Site icon

Seri Tujuh Dosa Maut: Kemarahan

Seri Tujuh Dosa Maut: Kemarahan

oleh: Pdt. Joas Adiprasetya

 

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu (Ef. 4:26)

Anger makes you smaller, while forgiveness forces you to grow beyond what you were.” (Cherie Carter-Scott)

Genuine forgiveness does not deny anger but faces it head-on.”
(Alice Miller)

 

satu

Kemarahan (anger) bukanlah dosa yang pertama dalam daftar klasik, namun harus diakui merupakan dosa yang paling sering membawa kematian. Karena itu tepatlah jika dikatakan bahwa, “anger is only one letter short of danger.” Ada selalu bahaya mengintai di setiap kemarahan. Karena kemarahan Kain membunuh Habil; pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia di Alkitab. Karena marah, Yunus menolak kenyataan kasih Allah pada Niniwe. Kotbah Yesus yang pertama di Nazareth menyulut kemarahan umat yang menggiring Yesus ke tepi tebing untuk membunuh-Nya.

Kemarahan itu sendiri sebenarnya berwajah ganda. Di satu sisi, Alkitab mencatat peristiwa marahnya Yesus di pelataran Bait Allah sebagai kemarahan yang justified. Alkitab juga mencatat berulang kali kemarahan Allah pada manusia, sebagaimana dicatat misalnya dalam Mazmur 137 yang amat mengerikan itu:

7 Ingatlah, ya TUHAN, kepada bani Edom, yang pada hari pemusnahan Yerusalem mengatakan: “Runtuhkan, runtuhkan sampai ke dasarnya!” 8 Hai puteri Babel, yang suka melakukan kekerasan, berbahagialah orang yang membalas kepadamu perbuatan-perbuatan yang kaulakukan kepada kami! 9 Berbahagialah orang yang menangkap dan memecahkan anak-anakmu pada bukit batu! (Mzm. 137:7-9).

John Wesley sampai mengatakan bahwa ada beberapa mazmur, termasuk Mazmur 137 ini, yang “tak sesuai untuk telinga orang-orang Kristen.” Di sisi lain, jauh lebih banyak lagi kemarahan yang unjustified, yang berujung pada kekerasan. Bagaimana kita bisa tahu kemarahan semacam apa yang disebut dosa? Dan apa yang bukan?

 

dua

Sebuah kemarahan dapat dibenarkan sejauh ia diarahkan pada kejahatan dan ketidakadilan. Yesus marah pada para pedagang di Bait Allah karena mereka menjadikan perdagangan di Bait Allah itu sebagai “sarang penyamun.” Umat yang akan beribadah diwajibkan membeli kurban persembahan melalui mereka. Allah marah kepada bangsa Edom yang melakukan kejahatan kepada bangsa Israel.

Akan tetapi, lebih dari itu, kita juga tak boleh mengabaikan fakta bahwa Allah yang marah pada kejahatan dan ketidakadilan, adalah Allah yang pengampun. Yesus yang begitu berang di pelataran Bait Allah adalah Yesus yang sama, yang berkata bahwa kita harus mengampuni musuh kita tujuh puluh kali tujuh kali (Mt. 18:22).

 

tiga

Sekalipun ada saatnya kemarahan dapat dibenarkan, namun mari kita waspada bahwa sebagian besar kemarahan justru tak dapat dibenarkan ketika ia muncul sebagai wujud dari dosa itu sendiri. Pada minggu pertama kita membahas dosa dalam pemikiran Agustinus dan Luther sebagai pembelokan ke arah diri sendiri (incurvatus in se, curved in upon self). Begitu banyak kemarahan muncul dilandasi oleh sikap self-centered ini. Dan kemarahan yang semacam ini muncul lewat dua skenario.

Pertama, kemarahan ditekan (suppressed) agar tidak meledak. Ketika ini terjadi, maka kemarahan akan menggerogoti kesehatan jiwa kita sendiri dan membuat kita hanya bisa mengasihani diri sendiri. Ini orang yang paling malang. Kedua, kemarahan bisa diungkapkan (expressed) tanpa kendali dan mencelakai orang lain. Menekan kemarahan, sekalipun tidak berdampak merusak orang lain, akan merusak diri sendiri. Mengungkapkan kemarahan tanpa kendali, sekalipun mungkin memberi “kepuasan sesaat”, akan merusak orang lain. Pilihan mana pun sama buruknya.

Martin Luther pernah mengatakan, “Saya tak pernah bekerja lebih baik daripada ketika saya diinspirasi oleh kemarahan; karena ketika saya marah saya dapat menulis, berdoa, dan berkotbah dengan baik.” Namun, kita tak boleh lupa bahwa Luther menulis On the Jews and Their Lies karena pengaruh kemarahannya dan yang dihasilkan adalah sebuah traktat yang sukar ditemukan nilai kenabiannya, selain serangkaian usulan untuk membakar sinagoga dan rumah orang-orang Yahudi, memusnahkan buku-buku agama mereka serta mendiskriminasi orang-orang Yahudi.

Berlawanan dengan kemarahan yang dapat dibenarkan, yaitu yang terarah pada kejahatan dan ketidakadilan, kemarahan yang tak dapat dibenarkan dimotivasi oleh ke-aku-an. Kita marah karena orang lain menyinggung ke-aku-an kita. Bahkan, amat mungkin kemarahan yang dapat dibenarkan berubah tanpa disadari menjadi kemarahan yang tak dapat dibenarkan. Faktor waktu atau durasi memegang peranan penting di sini. Itu sebabnya Paulus menasihati jemaat di Efesus,

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” (Efe. 4:26)

Di satu sisi Paulus amat realistis melihat bahwa manusia tidak pernah bisa lepas dari kemarahan. Karena itulah ia tidak menasihati jemaat Efesus untuk tidak marah. Sebaliknya, Paulus mengandaikan bahwa seorang Kristen pada satu titik pasti pernah memiliki rasa marah, “Apabila kamu menjadi marah …” Akan tetapi nasihat Paulus adalah bahwa pada saat kita marah, berhati-hatilah pada dosa yang mengintai. Maka, saat kemarahan datang, “janganlah kamu berbuat dosa.” Di sini Paulus menggaungkan peringatan Allah kepada Kain sesaat sebelum ia membunuh Habil, adiknya:

“Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” (Kej. 4-7)

Kemarahan yang tidak segera ditangani, apalagi yang malah dipendam dan ditekan, bisa berbuah kejahatan yang fatal. Karena itu, “janganlah matahari terbenam, sebelum pada amarahmu.”

 

empat

Bagaimana memadamkan kemarahan? Pengampunan. Kemarahan sebagai salah satu dosa utama, dijawab oleh Yesus ketika Ia berseru pada Bapa-Nya dalam perkataan pertama-Nya di atas kayu salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lk. 23.34). Prinsip dasar inilah yang musti kita pegang erat-erat. Kemarahan, sekalipun amat manusiawi, pada akhirnya harus dijawab dengan pengampunan. Dan pengampunan itu sendiri merupakan wujud dari sikap ramah (kindness). Itu sebabnya dalam tradisi Kristen, kemarahan (anger) dijawab dengan keramahan (kindness) sebagai the contrary virtue. Keramahan terwujud secara gamblang dalam pengampunan.

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. (Efe. 4:32)

Ayat 32 ini hendak memberi antidote bagi kemarahan yang dikatakan pada ayat 26 (dan ayat 31) sebelumnya. Kerahaman (kindness, chrestos) adalah sikap positif yang diarahkan pada orang lain, yang muncul dari sikap “penuh mesra” (eusplachnoi), dan dilandasi oleh pengampunan Allah. Dengan kata lain, pengampunan kepada orang lain adalah ekspresi paling jelas dari keramahan. Melaljui kebajikan ini, masa lalu tidak berubah, namun masa depan terbentang lebih luas. Melalui kebajikan ini, mungkin orang lain tidak berubah, namun setidaknya dan yang paling penting, diri kita berubah.

 

lima

Kisah berikut baik untuk mengakhiri bagian ini. William H. Willimon suatu kali berjumpa dengan seorang janda di Belfast, Irlandia Utara. Ibu ini seorang Kristen yang taat yang melakukan banyak pelayanan bagi orang miskin di kota yang penuh kerusuhan itu. Ketika William bertanya kapankah suaminya meninggal, ibu ini menjawab, “Ia terbunuh sepuluh tahun lalu.” “Terbunuh?” Ibu ini menjawab, “Benar. Saya menciumnya sesaat sebelum ia meninggalkan rumah untuk pergi bekerja, sementara putri kami memeluk kakiku.” Ketika ia memasuki mobilnya di depan rumah, dua orang tiba-tiba muncul, dan salah seorang dari mereka menembak suamiku lima kali tepat di mukanya. Pria satunya lagi menembaki kami, namun kami berdua berhasil menyelamatkan diri. Kemudian mereka pergi. Mereka rupanya para-militer, IRA. Suamiku adalah pengawas sebuah penjara lokal.” Aku menyahut perlahan, “Sungguh menyedihkan … Lalu bagaimana Ibu bisa melanjutkan hidup Ibu sampai detik ini?” Ibu itu menjawab, “Aku berdiri di samping mayat suamiku dan mulai mengucapkan Doa Bapa kami. Aku mengucapkan doa itu sampai pada kalimat soal pengampunan, dan aku berkata pada detik itu, ‘Tuhan, Engkau sudah mengampuni begitu banyak dosaku, dan tentu Engkau memintaku mengampuni orang lain juga. Aku mau berusaha melakukannya, namun Engkau harus menolongku setiap hari untuk tidak dihancurkan oleh kemarahan. Setiap hari.’ Aku membiarkan Allah marah pada mereka, atau menghukum mereka, atau mengampuni mereka, atau apa pun yang Allah mau lakukan. Aku memilih untuk mengampuni … Dan Tuhan menolongku dengan tidak membiarkan kemarahan membunuhku.”

Exit mobile version