Semak yang Menyala-nyala Namun Tak Terbakar (Keluaran 2 dan 3)
oleh: Andy Kirana
Shalom Saudara-saudaraku yang terkasih. Puji Tuhan hari ini kita boleh bersama-sama beribadah dalam sukacita yang dari Tuhan Yesus. Kembali kita akan mempelajari kebenaran firman-Nya untuk mendapatkan kekuatan yang baru di dalam kehidupan kita. Sekarang kita akan menikmati berkat Tuhan melalui tema Burning Bush. Mari kita membuka dan membaca dari Kitab Keluaran pasal 2 ayat 11 sampai dengan ayat 15, kemudian nanti diteruskan dengan pasal 3 ayat 1 sampai dengan ayat 14. Demikian firman Tuhan:
Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya di dalam pasir. Ketika keesokan harinya ia keluar lagi, didapatinya dua orang Ibrani tengah berkelahi. Ia bertanya kepada yang bersalah itu: “Mengapa engkau pukul temanmu?” Tetapi jawabnya: “Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?” Musa menjadi takut, sebab pikirnya: “Tentulah perkara itu telah ketahuan.” Ketika Firaun mendengar tentang perkara itu, dicarinya ikhtiar untuk membunuh Musa.
Lanjut dari Keluaran pasal 3 ayat 1 sampai dengan ayat 14.
Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakin Gunung Horeb. Lalu Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? – apakah yang harus kujawab kepada mereka?” Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus. Melalui kedua pembacaan Kitab Keluaran ini kita akan belajar prinsip yang sangat penting melalui pengalaman hidup Musa. Melalui hidupnya kita mendapati kebenaran bahwa kehidupan itu bagaikan semak duri yang menyala. Ketika semak duri itu menyala hanya ada dua alternatif yang bisa terjadi. Pertama, semak duri itu menyala, dimakan api dan menjadi abu. Kedua, semak duri itu tetap menyala, tetapi tidak dimakan api. Inilah gambaran dari kehidupan Musa. Saya percaya ini juga merupakan gambaran kehidupan kita.
Mari sekarang kita melihat yang pertama dari Keluaran 2 ayat yang 11 sampai ayat 15 tadi. Dalam ayat-ayat itu kita mendapati ada ‘nyala api’ dalam kehidupan Musa. Ini adalah ‘nyala api manusia’ yang membakar kehidupannya. Itulah yang dialami oleh Musa, Saudara. Perhatikan ayat 11 ini, lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Saudara perhatikan kata ‘dilihatnyalah.’ Kata inilah yang menjadi sumber bagaimana nyala api itu mulai membakar manusia. Nyala api itu mulai membakar kehidupan Musa melalui penglihatan. Oleh karena itu, hati-hati dengan penglihatan Saudara. Penglihatan itu bisa membakar hidup Saudara. Macam-macam yang bisa membakar hidup kita. Bisa jadi saat Saudara melihat ada seorang wanita yang cantik dan seksi, nyala api nafsu itu bisa membakar hidupmu. Saat engkau melihat tetanggamu, kok dia lebih dari aku. Kok dia lebih banyak punya dari aku. Hati-hati Saudara, hati-hati terbakar dengan nyala api iri hati. Hati-hati kobaran itu juga bisa menghabiskan hidup Saudara.
