Site icon

Masihkah Kita Salah Mengerti?

Oleh: Roselani Alexandra Eman

Markus 8:14-21

Problema Masa Kini

Saudara, suatu hari, saya pergi dengan anak saya, lalu dia minta dibelikan mainan, dan karena saya rasa mainannya sudah cukup banyak dan harga mainan yang dia mau cukup mahal, maka saya tidak belikan.  Langsung dengan semudah itu dia berkata “mama jahat”.  Wah saudara, rasanya sedih sekali.  Sakitnya itu di sini.  Hanya karena masalah sepele begitu, dia langsung bilang, “mama jahat”.  Anak saya telah salah mengerti akan sikap saya waktu saya melarang dia membeli mainan yang dia suka.  Perlu beberapa waktu untuk menjelaskan dan akhirnya dia mau mengerti.  Sekali berhasil? Tidak juga…ada kalanya di kesempatan lain waktu dia minta belikan mainan, dan saya tidak belikan…dia kembali bilang “mama jahat”. 

Saudara, terkadang dari keseharian yang saya temui, memang tidak mudah menghadapi orang yang salah mengerti tentang kita. 

Tahukah saudara, di dalam kehidupan ini, di sepanjang jaman, ada satu Pribadi yang seringkali disalah mengerti.  Dialah Tuhan. Ketika ada hal yang kita alami, dan kita merasa itu adalah hal yang tidak enak buat kita…dari perspektif kita yang hanya mampu melihat masa kini dengan gampangnya kita berkata “ini salah Tuhan”…”Tuhan tidak baik”…”Tuhan tidak sayang.” Dan mungkin masih banyak daftar ke salah-mengertian tentang Tuhan, yang kita dengar dari sekitar kita, ataukah mungkin terucap dari bibir kita ataupun terucap di hati saja.

Saudara, kita memang tidak mungkin mampu mengerti Tuhan dengan sempurna, namun seringkali dalam ketidak mampuan kita untuk mengerti, hati kita pun tidak mudah untuk diajar.  Kita merasa sok mengerti dan akhirnya membawa kita pada salah mengertian akan Tuhan. 

Problema Alkitab

Dahulu, ternyata para murid pun pernah mengalami seperti yang kita alami.  Dalam kisah yang dicatat dalam Markus 8:14-21, Tuhan Yesus dan para murid sudah naik ke perahu dan dalam penyebrangan dari Galilea ke Betsaida.  Sewaktu sedang tenang dalam penyebrangan itu, tiba2 ada murid yang sadar bahwa roti yang mereka bawa hanya satu.  Mereka lupa membawa roti yang cukup untuk semua murid dan untuk Yesus.  Dalam situasi itu Tuhan Yesus ingin memakai kesempatan untuk mengajar mereka ttg hal rohani berkaitan dengan roti.  Yaitu supaya waspada terhadap ragi (juga bermakna sebagai pengaruh buruk) orang Farisi dan Herodes.

Orang Farisi merasa karena mereka menegakkan Taurat, maka mereka lebih banyak tahu tentang Tuhan (arogansi agamawi), sedangkan orang Herodian pengikut Herodes adalah orang2 Yahudi yang sifatnya kompromistis.  Dua kelompok ini memiliki potensi besar untuk memberi pengaruh yang tidak baik bagi para murid dalam mengenal Tuhan

Tapi para murid tidak menggubris hal itu, mereka malah berbisik2 satu dengan lainnya sehingga semua memiliki pemikiran yang sama, tapi celakanya pemikiran yang keliru tentang Kristus.  Mereka pikir “Tuhan sedang menyindir kita yang ga bawa roti yang cukup, kita tidak bawa roti untuk dia.”

Dan ketika Yesus tahu apa yang mereka bincangkan, Tuhan menegur mereka, “Mengapa kamu masih perbincangkan tentang tidak ada roti dan bahkan menyangka ketika aku bicara tentang ragi itu pun karena aku menyindir kamu bahwa aku perlu roti?” Para murid telah salah mengerti akan Yesus.

