Setia di Tengah Luka (Yeremia 8:18-9:1)
oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya
Sebagai seorang pendeta, beberapa kali saya mendapatkan keistimewaan tertentu, seperti ketika saya mengantre untuk mengambil makan, dan tanpa sengaja piring saya menyentuh orang di depan saya. Ketika orang itu berbalik, dan mengenali saya, maka ia berkata, “Oh … Pak Wahyu, Pak Pendeta, silakan duluan, Pak!” Hal ini berulang kali terjadi—awalnya memang tidak disengaja namun pada akhirnya saya sengaja agar dapat segera menikmati makanan yang ada. Orang-orang yang mengenal saya selalu bersedia mempersilakan saya mengambil makanan terlebih dahulu. Mengapa orang bisa begitu bermurah hati dengan mempersilakan orang lain mengambil makanan lebih dulu? Apakah memang orang selalu bisa mendahulukan orang lain?
Coba bayangkan situasi seperti ini: kita bersama-sama berada di dalam sebuah kapal kecil. Ada sepuluh orang yang menempuh perjalanan bersama menuju sebuah pulau. Di tengah perjalanan, karena hantaman badai, maka kapal mulai bocor dan perlahan lahan tenggelam. Semua penumpang bergegas mencari pelampung. Eh … ternyata hanya ada sembilan pelampung, sedangkan yang membutuhkan benda itu ada sepuluh orang. Apakah dalam situasi seperti ini Anda akan berkata kepada saya, “Oh … Pak Wahyu, Pak Pendeta, silakan ambil pelampung duluan deh. Saya belakangan saja.” Pasti tidak demikian, bukan? Anda bahkan mungkin akan merebut pelampung saya, sambil berkata, “Bapak sudah pasti ke surga, saya belum tentu. Pelampungnya untuk saya aja deh.”
Jadi, dari dua cerita tadi, yang manakah yang menggambarkan sikap manusia? Mau mengalahkan diri sendiri untuk kepentingan pihak lain, atau sebaliknya cenderung egosentris alias mau menang sendiri? Kita mungkin berkata, ya lihat-lihat situasinya. Mana yang lebih menguntungkan! Pertanyaannya adalah lebih menguntungkan untuk siapa? Untuk diri kita sendiri, bukan? Jadi, kita bisa sepakat bahwa kita cenderung memikirkan dan mementingkan diri sendiri.
Mengapa Manusia Berpaling dari Kesetiaan?
Nah, kalau itu kecenderungan kita, bagaimana ketika kecenderungan yang memikirkan dan mementingkan diri sendiri itu berurusan dengan soal kesetiaan? Kesetiaan terhadap pasangan, keluarga, pekerjaan, dan pelayanan kita? Bahkan kesetiaan kita terhadap Tuhan?
Sebagai manusia normal, kita pasti setuju bahwa kesetiaan itu penting. Kita mencari pasangan hidup yang setia, kita mencari pegawai yang setia, bahkan kita mencari anjing yang setia juga. Namun, kita harus jujur bahwa kesetiaan itu penting selama hal itu menguntungkan kita, bukan? Kita mengharapkan kesetiaan orang lain, tetapi kita sendiri belum tentu setia, khususnya ketika kesetiaan itu tidak menguntungkan kita.
Dalam perjalanan pelayanannya, Yeremia mengalami betapa sulitnya mengharapkan kesetiaan dari manusia. Sebagai nabi, ia berkhotbah dan menyampaikan kehendak Allah. Ia memanggil umat Tuhan untuk bertobat. Umat Tuhan pada masa itu telah berbalik dari kesetiaan menuju pada pengkhianatan. Sebelumnya mereka setia karena ingin mendapatkan berkat dari tangan Tuhan. Mereka rajin beribadah dan melayani. Akan tetapi, setelah semua hal mereka dapatkan, bagaimanakah mereka memperlakukan Allah? Mereka mencampakkan Allah, dan beribadah kepada berhala. Bayangkan betapa sakit hati Allah, dan sekaligus betapa tidak tahu dirinya orang Israel. Seperti kata pepatah, “Habis manis sepah dibuang!” Kesetiaan orang Israel ternyata hanyalah cara untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan, dan setelah itu mereka memutuskan untuk berpaling dari Tuhan. Kesetiaan orang Israel ternyata tidak berlandaskan ketulusan hati, tetapi kepentingan diri sendiri.
