Oleh: Maria Natalia
Kejadian 18:1-8; Lukas 17:7-10
Pendahuluan
Bapak Mahfud, seorang petugas pembantu lalu lintas (Supeltas). Putarkan videonya. Lihatlah aksi Bapak Mahfud, yang dianggapnya sebagai sebuah pengabdian. Tidak seberapa hasil uang yang bisa ia dapatkan. Sebelum dapat seragamà bisa dapat Rp. 50ribu sehari, tetapi setelah pakai seragam, pendapatannya tidak sampai melebihi Rp. 10ribu sehari, karena orang banyak mengira ia digaji oleh pemerintah. SS, tetapi senyum di wajahnya tidak pernah pudar. Sukacitanya ia tularkan melalui pelayanannya bagi masyarakat.
Bila orang yang belum percaya pada Tuhan Yesus bisa menunjukkan pelayanan sedemikian rupa, bagaimana dengan anak-anak Tuhan dalam melayani Dia? Adakah semangat dan sukacita yang sama yang ditunjukkan saat melayani sebagai pelayan? Setidaknya inilah yang juga dinyatakan oleh Abraham, seorang yang dikenal sebagai bapa orang beriman.
Isi
Abraham Melayani sebagai Pelayan
SS, siang itu di tengah panas terik, Abraham sedang duduk diam di pintu kemahnya di dekat pohon di Mamre. Siang hari yang pas untuk seorang berusia 99 tahun beristirahat dengan enak dan nyaman. Namun siang itu menjadi siang yang begitu sibuk dan heboh bagi engkong ini. Saat ia melihat tiga orang datang, ia segera menyambut mereka. Dalam terjemahan bahasa Indonesia tidak jelas apakah mereka laki-laki atau perempuan, tetapi terjemahan bahasa Inggris menolong kita untuk tahu bahwa mereka adalah tiga orang laki-laki, “Three men standing nearby.” Engkong yang belum memiliki cucu ini menyongsong mereka dan sujud sampai ke tanah. Kata “Sujud” yang dipakai di sini biasa dipakai ketika seseorang menyembah Allah. Tidak dijelaskan, apakah Abraham tahu bahwa itu adalah Allah yang datang kepadanya, namun apa yang Abraham lakukan menunjukkan rasa hormatnya kepada mereka. Kepada salah seorang dari mereka, ia memohon agar mau menumpang di kemahnya. Ia memohon dengan sangat, agar mereka mau mampir ke kemahnya, karena kalau mereka berkenan mampir, ia merasa dikasihi dan terhormat. Sangat berbeda dengan budaya di masa sekarang, yang sepertinya sudah jarang orang saling bertamu karena berbagai macam kesibukan. Kalaupun masih ada budaya ini, jangan sampai deh kebagian jadi tuan rumah, repot. Abraham menunjukkan keramahan yang luar biasa. Permohonannya: “Bila Engkau tinggal, ini demi keuntungan hambamu.” Hal ini menekankan kegembiraan, kepuasan Abraham bila ia dapat melayani mereka. “Ini menjadi sukacitaku engkau datang, engkau membuat hariku menjadi menyenangkan.”
SS, ia memang hanya menawari mereka “Sepotong roti” untuk dihidangkan, namun lebih dari itu, ia menawarkan perlindungan, keteduhan, serta kemudahan untuk mereka sebelum melanjutkan perjalanannya. Seorang penafsir bahkan mengatakan siang itu menjadi “Tornado of activity” aktivitas yang seperti badai sibuknya. Dari ayat 6-7 kita mendapati perkataan: “Abraham segera pergi ke kemah. . .” Lalu ia berkata pada Sara: “Segeralah!” Dicatat pula: “Berlarilah Abraham. . .” Bayangkan engkong 99 tahun melakukan semua pekerjaan itu. Sepotong roti yang ditawarkan ternyata berwujud hidangan mewah untuk para tamunya:
- Tiga sukat tepung (1 sukat= 12 literà 36 liter) dibuat roti. Kurang lebih bisa menghasilkan 60 potong roti. Zaman dulu belum ada oven, memanggang adonannya dengan menaruh di bagian kendi tanah liat yang dipanaskan dengan api. Roti yang disajikan pun terbaik karena bukan dari jelai, tetapi dari gandum yang memiliki kualitas lebih baik dari pada jelai.
