Site icon

Di Tangan Tuhan

Di Tangan Tuhan (Kejadian 50:20)

oleh: Andy Kirana

 

Shalom. Puji Tuhan, Saudara. Saat ini kita akan bersama-sama belajar dari kehidupan Yusuf. Kita akan melihat bagaimana Yusuf menjalani kehidupannya di saat seakan-akan Tuhan diam, tapi ternyata justru di sana tangan Tuhan bekerja secara luar biasa. Ini penting, Saudara. Saat kita berada di dalam tangan Tuhan… sekalipun mungkin kita tidak merasakan, sekalipun mungkin kita tidak melihat Dia bekerja… Dia selalu memastikan bahwa kita tidak pernah sendirian. Dan saat tangan Allah bekerja, pasti akan mendatangkan yang terbaik bagi kita.

Mari kita membaca dari Kitab Kejadian pasal 50 ayat 20.

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Kita lanjutan satu ayat lagi dari Kitab Yeremia. Saya percaya ayat ini tidak asing bagi kita. Kitab Yeremia pasal 29 ayat 11.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus. Saya ingin mengajak Saudara mengingat ulang kehidupan Yusuf. Yang jelas…, kalau saya melihat kehidupan Yusuf, saya berpikir kok kelihatannya Yeremia 29 ayat 11 ini tidak cocok. Yeremia katakan, Allah tidak pernah merencanakan kecelakan. Tapi, saya melihat kehidupan Yusuf justru penuh dengan kecelakaan. Nampaknya, proses dalam kehidupan Yusuf bukanlah menuju hari depan yang penuh harapan, tetapi hari depan yang penuh keputusasaan. Mari kita lihat kehidupan Yusuf. Yusuf adalah anak favorit bapanya. Ia sangat disayang oleh Yakub. Justru karena itulah yang membuat saudara-saudaranya iri hati. Kemudian Yusuf mendapatkan dua kali mimpi. Makna dari mimpi itu, intinya, pada saatnya nanti Yusuf akan dimuliakan, Yusuf akan menjadi orang besar dan saudara-saudaranya nanti akan tunduk menyembahnya, bahkan orang tuanya pun demikian. Mimpi ini justru memicu saudara-saudaranya untuk berbuat jahat kepada Yusuf. Sehingga saat Yusuf menemui saudara-saudaranya di padang, di sanalah keinginan jahat mereka itu dilaksanakan. Memang, Yusuf tidak jadi dibunuh, dia akhirnya hanya dilemparkan ke dalam sumur yang kering. Tapi, setelah itu… Yusuf dijual sebagai budak dan menjadi budak di keluarga Potifar. Di sana ia justru digoda oleh istri Potifar. Ia difitnah dan akhirnya divonis salah dan dijebloskan ke dalam penjara.

Coba Saudara perhatikan sampai di sini… benarkah ini rancangan damai sejahtera? Sepertinya justru rancangan kecelakaan, Saudara. Bagaimana hari depan Yusuf bila kita melihat hanya sampai titik itu? Pasti kita berkesimpulan hidup Yusuf sudah berakhir di dalam penjara. Tapi, justru di sanalah Allah mulai menggenapi apa yang menjadi janji-Nya. Di penjara itu Yusuf bisa menafsirkan mimpi kedua staf raja, kemudian ia diminta raja untuk menafsirkan mimpinya dan pada akhirnya Yusuf dipromosikan menjadi penguasa Mesir.

Nah, Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Ada satu hal sangat penting yang betul-betul perlu kita pahami dalam kehidupan ini. Apa pun yang terjadi di dalam hidup ini, ada tangan Tuhan yang mengatur. Sekalipun Yusuf harus mengalami penderitaan demi penderitaan, di sana kita melihat tangan kuasa Allah tetap menyertai Yusuf. Di sini kita melihat bahwa cara Allah menangani kehidupan ini berbeda dengan cara manusia.

Kita melihat yang pertama. Saat kehidupan kita berada di tangan Tuhan, yang namanya turun itu justru naik.

Paradoks ini terjadi di dalam kehidupan Yusuf. Yusuf adalah anak favorit bapa Yakub. Dia sangat disayang bapa Yakub. Yusuf berada pada posisi di atas di antara saudara-saudaranya. Tapi, bagaimana kehidupan Yusuf selanjutnya? Dari orang yang disayang, Yusuf harus mengalami gerakan menurun… dibuang dan dijual jadi budak. Dari posisi sebagai anak kesayangan menjadi budak itu bukan keadaan naik. Ini keadaan yang turun. Bagaimana setelah menjadi budak, Saudara? Turun lagi menjadi narapidana. Ia sama dengan penjahat. Jadi, dari anak kesayangan Yusuf turun menjadi budak, dari budak Yusuf turun lagi menjadi seorang tahanan. Dari kacamata manusia, kehidupan Yusuf terus menurun. Namun, di sini kita melihat bahwa gerakan yang menurun di dalam kehidupan Yusuf itu justru Tuhan buat menjadi naik. Yusuf menjadi Penguasa Mesir.

Bahkan, kita juga bisa melihat hal yang sama terjadi dalam diri Tuhan Yesus. Dalam Surat Filipi pasal 2 ayat 6 sampai ayat 11 jelas sekali Paulus mengatakan bahwa Yesus yang adalah Allah itu mau turun menjadi manusia. Bukan sekadar menjadi manusia, Dia turun lagi menjadi budak, menjadi seorang hamba. Apakah Tuhan Yesus cukup berhenti di situ? Tidak, Saudara. Tuhan Yesus turun lagi menjadi seorang penjahat yang disalib… menjadi seorang kriminal dari pemerintah Romawi. Tapi, Paulus katakan, justru di sanalah, saat gerakan itu turun sampai mentok, Tuhan Yesus ditinggikan. Sehingga bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi. Segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan”.

Cara Tuhan bekerja dalam kehidupan ini sangat berbeda dengan cara manusia bekerja. Inilah yang terjadi saat tangan Allah bekerja dalam kehidupan Yusuf.  Sekalipun anak tangga kehidupannya terus menurun, makin curam ke ruang bawah yang makin pengap, makin gelap dan bau; itu adalah anak tangga yang membawa Yusuf naik ke atas takhta. Di dalam tangan Tuhan yang namanya turun itu naik, Saudara. Oleh karena itu, saat Saudara merasakan hidup semakin menurun, imani di dalam tangan Tuhan hidup Saudara ada di dalam proses untuk dipromosikan naik ke tempat yang lebih tinggi.

Yang kedua, Saudara. Di tangan Allah yang namanya buruk itu ternyata justru baik.

Apa buktinya? Mari kita lihat lagi kehidupan Yusuf. Ada tiga fase… tiga keadaan yang dialami Yusuf sebelum ia menjadi penguasa Mesir. Hidup sebagai anak Yakub, menjadi seorang budak, kemudian menjadi seorang seorang tahanan. Menurut Saudara, manakah keadaan yang paling buruk bagi Yusuf? Saat ia menjadi anak Yakub? Saat ia menjadi budak? Atau, saat ia menjadi tahanan? Menjadi tahanan. Betul, Saudara. Pertanyaan kedua. Menurut Saudara, keadaan mana dalam kehidupan Yusuf yang paling dekat dengan penggenapan rencana Allah? Saat jadi anak Yakub? Saat jadi budak? Atau saat jadi tahanan? Saat jadi tahanan. Betul. Justru saat hidupnya berada dalam kondisi terburuk, di sanalah penggenapan janji Allah paling dekat. Apa yang terjadi pada kehidupan Yusuf yaitu suatu keadaan yang memburuk adalah keadaan yang membaik. Kalau begitu caranya tangan Tuhan itu bekerja, mengapa kita harus khawatir saat hidup semakin memburuk? Tunggu…penggenapan janji Tuhan sudah dekat dalam hidup Saudara.

Saudara, terus terang saat saya mempersiapkan ini, cara pikir saya dibalik sama Tuhan, Saudara. Saya tidak bisa mikir kayak gitu.

Yang berikutnya, Saudara. Di dalam tangan Allah, yang namanya semakin gelap itu justru semakin genap.

