Oleh: Pdt. David Kosasih
Lukas 10:25 – 37
Pendahuluan
Saya tertarik memandang gambar seorang wanita tua dengan rambut pendek yang memutih semuanya. Senyumnya terlihat sangat lebar dan wajahnya tidak menampakkan kesedihan atau beban apapun. Belakangan saya baru tahu namanya: Teresa Hsu, seorang wanita single yang disebut sebagai “Mother Teresa from Singapore”. Apa yang membuatnya mendapat julukan itu?
Saya akan menceritakannya untuk kita pagi ini: Teresa lahir di Guang Dong – China. Keluarganya sangat miskin dan rumah mereka sangat sederhana di pemukiman orang miskin. Teresa punya 4 saudara kandung. Saat remaja, ayahnya yang sangat kasar akhirnya meninggalkan keluarga ini. Ibunya membawa seluruh anak-anaknya pindah ke Penang, Malaysia dan bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sebuah gereja.
Saat perang dunia II pecah, ia berada di Hong Kong dan kemudian mendaftarkan diri sebagai sukarelawan sosial. Dia ditempatkan sebagai suster dan merawat banyak orang yang terluka. Setelah perang usai, ia mendaftarkan diri untuk belajar menjadi seorang juru rawat di sebuah sekolah perawat di London. Meski usianya sudah tidak muda lagi, tetapi ia diterima dan belajar di sana. Setelah beberapa tahun ia pergi melayani sebagai seorang suster di Paraguay.
Di saat usianya sudah tidak muda lagi, di tahun 1964 ia kembali ke Singapura untuk merawat mamanya yang hidup bersama saudara kandungnya – Ursula. Di negara ini hatinya kembali terpanggil untuk membantu mereka yang miskin dan menderita. Bersama Ursula ia memulai sebuah rumah pelayanan buat mereka yang tua dan menderita hidupnya. Ia bahkan menghabiskan uang dan warisan dari saudaranya untuk embeli sebuah apartemen dan memulai sebuah rumah singgah bagi mereka yang kesulitan, kelaparan dan membutuhkan bantuan. Pelayanan itu ia beri nama Home of the Aged Sicked. Tahun 1985 ia memulai lagi sebuah Yayasan yang bernama Heart to Heart. Ia memusatkan perhatian untuk menolong orang tua yang tinggal sendirian dan membutuhkan pertolongan juga perhatian kepada keluarga yang miskin. Apa yang dilakukannya? Ia membagi uang dan makanan yang ia terima dari para donaturnya.
Salah satu moto menarik dari hidupnya: “Jika saya punya makanan untuk saya sendiri, maka hanya saya yang bisa tertawa senang. Tetapi jika saya bisa membaginya kepada 20 orang yang membutuhkannya, maka ada 21 orang yang akan tertawa bahagia”. Sebuah moto sederhana tapi sangat menarik hati.
Teman-temanku, hidup Teresa Hsu yang meninggal di usia 113 telah mendedikasikan seluruh harta bahkan hidupnya untuk menolong orang lain. Saya rasa hidup seperti itu di masa sekarang ini, sangatlah susah didapati. Kita berada di dalam dunia yang berpusatkan kepada diri sendiri dan tidak peduli dengan orang lain di sekitar kita. Jangan-jangan kita sendiri juga hidup seperti itu. Kita sulit memerhatikan dan peduli juga dengan orang lain.
Saya mengajak kita memerhatikan sebuah perumpamaan Tuhan Yesus yang saya pastikan kita sudah pernah mendengar dan membacanya juga. Tetapi saya mengajak kita mengenalinya sekarang dengan cara yang berbeda sedikit.
Isi
Kisah perumpamaan ini lahir dari sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Tuhan Yesus. Ada seorang ahli Taurat yang mengajukan pertanyaan kepada Yesus: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Sayangnya pertanyaan ini ia ajukan bukan untuk sungguh-sungguh bertanya, melainkan untuk menguji dan mencari kesalahan Tuhan Yesus. Maka Tuhan Yesus menjawab pertanyaan itu kembali dengan pertanyaan. Ia bertanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Maka dengan lancar ahli Taurat itu menjawab: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Tuhan kemudian menimpali: “”Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup”.
Rupanya ia tidak puas karena tidak berhasil menguji Tuhan Yesus. Maka ia mengajukan pertanyaan kedua untuk membenarkan dirinya: Dan siapakah sesamaku manusia? Nah, untuk menjawab pertanyaan inilah, Tuhan Yesus memberikan sebuah kisah perumpamaan itu. Saya akan mencoba membawa kisah itu pada dunia sekarang ini, di mana kita ada dan hidup.
Begini kisahnya: saya membayangkan ada seorang siswa SMA yang pagi itu sedang berjalan menuju ke sekolah. Hari itu ia menaiki sepeda motornya yang masih baru ke sekolah. karena jalan besar agak macet pagi itu, maka ia memutuskan untuk melewati jalan yang agak sepi. Awalnya ia ragu-ragu, karena jalan itu sepi, tapi ia memutuskan untuk lewat jalan itu dari pada telat ke sekolah.