- Abraham sendiri yang memilih seekor anak lembu yang empuk. Ini juga merupakan hidangan yang mewah karena bukan merupakan makanan sehari-hari di daerah Timur Dekat Kuno. Siang hari dapat steak lembu adalah sebuah keistimewaan. Ini pun tanda kemurah-hatian Abraham, sebab bukankah anak domba atau kambing saja sudah cukup untuk makan tiga orang? Ini sampai anak lembu sapi lah yang disajikan.
- Abraham pun menyiapkan dadih (inti dari susu yang menjadi cikal bakal keju), serta susu dan menghidangkannya. Satu paket lengkap dari hidangan pembuka, utama dan hidangan penutup.
SS, Abraham menyediakan semua itu sebagai bentuk pelayanannya kepada tamu-tamu yang dihormatinya. Abraham menempatkan dirinya sebagai seorang pelayan. Bahkan ketika ia sudah menghidangkan itu di depan tamu-tamunya, ia tidak makan bersama dengan mereka, namun ia berdiri dekat mereka di bawah pohon (ay. 8). Sebuah sikap seorang pelayan yang siap untuk melayani bila tamu-tamunya itu membutuhkan sesuatu, dengan sigap ia akan mendekat dan menyediakan untuk mereka. Ia tidak sungkan, ia tidak melipat tangannya dan hanya sibuk memerintah. Abraham mau memberikan diri untuk melayani.
Pelayan Zaman Now
SS, berikut ini adalah kisah fiktif, bila ada kesamaan peristiwa dan pergumulan, itu hanya bagian dari skenario semata. Alkisah di sebuah desa yang kecil namun padat kegiatan, tinggallah seorang kepala desa bersama dengan masyarakat di daerah itu. Karena desa itu sering kali mengadakan acara-acara rutin, kepala desa mencoba mengajak penduduknya untuk berpartisipasi dalam membantu di bagian-bagian yang ia sudah rencanakan. Pernah suatu waktu desa itu akan mengadakan hajatan besar, kepala desa sudah membentuk kepanitiaan dan mulai akan melibatkan orang-orang untuk menolongnya. Ia menyiarkannya melalui pengeras suara di desa itu. “Bagi warga yang mau berpartisipasi membantu, silakan menghubungi saya.” Ada beberapa orang di desa itu yang mendaftarkan diri untuk membantu. Sedikit memang persentasenya bila dibandingkan seluruh jumlah penduduk, tetapi bersyukurlah, ucap si kepala desa, masih ada yang membantunya menyiapkan segala sesuatu yang penting. Setahun berlalu, timnya belum bertambah juga. Ada di antara mereka yang tugasnya dobel, yang jadi MC juga dialah yang bertugas mengusung bangku untuk acara yang diadakan. Bahkan ada yang sudah mengundurkan diri karena merasa kelelahan. Ada yang juga berselisih dengan anggota lain sehingga tidak mau lagi satu tim untuk mengerjakan tugasnya. Sang kepala desa tidak menyerah. Ia mencoba pergi mengetuk pintu satu persatu dari orang-orang di desa itu. Dari satu pintu ke pintu lain, tanggapan yang ia terima adalah: “Wah, maaf pak, saya sibuk sekali, saya belum bisa bantu.” “Saya ini sudah tua, apa saya masih bisa membantu? Yang lain saja deh Pak.” “Saya kurang berani dan kurang baik dari yang lain, jangan saya ya Pak.” “Saya sudah pernah bantu lho Pak, sekarang ini kalau Bapak minta lagi, saya tak leren sik ya. Lain kali saja.” “Saya ngga bisa apa-apa Pak, sungguh, suerrr! Saya engga bantu dulu ya Pak.” Itu tanggapan yang masih mendingan. Ada yang pintunya diketuk namun tidak dibukakan. Sebagai kepala desa zaman now, ada yang warganya yang ditanya via WA, hanya dibaca namun tidak ditanggapi. Akhirnya, kepala desa pun tetap bekerja dengan orang-orang yang selama ini membantunya sembari terus menyemangati mereka agar tidak mundur dari tugasnya.
SS, familiarkah kisah di desa itu dengan kondisi gereja Tuhan di masa kini? Berapa banyak orang yang mau terlibat dan dilibatkan dalam pelayanan? Berapa banyak jemaat Tuhan yang rela untuk menyanggupi panggilan pelayanan dengan sebuah hati yang rindu untuk dipakai Tuhan melayani-Nya dan gereja-Nya? Berapa banyak undangan pelayanan yang disampaikan dan pulang dengan hampa? Berapa banyak pelayanan yang akhirnya terpaksa “L4” à Lu Lagi, Lu Lagi, karena sedikitnya mereka yang mau tergabung dalam tim untuk melayani? Bukankah lebih mudah memang dilayani daripada melayani? Berapa banyak pelayanan yang kemudian isinya penuh dengan orang-orang yang kelelahan karena padatnya perputaran jadwal melayani?