Tahu maksud saya, Saudara? Mari kita renungkan pertanyaan ini. Ketika rancangan Tuhan semakin mendekati kehidupan Yusuf… Ketika penggenapan rencana Tuhan semakin dekat bagi Yusuf, keadaan Yusuf semakin memberi harapan atau semakin gelap,  Saudara? Semakin gelap! Secara manusiawi wis tidak mungkin rencana Tuhan itu digenapi. Aku ada di dalam tahanan. Aku di dalam sel yang gelap. Bagaimana mungkin aku nanti akan dimuliakan oleh Allah, aku nanti akan jadi orang yang besar seperti dalam mimpi yang Tuhan berikan? Seakan-akan mimpinya terhapus, tidak ada lagi harapan. Tapi dalam kenyataannya, ketika keadaan semakin gelap, bagaimana rencana Allah? Makin hancur atau semakin digenapi? Makin sempurna digenapi di dalam hidup Yusuf, Saudara. Saat Yusuf semakin dekat dengan tujuannya, masalahnya semakin besar, keadaannya semakin jelek, hidupnya semakin tidak ada arah dan tujuan… hidup seakan-akan menjadi tidak ada artinya, tidak bermakna. Tapi, justru pada saat itulah kita melihat, saat keadaan Yusuf semakin suram, semakin gelap, rencana Allah bagi Yusuf semakin genap. Bagaimana dengan Saudara? Apakah Saudara percaya bahwa tangan Tuhan pun bisa bekerja seperti itu dalam hidupmu? Percaya. Tuhan akan menggenapi rencana-Nya bagi Saudara.

Selanjutnya, Saudara. Di dalam tangan Tuhan, yang namanya tidak nyata, itu menjadi nyata.

Menurut Saudara, di mana Allah saat Yusuf dijahati saudara-saudaranya? Tuhan diam saja. Di mana Allah saat Yusuf dilemparkan ke dalam sumur?  Kelihatannya tidak ada respons dari Allah. Tuhan seakan-akan berdiam diri. Seakan-akan Tuhan tidak peduli. Berikutnya, Saudara. Di mana Tuhan saat Yusuf dijual sebagai seorang budak? Tuhan diam saja. Di mana Tuhan saat Yusuf difitnah dan dijebloskan ke dalam penjara? Kita melihat seakan-akan Allah tidak mau campur tangan. Aku tidak ngurusi, Aku tidak ikut-ikut. Seakan-akan Allah cuci tangan.

Demikian juga yang kita lihat dalam diri Tuhan Yesus ketika Dia harus menghadapi penderitaan demi penderitaan. Semakin dekat dengan Golgota… semakin dekat Dia dengan  salib… apakah Allah semakin nyata? Tidak. Allah Bapa justru terlihat seakan lepas tangan terhadap persoalan ini. Yang kita lihat justru seakan-akan Allah Bapa meninggalkan Tuhan Yesus dalam penderitaan-Nya. Di atas kayu salib, Dia katakan, di dalam penderitaan-Nya, “Eli, Eli, lama sabakthani?” Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Adakah jawaban dari dalam surga atas pertanyaan Tuhan Yesus itu? Surga kelakep, seakan-akan surga tidak menanggapi apa-apa. Justru disinilah kita diajari oleh Tuhan: pada saat kita paling tidak bisa melihat kuasa-Nya, sebenarnya saat itulah kuasa Allah paling melimpah diperlihatkan dalam hidup kita. Kuasa Tuhan yang makin tidak nyata adalah kuasa-Nya yang semakin nyata. Kuasa Tuhan yang sama saat ini pun bekerja mengalir ke dalam kehidupan kita. Amin?

Berikutnya. Rencana Allah itu indah bagi setiap orang yang percaya.

Keadaan yang tadinya bahkan seakan-akan kelihatan hancur, ternyata justru sebaliknya. Tuhan membiarkan Yusuf melewati proses itu supaya Yusuf unggul di dalam hidupnya. Tuhan ingin ia mencapai ekselensi, mencapai keunggulan di dalam hidupnya.

Sekarang saya ingin mengajak Saudara merenungkan pertanyaan ini, mengapa Allah tidak menggenapi langsung mimpi Yusuf? Kan lebih enak to? Kan lebih enteng to? Apakah Tuhan tidak mampu mengadakan mujizat supaya Yusuf bisa langsung menjadi penguasa Mesir tanpa harus dibuang ke sumur, tanpa harus jadi budak, tanpa harus mendekam dalam penjara? Saya percaya Tuhan mampu. Kalau kita sebagai Yusuf, kita semua akan semakin down menjalani proses itu. Betul tidak Saudara? Mental kita akan semakin turun. Tetapi, sesungguhnya Allah sedang membentuk Yusuf menjadi manusia yang excellent, manusia yang unggul, melalui setiap hal. Semakin Yusuf dihancurkan, semakin terbentuk keunggulannya. Oleh karena itu, jangan down saat Saudara melihat hidupmu yang seakan-akan hancur. Saudara sedang dalam proses untuk menjadi manusia yang unggul di tangan Tuhan.

Yang terakhir, Saudara. Kita akan melihat, di tangan Tuhan yang namanya lemah itu adalah kuat.

Sekali lagi kita dihadapkan pada kontradiksi. Lemah kok kuat. Saya mau bertanya, kapan iman Saudara bertambah kuat? Dan kapan iman Saudara menjadi lemah? Paling tidak, saya menemukan tiga pilihan. Yang pertama, perderitaan yang bertambah-tambah membuat iman kita semakin lemah. Bagaimana Saudara? Apakah benar begitu? Kelihatannya kebanyakan begitu, ya. Kalau semakin banyak persoalan, iman kita semakin drop. Iya. Kelihatannya banyak yang memilih ini. Atau kalaupun tidak memilih, praktik dalam hidup kita lebih banyak begitu. Saat kita mengalami penderitaan, saat kita menghadapi persoalan, saat ada beban yang berat, saat ada sakit penyakit, saat itulah iman kita melemah.

Pilihan yang kedua. Penderitaan semakin berkurang, iman kita semakin kuat. Kelihatannya benar ini. Kelihatannya lho ya. Kalau tidak ada persoalan, wah iman kita naik. Kalau tidak ada masalah, wow iman kita semakin kuat. Karena itu ada kencenderungan banyak orang, kalau bisa jangan ada persoalan. Supaya apa? Supaya imanku jadi kuat. Ya ini cara berpikir kita sebagai manusia, Saudara. Terus terang begitu.

Bagaimana dengan pilihan yang ketiga? Penderitaan semakin bertambah-tambah, justru di sanalah iman kita semakin bertambah-tambah, semakin kuat. Amin? Yang katakan amin kok cuma satu tok. Bagaimana pilihan Saudara? Pilihan satu, dua atau tiga? Iya, saya kok percaya kita milihnya tiga ya. Kalau ternyata iman kita kategori satu dan dua, ya sudah. Itu berarti kita masuk kategori orang beriman yang biasa-biasa saja. Semua orang juga begitu. Tapi, dari kehidupan Yusuf kita belajar, justru saat mengalami penderitaan yang paling berat di dalam hidupnya, imannya ditempa, imannya dikuatkan oleh Allah. Di sini kita mendapati satu kenyataan bahwa di dalam setiap persoalan apa pun yang Saudara hadapi, di dalam penderitaan apa pun yang Saudara alami, tangan Allah tidak pernah diam untuk mendatangkan berkat kekuatan bagi Saudara. Nah, ini sangat pokok, Saudara. Ini hal yang sangat penting untuk kita pahami, supaya kita semakin tangguh dalam menjalani hidup yang semakin sulit ini.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus… satu hal lagi. Dari apa yang dialami oleh Yusuf, kok saya melihat hidup ini kayak kue bolu kukus. Ada di antara Saudara yang bisa membuat kue bolu kukus? Ibu pernah, ya? Yang lain ada yang pernah? Masak ndak ada? Wah, berarti hanya penikmat saja, ya? Ohh…ternyata ada satu yang sudah pernah membuat kue bolu kukus.

