Pekerja yang Berkenan di Hati Allah (2Timotius 2:15)
oleh: Jenny Wongka †
Pertengahan bulan Agustus 1981, seusai Kebaktian Doa Malam di sebuah gereja di Jakarta, saya diajak oleh beberapa majelis gereja untuk berbincang-bincang, mengingat keesokan harinya saya akan berangkat ke Malang untuk menempuh studi teologi di SAAT (Sekolah Alkitab Asia Tenggara). Saat itu ketua majelis gereja memberikan wejangan singkat yang sangat membekas di hati saya. Ia pun mengutip 2 Timotius 2:15, ayat bacaan kita ini. Ayat ini telah menjadi hadiah yang sangat berharga bagi saya, yang telah dan akan selalu menjadi penuntun saya sebagai seorang pekerja Tuhan.
Ayat ini biasanya dikumandangkan pada saat peneguhan majelis, pengurus komisi, atau posisi lain dalam pekerjaan pelayanan Tuhan. Tetapi sebenarnya ayat ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang yang mengabdikan diri secara khusus untuk melayani Dia, tetapi bagi kita semua yang percaya dan mengasihi-Nya, karena kita adalah rekan kerja Tuhan, apa pun profesi dan status kita.
Beberapa tahun kemudian seorang pendeta mengatakan kepada saya bahwa ia memerlukan tambahan seorang rekan kerja di gereja yang ia layani. Beliau meminta agar saya yang pada waktu sebagai dosen di SAAT bersedia mengiyakan permintaannya untuk mengirimkan seorang mahasiswa. Kriteria yang diminta sangat sederhana: orang itu tidak perlu terlalu pandai secara akademis, tetapi ia haruslah memiliki kepribadian yang baik, ulet, pekerja keras, dan dapat bekerja sama dengan orang lain. Bagi saya, kriteria ini sangat tepat, karena yang terutama dari semua persyaratan untuk menjadi seorang pekerja Tuhan adalah kepribadian orang itu sendiri.
Pribadi Pekerja Tuhan
Saya tertarik dengan versi bahasa Inggris Alkitab NIV dari ayat ini yang berbunyi: “a workman who does not to be ashamed.” (A workman = seorang pekerja, atau pribadi seorang pekerja.) Mengapa pribadi itu penting? Kita dapat melihat contoh praktisnya dalam diri seseorang yang berlatih bela diri, atau seorang petembak jitu. Kedua ketrampilan ini sangat baik dan penting, tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah siapa orang yang memiliki keterampilan tersebut. Apakah ia adalah seorang polisi, abdi negara, ataukah ia seorang penjahat atau perampok? Apabila ternyata ia seorang perampok, maka kemampuan bela diri atau menembaknya akan digunakan untuk melumpuhkan orang guna memperlancar aksi kekerasannya. Keterampilan itu hanya menimbulkan kerugian materi dan ancaman maut bagi sang korban. Sebaliknya, apabila ketrampilan itu dimiliki oleh seorang seorang polisi atau abdi negara yang sejati (bukan gadungan), maka keahlian itu akan berfungsi sebagai pelindung masyarakat yang patut mendapat acungan jempol kita.
Di dalam seluruh pelayanan gerejawi, manakala kita mengemban tugas pelayanan baik sebagai pendeta, penginjil, majelis gereja, atau pengurus komisi, tidak dapat disangkali bahwa metode pelayanan itu penting, agar kita bisa meraih keberhasilan yang maksimal bagi Tuhan. Namun bagi saya, yang paling penting dari semuanya ialah: siapa pribadi yang mengerjakan tugas. Apakah ia orang yang bertipe Yudas Iskariot, murid Yesus yang kemudian tega mengkhianati Guru dan Tuhannya, ataukah tipe Petrus yang walaupun pernah gagal dalam kesetiaannya tetapi kemudian dipakai Allah dengan luar biasa? Apakah ia adalah tipe Demas yang tidak setia melayani sampai akhir, karena hatinya terpaut pada harta duniawi lalu meninggalkan pelayanan, atau tipe Timotius yang sejak usia muda, walaupun tubuhnya lemah, tetapi tetap setia melayani Tuhan?
Memang tidak salah apabila kita sibuk mencari metode yang paling baik untuk diterapkan di gereja kita masing-masing, pelayanan kita dapat berkembang dengan efektif. Tetapi itu bukanlah hal yang utama. Pribadi pekerja itu adalah modal utama dari semua yang kita cari atau upayakan. Kondisi kehidupan rohani, taraf kedewasaan dari pribadi pekerja itu sangat vital bagi seluruh pelayanan kita. Kita bisa saja memiliki pengetahuan tentang kasih, serta metode yang tepat mengungkapkan kasih. Tetapi jika pribadi itu sendiri tidak dipenuhi kasih, maka kasih itu tidak akan terwujud sebagaimana mestinya.
Ada seorang penginjil yang menyandang titel master konseling. Suatu hari ia memberikan ceramah tentang konseling yang efektif. Isi ceramahnya sangat menggugah hati, sarat dengan metode yang menarik, dan mendorong setiap peserta untuk menjadi “people helper” atau penolong sesama yang handal. Tetapi setelah ceramah usai, beberapa peserta yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan konseling pribadi dengan sang penginjil, keluar dari ruangan konseling dengan wajah yang muram. Masing-masing peserta memberikan komentar yang tidak berbeda, yaitu menyesalkan sang penginjil yang ternyata hanya mahir menyampaikan banyaknya metode konseling, tetapi tidak memiliki hati untuk memahami kondisi konselinya. Akhirnya mereka pulang dengan tetap membawa beban di hati masing-masing.
Penting bagi kita untuk mendiskusikan cara pendekatan yang tepat terhadap orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan, ataupun metode konseling yang jitu untuk menghadapi berbagai jenis karakter jemaat Kristus. Saya sama sekali tidak menyangkal pentingnya kedua hal di atas. Tetapi sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa pribadi pekerja Allah adalah faktor terpenting dari semuanya. Betapa indah dan efektifnya hasil pelayanan kita apabila pekerjaan Tuhan itu dilaksanakan oleh: pribadi pekerja Tuhan yang kondisi kerohaniannya baik, karakter kepribadiannya terpuji, transparan, tidak curang, tidak menyalahkan orang lain atas kesalahan yang diperbuatnya, dan berbagai karakter baik lainnya yang ada pada dirinya, yang kemudian digabungkan dengan metode yang tepat. Hanya dengan cara demikian, para pekerja Tuhan sanggup untuk menjadi pekerja yang berkenan di hati Tuhan.
Perhatikan bagian dari ayat ini: “sorang pekerja yang tidak usah malu.” Kalimat ini berbeda dengan kalimat “seorang pekerja yang tidak tahu malu.” Perbedaan dari dua ungkapan ini jauh sekali. Dari kalimat pertama dapat dilihat bahwa tidak ada sesuatu yang dapat menyebabkan seorang pekerja dipermalukan oleh orang lain, karena ia adalah pribadi yang baik, tulus, transparan, memiliki hati nurani yang bersih di hadapan Tuhan, serta menampilkan diri sewajarnya di hadapan sesamanya. Sedangkan pada kalimat yang kedua, pekerja yang tidak tahu malu adalah sesorang yang sudah terlalu kebal dengan kritikan karena sering berperilaku yang tidak sepantasnya, tidak lagi peka terhadap standar Tuhan, tidak segan untuk melakukan tugasnya demi popularitas diri, atau justru meraih keuntungan materi.
Daud dengan butiran batu kecil yang dilontarkan dengan ketapelnya telah berhasil merobohkan raksasa Filistin, Goliat. Tetapi sebenarnya keahliannya memakai dan membidikkan ketapelnya bukanlah faktor penentu utama untuk merobohkan Goliat. Mungkin jika Saul yang melakukannya, dengan keahlian yang sama, ia tetap tidak dapat mengalahkan Goliat. Mengapa? Karena ia tidak memiliki hati dan iman seperti Daud, yang menyerahkan diri dan kekuatannya sepenuhnya kepada Allah dan tidak mengandalkan kekuatannya sendiri.
Sebuah artikel di majalah Christianity Today, edisi Mei 1992 berkisah tentang Donald V.Seibert yang memulai karirnya dari pembuat sepatu sampai akhirnya menjadi seorang direktur komsariat perusahaan J.C.Penny. Kini ia telah pensiun dari perusahaan besar ini, tetapi ia masih dipercaya menjadi cooperated director di sepuluh bank terbesar di dunia. Ketika wartawan majalah itu menanyakan rahasia keberhasilan kariernya, ia bercerita bahwa sejak titik awal kariernya hingga saat ini, ia tetap memegang motto hidupnya, yaitu “Excellence for the glory of God” (melakukan yang terbaik bagi kemuliaan Allah). Ia pun melanjutkan: “I serve, I witness, I worship God by doing my best in everything He calls me to do! I thank Him for all my resources and recognize my stewarship responsibilities to manage them.” (Terjemahan bebas: Saya melayani, saya memberi kesaksian, dan saya berbakti kepada Allah dengan melakukan yang terbaik dalam segala hal sesuai panggilan-Nya kepada saya! Saya bersyukur untuk segala sumber daya yang ada serta mengenal tanggung jawab penatalayanan saya untuk mengatur semuanya.”
Syarat utama bagi kita untuk menjadi pekerja Tuhan adalah memiliki pribadi yang matang, dewasa dalam kerohanian, siap untuk terus-menerus dipimpin dan dididik oleh Tuhan serta dimurnikan oleh-Nya, sehingga ketika kita berada di tengah-tengah masyarakat, kita menjadi orang yang tampil apa adanya, tulus, dan rela melayani dengan hati nurani yang bersih, bukan seorang pribadi yang bertopeng.
Tekad Pekerja Tuhan
“Usahakanlah supaya engkau menjadi layak di hadapan Allah” terjemahan lain dari ayat ini adalah berusaha semaksimal untuk mendapatkan perkenan Allah. NIV menerjemahkan “do your best to present yourself to God!” Artinya: berusahalah untuk menjadi layak di hadapan Allah! Berusaha untuk mendapat perkenan Allah selain harus menjadi suatu tekad, juga harus menjadi sasaran yang ingin kita raih bersama.
Rasul Paulus menasihati Timotius untuk atau melakukan yang terbaik demi mendapat perkenan Allah. Dengan kata lain ia berkata bahwa harus ada usaha yang aktif, dan kerelaan hati untuk membayar harga. Sangat mungkin, tatkala seseorang ingin mendapatkan perkenan Allah, berbagai tantangan bermunculan, seperti sikap sinis orang lain, ejekan sok suci, sok benar, dan lain sebagainya. Ia pun harus mengorbankan berbagai kegemaran prbadi, siap untuk merasa sakit hati, dan mengubah sikap sesuai dengan tuntutan Tuhan, kemudian juga siap untuk membagikan kebenaran Tuhan kepada orang lain walaupun pada akhirnya akan ditolak, dimusuhi, atau bahkan dijauhi. “Berusaha” bukanlah semacam tekad yang statis, melainkan dinamis, sebuah tantangan, peperangan yang dahsyat dalam berbagai aspek kehidupan kita sebagai pekerja Tuhan.
Jadi jelas bahwa untuk menjadi seorang pelayan yang baik, ia harus memiliki pribadi yang mengasihi Tuhan, dan giat bekerja dengan motivasi hati yang murni untuk melayani, ditambah lagi dengan kerelaan hati untuk meletakkan hak diri kita, demi mendapatkan perkenan Allah. Pada sisi lain, sasaran pekerja Tuhan adalah mendapatkan perkenan Allah dan harus menjadi tujuan utama yang kita ingin raih bersama. Hanya dengan berbekal tekad ini, kita memiliki kuasa untuk menghadapi berbagai tantangan, kesalahpahaman, serta berbagai kesulitan yang ditemui dalam pelayanan kita. Kita pun dapat menjadi pelayan yang luar biasa dan mampu untuk memberkati orang yang sedang mencaci-maki serta untuk menahan penganiayaan demi kebenaran Tuhan.”
Seberapapun besarnya pengorbanan kita untuk menjadi pekerja Tuhan yang baik, apakah semuanya itu memang layak untuk dilakukan? Jika kita melakukan semua itu tanpa motivasi dan pribadi yang baik; serta berlandaskan kasih Allah yang telah mengangkat kita dari jurang dosa dan melayakkan kita untuk melayani Dia, maka memang semua pengorbanan kita berharga di mata-Nya.