Sekarang mari kita perhatikan, bagaimana langkah yang berikutnya saat Musa sudah mulai melihat apa yang terjadi di hadapannya. Perhatikan ayat 12. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya di dalam pasir. Pada saat saya merenungkan kejadian ini, saya mulai membayangkan apa yang terjadi di dalam diri Musa, setelah melihat. Apa yang dilakukan Musa? Menoleh ke sana sini. Menoleh ke depan, ke belakang, ke samping kiri, ke samping kanan. Aman. Tidak ada orang. Tidak ada yang lihat. Aman kok, tidak apa-apa. Ayo. Teruskan. Coba perhatikan, bukankah itu yang sering terjadi di dalam kemanusiaan kita? Saat kita merasakan tidak ada orang yang melihat, aman aman saja, kita melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Bukankah kalau Saudara melihat berita di televisi, mereka yang ditangkap tangan oleh KPK, mereka juga merasa aman kok, tidak ada yang melihat kok, ayo tidak apa-apa. Saudara, inilah yang terjadi. Karena merasa diri aman, lihat sana lihat sini, tidak ada orang, Musa membunuh orang Mesir. Tapi ada satu hal yang dilupakan oleh Musa. Saat ia celingak-celinguk kiri kanan, tidak ada orang, ada satu yang tidak dilakukan Musa. Dan itu satu hal yang dilupakan oleh Musa. Musa lupa untuk melihat… ke mana, Saudara? Melihat ke atas. Manusia tidak melihat, tapi Allah melihat. Itulah yang sering kali kita lupakan. Saat kita melakukan sesuatu hal yang tidak benar, kita merasa diri aman, karena lingkungan kita tidak melihat. Kita juga sering lupa seperti halnya Musa. Kita lupa untuk memandang ke atas.
Bagaimana kehidupan Musa yang sesungguhnya saat itu? Apakah Musa peka terhadap manusia atau peka terhadap Allah? Peka terhadap manusia. Dia tidak peka terhadap Allah. Dia tidak memandang ke atas. Dia melihat ke sana sini. Tapi lupa, dia tidak peka akan kehadiran Allah di dalam hidupnya. Sehingga yang terjadi, menurut Saudara, Musa menjadi penyelamat bangsa Israel atau jadi pembunuh orang Mesir? Yang jelas firman Tuhan mengungkapkan, dia menjadi pembunuh. Dan Firaun berikhtiar untuk membunuh Musa.
Melalui peristiwa ini kita bisa belajar. Saat nyala api itu membakar kehidupan Musa, saat nyala api itu membakar kehidupan manusia, di sanalah kita mendapati prinsip sebagai pengingat dalam hidup: saat kita mengerjakan pekerjaan Allah dengan cara kita sendiri, dengan cara manusia, kita akan mengalami kegagalan seperti halnya Musa. Kegagalan itulah yang membuat Musa melarikan diri ke padang gurun Midian. Seolah-olah selama itu, apa yang selama 40 tahun dipelajari, selama 40 tahun kehidupan Musa di Mesir, hari itu habis terbakar. Pada saat itu nyala api menghabiskan kehidupan Musa. Musa tidak lebih dari seonggok abu yang tidak berguna. Itulah yang terjadi. Semak duri hidup Musa terbakar habis dimakan oleh api. Karena Musa menyalakan api yang ada di dalam dirinya. Inilah kisah kehidupan Musa di Mesir.
Kemudian kita mendapati peristiwa yang lain di dalam kehidupan Musa, setelah selama 40 tahun hidup di padang gurun Midian. Di dalam Keluaran 3 ayat 1 sampai ayat 14, kita melihat hal yang sangat berbeda dari apa yang dialami oleh Musa pada saat itu. Apabila pada saat dia di Mesir, dia menyalakan api manusia, namun kita melihat sesuatu hal yang berbeda yang terjadi di dalam kehidupan Musa. Ada nyala api lain yang membakar kehidupannya. ‘Nyala api Allah.’ Di sini kita melihat, suatu proses yang sama tetapi berbeda. Lalu ia, Musa melihat dan tampaklah semak duri itu menyala tetapi tidak dimakan api. Sekarang perhatikan kata ‘melihat’ ini, Saudara. Berawal dengan hal yang sama melalui penglihatan. Saat di Mesir Musa pun melihat. Saat di gunung Horeb pun Musa melihat. Kita menjumpai bagaimana Musa itu mulai melihat. Melalui penglihatan itulah, kembali nyala api itu menyulut di dalam hidupnya. Itu terjadi pada Musa saat ada di gunung Allah. Pada saat itulah, kita melihat timbul suatu perasaan ingin tahu yang suci dalam diri Musa akan nyala api itu. Sehingga ia memeriksa dengan cermat nyala api itu, Saudara. Dan apa yang terjadi? Saat Musa mulai menyimpang untuk memeriksanya, saat Musa mendekat ke nyala api itu, Allah memanggil Musa.
Saat Musa memandang dari kejauhan ada nyala api di hadapannya, Musa tidak hanya berdiri di kejauhan, tetapi Musa menyimpang dan memeriksanya. Datang semakin dekat kepada nyala api itu, dan pada saat Musa mulai datang mendekat itulah terjadi pemulihan hubungan antara Musa dengan Allah. Dan saat itulah Allah memanggil Musa secara pribadi. “Musa, Musa!” Inilah suatu momen yang indah Saudara. Ini satu fakta yang begitu luar biasa. Saat Musa datang mendekat kepada nyala api ini, terjadi satu kontak, terjadi satu hubungan yang begitu intim. Itulah juga yang bisa terjadi di dalam hidup Saudara dan saya. Saat engkau datang mendekat pada Allah, engkau akan mendengar Dia memanggilmu, memanggil namamu seperti Allah memanggil nama Musa. Saudara inilah keindahan hubungan dengan Tuhan. Bukan dari kejauhan, tetapi saat kita mendekat, di sanalah keintiman itu terjadi. Itulah kekuatan yang luar biasa. Itulah yang menghubungkan kembali Allah dengan Musa. Sehingga yang tadinya kita melihat Musa hanya setumpukan abu di padang gurun Midian, kini saat Allah mulai menyapa Musa, seakan-akan tumpukan abu ini kembali hidup di hadapan Allah. Terjadi pemulihan dalam kehidupan Musa.
Kalau tadinya Musa peka terhadap manusia, sekarang dia peka terhadap Allah. Peka terhadap kehadiran Allah. Saya percaya juga nyala api itu ada di tempat ini. Saat kita datang mendekat, kita menjadi peka terhadap Allah, terhadap kehadiran Allah di dalam kehidupan kita. Ada satu kontak pribadi antara kita dengan Allah. Itulah kekuatan di dalam kehidupan kita. Ketika itu terjadi kita melihat satu kebenaran yang luar biasa. Allah mulai membuka rahasia pribadi-Nya di hadapan Musa. Saat Musa bertanya kalau nanti umat Israel bertanya siapa nama Tuhan yang mengutusnya, Allah mengatakan ‘AKU ADALAH AKU.’ Ini adalah nama Allah yang kekal. Nama Allah yang abadi. Yang penuh dengan kuasa. Nama yang sungguh luar biasa. Nama yang begitu dahsyat. Seakan-akan saat itu, ‘AKU ADALAH AKU’ itu mengisi penuh hidup Musa yang kosong selama 40 tahun hidup di padang gurun Midian. Tumpukan abu yang tidak berguna itu kembali dipenuhi oleh ‘AKU ADALAH AKU.’
Inilah yang harus kita pahami. Siapa pun Saudara, mungkin selama ini engkau merasa seperti Musa saat di padang gurun Midian. Aku sudah menjadi orang yang tidak berguna lagi. Aku hanya tumpukan abu. Aku tidak ada apa-apanya. Aku kosong. Aku tidak mampu. Tapi saat kita mau mendekat kepada nyala api itu, ‘AKU ADALAH AKU’ akan membakar kehidupan kita. Nyala api itu akan membangkitkan kembali apa yang tadinya sudah menjadi tumpukan abu ini menjadi kekuatan yang baru. Bukan karena kita, tetapi karena ‘AKU ADALAH AKU.’ Kalau tadinya Musa melakukan pekerjaan Allah dengan caranya sendiri. Sekarang kita melihat hal yang berbeda, ‘AKULAH AKU’ telah mengutus Musa. Kerjakan pekerjaan-Ku, dengan cara-Ku. Dengan cara ‘AKU ADALAH AKU.’ Bukan dengan caramu sendiri. Bukan dengan kehendakmu. No. Sekarang engkau harus melakukan secara berbeda. “AKULAH AKU telah mengutus kamu.” Ini bukan pekerjaanmu, dan engkau tidak akan mungkin melakukan dengan caramu. Ini pekerjaan-Ku, lakukan dengan cara-Ku.
Saudara yang dikasihi Tuhan. Sekarang perhatikan. Perhatikan. Setelah Musa melakukan pekerjaan Allah dengan cara Allah, dia bukan lagi menjadi pembunuh, tapi penyelamat bagi bangsanya. Ada hasil yang berbeda, Saudara. Melakukan pekerjaan Allah dengan cara Allah akan menghasilkan kesuksesan. Itulah yang terjadi di dalam hidup Musa. Kita melihat ada hal yang ajaib. Kalau saat di Mesir, ketika Musa melakukan pekerjaan Allah dengan caranya sendiri, membunuh orang Mesir. Terus mayatnya, diapakan Saudara? Ya, disembunyikan. Ketahuan tidak? Saat mayat itu dikubur di dalam pasir, ketahuan tidak? Jelas ketahuan. Ngubur satu orang aja Musa tidak bisa. Tapi perhatikan dengan cara Allah, Musa mengubur berapa orang Mesir di Laut Teberau? Berapa? Enam ratus orang lebih, termasuk Firaun, para perwira dan pasukan Mesir. Saudara bisa bandingkan, dua cara yang berbeda. Luar biasa Saudara. Wow. Ini betul-betul pekerjaan Allah yang dilakukan dengan cara Allah. Hasilnya menakjubkan, amazing! Inilah yang harus kita tahu. Inilah yang terjadi… Musa tidak lagi dimakan api, tetapi justru api itu terus berkobar di dalam hidupnya untuk melakukan pekerjaan Allah. Inilah nyala api Allah.
Sekarang kalau kita sudah tahu bagaimana perbedaan nyala api manusia dengan nyala api Allah, bagaimana prinsip nyala api Allah ini kita terapkan di dalam kehidupan kita, Saudara? Ini yang perlu kita tahu. Karena sering kali yang terjadi di dalam kehidupan kita, kita hanya hidup di masa lalu kita dan mengatakan Eben-Haezer. Sampai di sini Tuhan menolong kita. Lha terus selanjutnya gimana? Sering kali kita berhenti di situ. Atau bahkan kita berusaha hidup dengan melihat melampaui masa kini. Kita hidup di masa yang akan datang, dan mengatakan Maranatha. Tuhan datanglah segera. Kita mendambakan kedatangan Tuhan, namun satu hal yang kita lupakan… dan inilah yang kita bisa pelajari dari Musa, kita melupakan hidup di masa kini. ‘AKU ADALAH AKU.’ Itu adalah Allah yang kekal. Bukan hanya Allah di masa lalu, bukan hanya Allah di masa depan, tetapi Allah di masa kini itu juga adalah ‘AKU ADALAH AKU.’ Dan Saudara tahu siapa AKU ADALAH AKU? Dialah Tuhan Yesus Kristus yang dalam Injil mengatakan ‘AKU ADALAH…’ sampai tujuh kali. Kebenaran ini sering kali kita lupakan. Kebenaran ‘AKU ADALAH AKU’ di masa kini itu juga bisa Saudara dan saya alami di dalam hidup ini. Saat kita sadari bahwa di saat ini ‘AKU ADALAH AKU’ bersama dengan kita, kita juga bisa mengalami Allah dalam hidup ini seperti Musa. Dan itulah yang dipegang oleh Musa sepanjang hidupnya. Apa pun yang terjadi di sepanjang hidupnya, ‘AKU ADALAH AKU’ tetap ada di sana. Bukan hanya di masa lalunya, bukan hanya di masa depannya, tapi juga saat itu ‘AKU ADALAH AKU’ bekerja di dalam hidupnya. Dan kita saksikan mujizat demi mujizat itu terjadi di dalam kehidupan orang Israel melalui Musa yang dipakai oleh Allah.
Saudara, di sinilah kita belajar ‘AKU ADALAH AKU’ ada di dalam kehidupan kita sekarang ini. Allah bukannya memberikan kita kekuatan, tapi Ia adalah kekuatan kita. Allah bukannya memberikan kita kemenangan, tetapi Ia adalah kemenangan kita. Allah bukannya memberikan kita kesembuhan, tapi Ia adalah kesembuhan kita. Amin? Ini yang sering kita lupakan di dalam hidup ini. ‘AKU ADALAH AKU’ pun juga menjadi hidup kita saat ini. Bukan hanya Allah di masa lalu kita yang sudah melakukan perkara-perkara ajaib dan menolong kita, tapi Dia juga hadir saat ini, hidup di dalam diri kita.
Prinsip inilah yang juga diungkapkan di dalam Perjanjian Baru. Prinsip itu adalah Kristus ada di dalam kita. Dia ada di dalam kehidupan Saudara dan saya. Itu adalah ‘AKU ADALAH AKU’ yang kita perlukan untuk menjalani kehidupan kita saat ini. Itulah ‘AKU ADALAH AKU’ yang sungguh-sungguh menuntun kehidupan kita, memberikan kemenangan kepada kita, memberikan kekuatan kepada kita, dan memberikan kesembuhan kepada kita. Inilah yang harus kita pegang di dalam kehidupan kita. Bahwa ‘AKU ADALAH AKU’ itu di dalam diri kita.
Saudara yang dikasihi Tuhan, saya akan memberikan satu gambaran bagi Saudara betapa dahsyatnya prinsip ‘AKU ADALAH AKU’ ini di dalam hidup Musa, di dalam hidup Saudara dan saya. Saya membawa kain putih ini (menunjukkan kain merah). Kain merah ini adalah milik saya. Kalau seandainya kain merah ini saya bakar, kira-kira ini berakibat negatif tidak pada saya? Yang jelas kain saya terbakar. Tapi, tidak masalah, wong ini saya beli sendiri. Mau tak bakar, mau tak injek-injek injek-injek begini ya tidak masalah. Demikian juga dengan kain putih ini (menunjukkan kain putih). Ini pun juga sama. Kalau seandainya kain putih ini saya bakar, tidak masalah juga itu hak saya. Dan itu tidak ada pengaruhnya kepada saya. Saya buang pun tidak masalah. Paling harganya berapa, murah sekali. Ya. Saudara… tapi perhatikan, kalau seandainya dua kain ini saya satukan menjadi satu (menunjukkan bendera merah putih), kira-kira kalau tak obong ya opo? Ngefek ndak? Masalah ndak? Masalah. Masalah, Saudara! Lho iki masalah gedhe rek. Masalah besar ini. Nggak sepiro regane, tapi kalau saya sampai ngidek-ngidek ini, apalagi membakarnya… ngefek ke dalam hidup saya. Ada akibat di dalamnya. Betul, ya? Iya. Jelas ada efeknya Saudara karena apa? Lha wong ini diatur di dalam Undang-Undang nomor 24 tahun 2009, tentang Lambang Negara. Tidak main-main. Ini Lambang Negara. Kalau saya sampai bakar bendera ini, padha wae juga mbakar negara. Memberontak terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya melakukan tindakan makar. Kira-kira berakibat apa terhadap saya? Saya bisa dihukum? Iya. Iya karena ada hukum yang mengaturnya.
