengan memakai Ananias dan Safira yang adalah “orang dalam” dengan maksud untuk menghancurkan gereja dari dalam. Kata yang dipakai oleh Petrus untuk menggambarkan peran Iblis dalam hati Ananias dan Safira adalah “pleroo” yang artinya sepenuhnya dikuasai, 100% dalam kontrol. Kata yang sama dipakai oleh Paulus dalam Efe 5:18 (penuh dengan Roh). Berarti benar-benar Ananias dan Safira adalah antek Iblis yang dikuasai sepenuhnya oleh Iblis yang dengan sengaja direncanakan dimasukkan ke dalam gereja untuk menghancurkan gereja dari dalam. Bayangkan kalau siasat ini berhasil. Ananias dan Safira akan punya kedudukan terhormat dalam gereja, barangkali sama seperti Barnabas. Dan kita tahu dari kelanjutan cerita dalam Kisah Para Rasul bahwa Barnabas adalah orang yang sangat berpengaruh dalam gereja mula-mula. Dialah yang merangkul dan memberi kesaksian akan pertobatan Paulus kepada para rasul (Kis 9:27) dan dia juga yang mengajak Paulus untuk menjadi misionari dari gereja Antiokhia (Kis 11:25). Kalau sampai antek Iblis itu punya pengaruh seperti Barnabas, bisa dibayangkan betapa berbahayanya mereka. Gereja yang baru berdiri pasti akan runtuh dirusak oleh mereka. Sebab itulah maka Allah membunuh mereka.

Petrus dipakai oleh Allah untuk menelanjangi siasat Iblis itu sehingga dia bisa tahu apa yang dilakukan oleh Ananias dan Safira. Mereka tidak tulus dalam memberikan persembahan kepada gereja. Tetapi yang jauh lebih penting adalah bahwa Petrus tahu mereka adalah antek Iblis yang mencoba menyusup masuk gereja. Dari cerita selanjutnya kita dapat melihat dampak peristiwa yang dilakukan oleh Petrus tersebut. Dikatakan “maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu.” (Kis 5:5). Dan ketika Safira juga mati dikatakan “maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar itu.” (Kis 5:11). Dampak seperti inilah yang memang dimaksudkan oleh Allah untuk terjadi dalam komunitas gereja mula-mula maupun masyarakat di luar gereja.

Dari susunan kalimat yang ada tampak adanya sebuah peningkatan kengerian yang terjadi yaitu dari “semua orang yang mendengar hal itu,” bertambah menjadi “seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.” Jadi dampak “kengerian” itu bukan hanya kepada masyarakat di luar gereja, tetapi kemudian berdampak kepada seluruh jemaat. Jemaat mengerti bahwa di mata Allah persembahan atau pelayanan harus dilakukan dengan ketulusan 100%. Dan jangan main-main. Allah tahu persis sampai detail yang paling kecil kalau ada orang yang memberikan semua itu dengan tulus atau tidak. Demikian juga Allah tahu persis siapa saja antek Iblis itu dan Dia menghukum dengan keras setiap orang yang menjadi antek Iblis.

Dari pemahaman di atas, maka kesalahan fatal dari Ananias dan Safira bukanlah pada persembahan yang tidak tulus, tetapi karena mereka berdua adalah antek Iblis. Mereka dikuasai sepenuhnya oleh Iblis dan dengan sengaja mau disusupkan ke dalam gereja. Hukuman buat antek Iblis memang harus sangat berat, sehingga jemaat menjadi takut. Tetapi kesalahan persembahan yang tidak tulus tidak harus mendapat hukuman yang berat. Cerita dalam Kis 5:1-11 ini tidak dapat menjadi landasan tindakan drastis gereja ketika menemukan jemaat yang memberi persembahan dengan tidak tulus. Pada zaman sekarang ini mungkin saja ada banyakpersembahan yang diberikan dengan motivasi yang salah, tetapi selama orang tersebut bukan merupakan antek Iblis, maka gereja tidak seharusnya melakukan disiplin yang drastis. Hanya apabila orang tersebut jelas-jelas adalah antek Iblis, maka tindakan pengucilan/pengusiran harus dilakukan. Prinsip dalam Mat 18:15-17 harus dilaksanakan dengan sangat hati-hati dan dengan banyak berdoa.

Beberapa ciri-ciri yang penting, apakah seseorang bukan antek Iblis adalah pertama, pengakuan akan kesalahannya. Pengakuan ini penting karena orang yang sungguh-sungguh percaya (berarti bukan antek Iblis) seharusnya punya kepekaan akan dosa, khususnya dosanya sendiri. Mengakui dosanya berarti secara sadar sedang menempatkan diri pada ketidaklayakan. Kedua, orang tersebut harus rela untuk digembalakan. Kerelaan untuk digembalakan ini menunjukkan bahwa dia benar-benar merasa sudah bersalah dan menyesali kesalahannya dengan tulus. Gereja juga harus melakukan penggembalaan dengan penuh kasih, karena orang tersebut sebenarnya adalah saudara seiman kita (bukan antek Iblis) yang sedang jatuh dalam dosa, karena sebagai orang berdosa kita semua sangat bisa jatuh dalam dosa seperti orang tersebut. Dan dalam proses penggembalaan itu, orang tersebut harus dapat merasakan dirinya benar-benar dikasihi. 

Bukannya dijauhi dan dianggap orang yang harus dihindari. Kesalahan Orang Farisi dan Ahli Taurat pada zaman Tuhan Yesus tidak boleh terulang dalam umat Allah yang baru. Disiplin tanpa kasih adalah suatu kesia-siaan. Dengan penggembalaan yang tepat maka orang yang jatuh itu akan dapat dipulihkan kembali dan Tuhan dapat memakai orang itu dengan lebih heran lagi. Daud pernah jatuh, Petrus pernah juga jatuh, tetapi ketika Tuhan menyapa mereka dengan kasih, maka mereka dipulihkan kembali, dan menjadi alat yang luar biasa di tangan Tuhan. Disiplin gereja memang penting, perlu dan harus dilakukan, tetapi apakah disiplin itu dilakukan dengan air mata yang bercucuran atau justru kepuasan menghakimi yang muncul?

Exit mobile version