Noda itu tidak mungkin dan tidak pernah mungkin hilang, Pilatus. Sampai pada kekekalan, noda pada kedua tanganmu itu tidak akan pernah hilang! Noda darah orang yang tidak bersalah itu akan terus mengikutimu!
Apakah Pilatus memetik pelajaran berharga dari kisah kebangkitan Kristus? Kita tidak tahu dengan pasti. Kitab Suci tidak mencatat hal itu untuk kita.
Namun, marilah kita renungkan: seandainya ia diperkenankan untuk berjumpa dengan Yesus setelah kebangkitan itu, mungkin dengan sangat malu dan gentar ia menyapa Yesus, “Tuan, saya tahu siapakah Engkau kini, Engkau adalah Anak Allah, Mesias yang sudah datang. Hatiku hancur oleh kebodohan yang sudah kulakukan atas diri-Mu. Saya telah menjatuhkan vonis mati bagi-Mu sehingga Engkau harus disalibkan. Sudikah Engkau mengampuni aku? Sudikah Engkau memberi belas kasihan atas diriku ini?”