Khotbah Topikal

2) Pernikahan Kristen adalah sarana untuk belajar menghargai pasangan

 

Penjelasan

Dalam ayat 14 Tuhan berkata, “Apabila engkau tidak suka lagi kepadanya, maka haruslah engkau membiarkan dia pergi sesuka hatinya; tidak boleh sekali-kali engkau menjual dia dengan bayaran uang; tidak boleh engkau memperlakukan dia sebagai budak, sebab engkau telah memaksa dia.

Dalam ayat ini Musa tidak sedang menganjurkan orang Israel untuk bercerai. Sebaliknya, perceraian diizinkan sebagai solusi atas kekerasan hati Israel yang tidak mau lagi menjaga pernikahannya itu.  Perceraian dilakukan untuk melindungi nasib wanita yang diceraikan itu.  Saudara, melalui pernikahan, status wanita itu telah berubah dari seorang tawanan menjadi seorang merdeka.  Status itu tetap tidak boleh berubah sekalipun, karena kekerasan hati Israel, wanita itu kemudian diceraikan.  Jadi penekanan ayat ini bukanlah pada perceraiannya, tetapi pada sikap menghargai terhadap wanita itu.

Saudara, frasa “tidak boleh menjualnya” atau “memperlakukannya sebagai budak” berarti bahwa wanita itu tidak boleh direndahkan statusnya atau diperlakukan sebagai barang dagangan.  Sebaliknya, perintah untuk membiarkan wanita itu pergi sebagai seorang merdeka merupakan wujud penghargaan atas martabat wanita itu.

Melalui peraturan pernikahan ini, Tuhan ingin agar Israel tetap menjunjung tinggi harkat manusia, dan hal itu harus ditunjukkan dengan sikap menghargai status dan martabat wanita yang telah dinikahinya itu.  Di sini kita melihat bahwa sikap penghargaan terhadap pasangan adalah hal yang sangat ditekankan dan penting di dalam pemaknaan sebuah pernikahan.

Saudara-saudara, sikap ini jugalah yang ditekankan Paulus dalam Efesus 5:22-25, “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu…. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.  Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.

Saudara, teladan akan hal ini juga telah diberikan oleh Kristus.  Sebagai mempelai Pria, Kristus begitu menghargai dan mengasihi kita sebagai mempelai wanita-Nya.  Bukan hanya menghargai, lebih dari itu Kristus bahkan rela memberikan seluruh hidup-Nya dan mati di kayu salib.  Semua itu dilakukan-Nya agar kita boleh terus menjadi mempelai wanita-Nya dan hidup bersama-Nya dalam pernikahan Sorgawi.

 

Ilustrasi

Saudara, suatu kali tanpa sengaja Toni bertemu dan berkenalan dengan Susan. Perkenalan itu terjadi di dalam sebuah taksi.  Perkenalan itu pun berlanjut dan  singkat cerita, setelah merasa cocok mereka pun akhirnya menikah.  Di awal pernikahan, mereka hidup bahagia dan dikaruniai 2 orang anak.  Kehidupan ekonomi pun semakin membaik sehingga Toni tidak perlu lagi menjadi sopir taksi.  Hal ini karena usaha bengkel motoryang mereka miliki di rumah, cukup ramai dikunjungi orang.  Namun, kondisi ini ternyata membuat Toni lupa diri.  Ia mulai sering berkumpul dengan teman-temannya dan larut dalam perjudian, sehingga ia tidak lagi memperhatikan bengkelnya.  Semua urusan bengkel pun akhirnya diambil alih oleh Susan.  Namun karena merasa sebagai tumpuan ekonomi keluarganya, Susan pun menjadi besar kepala.  Toni tidak lagi dihargai sebagai kepala keluarga.  Berkali-kali Toni diperlakukan layaknya seorang pecundang, harga dirinya diinjak-injak.  Saudara, menerima penghinaan yang bertubi-tubi membuat Toni sangat membenci isterinya itu.  Hingga suatu kali, saat pulang larut malam dengan kondisi mabuk, Toni pun mulai memukuli istrinya itu.  Saudara, bukan hanya sekali Toni melakukan hal ini.  Dan karena tidak sanggup lagi menerima perlakuan itu, Susan pun akhirnya menggugat cerai suaminya itu.

Saudara, kepahitan dan kegagalan yang Toni dan Susan alami ini adalah akibat dari tidak adanya sikap saling menghargai di antara mereka.

 

Aplikasi

Dari kisah nyata ini, kita melihat bahwa sikap saling menghargai  adalah hal yang sangat penting di dalam pernikahan.  Permasalahan yang timbul sering kali justru berawal dari tidak adanya sikap penghargaan terhadap pasangan.  Saudara, Toni dan Susan telah mengalami kepahitan itu.  Bagaimana dengan kita?  Apakah selama ini kita telah menghargai pasangan kita?  Adakah selama ini kita telah memperlakukan pasangan kita dengan penuh kasih dan hormat.  Atau sebaliknya, sebagai suami kita justru menggunakan otoritas yang kita miliki untuk menekan istri kita, tidak mempedulikannya, atau bahkan memperlakukannya hanya sebagai “pembantu”?  Atau sebaliknya sebagai istri, kita mulai tidak menghargai suami kita, ketika ia kehilangan pekerjaannya?  Atau, hanya karena tingkat pendidikan yang lebih tinggi, gaji yang lebih besar, maka kita mulai meremehkan pasangan kita dan tidak menghormatinya lagi?

 

Penutup

Saudara, sebagai orang percaya kita dipanggil untuk memaknai pernikahan sebagaimana Kristus memaknainya.  Peraturan pernikahan diberikan agar kita dapatmenjaga kekudusan pernikahan kita.  Pernikahan bukanlah semata-mata tempat pemuas hasrat seksual.  Lebih dari itu, pernikahan merupakan sarana untuk belajar saling menghargai, mengasihi dan bertumbuh bersama dalam iman kepada Tuhan.

Berangkat dari pemahaman ini, marilah kita mempersiapkan, menjaga, dan menjalani pernikahan kita dengan penuh tanggung jawab.  Marilah kita jugamemperlakukan pasangan kita sebagaimana Tuhan Yesus memperlakukan jemaat-Nya.

Memang saudara, menjalani kehidupan pernikahan bukan sesuatu yang gampang. Pribadi yang berbeda, sering kali membuat kehidupan pernikahan tidak semudah yang kita bayangkan.  Namun ingatlah saudara, Tuhanlah yang telah merancang pernikahan kita.  Ia tidak akan membiarkan kita menjalani pernikahan ini sendiri.  Percayalah, Ia akan memampukan kita untuk menjalani kehidupan pernikahan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *