Khotbah Perjanjian Baru

Bertekun Dalam Masa Penantian

Bertekunlah dalam masa penantian meski hidup sarat dengan penderitaan, karena penantianmu dalam pengharapan tidak akan pernah sia-sia.

Ilustrasi         

Saudara, dengan indah Paulus menggambarkan masa penantian ini dalam metafora tentang seorang ibu yang sakit bersalin.  Jujur saya sulit mengerti rasa sakit yang ditimbulkan oleh karena bersalin, karena saya tidak pernah dan tidak akan pernah mengalaminya.  Oleh karena itu saya bertanya kepada ibu saya untuk mengetahui mengenai hal ini.  Saya berkata kepada mama: “Ma, tolong ceritakan apa yang mama rasakan saat melahirkanku?”  dengan semangat mama menceritakan hal itu kepada saya, bahkan mama memulainya dari sejak saya ada dalam kandungan.  Mama berkata: “Selama 9 bulan, mama sering muntah-muntah.  Tidur terganggu.  Miring ke samping salah, tengkurap apalagi.  Tapi yang paling sakit adalah saat hendak melahirkan.  Jam 6 pagi perut mama udah mulai sakit dan ia harus menderita dan berjuang selama 6 jam dalam proses persalinan yang hanya ditemani beberapa perawat. Mama bilang itu adalah sakit yang paling sakit yang pernah ia  alami sepanjang hidup.  Rasa sakit yang luar biasa yang harus ia tanggung, bahkan ia mempertaruhkan nyawanya demi satu harapan melihat kehadiran saya di dunia.

 

Satu hal yang mengharukan bagi saya ketika mama berkata:  “Saat mendengar tangisan pertamamu, semua rasa sakit itu hilang.  Rasa sakit itu seperti terbang dan tidak lagi dirasakan.”  Mama katakan sukacita itu terlalu besar, tak sebanding dengan rasa sakit yang harus ditahan.

 

Saudara, inilah gambaran Paulus tentang penantian orang percaya.  Tindakan mama menantikan kelahiran saya bukankah sesuatu yang riil?  Pengharapan mama akan kehadiran seorang bayi sudah ada sejak saya ada dalam rahim mama  dan bergerak.  Tangisan pertama saya adalah klimaks dari penantian itu, tetapi sesungguhnya pengharapan itu sudah ada sebelumnya.  Penantian mama adalah sesuatu yang riil, bukan sesuatu yang sia-sia.  Oleh karena itu ia tekun meski menderita, ia menjalaninya karena ada pengharapan yang pasti akan hadirnya seorang bayi idamannya.

 

Aplikasi

Saudara-saudara, demikianlah kiranya dengan kita.  Meskipun saat ini Tuhan izinkan penderitaan hadir dalam hidup Saudara dan saya, bertekunlah.  Penderitaan betapapun beratnya, tidak pernah bernilai kekal di dalam hidup kita dibanding dengan kemuliaan kekal yang akan kita terima bersama-sama Kristus pada masa kedatangan-Nya.  Percayalah, bahwa penantian kita tidak akan sia-sia, karena pengharapan yang ada pada kita adalah pengharapan yang riil dan pasti terjadi.

 

Jangan kiranya penderitaan mengaburkan mata iman kita untuk tetap memandang kepada pengharapan.  Pengharapan yang ada dalam diri Paulus telah mendorong ia untuk tetap bertekun.  Kiranya pengharapan yang sama yang mendorong kita untuk tetap bertekun dalam masa penantian, meski hidup sarat dengan penderitaan.  Karena pengharapan yang ada pada kita adalah pengharapan yang riil dan setiapsat pasti terjadi.

 

Hal kedua yang menjadi alasan mengapa kita harus tetap bertekun dalam masa penantian meski hidup sarat dengan penderitaan adalah:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *