Hidup dengan Tanda Tanya (Habakuk 1:1-4)
oleh : Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya
1:1 Ucapan ilahi dalam penglihatan nabi Habakuk. 1:2 Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong? 1:3 Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. 1:4 Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.
Seseorang mengajak rekan-rekannya makan bersama untuk merayakan ulang tahunnya. “Ayo, mumpung ada promo nih. Diskon 50% all item.” Lalu, duduklah ia bersama empat rekannya yang lain. Sambil membaca menu, ia bertanya kepada pelayanan restaurant, “Diskonnya 50% ‘kan, Mbak?” Sang pelayanan menjawab, “Benar, Pak! Tapi, hanya untuk makan mulai pukul 2 sampai 4 sore.” “Lho, ada batasan jam ya? Kok tidak tertulis di iklannya?” protes rekan itu. Sang pelayanan tersenyum, “Ada kok, Pak. Ada tanda * dan tulisan ‘syarat dan ketentuan berlaku’ yang tertulis kecil sekali di bagian bawah.”
Syarat dan ketentuan berlaku. Pernahkah Anda memperhatikan dengan detail tulisan yang selalu ditulis dalam huruf kecil itu? Diskon 50% all item, syarat dan ketentuan berlaku. Buy 1 get 2, syarat dan ketentuan berlaku. Bonus voucher diskon senilai Rp500.000,00, syarat dan ketentuan berlaku. Bagaimana Anda menilai kalimat “syarat dan ketentuan berlaku”? Tidak jujur? Atau, ini semata-mata upaya promosi, jadi wajar apabila seperti itu?
Tak Selalu Kita Bisa Mengerti
Saya harus mengatakan kepada Anda bahwa para pedagang yang memasang promosi diskon dalam huruf besar dan tulisan “syarat dan ketentuan berlaku” dalam huruf kecil itu adakalanya lebih jujur daripada para pengkhotbah Kristen tertentu. Tidak percaya? Saya kutipkan langsung beberapa perkataan mereka:
“Datang dan rasakan kuasa Tuhan. Segala sakit disembuhkan. Yang lumpuh berjalan, yang buta melihat, yang tuli mendengar!” Titik. Demikianlah bunyi iklan mereka. Realitasnya? Apakah semua yang lumpuh berjalan, yang buta melihat, dan yang tuli mendengar? Puji Tuhan bila realitasnya seperti itu. Namun, kerap kali yang terjadi tidak demikian, bukan? Mungkin beberapa orang memang sembuh, tetapi jauh lebih banyak yang merasa kecewa. Harusnya dipasang tanda * “Syarat dan ketentuan berlaku”, bukan? Apa syarat dan ketentuannya? Jika sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan.
“Alamilah kuasa Perjamuan Kudus. Segala kutuk: kutuk kemiskinan, kutuk operasi, kutuk kesusahan, kutuk musibah, kutuk sakit penyakit dipatahkan.” Seorang rekan begitu memercayai perkataan tersebut: ikut perjamuan kudus, dinyatakan sembuh oleh karena imannya, dan dengan demikian menolak untuk operasi. Hasilnya? Usus buntunya pecah di perutnya. Seharusnya dipasang tanda * “syarat dan ketentuan berlaku”. Apa syarat dan ketentuannya? Jika sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan.
“Berikan persembahan Anda, Tuhan akan mengembalikan berlipat kali ganda.” Seorang rekan sedemikian tergiurnya sehingga meminjam uang ke sana-sini untuk memberikan persembahan. Setelah persembahan diberikan, otomatiskah uangnya kembali berlipat kali ganda? Realitasnya, sampai sekarang tidak demikian. Ia pun kecewa. Harusnya dipasang tanda * “syarat dan ketentuan berlaku”. Apa syarat dan ketentuannya? Jika sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan.
Nah, masalahnya justru pada kalimat jika sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan. Tidak mudah kita memahami kehendak dan rencana Tuhan, bukan? Secara umum kehendak Tuhan dinyatakan di dalam firman-Nya, tetapi di dalam situasi tertentu kita acapkali bertanya, “Apakah situasi ini kehendak Tuhan? Mengapa hal ini terjadi? Apa yang Tuhan kehendaki dari hidupku?” Pernahkah Anda menanyakan hal-hal yang seperti ini?
Berani Hidup dengan Pertanyaan
Kadangkala ketika kita menanyakan hal-hal seperti itu, kita merasa semua itu terjadi karena kita kurang “rohani”. Seandainya saya lebih “rohani”, maka saya akan memahami kehendak dan rencana Tuhan. Ditambah lagi dengan sorot mata penghakiman dari orang lain, yang menambah rasa bersalah kita.