Tiba-tiba, muncullah beberapa orang pria menghadang jalannya. Ia dipaksa untuk berhenti dan menyerahkan sepeda motornya tersebut. Tentu saja ia menolak dan mencoba mempertahankan sepeda motornya. Namun ia tidak berdaya karena dikeroyok pria-pria itu, ia dipukuli sampai babak belur dan ditinggalkan di tepi jalan itu.
Sambil mengeluh kesakitan, ia mencoba bangkit, tapi ia tidak mampu, karena seluruh badannya terasa sakit semua. Saat itulah ia melihat dari kejauhan seseorang datang menghampirinya. Ia tersenyum karena yang datang itu, orang yang ia kenal. Siapa? Seorang guru agama di sekolahnya. Tentu saja ia berharap guru tersebut mau menolongnya. Tapi ternyata harapannya tinggal harapan saja. Karena guru tersebut melihat dari kejauhan saja dan segera tancap gas meninggalkannya.
Tetapi kekecewaannya tidak berumur panjang, ia melihat seseorang kembali datang. Ia tahu itu salah seorang teman, karena ia pernah menolongnya dan menraktir dia beberapa kali. Orangnya juga rajin ke gereja setiap minggu, ia seorang aktivis remaja di gereja mereka. Ia berharap bahwa temannya tersebut mau menolongnya. Tetapi kali inipun ia kecewa karena ia ditinggalkan lagi di sana.
Lalu muncul lagi orang ketiga dan juga siswa SMA sekolah yang sama, karena kelihatan dari seragamnya. Ia mencoba memerhatikan dan hatinya terkejut sekali. Kali ini ia melihat ada seorang siswa yang pernah ia bully, ia kerjain habis-habisan. Anaknya terlihat aneh di sekolah, hampir-hampir tidak punya teman di kelas. Mereka pernah nge-prank dia sampai mau menangis. Lebih terkejut lagi, karena anak itu kemudian menghampirinya dan menyapanya. Bukan hanya itu, ia menolongnya untuk berdiri dan membantunya. Anak itu membawanya ke sekolah dan mengantar ke UKS, lalu anak itu segera membagikan makanannya, karena tahu pasti ia belum makan pagi. Dia berjanji akan menemani selama sakitnya.
Pertanyaan saya sama seperti pertanyaan Tuhan Yesus kepada ahli Taurat itu:
“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan perampok sepeda motor itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Apa kaitan antara tema khotbah pagi ini dengan kisah Orang Samaria yang baik hati ini? Pagi ini kita ketemu dengan 2 kata ini: Selfishness dan Altruis. Sebentar apa arti dua kata ini yah. Saya mencoba mencari artinya dalam kamus dan menemukan artinya demikian:
- Selfish: seeking or concentrating on one’s own advantage, pleasure, or well-being without regard for others (mencari atau berkonsentrasi pada keuntungan, kesenangan, atau kesejahteraan seseorang sendiri tanpa memperhatikan orang lain)
- Altruist: an unselfish person whose actions show concern for the welfare of others (orang yang tidak mementingkan diri sendiri yang tindakannya memperhatikan kesejahteraan orang lain); jadi merupakan lawan kata Selfish.
Jadi berdasarkan arti kata – kata di atas, maka kita bisa melihat siapakah dari 3 orang yang Tuhan Yesus ceritakan dalam perumpamaan itu yang sesuai dengan kriteria selfish dan altruist. Benar… Sang imam dan orang Lewi termasuk orang-orang yang selfish. Kita memang tidak diberitahu alasan yang mendorong mereka untuk tidak menolong orang yang membutuhkan dan habis di rampok itu. Ada banyak spekulasi, tapi saya tidak mau masuk ke dalam perdebatan itu. Yang sangat jelas… mereka enggan untuk menolong orang tersebut. Memang itu alasan utamanya: ketidakmauan untuk menolong. Saya tekankan: ketidakmauan bukan ketidakmampuan!
Sementara orang Samaria kita kelompokkan sebagai orang yang altruist, yang tanpa memikirkan untung ruginya, bersegera menolong orang yang membutuhkan pertolongan. Bukan hanya merawat lukanya saja, tetapi menaruhnya di atas tunggangannya (berarti ia harus turun dan berjalan kaki). Tidak berhenti di situ, ia membawa orang tersebut ke sebuah rumah penginapan terdekat (ingat, zaman itu belum ada rumah sakit) dan meminta supaya orang yang terluka di rawat sampai sembuh. Orang Samaria itu meninggalkan sejumlah uang untuk biaya perawatan, dan akan kembali untuk menutup kekurangannya bila dibutuhkan.