Jalan Keluar dalam Alkitab

Maka dengan hati yang prihatin, Tuhan harus menegur para murid “belum jugakah kamu faham, belum jugakah kamu mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?” Bukankah  para murid adalah orang yang selalu bersama dengan Kristus? Bukankah dengan mata mereka sendiri mereka telah melihat apa yang Kristus lakukan sehari-hari, termasuk ketika Dia melakukan mujizat-mujizat. Bukankah para murid pun menjadi pendengar pertama dari ajaran-ajaran Kristus, dengan telinga mereka sendiri mereka mendengarkan ketika Kristus menerangkan arti dari ajaran-Nya.  Mengapa mereka masih salah mengerti bahwa Tuhan hanya berfokus pada hal jasmani, padahal Tuhan ingin mereka mengerti betapa pentingnya hal kebenaran rohani dalam hidup mereka. 

Tuhan Yesus kemudian mengajak para murid mengingat jejak-jejak karya Tuhan yang telah mereka saksikan. Pada waktu Dia memecahkan lima roti untuk 5000 orang, ketika Tuhan bertanya berapa bakul sisa roti itu..mereka bisa jawab: sisa 12 bakul. Pada waktu Dia memecahkan tujuh roti untuk 4000 orang, ketika Tuhan bertanya berapa bakul sisa roti itu…mereka bisa jawab: sisa 7 bakul.

Mengapa para murid diminta menjawab jumlah sisa dari roti yang mereka kumpulkan?  Supaya mereka kembali mengingat dalam jejak-jejak karya Tuhan itu, betapa Tuhan berkuasa.  Tuhan sanggup mencukupkan.  Kalau Tuhan mempermasalahkan soal roti untuk diri-Nya sendiri, itu adalah hal yang konyol.  Dia itu Tuhan yang berkuasa.  Dia sanggup mencukupkan.  Dia telah membuktikannya dalam peristiwa roti bagi 5000 dan 4000 orang, bahkan masih ada sisa.  Dan para murid menyaksikan itu semua. 

Markus 6:52 mencatat “Sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti dan hati mereka tetap degil.” Saudara lihat, dari sekian banyak yang kita baca, masalahnya yaitu di hati para murid yang sulit untuk diajar.  Dan itu membuat mereka salah mengerti tentang Tuhan.

Jalan Keluar Masa Kini

Saudara, kita harus akui, bahwa dalam perjalanan mengikut Tuhan, kita tidak akan pernah bisa sepenuhnya mengerti akan kuasa-Nya, jalan-jalan-Nya, kedaulatan-Nya, rencana-Nya, hikmat-Nya.  Namun kiranya hati kita adalah hati yang mau terus diajar sehingga kita tidak salah mengerti akan kuasa-Nya, jalan-jalan-Nya, kedaulatan-Nya, rencana-Nya, hikmat-Nya, kebaikan-Nya. Tuhan ijinkan saya mengalami pergumulan dalam mendampingi suami yang sakit kanker selama 5 tahun.  Dia dideteksi awal sakit yaitu tahun 2013, sudah operasi, kemoterapi.  Tahun 2014 kondisinya ok, tapi tahun 2015 penyakitnya kambuh.  Kembali dia menjalani operasi dan kemoterapi plus radiasi.  Tapi ukuran tumor masih sama, bahkan ada penambahan ukuran.  Lalu secercah harapan datang dengan jemaat yang mengusulkan untuk suami saya coba berobat ke Penang.  Akhirnya kami berangkat ke Penang, konsul dengan beberapa dokter di sana.  Kemudian dokter di sana bilang ada harapan untuk kesembuhan suami saya dengan cara operasi secara radikal.   Kami persiapkan hati dan diri untuk berangkat ke Penang.  Jemaat mendukung kami untuk dana dan juga terus mendoakan kami.  Sebelum berangkat ke Penang, suami saya lakukan Pet Scan, memang didapati kecurigaan ada titik di paru.  Tapi sepertinya itu tidak masalah.  Ketika kami tiba di Penang dan konsul untuk persiapan operasi, dokter mengatakan bahwa adanya titik di paru itu diduga kuat bahwa itu adalah penyebaran kanker sudah sampai ke paru-paru.  Sehingga, operasi tidak mungkin untuk dilakukan.  