Tugas Pekerja Tuhan
Seorang pekerja Tuhan bertugas untuk “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” Alkitab versi NIV menerjemahkannya “correctly handles the words of truth” atau memerlakukan perkataan kebenaran dengan benar. Inilah tugas utama pekerja Tuhan, yang tidak hanya harus dilakukan oleh para pendeta dan penginjil saja, tetapi oleh semua orang Kristen. Setiap anak-anak Tuhan wajib untuk membagikan perkataan kebenaran Tuhan, khususnya apa yang sudah pernah dialaminya, yaitu pengalaman keselamatam pribadi yang justru terjadi tatkala orang lain memberitakan kebenaran Tuhan. Ketika saya sedang memersiapkan tema ini, saya menemukan bahwa paling sedikit ada 2 alasan mengapa seseorang tidak bisa secara tepat memberitakan perkataan kebenaran. Pertama, ia sendiri tidak mengerti isi perkataan kebenaran. Kedua, ia kurang setia terhadap perkataan kebenaran itu, sehingga mengalihtafsirkannya dengan sembarangan.
Para taruna TNI pasti dituntut untuk berlatih dengan keras. Mengapa harus demikian? Bukankah itu metode yang kuno? Bukankah pada zaman modern ini, para taruna itu cukup dibekali dengan pengetahuan cara memakai peralatan senjata canggih? Mereka menjalani disiplin dengan latihan yang ketat dan jadwal yang padat di bawah terik sinar matahari dan rintik hujan, mereka pun tidak pernah bisa beristirahat sebelum ada instruksi komandan. Kepatuhan mutlak kepada komandan tidak dapat ditawar-tawar. Apabila mereka dapat melewati semua latihan fisik dan mematuhi semua tuntutan, maka mereka akan diberi latihan yang lebih berat, termasuk latihan untuk mengenal bahkan memakai persenjataan canggih. Mereka pun mengikuti berbagai pelatihan yang sifatnya internasional termasuk latihan gabungan dengan tentara negara asing. Jadi untuk menjadi taruna yang berhasil, mereka harus berlatih dengan keras dan tanpa kenal lelah, serta memiliki disiplin dan kebulatan tekad untuk mengabdikan diri mereka bagi Nusa dan Bangsa.
Saya dan Anda terpanggil untuk menjadi pekerja Tuhan, walaupun harus melewati pergumulan yang tidak mudah, serta tantangan dari dalam diri sendiri atau bahkan keluarga kita. Mungkin kita merasa rendah diri, tidak memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan, tidak memiliki karunia sebagaimana saudara-saudara seiman lainnya, tantangan untuk cenderung ingin meraih keberhasilan studi dan karier lebih daripada keinginan untuk terlibat dalam pelayanan Kristen, atau mungkin harus memberi tenaga serta perhatian penuh terhadap salah seorang anggota keluarga. Semuanya ini menyebabkan kita tidak sanggup untuk melaksanakan tugas seorang pekerja Tuhan. Jadi harus ada kebulatan tekad untuk menjalani pelayanan kita, apa pun yang terjadi.
Tugas kita adalah “terus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang telah Allah wahyukan melalui Kitab Suci. Untuk mengerti kebenaran ini, kita harus mengerti dari sumbernya, yaitu Alkitab. Saya ingin membagikan dua modal yang harus kita miliki agar mampu untuk memberitakan perkataan kebenaran.
Modal pertama adalah kita menuntut diri kita untuk tekun membaca dan memahami perkataan kebenaran. Hal ini tidak dapat dicapai hanya dalam waktu singkat. Kita dituntut untuk selalu memelajari perkataan kebenaran selama kita hidup. Ini adalah proses belajar seumur hidup. Tidak ada seorang hamba Tuhan pun berani mengklaim bahwa ia sudah cukup memahami perkataan kebenaran, sehingga ia merasa boleh berhenti dari tuntutan membaca dan memahami perkataan kebenaran. Kita juga tidak menunggu sampai kita telah memahami seluruh perkataan kebenaran, baru kita mulai memberitakannya. Tetapi dalam proses pertumbuhan rohani kita masing-masing, kita memahami perkataan kebenaran secara bertahap melalui bantuan hamba Tuhan, meditasi pribadi, serta kerelaan kita untuk membaca buku-buku rohani. Semua sarana ini dapat menolong kita untuk lebih memahami perkataan kebenaran.