Apakah ketidaktahuan kita terhadap rencana Tuhan itu karena faktor kita kurang “rohani”? Kita merasa seandainya kita lebih dekat dengan Tuhan, semua pertanyaan itu akan hilang lenyap tak berbekas. Namun, benarkah demikian?
Mari kita dengarkan serentetan pertanyaan ini:
“Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong?”
“Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman?”
Siapakah yang melontarkan pertanyaan dan gugatan ini kepada Tuhan? Habakuk! Siapakah Habakuk itu? Seorang nabi, penyambung lidah Allah kepada umat-Nya. Bayangkan seorang nabi bertanya dan menggugat Allah di dalam ketidakmengertiannya. Ia tidak dapat mengerti mengapa aniaya dan kekerasan ada di depan matanya, perbantahan dan pertikaian terjadi. Hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan sebab orang fasik mengepung orang benar. Itulah sebabnya keadilan muncul terbalik. Jika seorang nabi saja tidak paham tentang apa yang ada di depan matanya, bagaimana ia sanggup menjelaskan hal ini kepada pendengarnya?
Ternyata status dan kedudukan sebagai nabi tidak membuatnya lebih tahu dari manusia lainnya. Itulah sebabnya Habakuk bertanya dan bahkan pertanyaannya bernada gugatan. Apakah Habakuk kurang “rohani” dan kurang beriman?
Pertanyaan dan bahkan gugatan Habakuk adalah sebuah bukti sedekat apapun kita dengan Tuhan, hidup beriman tak akan lepas dari pertanyaan atau ketidakmengertian. Hal ini bukan tanda kurang “rohani” namun bagian dari keterbatasan manusia. Tuhan tentu saja Maha Tahu, namun manusia banyak tidak tahu. Di dalam ketidaktahuan kita, janganlah menjadi manusia yang menjadi sok tahu.
Beriman menuntut keberanian hidup dengan pertanyaan.
Ada saat di mana kita bertanya-tanya kepada Tuhan. Dan dalam satu dua cara Tuhan menjawab kita. Kita bersyukur. Namun, ada saatnya kita harus hidup dengan tanda tanya: Mengapa, Tuhan? Bagaimana caranya Tuhan? Tidak banyak orang tahan hidup dengan pertanyaan. Akibatnya, Tuhan ditinggalkan dan mencari kepastian yang lain yang lebih dapat dipegang dan kasatmata seperti orang pintar, benda-benda jimat tertentu, pergi ke gunung tertentu. Hal-hal yang membuat Tuhan berduka dan justru menghasilkan kebingungan yang lebih besar lagi dengan pelbagai jawaban yang muncul.
Beriman kerap kali memang tidak memberikan kepastian kasatmata, tetapi memberikan satu-satunya cara untuk hidup. Di dalam pergumulan-Nya, Habakuk berkata, “Tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Habakuk 2:4). Apa maksudnya?
Alden (ketika itu berumur 4 tahun), anak saya sudah menghafal rute jalan dari pastori ke gereja. Suatu kali kami akan ke gereja. Karena jalan yang biasa dilalui macet, saya mencoba mencari jalan lain. Sepanjang jalan itulah Alden mengeluh dan menyalahkan saya mengapa kok lewat jalan ini dan bukan yang biasanya. Saya berupaya untuk menjelaskan kepada Alden, tetapi ia tetap sulit mengerti. Akhirnya, saya memilih berdiam diri. Saya baru bicara ketika kami sudah parkir di gereja. Melihat kami telah sampai di gereja, langsung keluhan Alden berubah menjadi pujian, “Papa pintar.”
Keterbatasan pikiran Alden membuatnya tidak mengerti apa yang saya ingin sampaikan. Menyadari keterbatasan itu, saya tidak perlu bicara lagi. Saya diam, tetapi terus mengupayakan agar sampai ke gereja. Saya rasa itulah juga yang kerap kali Allah lakukan dalam kehidupan kita. Kita tidak selalu sanggup memahami rancangan Allah, tetapi berserah senantiasa adalah sikap yang terbaik.
Kita percaya bahwa Allah jauh lebih baik daripada bapak kita. Itulah sebabnya kita memanggil-Nya Bapa di surga. Karakter Allah itulah yang menjadi dasar kepercayaan kita kepada-Nya. Mengapa kita berani percaya kepada-Nya? Karena kita mengetahui walau bibir Tuhan terkatup dan tak ada sepatah kata pun, namun tangan-Nya tetap memegang tangan kita.
Seperti seorang bapak yang menyayangi anaknya, demikianlah Tuhan menyayangi kita. Waktu kita tak dapat mendengar suara-Nya, tak melihat pekerjaan tangan-Nya, mari kita percaya pada hati-Nya.