Perhatikan beberapa hal menarik dalam kisah Tuhan Yesus:
- Perbedaan bangsa: Orang Samaria adalah kelompok masyarakat yang dipandang rendah oleh bangsa Yahudi. Mereka bisa dikelompokkan ke dalam bangsa kafir, meski dari asal-usulnya Samaria dan Yahudi masih bersaudara. Sangatlah merendahkan apabila seorang Yahudi memohon pertolongan kepada orang Samaria. Tetapi Tuhan membalikkan pandangan tersebut. Menolong dan memerhatikan orang tidak mengenal perbedaan tersebut!
- Yang dibutuhkan adalah kesediaan dan kemauan hati untuk menjadi tangan Allah yang terulur bagi orang lain. Saya sangat sadar, Allah bisa saja memilih untuk bertindak, ada kekuatan dan mujizat Allah lakukan dalam kisah tersebut untuk menolong seseorang yang membutuhkan. Tetapi tidak demikian, Allah justru memakai tangan orang Samaria itu untuk menolong.
- Perhitungan untung – rugi: Salah satu hal yang menghambat tindakan nyata menolong orang lain adalah hitung-hitungan: apa yang saya dapatkan sewaktu saya menolongnya? Buat orang Samaria itu, jelas ia mengalami kerugian dalam perhitungan manusia. Ia rugi waktu, karena perjalanannya terhambat. Ia juga rugi uang, karena harus membayar biaya perawatan, dan banyak hal lain. Tetapi itu tidak menghalanginya untuk bertindak.
- Wujud kasih: Ingat dengan baik, perumpamaan ini lahir karena ada pertanyaan tentang mengasihi sesama manusia. Jadi Tuhan sedang menerangkan arti kasih pada sesama manusia. Kasih pada sesama manusia ini berdiri sejajar dengan mengasihi diri sendiri. Mengapa penting? Karena memang pada dasarnya kita lebih mementingkan diri sendiri ketimbang orang lain. Kita mudah bersikap masa bodoh dengan orang lain, karena memang buat kita kepentingan diri yang diutamakan (pengalaman melihat orang menyerobot antrean, karena mementingkan diri sendiri saja bukan??)
Pelajaran tentang perumpamaan itu masih belum selesai, karena setelah kisah itu Tuhan sampaikan, Ia masih mengajukan pertanyaan penting:
10:36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” 10:37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Siapakah orang yang menjadi sesama manusia buat orang yang kemalangan itu? Spontan ahli Taurat itu menjawab: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya”. Lidahnya ternyata masih begitu berat untuk menyebut “Orang Samaria”. Tetapi jawabannya mengandung kebenaran, seharusnya ia menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang membutuhkan uluran tangannya. Lalu Yesus menutup dengan perkataan: “Pergilah dan perbuatlah demikian!”.
Apa yang Yesus mau sampaikan dlaam dialog terakhir itu? Yang terpenting bagi Allah dan kita yang hidup saat ini: bukan seberapa banyak pengetahuan kita tentang Allah dan berapa banyak ayat Alkitab yang kita tahu saja. Allah bukan hanya menuntut hal itu. Yang Allah mau adalah: kita pergi dan melakukannya. Kita menjadi seperti orang Samaria yang menunjukkan belas kasihan kepada semua orang yang kita jumpai.
Penutup
Saya mengingat perkataan Martin Luther King Jr, sewaktu ia mengkhotbahkan kisah ini di dalam sebuah gereja. Ia berkata:
“On the parable of the Good Samaritan: “I imagine that the first question the priest and Levite asked was: ‘If I stop to help this man, what will happen to me?’ But by the very nature of his concern, the good Samaritan reversed the question: ‘If I do not stop to help this man, what will happen to him?”
(Pada perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati: “Saya membayangkan bahwa pertanyaan pertama yang ditanyakan oleh imam dan orang Lewi adalah: ‘Jika saya berhenti untuk membantu orang ini, apa yang akan terjadi pada saya?’ Tetapi karena sifat keprihatinannya, orang Samaria yang baik hati membalikkan pertanyaan: ‘Jika saya tidak berhenti untuk membantu orang ini, apa yang akan terjadi padanya?)
Saya membenarkan perkataannya tersebut. Perbedaan besar di antara imam, orang Lewi dengan orang Samaria itu adalah pertanyaan mereka di atas. Imam dan orang Lewi bertanya: Jika saya berhenti untuk membantu orang ini, apa yang akan terjadi pada saya? (fokusnya: diri sendiri). Sementara orang Samaria bertanya: Jika saya tidak berhenti untuk membantu orang ini, apa yang akan terjadi padanya? (fokusnya: belas kasihan).
Saya sungguh mendorong kita semua yang ada di ruangan ini: kita bisa memilih mendengar khotbah ini lalu melupakannya. Atau kita keluar dari ruangan ini dan mencoba melakukan tindakan seperti orang Samaria itu? Pilihannya ada ditangan kita sekarang? Apa yang akan kita lakukan? Ingat Tuhan Yesus berkata: “Pergilah dan perbuatlah demikian!”. AMIN!