Saya minta tolong Pak Andi Chong untuk membantu saya. Saya ingin tunjukkan pada Saudara. Saya membawa bolu kukus. Temen lho iki. Saya bawa kue bolu kukus ini dari Semarang (membuka dos dan mengeluarkan bolu kukus). Yuk Pak Andi Chong, ke sini Pak tolong bawakan bolu kukus ini. Sekarang kita akan belajar dari kue bolu kukus ini Saudara. Tadi dari semua yang ada di sini, yang ngacung pernah bikin bolu kukus cuma satu. Dengan ibu siapa? Bu Yuli. Pernah buat bolu kukus Bu? Pernah. Tahu nggak bahan-bahan yang digunakan untuk membuat bolu kukus itu apa saja?

Gula, tepung terigu, sama telur, sama sprite.

Sudah ibu? Sudah begitu? Ibu dapet hadiah bolu kukus. Ibu-ibu ada yang mau nambahi? Ada yang bisa? Ibu tidak bisa? Tapi pernah makan, ya? Pernah mencicipi bolu kukus dari Semarang? Belum. Belum? Ya ini untuk Ibu. Penikmat aja dapet. Kalau ada yang mau kue bolu kukus, nanti menghubungi pak Andi Chong, ya.

Saya ingin menunjukkan kepada Saudara bahwa kehidupan Yusuf, juga kehidupan kita ini mirip seperti kue bolu kukus. Tadi Bu Yuli sudah menunjukkan bahan-bahan apa saja yang digunakan. Sekarang perhatikan semuanya, ibu-ibu dan para pemudi, juga bapak-bapak dan para pemuda. Kalau kita mau membuat kue bolu kukus, perhatikan bahan-bahan apa saja yang digunakan. Yang pertama, 250 gram tepung terigu. Jangan terlalu banyak tepung terigunya, nanti bantat. Kedua, 200 gram gula halus. Tidak punya gula halus, yang kasar juga tidak apa-apa deh. Kemudian tiga butir telur ayam, bisa ditambah satu. Jangan ditambah banyak-banyak, nanti malah ndak jadi. Lalu, satu sendok teh penuh ovalet. Untuk apa ovalet? Supaya bolu kukusnya mekrok. Mengembang. Tadi bener yang Bu Yuli katakan: juga pakai sprite atau soda manis. Nah berikutnya, Saudara bisa tambahkan rasa yang lain atau essence sesuai keinginan. Bisa pakai yang rasa stroberry atau coklat, macem-macem. Tinggal pilih rasanya.

Sekarang mari kita perhatikan bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat kue bolu kukus. Ternyata bahan-bahan yang dipergunakan untuk kue bolu kukus mirip dengan apa yang kita alami di dalam hidup ini. Yang pertama, tepung terigu. Saudara pernah tidak merasakan tepung terigu? Bagaimana rasanya? Ada yang tahu? Anyep, ya betul, Saudara… tepung terigu itu anyep. Apa ya bahasa Indonesianya? Tawar, hambar. Bagaimana dengan hidup Saudara? Pernah tidak Saudara mengalami hidup kok kayak tepung terigu? Hidup yang aku jalani ini kok anyep-anyep. Hidupku kok hambar. Yang berikutnya gula. Rasanya bagaimana, Saudara? Manis. Saudara pernah merasakan hidup yang manis? Pernah ya. Di saat-saat badan kita masih kuat, sehat, tidak sakit-sakitan, berkat Tuhan mengalir… hidup ini manis. Sekolah kita naik terus, lulus, diwisuda… manis. Hidup keluarga kita diberkati melimpah, manis. Mungkin pada saat-saat seperti itu, mulut kita bisa memuji Tuhan: Kau yang termanis buat jiwaku. Buat jiwaku. Buat jiwaku. Manis soale. Tapi, bagaimana kalau hidup itu kayak telur ayam? Pernah membau telur ayam? Baunya gimana? Amis. Pernahkah Saudara mengalami hidup yang amis? Atau bahkan telor yang sudah amis itu kita biarkan terus… dijarno wae terus, apa yang terjadi? Ya… mambu, busuk. Bagaimana dengan hidup Saudara? Pernah mengalami hidup seperti itu? Saat kita gagal, saat kita mengalami kesalahan, saat kita jatuh dalam dosa, hidup kita jadi amis, bahkan busuk karena dibiarkan berlama-lama. Yang berikutnya. Hidup ini kayak sprite, Saudara. Pernah merasakan sprite? Apalagi panas-panas begini, ngombe sprite dikei es. Seger. Bener, enak, seger sekali. Kadang-kadang hidup kita ini seperti sprite… merasakan ada suatu kesegaran, ada suatu semangat baru, sehingga apa pun kita lakukan dengan sukacita, kita pun siap melayani Tuhan. Dan kita bisa menambahkan rasa-rasa yang lain.