Saya khawatir perilaku kita tidak berbeda dengan orang Israel. Seorang pemuda berdoa secara serius untuk meminta pacar dari Tuhan. Tuhan mempertemukannya dengan seorang gadis seperti harapannya. Begitu pacar didapat, Tuhan pun dilupakan. Gaya pacaran pemuda tersebut bahkan mengabaikan Tuhan dan kehendak-Nya. Contoh lain, sepasang suami istri dipersatukan Tuhan di depan altar-Nya. Mereka sungguh-sungguh mendengarkan sabda Tuhan di dalam gereja. Namun sayangnya, segera sesudah itu, mereka tidak menyambut kehadiran Tuhan di tengah keluarga. Diam-diam, salah satu pihak mulai meninggalkan kesetiaan terhadap pasangan, dan membina hubungan dengan orang lain. Ketidaksetiaan terhadap pasangan tidak mungkin terjadi bila kita setia kepada Tuhan.
Seorang pengusaha bekerja dan berdoa memohon berkat Tuhan bagi rencana bisnisnya. Tuhan memberkatinya sehingga ia berhasil dan mengalami kelimpahan secara materi. Sayangnya, cara pengusaha tersebut menggunakan materinya itu telah menyimpang dari kehendak dan rencana Tuhan. Kesetiaannya kepada Tuhan ternyata hanya sebatas cara untuk meraih sesuatu dari-Nya. Dengan cepat kesetiaan itu berubah menjadi pengkhianatan tatkala keinginan hati telah tercapai.
Kita mencari orang-orang yang setia. Kita membenci ketidaksetiaan pihak lain, tetapi sayangnya hal inilah juga yang kita lakukan kepada Tuhan dan orang lain. Mengapa? Karena kecenderungan egosentris yang hidup di dalam diri kita. Nah, bagaimana mengatasi kecenderungan egosentris ini?
Belajar Menghidupi Kesetiaan
Lewat hidup Yeremia, Tuhan mengomunikasikan kasih-Nya. Meski umat-Nya tidak setia, Tuhan berulang kali mengirim nabi-nabi untuk menyuarakan kehendak-Nya, termasuk Nabi Yeremia. Inilah gambaran kesetiaan Tuhan, kesetiaan yang selalu ingin merangkul umat-Nya, bahkan di tengah pemberontakan mereka. Ketika Allah terus-menerus mengomunikasikan kesetiaan-Nya melalui Yeremia, maka bukan hal yang mudah bagi Yeremia untuk menghidupi berita kesetiaan Allah itu. Yeremia bergumul dengan kesetiaan dirinya kepada Tuhan yang telah mengutusnya.
Perhatikan kesaksian Yeremia tentang dirinya. Yeremia bahkan pernah menyesali pelayanannya sebagai seorang nabi. Dalam Yeremia 20:7 ia berkata, “Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku.” Hasilnya? “Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari.” Ia pernah menyesali hidupnya, “Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan!” (ayat 14).
Bagi saya, Yeremia adalah potret realistis kehidupan seorang anak Tuhan dalam menghidupi kesetiaan. Yeremia bukan tukang umbar kesaksian keberhasilan yang memuakkan. Yeremia bukan ke sana kemari bercerita tentang keberhasilan dan menutupi sisi pergumulan hidupnya. Orang-orang yang serius dengan kesetiaan akan mengalami pergumulan yang tidak mudah. Ada keinginan untuk menyerah dan keluar dari jalur kesetiaan. Di satu sisi, ada dimensi egosentris yang terus bergolak. Namun, di sisi lain, ada ketaatan yang membuat fokus hidup terarah kepada Allah.
Pelajarilah kebenaran sederhana ini: kita mengalahkan kecenderungan egosentris di dalam diri melalui ketaatan kepada Tuhan. Ketaatan terhadap kehendak Allah adalah kunci kesetiaan terhadap sesama. Di tengah godaan untuk melakukan perselingkuhan, ketaatan kepada Tuhan memberikan landasan bagi kesetiaan terhadap pasangan. Di tengah godaan untuk melakukan balas dendam pada pasangan yang berselingkuh, ketaatan pada Tuhan memberikan dasar untuk tetap setia walaupun terluka.
Ketidaksetiaan pasangan bukanlah alasan untuk melakukan hal yang sama terhadapnya. Mengapa? Karena selama ini kita hidup bukan hanya oleh keberadaan pasangan kita, tetapi oleh kesetiaan Tuhan. Tuhan tetap setia ketika kita tidak setia kepada-Nya. Landasan kesetiaan kita kepada pasangan adalah kesetiaan Tuhan kepada kita.