Modal yang kedua adalah kita harus setia terhadap perkataan kebenaran itu. Pada pembahasan sebelumnya kita tahu bahwa ada orang yang tidak dapat berterus terang dalam memberitakan perkataan kebenaran, karena ia tidak memahaminya. Selain itu, ia tidak setia kepada kebenaran itu sendiri. Saya mengajak Anda untuk melihat contoh konkretnya dalam Alkitab, yaitu tentang seorang tokoh yang bernama imam Eli yang tidak setia kepada perkataan kebenaran Tuhan. Akibatnya, Tuhan tidak lagi berfirman kepada dia, Tuhan tidak lagi memberikan penglihatan kepada Eli. Sebaliknya, justru kepada Samuel yang masih muda belia, firman Tuhan itu disampaikan dan Allah memercayakan perkataan kebenaran itu kepadanya.
Dari ungkapan “terus terang memberitakan perkataan kebenaran” terlihat ada dua fungsi. Pada satu sisi, pemberitaan itu berguna untuk diri si pemberita itu sendiri; dan di sisi lain, berguna untuk orang lain. Manakala kita tidak lagi setia terhadap perkataan kebenaran, maka kita akan menjadi mudah menyalahtafsirkan, atau istilah lain: mengalihtafsirkan kebenaran itu. Apabila ini terjadi, maka kita gagal berperan sebagai pekerja Tuhan.
Kesimpulan
Salah seorang tokoh pengkhotbah yang saya kagumi, Charles Spurgeon dalam sebuah khotbahnya yang diringkas dalam sebuah buku, ia mengisahkan kerinduannya untuk menjadi sama seperti seseorang yang bernama Richard ketika berusia 7 tahun. Suatu kali ayahnya mengajaknya pergi ke luar kota. Pada saat mereka tiba di luar gerbang pintu kota, sang ayah menyuruh Richard menunggu di situ sampai ia kembali, karena ia tidak akan lama melakukan urusannya di kota itu. Tetapi karena begitu banyaknya hal yang dikerjakan di sana, dan ia bertemu dengan beberapa sahabat lama, sang ayah sampai benar-benar lupa bahwa ia meninggalkan anaknya di pintu gerbang kota. Ketika dengan keletihan ia berjalan pulang ke kotanya, sang ayah menerima tawaran seorang untuk menumpang kereta kudanya, sehingga sampailah ia pada malam hari. Setelah mandi, ia memanggil anaknya: “Richard, kemarilah, Nak! Ayah ingin menceritakan pengalaman ayah seharian ini!” Ia tidak mendengar jawaban anaknya. Lalu dengan terkejut ia baru menyadari bahwa ia masih meninggalkan anaknya di depan pintu gerbang kota. Saat itu juga ia bergegas kembali ke tempat itu. Ia sangat terharu ketika mendapati anak lelakinya itu sedang duduk dengan terkantuk-kantuk di sudut pintu gerbang kota. Ia memeluknya dengan penuh rasa bersalah dan kasih, lalu membawa dia pulang.
Inilah hikmah yang didapatkan oleh Spurgeon: ia rindu menjadi seperti anak kecil ini, terutama di dalam kesetiaannya terhadap perkataan ayahnya. Ia tidak sekadar mendengar, tetapi juga mematuhi apa yang ayahnya katakan. Walaupun ayahnya ternyata bisa melupakan dia, ia tetap menaruh percaya, tidak gagal dan tergoda dengan bujukan orang dewasa lain untuk mengajaknya pulang, tidak pula tergoda untuk menuruti ajakan teman sebayanya untuk bermain di tempat lain. Ini juga merupakan kerinduan saya untuk selalu setia pada perkataan kebenaran Tuhan. Saya selalu berdoa, agar dalam setiap kesempatan memberitakan kebenaran Tuhan, saya tidak memotong atau mengurangi isi perkataan kebenaran yang saya pahami. Hal ini telah menjadi tekad saya seumurhidup.
Jika Anda adalah anggota majelis jemaat, atau tergabung dalam badan pengurus komisi, atau terlibat dalam pelayanan mahasiswa, Anda tidak berbeda dengan saya dan pendeta atau penginjil, tidak juga berbeda dari orang-orang yang tidak secara khusus terpanggil untuk menjadi pelayan di gereja atau persekutuan. Kita semua adalah pekerja Tuhan, tetapi kita harus menjadi pekerja yang diperkenan Allah. Hidup adalah pelayanan, dan pelayanan adalah milik Tuhan, kita hanyalah alat yang dipakai Allah untuk menunaikan kewajiban masing-masing. Filipi 4:13 adalah jaminan bagi Anda dan saya untuk terus berjuang menjadi pekerja Tuhan yang baik: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