Wah ini kok kayak acara kuliner ya….heee… Lalu, bagaimana cara membuatnya? Ada dua langkah. Langkah pertama, untuk membuat bolu kukus, campur semua bahan-bahan tadi. Dicampur jadi satu, kemudian dimixer. Kalau dulu pakai kocokan. Artinya apa? Diputar atau dikocok supaya bahan-bahannya menyatu. Saya mau tanya pada Saudara. Pernah-tidak hidup Saudara dimixer oleh Tuhan? Halooo. Pernah tidak? Sudah menghadapi masalah, masih juga diputar oleh Tuhan. Ini kok tambah mbingungi. Bisa jadi, di saat-saat yang seperti itu, kita semakin pusing. Bisa jadi, migraine kumat. Ini gimana tho, ini gimana sih? Kok tambah mumet hidup ini? Saudara, pernah ngalami seperti itu? Saya kok percaya semua pernah ngalami. Tapi, Saudara, ini baru langkah pertama.

Langkah kedua, adonan itu dituang ke dalam cetakan, terus… ini yang tidak enak, Saudara…  dikukus. Tahu maksudnya dikukus, Saudara? Dimasukkan ke dalam alat pemanas, dipanasi. Pernah tidak Saudara mengalami… Tuhan ini gimana sih? Ini aja aku udah mumet, udah pusing, lho kok malah dipanasi. Sehingga bisa jadi bukan “Kau yang termanis buat jiwaku” yang kita nyanyikan, melainkan “Panas, panas, panas, panas….’ Lagunya siapa itu ya? Lagunya Gigi katanya. Ngerti wae rek. Iya, seperti itu… panas, Saudara.

Saudaraku, tanpa dikukus, tanpa dipanasi, adonan itu tidak akan pernah menjadi kue bolu kukus yang lezat. Hidup kita juga begitu. Tanpa dikukus, kita tidak akan pernah menikmati kelezatan dalam hidup ini, Saudara. Ingat, Saudara. Dikukus. Dipanasi, Saudara. Enak? Ndak… ndak enak. Tapi ingat, hasilnya Saudara. Hidup yang kita jalani bersama Tuhan menjadi lezat.

Itu yang kita pelajari dalam hidup Yusuf, Saudara. Macam-macam persoalan dalam hidup Yusuf, di tangan Allah menjadi suatu keindahan. Macam-macam bahan untuk bolu kukus, di tangan seorang chef yang jago, menghasilkan bolu kukus yang lezat. Karena itu, apa pun persoalan yang Saudara alami saat ini, sekalipun macam-macam, di tangan Chef Surgawi kita yaitu Tuhan Yesus Kristus, semua macam masalah kita akan dimasak menjadi kue kehidupan yang lezat. Kita akan menikmati kehidupan yang lezat, seperti Yusuf. Amin?

Saudara-saudaraku yang kekasih, apa yang kau alami kini mungkin tak dapat engkau mengerti. Mungkin apa yang kau alami saat ini engkau belum tahu apa yang akan terjadi di dalam kehidupanmu mendatang. Tapi, Saudara, yakinlah dan betul-betul tanam itu dalam hati Saudara. Apa pun masalah yang terjadi dalam hidup kita saat ini, kita percaya akan menikmati hidup indah, hidup yang lezat pada waktu Tuhan.

Saya undang semua untuk bangkit berdiri. Kita nyanyikan pujian ini dengan kesungguhan hati di hadapan Tuhan.  Dengan pengakuan yang tulus, persoalan apa pun yang kita alami, saatnya kita akan melihat pelangi kasih-Nya dalam hidup ini.

Exit mobile version