SS, orang-orang di luar sana sedang giat menyebarkan slogan hidup sebagai seorang pelayan. Perhatikan banner/spanduk para caleg misalnya. Berapa banyak yang mengatas namakan dirinya sebagai “Pemimpin yang melayani” “Siap mengabdi bagi rakyat,” dan seterusnya. Bagaimana dengan di rumah Tuhan? Adakah semangat yang sama juga tertanam atau justru memudar dan digantikan dengan semangat dilayani, bukan melayani. Adakah semangat menjadi tuan melebihi semangat untuk menjadi pelayan? Mari evaluasi diri, mari introspeksi diri.
Melayani sebagai Pelayan Dimulai dari Hati yang Mau Melayani
SS, siapakah Abraham? Ia adalah orang terpandang pada zamannya. Memang ia mengembara ke tanah yang dijanjikan oleh Allah sendiri kepadanya. Bersamanya, ia membawa banyak ternak serta orang-orang yang menjadi budaknya. Ini menunjukkan bahwa Abraham orang yang kaya. Saat ia sampai dari satu negeri ke negeri yang lain, ia pun disegani oleh raja-raja di daerah itu. Mereka menaruh hormat pada Abraham. Tentu, ia bukan orang yang sembarangan. Siang itu, bisa saja Abraham tinggal menyuruh hamba-hambanya untuk menyiapkan hidangan yang terbaik bagi tamu-tamunya, sementara ia bisa mengobrol dengan mereka. Ia bisa panggil Ijah, Inem, Dadang dan lainnya. Sebagai budak profesional, tentu mereka bisa menyiapkan semuanya. Namun tidak demikian bukan yang dicatat oleh Alkitab. Ia tidak segan mengambil bagian yang dianggap rendah dan melayani dengan kesungguhan hati.
Pelayanan yang Abraham lakukan menunjukkan kualitasnya sebagai seorang yang beriman pada Allah YHWH. Ia menanggalkan gengsinya, dengan rendah hati, penuh kemurahan hati, ia mewujudnyatakan pelayanan yang terbaik kepada mereka. Dengan tulus ia berpontang-panting mengerjakan pekerjaan para budak, untuk melayani tamu-tamu yang dihormatinya. Secara usia, ia mungkin lebih tua dari tamu-tamunya itu, namun ia pun tidak segan menjadi pelayan bagi mereka. Pontang-pantingnya Abraham kesana-kemari mempersiapkan hidangan-hidangan yang ada menunjukkan bahwa ia memastikan yang terbaiklah yang diberikan, bukan yang sisa dan asal-asalan. Sungguh sebuah teladan melayani dari hati, bukan sekedar slogan, namun menjadi gaya hidup yang diterapkan. Abraham tidak memandang bahwa melayani sebagaimana seorang budak melayani itu merupakan kehinaan, melainkan kehormatan. Ia bahkan mendapatkan kepuasan tatkala dapat memberikan yang terbaik. Abraham menempatkan dirinya begitu rendah. Abraham menunjukkan bahwa ia melayani sebagai pelayan bagi orang-orang yang dihormatinya. Kemudian ia tahu bahwa mereka bukanlah orang sembarangan, melainkan Allah sendiri yang datang mengunjunginya untuk meneguhkan perjanjian untuk memberikan seorang keturunan padanya. Abraham memanglah seorang tuan, tetapi ia tidak segan menjadi pelayan. Bagaimana dengan orang beriman di gereja ini?
SS, sesungguhnya ketika kita melayani, mungkin ada banyak hal yang kita alami (tunjukkan video). Adakah hati seorang pelayan itu ada dalam diri kita? Ada orang-orang yang memperhitungkan untung dan rugi saat melayani. Buat saya, saya akan dapat apa? Saya akan untung apa? Orang-orang seperti ini, bila tidak mendapati bahwa pelayanan tidak menguntungkan, maka tidak akan mau ikut berbagian. Ada orang-orang yang bersikap: “Lihat-lihat dulu pelayanan apa.” Kalau bisa dilihat banyak orang, yang mendatangkan pujian lebih banyak, itulah yang diambil. Bukankah juga ada banyak yang bersikap cuek bebek, tidak peduli orang lain sudah pontang-panting melayani seperti apa, tetapi memilih untuk berpangku tangan sambil berkata: “Toh sudah ada yang melayani, tidak perlu saya kan.”
SS, banyak juga yang belum bergabung melayani karena merasa diri tidak bisa ini dan itu. “Kemampuan saya belum mencapai level layak untuk melayani” menjadi alasan ketika ditawari sebuah pelayanan. BISS, Tuhan tidak memanggil mereka yang mampu, tetapi Ia pasti memampukan mereka yang dipanggil-Nya. Saya dulu tidak pernah berpikir bahwa akan bisa berdiri untuk menyampaikan firman Tuhan. Bagaimana tidak? Saya bukanlah orang yang terbiasa tampil di depan. Pengalaman hanya sebagai MC di persekutuan kecil di gereja serta mengambil bagian pelayanan yang saya suka yaitu di perpustakaan. Ditawari pelayanan di sekolah minggu, saya menolak mentah-mentah sebab merasa tidak sanggup. Mengurus adik di rumah yang bandel saja tidak mampu, bagaimana lagi harus mengurusi anak-anak lain, begitu pikir saya. Tetapi masuk ke SAAT, mau tidak mau, pelayanan itulah yang harus dikerjakan selama dua tahun pertama di SAAT. Dari yang tidak suka sama sekali pelayanan ini, menjadi sebuah gerbang mempergumulkan pelayanan yang lebih spesifik: Pelayanan Anak. Latihan khotbah, deg-degannya luar biasa. Saya sering berada di titik di mana merasa tidak mampu, tidak sebaik dan sefasih orang lain. Namun Tuhan ingatkan saya akan panggilan-Nya yang mula-mula. Saya tidak muluk-muluk ingin jadi penginjil besar seperti Dr. Stephen Tong, tidak mimpi untuk menjadi seseorang hamba Tuhan yang dikenal di mana-mana. Ketika saya mantap menggumulkan untuk masuk SAAT, saya hanya bilang sama Tuhan: “Engkau tahu aku tidak mampu, Tuhan. Tapi satu hal yang kubawa, yaitu hati yang mau untuk Tuhan bentuk menjadi hamba yang layak untuk melayani-Mu.” Menengok ke belakang, saya bisa bilang Tuhan sangat baik. Ia perlengkapi satu persatu, bahkan dengan kemampuan yang sebelumnya tidak sama sekali saya miliki, Ia yang terus asah dan berkati. Sampai sekarang pun saya terus dalam proses belajar untuk melayani, tetapi hati inilah yang dibawa sebagai hamba. Hati yang lebih dulu mau melayani. Tuhan tidak perlu orang yang capable (mampu), Tuhan terlebih mau pakai mereka yang available (bersedia). Berhadapan dengan pelayanan yang ada di gereja ini, adakah kita memiliki hati yang bersedia untuk dipakai Tuhan melayani-Nya? Adakah kita menyingkirkan gengsi kita dan mau turun tangan untuk melayani?
Melayani sebagai Pelayan Bukanlah Pengorbanan
SS, dalam Lukas 17:7-10, Yesus mengingatkan identitas murid-murid-Nya sebagai hamba dan Allah sebagai sang Tuan. Identitas yang dilekatkan ini menuntun seseorang melakukan apa yang harus dilakukannya. Yesus membuat perumpamaan tentang perilaku sang tuan kepada hamba. Ketika seorang hamba selesai bekerja di ladang dan tuan itu memerlukan makanan, apa yang dicapkan sang tuan? “Oh, mari makan dengan aku, hai hambaku.” Bukan. Ia menyuruh si hamba menyiapkan makanannya dan selesai menyiapkannya ia menunggu tuan itu makan, barulah ia dapat makan. Kejamkah penggambaran ini? Tidak, semua orang di zaman Yesus langsung mengerti apa maksud Tuhan dengan perkataan-Nya. Murid-murid Yesus tahu identitas budak di zaman itu. Seorang budak hanya tahu 1: Ia harus taat perintah tuannya. Tidak ada tawar-menawar, apa yang tuannya mau, itulah yang dilakukannya. seorang hamba tidak akan diberikan terima kasih seperti telah melakukan sesuatu yang spesial. Tuannya tidak harus berterima kasih, karena memang itulah yang harus dikerjakan seorang budak. Budak pun tidak mengharapkan ucapan terima kasih itu, karena tahu, memang itu sudah tugasnya. Adakah saya dan saudara sudah menyadari identitas kita sebagai pelayan Tuhan?
