Pernahkah BISS juga mendengar sebuah kalimat: “Ketika melayani, akan ada banyak hal yang kita korbankan.” Setujukah anda dengan pernyataan ini? Ya jelas setuju. Bukankah pelayanan memang penuh dengan pengorbanan? Berkorban waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin ada dana yang harus dikeluarkan. Dulu pun saya pernah berpikir demikian. Saya dikelilingi oleh orang-orang yang buat saya sudah berkorban banyak untuk melayani Tuhan. Di masa mudanya, Mama saya seorang penginjil yang terjun ke pedalaman dan bercerita bahwa ia mendapat upah setandan pisang dari jemaat yang dirintisnya. Saya bertanya: Mama banyak berkorban ya buat Tuhan. Mama menjawab: Inilah tugas mama sebagai hamba Tuhan. Papa melayani di gereja kecil dan menjadi apa saja, baik itu pengkhotbah, koster, bahkan sopir yang harus menjemput jemaat yang dilayaninya. Saya bertanya: Papa pernah capek tidak berkorban buat Tuhan? Papa menjawab: Inilah tugas papa sebagai hamba Tuhan. Nenek saya di desa, seorang yang sederhana namun memiliki hati yang besar untuk Tuhan. Ia bekerja serabutan, hanya diupah sesuai dengan pekerjaannya. Ia membantu memanen padi, ia akan diupah beras secukupnya. Ia membantu menyembelih ayam, akan diberi upah jeroan ayam. Bila membantu panen biji kopi, akan diberi biji kopi. Ia mendengar, bahwa gereja di desa itu, tempatnya biasa beribadah, membutuhkan biaya untuk pembangunan gedung gereja. Ia bekerja dengan giat membantu orang lain untuk memanen biji kopi. Ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Ia menggilingnya dan membawa dua bungkus kopi bubuk untuk dibawa ke gereja, agar bisa dijual dan hasilnya dipakai untuk pembangunan gereja. Tidaklah banyak yang ia bisa beri, tetapi dengan tekad dan semangat, ia membawanya. Namun saya tidak sempat bertanya padanya, mengapa ia mau berkorban untuk pekerjaan Tuhan? Karena dalam perjalanannya menuju ke gereja, sebuah truk batu bara dengan kecepatan tinggi menghantam nenek yang sedang menyeberang untuk menghantarkan bubuk kopi itu. Mungkin kalau nenek bisa jawab, ia akan berkata dalam kesederhanaannya: “Memang inilah yang bisa nenek lakukan buat Tuhan.”
Melayani sebagai Pelayan
March 27, 2020