Sekarang perhatikan prinsip di dalam hidup Musa tadi. Hal yang sama terjadi. Saat Saudara seperti halnya kain yang tidak disatukan, saat Saudara ada di Mesir hidupmu, saat saudara melakukan pekerjaan Allah dengan cara Saudara sendiri, tidak masalah kok. Tidak ngefek. Tapi saat semak belukar yang seakan-akan tidak berharga itu mulai menyala, ‘AKU ADALAH AKU’ itu bersatu di dalam hidup Musa. Ada efek yang sangat besar. Demikian saat kita menyadari Kristus ada di dalam kita, ada efek yang dahsyat. Jangan Saudara mengira, alah aku ikut Tuhan Yesus ya biasa aja. No! Kalau di dunia saja ada undang-undang nomor 24 dan itu ngefek… apalagi saat ‘AKU ADALAH AKU’ ada di dalam hidup Saudara dan saya. Dahsyat efeknya! Itu artinya, kalau ada orang yang menyakiti engkau, ada orang yang merendahkan engkau, ada efek hukum di dalam Kerajaan Allah. Ini yang harus kita sadari. Sehingga saat orang lain menyakiti engkau, sama saja ia menyakiti Allah. Saat engkau direndahkan sebagai anak-anak Allah, itu bukan merendahkan dirimu sebagai manusia. Itu merendahkan Allah. Ya. Dan orang itu bukan lagi berhadapan dengan manusia, tetapi berhadapan dengan Allah. Berhadapan langsung dengan ‘AKU ADALAH AKU.’
Saya percaya kita semuanya tidak ingin seperti kain merah putih yang terpisah, tetapi kain yang disatukan. Satu hal lagi. Kalau menurut Saudara, dua kain ini harganya berapa? (menunjukkan kain merah dan kain putih). Bisa memperkirakannya? Wong iki luwih-luwihan kok. Murah. Tetapi Saudara, saat luwih-luwihan ini disatukan, regane luwih larang opo luwih murah? Lebih mahal. Ingat, saat Kristus ada di dalam diri kita, harga kita seharga Tuhan Yesus. Mahal sekali Saudara. Dan oleh karena itulah kita bisa percaya diri. Kita bisa percaya diri bahwa aku bukan aku sendiri. Tetapi ‘AKU ADALAH AKU’ yang ada di dalam diriku. Inilah yang membuat diriku berharga, yang membuat hidupku ngefek di dunia ini bagi Kerajaan Allah.
Mulai saat ini, mari pegang prinsip ‘AKU ADALAH AKU’ yang ada di dalam kehidupan kita. Itulah yang menyalakan nyala api rohani kita, sehingga saat ini pun Saudara tidak bisa lagi berdalih, Pak Andy, aku hanya semak duri yang kurus. Atau mungkin Saudara mengatakan, aku semak duri yang gendut. Atau mungkin aku semak duri yang pendek. Aku semak duri yang tinggi. Aku semak duri yang masih muda. Aku semak duri yang sudah tua, aku sudah keropos. Bahkan mungkin Saudara merasa seperti semak duri yang sudah menjadi abu. Tidak masalah! Mengapa? Karena apa pun keadaan semak duri itu, perhatikan prinsip ini: semak duri yang mana pun dapat digunakan oleh Allah, asalkan ‘AKU ADALAH AKU’ ada di dalamnya. Amin? Wong Musa saja yang sudah jadi tumpukan abu bisa dipakai oleh Tuhan kok. Kita semua pasti bisa dipakai-Nya. Saya mendorong Saudara datang mendekat kepada-Nya saat ini… karena Tuhan mau lakukan di dalam hidup kita seperti halnya dalam hidup Musa. Mari saat ini kita ungkapkan kebenaran ini. Bukan dengan kekuatan kita, karena kita tidak bisa menjalani hidup ini sendirian. Kita tidak bisa menjalani hidup seperti halnya kain merah dan putih ini sendiri-sendiri. Saat kita sudah disatukan dengan ‘AKU ADALAH AKU’, kita bisa menjalani hidup ini dengan kekuatan Tuhan. Sehingga sekarang kita bisa mengatakan di hadapan Tuhan, bukan dengan kekuatanku Tuhan aku bisa menjalani hidup ini…