Harapan sudah ada, tapi saya merasa seperti dibanting ke bawah.  Selama saya dampingi dia, tidak pernah sekalipun saya menangis di hadapannya, tapi pagi itu saya menangis di depan suami saya.  Karena saya tahu, itu bukan kondisi yang baik untuk kesehatannya. Saya merasa Tuhan seperti orang PHP (Pemberi Harapan Palsu). Di dalam pergumulan itu, seorang jemaat kirimkan ayat firman Tuhan dan sebuah lagu “Trust His Heart” (nyanyikan bagian reff).  Lirik lagu bagian reff: God is too wise to be mistaken, God is too good to be unkind.  So when you don’t understand.  When you can’t see His plan.  When you can’t trace His hand…trust His heart.  Saudara, di saat itulah saya tertegur dan mohon ampun sama Tuhan.  Kalau saya melihatnya sekarang sepertinya Tuhan sedang berkata kepada saya seperti yang Tuhan katakan kepada para murid “Masihkah kamu belum mengerti, telah degilkah hatimu? Mengapa kamu salah mengerti akan Aku?”  Saya harus akui bahwa saya sudah salah mengerti tentang Tuhan.  Sebagai hamba Tuhan saya merasa tahu banyak tentang Tuhan, bisa ajar jemaat tentang Tuhan, namun ternyata hati saya masih perlu terus diajar mengenal Tuhan.  Belajar mengerti akan kedaulatan-Nya, jalan-Nya, bahwa Dia bukan Tuhan yang PHP kami.  Setelah peristiwa itu, saya baru mulai mengerti bahwa justru Tuhan tunjukkan kuasa-Nya ketika suami saya jalani Pet Scan dan dideteksi ada titik penyebaran di paru-paru.  Bagaimana jika suami saya tetap jalani operasi tanpa tahu bahwa ada penyebaran di paru-paru.  Pastilah kondisinya pasca operasi akan langsung bertambah buruk.  Saya harus akui bahwa saya hanya bisa melihat apa yang di depan mata, tapi Tuhan telah mengetahui gambaran seluruhnya. 

Ketika akhirnya Tuhan memanggil pulang suami saya, memang tidak mudah hadapi itu.  Saya masih membutuhkan kehadirannya, anak-anak juga masih membutuhkan kehadiran papanya.  Tapi belajar dari apa yang telah saya alami bersama dengan Tuhan, maka saya terus belajar bahwa walaupun berat yang kami jalani, tetap Tuhan itu baik adanya. 

Mungkin di antara kita ada yang sedang bergumul untuk mengerti akan kebaikan Tuhan dalam situasi hidup yang berat.  Pergumulan kesehatan pribadi, kesehatan pasangan, kesehatan anak, kesehatan orang tua. Apakah kita sedang hadapi situasi perekonomian yang berat, dagang sepi, usaha menurun, gaji sebagai karyawan pas-pasan sementara kebutuhan hidup meningkat?

Mungkin kita sedang bergumul untuk mengerti akan jalan Tuhan di saat rasanya jalan buntu yang kita temui di depan kita.  Pasangan yang tidak setia, anak yang memberontak, hubungan dengan saudara yang tidak harmonis. Dan masih banyak pergumulan-pergumulan lain yang mungkin tidak terkatakan yang membuat kita sulit mengerti akan Tuhan. Tetaplah fokus pada Tuhan, pada firmanNya.  Ingatlah akan Bapa kita di Sorga yang telah memberikan segalanya buat kita, bahkan Yesus Kristus Anak-Nya yang Tunggal telah diberikan untuk kita.  Jika yang terbaik telah Dia berikan, mengapa kita masih ragukan kebaikan-Nya?  Kristus tidak hanya mati di kayu salib, namun Dia juga bangkit dan berkuasa selamanya.  Jika kemenangan itu telah dialami, mengapa kita masih ragukan kuasas-Nya?

Memang tidak akan sepenuhnya kita mengerti akan jalan Tuhan, kedaulatan-Nya, kebaikan-Nya.  Masih banyak hal yang menjadi misteri, yang kita baru mengerti setelah kita berjumpa dengan Dia di Sorga.  Namun kiranya hati kita adalah hati yang teachable…rela untuk diajar dan mudah untuk belajar.  Janganlah kita merasa sudah banyak tahu tentang Tuhan dan menjadi sok mengerti.  Itu akan membuat kita terjebak dalam hal salah mengerti tentang Tuhan. Kiranya hati kita adalah hati yang mudah untuk diajar, sehingga dalam perjalanan iman kita tidaklah salah mengerti tentang Tuhan. Amin

Exit mobile version