BISS, Yesus mengaplikasikan perumpamaan ini, membandingkan gambarannya dengan pelayanan para murid kepada Allah. Murid harus melakukan apa yang diminta. Penekanannya adalah pada pengenalan diri yang rendah hati. Siapa para murid itu? Mereka adalah hamba, mereka adalah pelayan Allah, yang memang tugasnya adalah untuk melayani Allah. Murid adalah pelayan Allah, mengabdi dengan setia dan bertanggung jawab dalam segala hal. Melainkan, ia melakukanya karena itu adalah kewajibannya. Seorang hamba yang tahu benar statusnya sebagai pelayan di hadapan Allah akan berkata: “Kami adalah hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”
SS, berapa banyak orang yang ingin mendapat pengakuan dan apresiasi atas setiap hal yang dilakukan untuk menolong atau melayani? Sebenarnya, ketika orang percaya mencari pujian dan upah, mereka melayani diri sendiri. Apa yang kita harapkan saat kita melayani Tuhan? Apa yang kita harapkan saat melayani orang lain? Berapa banyak orang yang kemudian hatinya dipenuhi kekecewaan karena apa yang ia harapkan dari orang lain entah itu pengakuan atau pujian, tidak mendapatkannya? SS, mari ingat kembali SIAPA kita di hadapan Allah. Kita adalah hamba dan Ia tuan kita. Saya dan saudara adalah hamba-hamba Tuhan. Bukan hanya mereka yang bergelar Pdt. atau Ev. saja yang berkewajiban melayani. Namun engkau dan saya, apa pun profesi kita, siapa pun kita, seberapa tinggi pun jabatan kita, adalah hamba Tuhan, pelayan Tuhan. Tidak elok kita tawar menawar dengan Tuhan, mengulur-ulur waktu untuk mau terjun melayani, karena seorang hamba tahu, kewajibannya adalah untuk taat melayani Dia. Ketika selesai melakukan pelayanan pun, tidak ada apa pun yang kita harapkan, selain kesadaran sebagai seorang pelayan: “Saya hamba yang tidak berguna, saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan.”
Pernahkah BISS juga mendengar sebuah kalimat: “Ketika melayani, akan ada banyak hal yang kita korbankan.” Setujukah anda dengan pernyataan ini? Ya jelas setuju. Bukankah pelayanan memang penuh dengan pengorbanan? Berkorban waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin ada dana yang harus dikeluarkan. Dulu pun saya pernah berpikir demikian. Saya dikelilingi oleh orang-orang yang buat saya sudah berkorban banyak untuk melayani Tuhan. Di masa mudanya, Mama saya seorang penginjil yang terjun ke pedalaman dan bercerita bahwa ia mendapat upah setandan pisang dari jemaat yang dirintisnya. Saya bertanya: Mama banyak berkorban ya buat Tuhan. Mama menjawab: Inilah tugas mama sebagai hamba Tuhan. Papa melayani di gereja kecil dan menjadi apa saja, baik itu pengkhotbah, koster, bahkan sopir yang harus menjemput jemaat yang dilayaninya. Saya bertanya: Papa pernah capek tidak berkorban buat Tuhan? Papa menjawab: Inilah tugas papa sebagai hamba Tuhan. Nenek saya di desa, seorang yang sederhana namun memiliki hati yang besar untuk Tuhan. Ia bekerja serabutan, hanya diupah sesuai dengan pekerjaannya. Ia membantu memanen padi, ia akan diupah beras secukupnya. Ia membantu menyembelih ayam, akan diberi upah jeroan ayam. Bila membantu panen biji kopi, akan diberi biji kopi. Ia mendengar, bahwa gereja di desa itu, tempatnya biasa beribadah, membutuhkan biaya untuk pembangunan gedung gereja. Ia bekerja dengan giat membantu orang lain untuk memanen biji kopi. Ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Ia menggilingnya dan membawa dua bungkus kopi bubuk untuk dibawa ke gereja, agar bisa dijual dan hasilnya dipakai untuk pembangunan gereja. Tidaklah banyak yang ia bisa beri, tetapi dengan tekad dan semangat, ia membawanya. Namun saya tidak sempat bertanya padanya, mengapa ia mau berkorban untuk pekerjaan Tuhan? Karena dalam perjalanannya menuju ke gereja, sebuah truk batu bara dengan kecepatan tinggi menghantam nenek yang sedang menyeberang untuk menghantarkan bubuk kopi itu. Mungkin kalau nenek bisa jawab, ia akan berkata dalam kesederhanaannya: “Memang inilah yang bisa nenek lakukan buat Tuhan.”
BISS, dosen saya di SAAT, Pdt. Rahmiati pernah berkata demikian: “Pelayanan yang dilakukan seorang anak Tuhan bukanlah sebuah pengorbanan. Pelayanan adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya dilakukan seorang anak Tuhan.” Kita melayani Tuhan dengan apa yang kita miliki, itu bukan berarti kita berkorban buat Tuhan, tetapi memang itulah yang semestinya kita tunjukkan sebagai umat tebusan Tuhan. Bukankah Ia yang sudah rela berkorban buat kita? Ia datang ke dalam dunia yang penuh dosa dan mengerjakan misi-Nya: “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Ku untuk tebusan bagi banyak orang.” Ia datang bukan untuk berleha-leha dan menikmati kesenangan dunia. Ia rela datang dan melayani menjadi budak manusia, mati di kayu salib yang hina, demi engkau dan saya. Ia membiarkan tangan dan kaki-Nya dipaku, demi engkau dan saya terbebas dari dosa. Ia mati demi saya dan saudara. Yesus Kristus rela menanggung semua derita, demi menebus kita dan menjadikan kita anak-anak-Nya. Hal apa yang bisa kita berikan untuk membalas kasih-Nya? Tidak akan pernah cukup sekalipun kita memberikan segala-galanya buat membalas cinta kasih Tuhan yang sudah lebih dulu memberikan segala-galanya dalam hidup kita. Adakah layak kita berkata bahwa apa yang kita beri dalam melayani-Nya adalah pengorbanan? Bukankah itu semua sudah semestinya kita lakukan sebagai bukti kita pun mengasihi Dia? Dalam ibadah penahbisannya, sahabat saya, Pdt. Andrea menyanyikan lagu yang diciptakannya:
Tiada yang terlalu berarti ‘tuk ku lepaskan
Tiada yang terlalu lelah ‘tuk ku keluhkan
Tiada yang terlalu hina ‘tuk kukerjakan
Kar’na ku hamba-Nya, ku t’lah ditebus-Nya
Tiada yang terlalu berharga t’lah kutinggalkan
Tiada yang terlalu berjasa t’lah kulakukan
Tiada yang terlalu mulia t’lah kukorbankan
Sudah seharusnya, sudah semestinya
Bila ku giat bekerja, layani Dia dan sesama
Teteskan peluh dan air mata
Bahkan bila ku harus tanggung siksa dan cela
Sudah seharusnya, sudah semestinya
Kar’na ku hamba-Nya, ku t’lah ditebus-Nya
SS, bagi kita yang sudah terjun dalam pelayanan. Adakah hari ini kita merasa terlalu banyak berkorban buat Tuhan? Adakah hari ini kita merasa lelah dan ingin undur dari pelayanan? Adakah hari ini kita masih belum mau untuk terlibat pelayanan? Apa lagi yang ditunggu untuk hanya berdiam diri dan puas sebagai pengunjung tetap? Mari kembali sadari siapa kita, Siapa yang telah menebus kita. Allah menghendaki anak-anak-Nya untuk melayani dengan pelayanan terbaik bagi-Nya dan sesama. Allah ingin kita berbagian melayani Dia, selagi ada kesempatan. Pelayanan bukanlah pengorbanan, melainkan kehormatan. Mari mengambil bagian dalam pelayanan yang disediakan di rumah Tuhan. sudah semestinya, bukan, kita melayani Dia? Selagi dibuka kesempatan, bukalah mata kita dan mata hati kita untuk melihat kesempatan melayani yang ditawarkan. Turun ke bawah, di parkiran, ada Ministry Fair, pameran pelayanan untuk menjadi bagian yang kita kerjakan bersama. Ada komisi-komisi, ada bidang-bidang yang siap menyambut pelayan-pelayan baru. Jangan tunda lagi, mari berikan diri kita untuk melayani. Jangan sia-siakan kesempatan dan talenta yang Tuhan beri, demi menjadi daya bagi gereja ini dan menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Amin.

