Khotbah Perjanjian Baru

Doa : Menutup Mata, Menembus Batas

Kali ini kita akan berbicara tentang satu sisi saja mengenai kehidupan doa kita. Kalau kita percaya dan mengakui bahwa doa adalah komunikasi kita dengan Allah, maka itu artinya kita berkomunikasi dengan Allah, Allah berkomunikasi dengan kita. Akan tetapi, sama halnya seperti bentuk komunikasi-komunikasi yang lain, tingkat relasi kita akan menentukan jenis komunikasi kita. Misalnya, yang sederhana saja; saya pulang dari Surabaya menuju Semarang dengan kereta api, KA Rajawali, pergi pulang. Di sebelah saya duduk seseorang yang tidak saya kenal dan yang belum pernah saya lihat wajahnya sebelumnya. Kami sama sekali tidak mempunyai relasi apa pun. Apakah kami akan berkomunikasi? Mungkin ya, mungkin tidak. Mungkin sama-sama diam. Kalaupun berkomunikasi tingkatnya akan berada pada tingkat basa-basi. “Bapak ke Semarang, ya?” (Padahal ini memang kereta ke Semarang). “Hari ini agak mendung, ya, Pak?” (Padahal, semua orang juga sudah tahu). Jadi komunikasi yang terjadi paling-paling tingkatnya hanya sekadar basa-basi saja. Belum lagi kalau orangnya yang kita ajak komunikasi itu seram pembawaannya. “Ke Semarang, ya?” (“Hm em”). “Hari ini mendung, ya?” (“Hmm”). Lama-lama karena tidak ada relasi, maka akhirnya komunikasi akan mati. Di pihak kita, kita juga enggan untuk memulai. Ada rasa tidak suka karena tidak ada relasi yang sebenarnya. Namun, bayangkan seandainya yang di sebelah saya itu adalah kekasih saya. Belum duduk pun, saya pasti sudah mengajaknya berbicara. Pertanyaannya pasti tidak basa-basi macam “Ini ke Semarang, ya?” Pasti tidak. Pasti pertanyaannya timbul dari hati ke hati. Perjalanan panjang pun terasa singkat dan menyenangkan, ketika komunikasi kami lancar. Semakin dekat relasi kita, semakin akrab dan dalamlah tingkat komunikasi kita. Kita pun akan menikmatinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *